Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Bambang
Hari Kamis, Pukul 13.30
Setelah jam pelajaran usai, Pak Bambang ada di ruang BK seperti biasa. Namun kali ini bukan aku yang dipanggil—aku yang datang sendiri menemuinya.
“Pak Bambang, saya ingin bicara sebentar.”
Pak Bambang menoleh. Wajahnya berubah seketika begitu melihatku—seolah-olah dia sudah tahu apa yang akan aku sampaikan.
“Mau bicara tentang apa, Nayla?”
“Tentang ayah kandung saya.”
Pak Bambang terdiam sejenak. Lalu dia berdiri, menutup pintu ruangannya, dan menarik tirai jendela agar tidak terlihat dari luar.
“Silakan duduk.”
Aku duduk, disusul Rasya di sampingku.
“Siapa yang memberitahumu?” tanya Pak Bambang.
“Kayla. Siswa baru di kelas kami.”
“Kayla Maharani?”
“Iya. Dia adik kandung Rio.”
Pak Bambang menghela napas panjang. Dia mengambil sebuah foto tua dari laci mejanya—warnanya sudah agak pudar. Di dalam foto terlihat dua orang polisi muda berdiri berdampingan sambil tersenyum lebar.
“Yang di sebelah kiri itu aku,” tunjuk Pak Bambang. “Dan yang di sebelah kanan… adalah Komisaris Aditya Pratama. Ayah kandungmu.”
Aku menatap foto itu lekat-lekat. Wajah pria itu—wajah ayah kandungku—ternyata sangat mirip denganku. Bentuk mata dan garis wajahnya persis seperti milikku.
“Dia… terlihat gagah,” kataku dengan suara terbata.
Pak Bambang tersenyum pahit. “Dia orang yang sangat baik. Terlalu baik untuk dunia yang penuh korupsi ini.”
“Pak Bambang tahu siapa yang membunuhnya?”
“Jenderal Purnomo.”
“Kenapa dia tidak ditangkap?”
“Karena Jenderal Purnomo memiliki kekuasaan yang sangat besar. Uang, jaringan, pengaruh—semua orang takut padanya.” Pak Bambang mengepalkan tangannya. “Termasuk aku dulu.”
“Tapi sekarang…”
“Sekarang dia sudah pensiun. Namun kekuasaannya masih terasa. Banyak anak buahnya yang masih menjabat di berbagai instansi.”
“Tapi kami memiliki bukti,” kataku mantap. “Kayla memiliki bukti lengkap.”
Pak Bambang mengerjapkan matanya kaget. “Apa maksudmu?”
“Ada sebuah flashdisk yang berisi semua bukti kejahatan Jenderal Purnomo. Kayla memberikannya sebagai ganti kebebasannya dari bayang-bayang orang itu.”
“Apakah Kayla bersedia menjadi saksi?”
“Ia ingin bebas dari kekuasaan Jenderal. Ia sudah lelah menjadi budak perintahnya.”
Pak Bambang terdiam. Matanya bergerak cepat, seolah sedang menghitung risiko dan kemungkinan yang ada.
“Ini hal yang sangat berbahaya,” ucapnya akhirnya.
“Aku tahu.”
“Ini bisa membahayakan nyawa kita semua.”
“Aku juga tahu.”
“Kamu masih bersedia melanjutkannya?”
Aku menoleh ke arah Rasya. Dia mengangguk mantap.
“Aku bersedia,” jawabku tegas. “Demi ayah kandungku. Demi Rasya. Demi semua orang yang menjadi korban kejahatan Jenderal Purnomo.”
Pak Bambang menatapku lama, lalu berdiri tegak.
“Aku akan menghubungi teman-teman lamaku. Mereka yang masih setia pada almarhum ayahmu.” Dia mengambil ponselnya. “Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa.”
“Aku hanya berharap Bapak mau mencoba.”
Pak Bambang tersenyum—senyum tulus yang jarang terlihat dari wajahnya yang biasanya terlihat tegas.
“Kamu sangat mirip dengan ayahmu, Nayla.”
“Maksudnya?”
“Sama-sama keras kepala.”
---
Tiga Hari Kemudian
Pak Bambang berhasil mengumpulkan lima orang mantan polisi yang dulu bertugas bersama ayah kandungku. Mereka semua bersedia membantu—dengan satu syarat penting: identitas mereka harus dirahasiakan, bahkan dari kami sekalipun.
