"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."
Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.
Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?
Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33: "Di Atas Kertas, Kau Adalah Istriku"
Aroma lavender dari lilin aromaterapi yang baru dinyalakan berpadu lembut dengan kehangatan sisa uap mandi di dalam kamar tidur utama.
Setelah momen penuh haru di dalam walk-in closet yang dipenuhi barang-barang mewah, Viona akhirnya mengenakan jubah tidur satin sutra berwarna putih gading yang disiapkan oleh Oliver.
Bahan satin murni itu jatuh dengan sangat indah di tubuh rampingnya, memberikan kesan anggun sekaligus rapuh yang membuat tatapan mata Oliver menggelap oleh gelora protektif yang mendalam.
Di atas meja kecil dekat jendela yang menampilkan pemandangan kerlip lampu Distrik Utara, sup iga sapi yang telah dihangatkan kembali oleh kepala pelayan mengepulkan uap tipis.
Namun, baik Oliver maupun Viona tidak menyentuh makanan itu terlebih dahulu.
Ada satu hal penting yang masih menggantung di udara malam ini.
Sebuah kebenaran yang baru saja tersingkap, sebuah kemenangan hukum atas keluarga Lin, dan status hubungan mereka yang kini berada di ambang transformasi total.
Oliver berjalan mendekati meja kerjanya yang berada di sudut kamar, mengambil sebuah map kulit berwarna biru tua yang sejak sore tadi ia bawa dari kantor pusat.
Langkah kakinya yang tegap dan berwibawa terdengar mantap di atas lantai kayu ek yang dilapisi karpet bulu tebal.
Viona berdiri di dekat tempat tidur, jemarinya meremas pelan pinggiran jubah tidurnya.
Meskipun hatinya telah sepenuhnya menerima cinta Oliver, bayang-bayang masa lalu dan status "pernikahan kontrak" yang awalnya mengikat mereka terkadang masih memicu sedikit keraguan di sudut pikirannya yang paling dalam.
"Viona, kemarilah,"
panggil Oliver, suaranya terdengar sangat rendah, lembut, namun memiliki daya pikat yang tidak bisa ditolak.
Viona melangkah perlahan mendekat.
Oliver menarik salah satu kursi berlapis beludru untuknya, lalu ia sendiri duduk di kursi seberangnya, meletakkan map biru tua itu di tengah meja, tepat di bawah pendar lampu hangat yang temaram.
"Apakah ini... tentang kasus keluarga Lin?"
tanya Viona lembut, matanya menatap map tersebut dengan rasa ingin tahu yang bercampur cemas.
"Bukan," jawab Oliver singkat.
Sepasang mata elangnya mengunci manik mata jernih Viona dengan intensitas yang begitu kuat hingga membuat napas Viona tertahan sejenak.
"Kasus hukum mereka sudah berada di tangan tim pengacara terbaikku. Mereka tidak akan pernah melihat matahari bebas lagi dalam waktu yang sangat lama. Ini... adalah tentang kita."
Oliver membuka map biru tua tersebut dengan gerakan yang tenang namun tegas.
Di dalamnya, terletak lembaran dokumen resmi dengan kop surat lembaga pencatatan sipil negara, lengkap dengan stempel hologram emas dan tanda tangan pejabat berwenang.
Mata Viona membelalak lebar saat membaca tajuk utama di lembar pertama dokumen tersebut:
> AKTA PERNIKAHAN RESMI NEGARA
> Oliver Alexander & Viona Adeline
>
"O-Oliver... ini..."
Viona menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar halus.
"Pernikahan kita... bukankah sebelumnya kita hanya menandatangani perjanjian kontrak privat di bawah pengacara pribadimu?"
Oliver mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam erat jemari dingin Viona, menyalurkan kehangatan dan keyakinan mutlak dari telapak tangannya yang besar.
"Di atas kertas, sejak tiga minggu yang lalu, kau adalah istriku yang sah secara hukum negara, Viona,"
ucap Oliver, setiap kata yang keluar dari bibir tegasnya terdengar seperti sumpah suci yang tidak akan pernah bisa dilanggar.
"Aku sengaja mendaftarkan pernikahan kita ke lembaga sipil negara tanpa memberi tahumu terlebih dahulu saat itu."
Viona menatap wajah tegap Oliver dengan pandangan tidak percaya yang bercampur aduk dengan rasa haru.
"Tapi... mengapa? Bukankah awalnya kita sepakat bahwa ini adalah pernikahan kontrak satu tahun demi Yoyo? Mengapa kau mendaftarkannya secara sah sejak awal?"
Sebuah senyuman tipis yang teramat menawan terukir di bibir Oliver.
Ia mengusap punggung tangan Viona dengan ibu jarinya, tatapannya melembut hingga ke titik terdalam.
"Karena sejak pertama kali aku melihatmu memeluk Yoyo di koridor rumah sakit itu, dan sejak aku melihat bagaimana jiwamu yang murni tetap bertahan meski telah dihancurkan oleh keluarga Lin, aku tahu... aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari hidupku."
Oliver menjeda kalimatnya, menarik napas dalam seolah mengumpulkan seluruh kejujuran maskulinnya yang paling murni.
