Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Phobia Ravian Kambuh
Suasana kantin masih ramai saat kejadian itu terjadi.
Aelira baru saja berdiri dari kursinya, hendak mengembalikan nampan ke tempat cucian. Ziva sudah lebih dulu berjalan ke arah lorong.
Tapi tiba-tiba—sebuah tangan menyentuh bahu Ravian dari belakang.
“Maaf, Kak. Ini ponsel Kakak jatuh.”
Ravian berbalik.
Seorang siswi kelas sepuluh berdiri di sana, wajahnya polos, tangannya masih terulur memegang ponsel Ravian yang entah kapan terjatuh dari saku jaketnya.
Sentuhannya hanya sepersekian detik.
Tapi bagi Ravian—itu terlalu lama.
Wajahnya yang sedetik lalu masih santai langsung berubah. Pucat. Matanya melebar. Napasnya tersengal.
“Jangan sentuh gue!”
Bentakannya keras—tidak terkendali.
Seluruh kantin mendadak sunyi. Puluhan pasang mata menoleh. Siswi itu mundur selangkah, wajahnya ketakutan.
“Ma—maaf, Kak. Aku cuma—“
“GUE BILANG JANGAN SENTUH GUE!”
Ravian mundur. Tubuhnya membentur meja. Tangannya gemetar hebat. Dadanya naik turun seperti habis berlari maraton. Dia merasa mual. Jijik.
Wajah-wajah asing mulai terlihat kabur.
Mommy.
Pria asing itu.
Daddy dan Tante Maya.
Semuanya berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
“Ravian!”
Aelira berlari mendekat. Tangannya hendak meraih—tapi Ravian malah mundur lagi.
“JANGAN!”
Aelira membeku. Jantungnya terasa ditusuk.
Ravian tidak pernah menolaknya. Tidak pernah. Sejak pertama kali mereka bertemu di lorong SMP itu, Ravian selalu bisa disentuh olehnya. Hanya olehnya.
Tapi kali ini, matanya kosong. Seperti tidak mengenali siapa pun di sekitarnya.
“Van... ini aku. Aelira.” Suaranya pelan—sabar. “Lihat aku, Van.”
Ravian menatapnya. Nafasnya masih memburu. Tangannya masih gemetar. Tapi matanya mulai fokus.
“Eli...?” Suaranya serak—pecah.
“Iya. Aku.” Aelira tersenyum tipis. “Boleh aku pegang tangan kamu?”
Ravian mengangguk pelan—seperti anak kecil yang ketakutan.
Tangannya meraih tangan Aelira dan langsung menariknya erat—terlalu erat. Digenggamnya tanpa mau melepaskan. Jari-jari mereka bertaut. Ravian menunduk, menempelkan dahi ke punggung tangan Aelira. Napasnya perlahan mulai stabil.
Di sudut kantin, Rian berdiri diam. Matanya menatap adegan itu dengan ekspresi dingin.
Ini ulanganku, pikirnya.
Dia yang menyuruh siswi itu mendekati Ravian. Bukan untuk menjatuhkan ponsel—tapi untuk menyentuhnya. Rian sudah tahu tentang haphephobia Ravian. Sudah menyelidiki sejak lama. Dan hari ini, dia sengaja memicu kambuhnya.
Rian berbalik pergi tanpa bersuara.
---
Ruang UKS — Sore itu
Ravian masih menggenggam tangan Aelira. Tidak melepaskannya sedetik pun. Pupil matanya masih sedikit membesar, bekas panik yang belum sepenuhnya reda.
Aelira duduk di tepi kasur, membelai pelan punggung tangan Ravian.
“Udah, Van. Sekarang aman. Cuma kita berdua.”
Ravian menggeleng. “Jangan pergi.”
“Nggak pergi.”
“Jangan tinggalin gue.”
“Nggak akan.”
Ravian menarik tangan Aelira ke pipinya—menempelkannya di sana. Dingin. Lembut. Dia mengecup telapak tangan Aelira pelan.
“Gue mau pulang.”
“Oke. Aku anterin.”
“Bukan. Maksudnya...” Ravian menatap Aelira. Matanya sayu—lucu dan memelas di saat yang bersamaan. “Gue mau pulang. Ke rumah.”
Aelira mengangguk. Rumah mereka. Rumah yang Ravian beli dengan uang hasil jerih payahnya sendiri—bukan dari Daddy atau Kakek. Rumah yang sejak SMP menjadi tempat tinggal mereka berdua setelah Ravian memaksa Aelira untuk ikut dengannya.
“Masuk, Li.” Ravian menarik tangan Aelira begitu pintu terbuka.
