NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 SORE HARI DI GANG SENG

Suara getaran di bawah bantal seketika menyentak Abdul dari tidur siangnya yang super nyenyak. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, menghalau sisa rasa kantuk yang masih menggelayuti kelopak matanya. 

Udara kamar yang tadinya panas menyengat kini terasa agak sejuk karena hari sudah mulai beranjak sore.

Abdul merogoh kolong bantal, mengambil handphone jadulnya yang masih terasa hangat. Layar retak itu berkedip menampilkan sebuah SMS notifikasi mutasi masuk dari Bank Suka yang bunyinya sangat singkat: "Dana masuk Rp100.000.000. Saldo Anda saat ini: ..." 

Abdul terperangah. Napasnya tertahan sejenak melihat deretan angka nol di bagian total saldo yang berbaris sangat panjang hingga memakan dua baris layar ponselnya. 

Karena layar HP-nya terlalu kecil dan jadul, digit angka di bagian belakang sampai berhimpitan dan tidak bisa terbaca jelas nominal pastinya, tetapi yang jelas jumlahnya sudah sangat luar biasa banyak dengan keadaan Abdul sekarang.

"Seratus juta sekali tidur siang... Ini kalau aku didepak dari bank karena dikira pencucian uang, bisa jantungan beneran," bisik Abdul pelan, buru-buru mengantongi benda itu dengan tangan sedikit gemetar.

Ia segera bangkit dari kasur lantai, merapikan kaus oblongnya yang agak kusut, dan melangkah keluar ke teras rumah untuk menghirup udara segar demi menenangkan jantungnya. 

Baru saja ia duduk di kursi kayu depan mesin jahit besi hitamnya, sebuah langkah kaki terdengar mendekat dari arah pagar teras.

"Sore, Dul! Sesuai janji tadi siang, ini saya antar celana kerja saya yang robek," seru Pak Jono sambil menyodorkan selembar celana kain abu-abu yang robek cukup lebar di bagian tengah.

"Eh, Pak Jono. Mari Pak, silakan duduk," sahut Abdul ramah. Ia mengambil celana tersebut, memeriksanya sebentar dengan mata profesionalnya. "Ini robeknya pas di jahitan sambungan, Pak. Gampang, sepuluh menit juga beres aku jahit ulang."

Abdul mulai menginjak pedal dinamo mesin jahit bekasnya. Bunyi putaran roda mesin yang khas terdengar konstan, memecah keheningan sore di Gang Seng. 

Dengan gerakan tangan yang sangat lihai hasil didikan SMK dan pengalaman pabrik garmen, Abdul menyatukan kembali kain yang robek itu dengan sangat rapi.

Pak Jono yang memperhatikan dari kursi sebelah sampai berdecak kagum. "Wah, cepet banget kamu ya, Dul. Jahitannya juga rapi banget, lurus kayak jalan tol. Beda sama tukang permak keliling yang biasa lewat."

"Biasa, Pak, dulu kan tiap hari megang ginian di pabrik," jawab Abdul merendah sambil memutus benang dengan gunting kecil. "Ini sudah selesai, Pak. Silakan dicek."

"Mantap! Berapa ongkosnya, Dul?" Pak Jono merogoh saku celananya.

"Sepuluh ribu saja, Pak, buat tetangga sendiri," kata Abdul tersenyum.

Pak Jono menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan dengan wajah puas. "Nah, kalau begini kan enak. Nanti kalau baju atau celana istriku ada yang rusak, aku suruh antar ke sini saja ya. Daripada kamu luntang-lantung pasca PHK, mending narik rezeki dari rumah begini."

"Siap, Pak. Datang saja," sahut Abdul.

***

Baru saja Pak Jono keluar pagar, sebuah mobil sedan hitam berpelat merah mendadak berhenti tepat di depan kontrakan Abdul. 

Dari pintu belakang, turun seorang pria paruh baya berbadan tambun dengan seragam PNS yang rapi namun wajahnya tampak sangat panik dan terburu-buru. Pria itu adalah Pak Darma, staf keuangan kantor kecamatan.

Pak Darma melihat spanduk kuning Abdul, lalu bergegas masuk ke teras. "Permisi, Mas. Apa benar ini tempat jahit yang bisa permak kilat?" 

"Eh, iya benar, Pak. Saya Abdul. Ada yang bisa dibantu?" tanya Abdul sopan.

Pak Darma langsung mengeluarkan selembar celana bahan dinas baru berwarna biru tua dari tasnya. "Tolong kecilkan bagian pinggang dan potong bawahnya sore ini juga, ya mas Abdul. Besok jam tujuh pagi saya harus mendampingi Pak Camat rapat penting, sementara celana saya yang lain masih di laundry dan belum kering. Bisa selesai cepat?"

"Bisa, Pak. Silakan duduk dulu, biar langsung saya kerjakan," jawab Abdul.

Abdul segera mengambil pita ukur, memotong kelebihan kain dengan mantap, lalu mulai menjahitnya. Menggunakan standar kontrol kualitas pabrik yang biasa ia lakukan dulu, Abdul menyelesaikan jahitan itu hanya dalam waktu dua belas menit.