"Kontrak satu tahun itu hanya caraku agar kau tidak merasa terancam dan bersedia masuk ke dalam duniaku.
Aku tahu kau terluka parah karena Adrian, dan jika aku memaksamu melakukan pernikahan nyata sejak hari pertama, kau pasti akan melarikan diri dariku.
Aku menggunakan kontrak itu sebagai pelindungmu, tetapi di dalam hatiku, sejak detik pertama kau melangkah masuk ke dalam mansion ini, kau adalah istriku untuk selamanya."
Air mata kebahagiaan yang hangat kembali merebak di sudut mata jernih Viona. Kali ini, tidak ada lagi rasa sakit atau bersalah di dalam air mata itu.
Hanya ada kelegaan luar biasa yang membuncah, menghancurkan seluruh dinding pertahanan terakhir yang ia miliki.
"Oliver..."
bisik Viona, suaranya serak karena emosi yang tertahan.
"Kau merencanakan ini semua... demi melindungiku?"
"Bukan hanya melindungimu, Viona, tetapi juga untuk memberikanmu status yang pantas kau dapatkan,"
lanjut Oliver dengan nada yang kembali mendingin saat mengingat musuh-musuh mereka.
"Hari ini, saat Rani Lin memandangnya sebagai 'simpanan', dan saat Tante Sela memakimu di tempat parkir... aku ingin mereka tahu bahwa mereka sedang berurusan dengan wanita yang memiliki separuh dari seluruh kekuasaan Oliver Group di tangannya.
Dokumen ini adalah perisai hukummu. Siapa pun yang berani menyentuhmu, mereka harus berhadapan dengan seluruh kekuatan negaraku."
Oliver bangkit dari kursinya, melangkah memutari meja kecil itu, lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Viona—sebuah gestur ketundukan mutlak dari seorang pria berkuasa yang biasanya membuat seluruh dunia berlutut di bawah kakinya.
Ia mengambil kotak beludru hitam kecil yang sejak tadi ia sembunyikan di dalam saku jubah tidurnya.
Saat ia membukanya, sebuah cincin platinum dengan berlian solitaire berbentuk marquise yang berkilau sangat indah di bawah cahaya lampu temaram terpampang nyata.
"Cincin pernikahan kita yang sebelumnya hanyalah cincin kontrak yang formal,"
bisik Oliver, mengambil jemari manis tangan kiri Viona.
"Tetapi cincin ini... ini adalah lambang dari hatiku yang telah kau taklukkan sepenuhnya. Viona Adeline, maukah kau membiarkan pernikahan di atas kertas ini menjadi pernikahan sejati di dalam jiwa kita? Maukah kau menjadi ibu seutuhnya untuk Yoyo, dan wanita satu-satunya di dalam sisa hidupku?"
Dada Viona bergemuruh hebat.
Di bawah tatapan elang Oliver yang penuh pengabdian dan cinta yang murni, seluruh keraguan, ketakutan akan masa lalu, dan rasa tidak percaya diri yang sempat tersisa di dalam dirinya menguap tanpa bekas.
Ia mengangguk cepat, membiarkan air matanya jatuh membasahi pipinya yang merona.
"Ya, Oliver... aku mau. Aku sangat mau,"
jawab Viona dengan ketetapan hati yang paling mutlak seumur hidupnya.
Oliver tersenyum sangat lebar—sebuah senyuman yang memancarkan kebahagiaan murni yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di dunia bisnis luar sana.
Dengan sangat perlahan dan penuh rasa hormat, ia menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Viona.
Ukurannya sangat pas, melingkar indah seolah memang diciptakan khusus untuk jari lentik wanita itu.
Setelah cincin itu terpasang, Oliver tidak langsung berdiri.
Ia mengecup punggung tangan Viona dengan lembut, lalu bangkit dan menarik tubuh ramping istrinya ke dalam pelukan hangatnya yang teramat erat.
Viona membenamkan wajahnya di dada bidang Oliver, menghirup aroma maskulin khas kayu cendana dan mint yang menenangkan dari tubuh suaminya.
Ia bisa merasakan detak jantung Oliver yang berdegup kencang dan stabil—sebuah ritme yang kini telah resmi menjadi melodi kehidupannya yang baru.
"Terima kasih telah menemukanku di titik terendahku, Oliver," bisik Viona tulus di dalam dekapan hangat itu.
"Terima kasih telah bersedia menghidupkan kembali duniaku yang kaku, Nyonya Oliver,"
balas Oliver, mengecup pelipis dan pucuk kepala Viona berulang kali dengan kelembutan yang tak terhingga.
Di luar jendela kamar, hujan gerimis mulai turun membasahi kota, menghantarkan hawa dingin yang menusuk tulang.
Namun, di dalam kamar tidur utama itu, kehangatan cinta sejati telah resmi bertahta.
Di atas kertas, mereka mungkin memulai hubungan ini sebagai sebuah transaksi kontrak;
tetapi malam ini, di bawah saksi bisu kebenaran yang terungkap dan cincin berlian yang berkilau di jari manis Viona, mereka telah resmi menuliskan babak baru sebagai sepasang suami istri yang tak akan pernah bisa dipisahkan oleh badai apa pun di masa depan.