“Ini demi keamanan kita semua,” jelas Pak Bambang. “Kita tidak tahu siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang masih memiliki hubungan dengan Jenderal Purnomo.”
Aku mengerti alasan mereka.
Pertemuan pertama diadakan di rumah Pak Bambang pada malam Jumat. Aku, Rasya, Sasha, dan Kayla hadir. Kayla membawa flashdisk berisi bukti-bukti kejahatan Jenderal Purnomo.
Pak Bambang mencolokkan perangkat itu ke laptop. Berbagai file terbuka di layar: foto-foto kejadian, rekaman percakapan, transaksi bank, serta nama-nama polisi dan politisi yang terlibat.
“Astaga,” bisik Sasha dengan mata terbelalak kaget. “Sebesar ini jaringannya?”
“Jenderal Purnomo sudah berkuasa selama puluhan tahun,” jelas Kayla. “Dia memiliki tangan di mana-mana: di kepolisian, pemerintahan, bahkan di pengadilan sekalipun.”
“Kenapa Rio bisa menjadi anak buahnya?” tanyaku.
“Karena ayahku—ayah Rio dan ayahku—adalah orang kepercayaan Jenderal. Ayahku yang menjalankan semua operasi kotor di lapangan. Namun ayahku meninggal setahun yang lalu, sehingga Rio menggantikan posisinya.”
“Lalu kamu?”
“Aku… dibiarkan begitu saja.” Kayla menunduk. “Jenderal tidak menganggapku berharga karena aku perempuan. Dia mengira aku tidak akan berani berbuat apa-apa.”
“Ternyata dia salah,” sahutku tegas.
Kayla mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. “Iya. Dia salah besar.”
“Kita harus menyerahkan bukti ini ke media,” usul Pak Bambang. “Juga ke Komisi Pemberantasan Korupsi dan lembaga independen lainnya.”
“Tapi mereka bisa disuap atau diancam,” kata Rasya.
“Maka kita serahkan ke semuanya sekaligus. Media massa, KPK, lembaga swadaya masyarakat. Kita buat bukti ini terbuka untuk umum—sehingga tidak ada yang bisa menutup-nutupinya lagi.”
“Risikonya sangat besar,” ucap salah satu mantan polisi yang kami panggil Om Anton. “Jenderal Purnomo tidak akan tinggal diam begitu saja.”
“Maka kita harus bertindak lebih cepat dari dia.”
Pertemuan berlangsung hingga larut malam. Saat selesai, kami semua terasa lelah namun dipenuhi semangat. Untuk pertama kalinya, kami merasa ada harapan nyata.
---
Keesokan harinya, aku baru saja selesai sarapan saat ponselku berdering keras.
Sasha (09.15): “Nay, CEPAT BUKA TV!”
Aku buru-buru menyalakan televisi. Di layar, seorang pembawa berita tampak serius menyampaikan laporan:
“Polda Metro Jaya mengumumkan telah menangkap Jenderal Purnomo terkait kasus korupsi dan pencucian uang yang melibatkan puluhan polisi dan politisi. Penangkapan ini dilakukan setelah adanya bukti kuat yang diserahkan oleh sekelompok masyarakat yang peduli pada hukum…”
Aku tertegun hingga remote televisi terlepas dari genggamanku.
Sangat cepat. Terlalu cepat.
Rasya (09.18): “Kamu sudah melihat beritanya?”
Nayla (09.18): “SUDAH. KOK BISA SECEPAT INI?”
Rasya (09.19): “Pak Bambang dan teman-temannya ternyata sudah menyusun rencana ini sejak lama. Mereka hanya menunggu bukti yang lengkap.”
Nayla (09.19): “Jadi… Jenderal Purnomo sudah benar-benar ditangkap?”
Rasya (09.20): “Sudah. Tadi malam. Saat kita semua tertidur.”
Aku tidak tahu persis perasaan apa yang sedang berkecamuk di hatiku. Lega? Belum sepenuhnya. Takut? Sedikit, memang.
Tapi ada satu hal yang pasti aku pahami: perjuangan ini belum selesai.
Selama masih ada anak buah dan pengikut Jenderal Purnomo yang tersebar di berbagai tempat, selama itu pula kami tidak akan pernah benar-benar merasa aman.