NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tentang Pangeran Lab dan Sang Mekanik

Sore itu, suasana kampus Uwikerta mulai agak melandai. Panas terik tadi siang berganti menjadi semburat oranye yang malu-malu di ufuk timur. Di depan gerbang gedung Sastra, Kirana sedang berdiri menyandang tasnya, menatap layar ponsel yang tak kunjung memberikan notifikasi penting selain grup angkatan yang isinya keluhan tugas.

Baru saja ia hendak melangkah menuju halte, sebuah mobil SUV putih yang mengkilap berhenti tepat di depannya. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan wajah Danu yang segar—seolah matahari seharian tadi sama sekali tidak sanggup merusak ketampanannya.

"Belum pulang, Ra?" tanya Danu ramah.

Kirana sedikit tersentak, lalu tersenyum tipis. "Eh, baru mau ke halte, Kak Danu."

Danu tertawa kecil mendengar panggilan itu. "Panggil Danu aja kali, Ra."

Kirana menggeleng pelan sambil tetap tersenyum sopan. "Enggak ah, Kak Danu aja. Berasa lebih pas aja manggilnya gitu."

"Ya sudah, terserah kamu deh," jawab Danu mengalah. "Bareng aku aja, yuk? Searah kan? Lagian aku laper banget, mau mampir makan bentar. Kamu belum makan sore, kan?"

Kirana sempat bimbang sejenak. Ia teringat ucapannya kemaren yang menolak Danu dengan alasan Sari. Tapi sekarang Sari sudah pulang duluan karena ada urusan mendadak. Menimbang-nimbang perutnya yang mulai keroncongan, akhirnya Kirana mengangguk. "Ya udah, boleh deh. Makasih ya, Kak"

"Santai aja," jawab Danu sambil membukakan pintu untuk Kirana dari dalam.

Tanpa Kirana sadari, dari kejauhan—tepatnya di dekat gerbang parkiran motor Teknik—sebuah motor custom Cafe Racer berbasis Kawasaki W175 berwarna hitam legam menderu pelan. Penunggangnya, Bima, masih mengenakan kemeja yang tadi ia pakai saat orasi, meski sekarang kancing paling atasnya sudah dibuka.

Bima melihat dengan jelas bagaimana Kirana masuk ke mobil Danu. Ada perasaan yang tiba-tiba bergejolak di dadanya. Bukan cuma panas karena mesin motornya, tapi rasa sesak yang tidak bisa ia jelaskan. Tanpa pikir panjang, Bima menyalakan mesin motornya dan mengikuti mobil putih itu dari jarak yang cukup aman.

Mobil Danu berhenti di sebuah warung bakso pinggir jalan yang cukup ramai. Bukan restoran mewah, hanya warung tenda sederhana dengan bangku kayu panjang. Kirana agak terperangah saat Danu mengajaknya turun di sana.

"Kita makan di sini, Kak?" tanya Kirana tidak percaya.

Danu mengangguk antusias. "Iya. Ini bakso langganan keluarga aku dari aku masih kecil. Rasanya nggak pernah berubah dari dulu. Kenapa? Kamu nggak suka bakso pinggir jalan?"

"Bukan nggak suka... aku cuma nggak percaya aja. Aku kira orang kayak Kak Danu makannya di tempat mewah, yang ada AC-nya gitu," celetuk Kirana jujur.

Danu tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar tulus. "Nggak jugalah, Ra. Yang penting itu kan rasa dan memorinya, bukan mewahnya. Sederhana itu lebih enak, tahu."

Kirana tertegun sejenak. Ia menatap Danu yang sedang sibuk memesankan dua porsi bakso komplit. Dalam hatinya, Kirana membatin, Danu ternyata perfect juga ya. Pinter, ganteng, tapi nggak sok kaya dan tetap sederhana. Senyum tipis mengembang di bibir Kirana.

Sementara itu, beberapa meter dari warung bakso, Bima memarkirkan motornya di balik pohon besar. Ia melepaskan helm, matanya menatap tajam ke arah dua orang yang sedang asyik mengobrol di bawah tenda itu. Melihat Kirana tersenyum sebegitu manisnya pada Danu membuat Bima melengos kasar. Ia memukul stang motornya pelan. Rasanya benar-benar tidak nyaman.

"Sial," gumam Bima, lalu ia memutar balik motornya dan melesat pergi menuju markas geng mesinnya di sebuah kontrakan besar dekat kampus.