Pak Darma menerima celana itu lalu memeriksa keliman benangnya dengan teliti. Matanya seketika melotot lebar karena takjub. "Luar biasa! Jahitan kamu lurus sempurna dan sangat kuat, Mas. Ini sih sekelas setelan jas mahal yang biasa saya pesan di butik mal Jakarta! Berapa ongkosnya?"

"Dua puluh ribu saja, Pak, tarif standar sini," kata Abdul.

Pak Darma menggelengkan kepala, lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribuan baru yang masih kaku dari dompetnya. "Tidak, kualitas begini terlalu murah kalau dua puluh ribu. Ini ambil seratus ribu, kembaliannya tidak usah. Tolong simpan nomor saya, siapa tahu ke depan kantor kecamatan butuh bantuan konveksi lokal."

Setelah Pak Darma pamit dan mobil dinasnya pergi, Abdul tersenyum lebar sambil menatap uang seratus ribu di tangannya. Di dalam hatinya, Abdul mengembuskan napas panjang penuh kelegaan. Tameng alibinya bekerja dengan sangat baik dan bahkan kini sudah meluas hingga ke lingkaran orang pemerintahan kecamatan.

***

Begitu suasana sepi, Abdul masuk ke dalam rumah. Di dapur, Ibu Yanti sedang sibuk menyiapkan makan malam. Wajah tua ibunya terlihat jauh lebih cerah dan tenang dibandingkan kemarin-kemarin setelah melihat ada mobil pelat merah yang bertamu ke rumah mereka.

"Tadi itu mobil pelat merah siapa, Dul? Sudah ada pelanggan lagi?" tanya Ibu Yanti dengan senyum lebar.

"Iya, Bu. Itu Pak Darma, orang keuangan kantor kecamatan. Beliau minta tolong permak celana dinas buat rapat besok. Alhamdulillah beliau puas banget, bahkan kasih uang tip seratus ribu," jawab Abdul. 

"Oh ya, Bu. Abdul mau masuk kamar dulu ya. Mau fokus lembur corat-coret, membuat draf pola potongan baju, sama menghitung anggaran kain di buku tulis. Siapa tahu besok-besok ada pesanan pakaian utuh yang datang, jadi Abdul sudah siap polanya. Kalau bisa jangan diganggu dulu ya, Bu, biar Abdul gak buyar hitung-hitungannya."

"Iya, Dul. Kerjakan pelan-pelan, jangan terlalu diforsir ya," sahut ibunya dengan nada penuh rasa bangga melihat dedikasi anak laki-lakinya yang langsung produktif setelah sempat menganggur.

Abdul melangkah masuk ke kamar depannya. Karena pintunya hanya selembar kain gorden lusuh, Abdul menarik kain gorden itu hingga benar-benar rapat menutupi jalan masuk.

​Ia sengaja menggeser sedikit meja belajarnya mendekati gorden agar kainnya tidak gampang tertiup angin atau tersingkap secara tidak sengaja dari luar.

​Abdul mematikan lampu utama kamar, lalu menyalakan lampu meja belajar kecil yang remang-remang. Dengan posisi meja yang dekat gorden, dari luar ruangan remang-remang itu memantulkan siluet bayangan tubuh Abdul di atas kain gorden, membuatnya terlihat seperti seorang pemuda yang sedang tekun menunduk memandangi buku dan bekerja keras hingga larut malam.

​Setelah memastikan semua persiapan akting siluetnya sempurna, Abdul menjauh dari meja dengan gerakan super pelan tanpa suara. 

Ia langsung merebahkan tubuh kurusnya di atas kasur lantai yang tipis dan sudah agak kempis itu, menarik selimut kainnya hingga ke dada, lalu memeluk guling bolong kesayangannya dengan perasaan luar biasa puas.

​"Bikin draf pola? Nyusun strategi sekarang? Hahaha... ogah banget. Strategi terbaik aku saat ini adalah Lanjut tidur!" gumam Abdul menyeringai kegirangan.

​Dengan pikiran yang tenang karena tameng jahitnya sudah resmi berjalan, Abdul memejamkan matanya. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, suara dengkur halus mulai terdengar dari mulut pemuda itu. 

Abdul kembali tertidur dengan sangat pulas.

​Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam saku celananya, layar handphone jadulnya kembali menyala di dalam kegelapan. Namun kali ini, polanya berbeda. 

Tidak ada bunyi ting! SMS masuk dari Bank Suka seperti biasanya. Di atas layar LCD buram bergaris hijau itu, deretan teks keemasan baru muncul, bergerak lambat membelah kegelapan kamar seiring dengan akumulasi saldo Abdul yang diam-diam telah resmi melewati angka seratus juta rupiah dari hasil transaksi-transaksi sebelumnya.

​[PUNCAK AKTIVASI SISTEM...]

[Total Saldo Rekening: Melewati Rp100.000.000]

[Status: Pembaruan Sistem Berhasil 100%]

[Sistem Mode Upgrade: Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan]

[Fitur Baru Terbuka: Mengubah Mimpi Menjadi Nyata]

[Aturan: Mimpi alami dari alam bawah sadar yang termasuk dalam kategori finasial/uang, akan di konversikan menjadi uang, dan di kirim ke rekening target. Jika pengguna sengaja tidur atau memaksa diri tidur demi uang, hasil akan Zonk (Kosong).]

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!