NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerja yang rapi

Setelah pintu besar itu tertutup di balik punggung Riko, keheningan kembali menguasai mansion mewah tersebut. Monique menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih memacu cepat akibat emosi yang meluap-luap. Ia berjalan melintasi pecahan kaca dengan langkah anggun, sama sekali tidak peduli pada noda wine yang mengotori karpet bulu impor miliknya.

​"Kalian semua, tunggu apa lagi?!" bentak Monique tiba-tiba pada para pelayan yang masih mematung di sudut. "Bersihkan tempat ini sekarang juga! Saya mau mandi, dan saat saya keluar nanti, ruangan ini harus sudah bersih seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa!"

​"Ba... baik, Nyonya," sahut kepala pelayan dengan suara gemetar, langsung memberi isyarat pada anak buahnya untuk bergerak cepat.

​Monique melenggang naik ke lantai dua menuju kamar utamanya. Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung mengempaskan tubuhnya ke atas kasur king size yang terasa begitu luas—dan sialnya, terasa begitu kosong tanpa kehadiran Alan. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

​"Kenapa sih, Lan? Kenapa harus sesusah ini buat bikin kamu cinta sama aku?" gumam Monique pada keheningan kamar. "Aku kurang apa? Aku kasih kamu panggung, aku kasih kamu kuasa. Tapi kamu malah milih hidup susah di kampung demi perempuan miskin itu."

​Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas, membuka galeri foto. Di sana terpampang foto mereka berdua saat menghadiri gala dinner sebulan yang lalu. Alan tampak begitu gagah dengan setelan tuksedo hitam, sementara Monique tersenyum gelendotan di lengannya.

Meski usianya sudah mencapai kepala lima, tapi dengan perawatan kelas atas tidak membuat wajah Monique menjadi tua. Tapi jika diperhatikan lebih dekat, senyum Alan tidak pernah benar-benar sampai ke mata.

​Drrt... drrt...

​Ponsel di tangannya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari salah satu sahabat sosialitanya, Valerie. Monique berdehem, mengatur suaranya agar terdengar sekasual mungkin sebelum menggeser tombol hijau.

​"Halo, Val? Ada apa sore-sore telepon?" tanya Monique, suaranya langsung berubah manis dan tenang, tipikal wanita kelas atas yang selalu tampak sempurna.

​"Mon! Oh my god, kamu harus jelasin ke aku sekarang!" seru Valerie di seberang telepon dengan nada heboh. "Ini gosip di grup arisan beneran nggak sih? Katanya Alan mundur dari posisi CEO di perusahaan papamu? Terus ada yang bilang kalian... cerai?!"

​Monique memutar bola matanya jengah, namun nadanya tetap santai. "Aduh, Val, netizen di lingkungan kita tuh emang hobi banget ya bikin cerita drama. Biasalah, Alan cuma lagi ambil cuti sementara. Dia capek megang proyek besar berturut-turut, jadi pengen refreshing dulu ke luar kota."

​"Oh ya? Tapi kok sampai ada rumput yang bergoyang bilang kalau dia balikin semua fasilitas dari kamu? Porsche-nya katanya udah nangkring lagi di garasi rumah lamamu?" kejar Valerie, masih penasaran.

​Monique tertawa kecil, tawa yang dipaksakan. "Ya ampun, Val. Alan itu kan emang gengsian orangnya. Dia ngerasa kalau lagi libur begini, nggak enak pakai fasilitas kantor. Lagian dia cuma pakai mobil sewaan biasa kok sekarang, katanya pengen ngerasain jadi 'orang biasa' lagi. Kamu tahu kan suamiku itu kadang idealisnya suka kumat?"

​"Hmm... gitu ya? Syukurlah kalau cuma gosip. Soalnya sayang banget kan, Mon, kalian berdua itu couple goals banget tahu. Ya udah deh, nanti kalau kalian ada waktu, kita double date lagi ya. Bye, Mon!"

​"Sure, bye Val."

​Monique langsung mematikan sambungan telepon dan melempar ponselnya ke kasur. "Dasar wanita-wanita bermulut ember," umpatnya kesal. Ia tahu, dalam hitungan hari, rahasia ini tidak akan bisa ditutupi lagi jika Alan tidak segera pulang. Harga dirinya dipertaruhkan di sini.

​Sementara itu, di sebuah kedai kopi pinggir jalan jalur selatan menuju Purworejo, Riko sedang duduk di dalam mobilnya yang terparkir agak tersembunyi. Ia menempelkan ponselnya ke telinga, menghubungi seseorang yang sudah stand-by di lapangan.

​"Halo, target sudah dipastikan posisinya?" tanya Riko tanpa basa-basi begitu telepon diangkat.

​"Sudah, Bos. Alan sekarang posisinya lagi di salah satu hotel kelas melati di pusat kota Purworejo. Kelihatan lecek banget, Bos. Kayaknya benar-benar habis diusir sama Xarena," jawab suara di seberang sana, terdengar ada suara bising knalpot motor beradu dengan angin malam.

​Riko terkekeh pelan. "Bagus. Biarin dia istirahat malam ini. Tapi besok pagi, begitu dia mulai gerak lagi ke arah desa Bruno, kalian jalanin rencana Nyonya Monique."

​"Instruksi detailnya gimana, Bos? Takut salah eksekusi nih."

​Riko menyalakan rokoknya, mengembuskan asapnya ke luar jendela mobil. "Simpel. Kalian sewa beberapa preman lokal di sana. Datangi rumah joglo tempat Xarena tinggal. Bikin keributan kecil, gedor-gedor pagarnya, atau lempar sesuatu ke halamannya. Begitu Xarena keluar ketakutan, salah satu dari kalian harus teriak dengan jelas, bilang kalau ini peringatan karena Alan punya utang atau masalah di Jakarta."

​"Oh, jadi kita kambing hitamkan si Alan?"

​"Tepat. Buat seolah-olah kedatangan Alan ke desa itu malah membawa petaka dan penagih utang buat kehidupan tenang Xarena dan anaknya. Dan satu lagi, kalau Alan datang buat sok jadi pahlawan ngebelain Xarena, kalian pura-pura takut aja terus kabur. Tapi pastikan sebelum kabur, kalian lepas kalimat yang bikin Xarena makin curiga kalau itu semua cuma sandiwara Alan buat ngambil hati dia."

​Pria di seberang telepon tertawa licik. "Paham, Bos. Kita bikin skenario 'pahlawan kesiangan yang kedoknya terbongkar'. Dijamin perempuan itu bakal makin muak sama mukanya Alan."

​"Kerja yang rapi. Jangan sampai ada keterlibatan nama Nyonya Monique atau saya. Kalau kalian ketangkap, kalian tanggung sendiri akibatnya. Mengerti?" ancam Riko dingin.

​"Aman, Bos. Kita udah biasa kerja bersih. Besok pagi-pagi, pertunjukan dimulai."

​Riko mematikan telepon, tersenyum puas melihat betapa rapuhnya posisi Alan saat ini. Di satu sisi ada Monique yang punya kuasa tak terbatas karena uangnya, dan di sisi lain ada Alan yang sok idealis melepaskan semuanya demi cinta lama yang sayangnya... sudah terlanjur membencinya setengah mati.

​"Lu salah langkah, Lan. Di dunia ini, lu nggak bisa hidup cuma modal cinta dan penyesalan," gumam Riko sambil menginjak pedal gas mobilnya, membelah malam Jakarta yang dingin, meninggalkan konspirasi yang siap meledak keesokan harinya di Purworejo.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!