Di markas Teknik, suasana sedang riuh. Adit sedang duduk di pojok ruangan sambil memegang ponselnya. Ia sedang melakukan video call dengan Maya. Di sela-sela obrolan mereka, Sari sesekali terlihat di layar ponsel Maya, hanya merhatiin gerak-gerik Maya dan pacarnya yang sedang bucin parah itu sambil sesekali ketawa kecil melihat tingkah mereka.

"Iya By, tadi capek banget orasi. Tapi pas liat muka kamu di layar gini, capeknya langsung ilang," ucap Adit dengan nada yang sangat bucin.

Maya di seberang sana tertawa gemas sambil meragain pose centilnya. "Halah, gombal terus! Tapi tadi kamu keren kok pas jaga stand."

Tiba-tiba, pintu markas terbuka dengan bantingan keras. BRAKK!

Bima masuk dengan wajah gelap. Tanpa menyapa siapa pun, ia membuka kemejanya dengan kasar, lalu membantingnya ke atas sofa kulit yang sudah kusam. Wajahnya terlihat sangat marah, urat-urat di lehernya menonjol.

"Apa tuh By? Suara apa yang banting-banting?" tanya Maya kaget dari layar ponsel Adit.

Adit menoleh, matanya membulat melihat Bima yang langsung masuk ke kamar mandi dengan langkah menghentak. "Gatau tuh si Bima. Nggak biasanya dia marah kayak gini sampai banting kemeja yang dia pake."

"Lagi capek kali, Dit? Kan anak mesin lagi sibuk-sibuknya sekarang persiapan demo unit," kata Maya mencoba berpikir positif.

"Ah, kayaknya nggak deh. Ini mah kayaknya lagi patah hati," bisik Adit ke kamera ponselnya. "Soalnya dia jarang banget begini. Terakhir kali dia marah dan emosional kayak gini tuh pas putus sama mantannya yang dulu banget, dan itu udah lama banget. Dia gapernah kayak gini lagi sejak itu."

Mata Maya langsung berbinar. "Hah? Serius? Wah, gosip anget nih!"

Tak butuh waktu lama, grup WhatsApp beranggotakan Kirana, Maya, dan Sari langsung bergetar hebat.

Maya: WOI WOI GOSIP ANGET!

Maya: Tadi gue lagi VC sama Adit, terus tiba-tiba si Bima dateng ke markas langsung banting kemeja. Marah besar dia!

Maya: Kata Adit, si Bima jarang banget kayak gitu. Terakhir kali dia begitu pas putus sama mantannya yang dulu banget. Wah, ada apa nih sama si Mekanik Malam?

Kirana yang baru saja sampai di kostnya setelah diantar Danu, membaca pesan itu dengan dahi berkerut.

Kirana: Apa urusannya ama gua? Udah deh May, lu udahan deh bahas dia mulu. Nggak penting.

Maya: Yee, kan lu mau tahu nggak sih Kira? Ini langka banget tahu!

Kirana: Enggak ya, gua nggak mau tahu urusan dia. Mau dia banting kemeja atau banting motor juga terserah dia.

Maya: Ih, beneran deh, ini informasi penting karena dia kan salah satu cowok paling ganteng di kampus. Iya nggak, Sar?

Hening beberapa detik. Tidak ada balasan dari Sari.

Maya: @Sari Woi! Mana nih si Sari?

Maya: Dih, malah di-read doang. @Sari RESPON DONG!

Sari: Eh, iya ya Maya. Maaf tadi lagi fokus baca buku.

Maya: Ah, kebiasaan deh si Sari jarang banget nimbrung kalau lagi seru!

Maya dan Sari pun lanjut berdebat di grup tentang kemungkinan siapa yang membuat Bima patah hati. Sementara itu, Kirana meletakkan ponselnya di atas kasur. Ia mencoba untuk tidak peduli, tapi kalimat Adit yang diceritakan Maya terus terngiang di kepalanya.

Marah sampai banting kemeja? Emang dia bisa ngerasa sekesal itu ya? Kirana teringat wajah dingin Bima saat di lapangan basket tadi. Ia merasa kepo, tapi egonya langsung menepis perasaan itu jauh-jauh.

"Ah, bodo amat. Paling juga urusan mesinnya yang rusak," gumam Kirana sambil mengambil handuk, berusaha melupakan bayangan Bima dan fokus pada rasa bakso yang tadi ia makan bersama Kak Danu. Tapi entah kenapa, rasa cokelat dari Kak Danu dan berita marah-marahnya Bima malah bercampur aduk di pikirannya malam itu.

Catatan Penulis

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!