Aelira menghela napas. “Van, aku mau ganti baju dulu.”
“Di kamar gue aja.”
“Tapi—“
“Gue nggak akan lihat. Janji.”
Aelira menatapnya curiga. Tapi karena Ravian masih terlihat pucat dan tangannya masih sedikit gemetar, ia menurut.
---
Di dalam kamar Ravian—yang bersebelahan dengan kamar Aelira, tapi terhubung oleh pintu kecil yang tidak pernah dikunci—cowok itu duduk di tepi kasurnya. Matanya mengawasi Aelira yang berganti baju di balik lemari.
“Jangan liat, Van.”
“Gue tutup mata.”
“Beneran?”
“Beneran.”
Aelira mendengus. Tapi tetap berganti dengan cepat. Begitu selesai, ia berjalan mendekat.
“Udah.”
Ravian membuka mata. Wajah Aelira bersih tanpa riasan. Rambutnya diikat asal. Tanktop dan celana pendek—pakaian tidur favoritnya.
Ravian langsung meraih pergelangan tangannya dan menarik Aelira duduk di sampingnya.
“Peluk gue.”
“Kamu tuh... baru banget trauma, tapi udah maksa-maksa.”
“Justru karena gue trauma. Gue butuh lo.”
Aelira menghela napas—lalu memeluk Ravian. Tangannya membelai rambut cowok itu pelan.
Ravian langsung ndusel ke bahu Aelira. Matanya terpejam. Tangannya melingkar di pinggang Aelira—erat, tidak mau dilepas.
“Eli.”
“Hm?”
“Lo tahu kenapa gue bisa tenang cuma sama lo?”
Aelira diam.
“Karena lo nggak pernah lihat gue sebagai orang yang lemah. Lo cuma... lihat gue sebagai Ravian. Bukan pewaris. Bukan artis. Bukan trauma.”
Aelira mengecup puncak kepala Ravian pelan. “Kamu memang Ravian. Itu cukup.”
Ravian menghela napas panjang—legah.
“Malam ini gue tidur di sini.”
“Ravian. Kamu bilang nggak bakal macam-macam.”
“Gue cuma tidur. Bukan macam-macam.” Ravian mendongak, matanya menatap memelas. “Lo nggak tega, kan, lihat gue kambuh terus?”
Aelira menatapnya lama. “Oke. Tapi janji.”
“Janji.”
“Jangan aneh-aneh.”
“Janji.”
“Dasar.” Aelira menggeleng.
Ravian langsung merebahkan diri—masih memeluk Aelira. Kepalanya bersandar di dada Aelira. Matanya terpejam.
Aelira hanya bisa diam, tangannya terus membelai rambut Ravian yang lembut.
“Van,” bisiknya.
“Hm?”
“Aku serius. Kamu harus terapi lagi.”
“Nggak perlu.”
“Tapi hari ini kambuh.”
“Itu karena ada orang sengaja.”
Aelira mengerjap. “Maksud kamu?”
Ravian membuka mata. “Gue tahu. Gue lihat Rian di sudut kantin. Siswi itu suruhannya.”
Aelira terdiam. Dadanya terasa sesak.
“Gue nggak tahu kenapa dia benci gue sekuat itu,” lanjut Ravian. “Tapi yang jelas... gue nggak takut selama lo di sini.”
Aelira memeluk Ravian erat. “Aku di sini, Van. Aku nggak kemana-mana.”
Ravian tersenyum kecil—lelah. Tangannya meremas ujung tanktop Aelira, seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan.
“Janji?”
“Janji.”
“Cium.”
“Ravian!”
“Cium dulu. Satu aja. Biar gue tidur nyenyak.”
Aelira mendesah—lalu mencium kening Ravian pelan.
Cup.
Ravian mengerjap. “Itu doang?”
“Udah. Tidur.”
“Gue minta di bibir.”
“RAVIAN!”
“Bercanda.” Dia tertawa kecil—bergetar di dada Aelira. “Meskipun sebenarnya nggak bercanda.”
Aelira menjitak kepalanya pelan. “Tidur, Vano.”
“Iya, aku sayang.”
Ravian memejamkan mata. Tangannya masih melingkar erat di pinggang Aelira. Tidak melepaskan.
Dan Aelira—yang sejak SMP terbiasa tidur di kamar sebelah, terbiasa dengan pintu penghubung yang tidak pernah dikunci, dan terbiasa dengan kehadiran Ravian yang kadang datang hanya untuk memastikan dia masih di sana—kini membiarkan cowok itu tidur di sampingnya.
Tapi tidak dalam satu ranjang.
“Ravian.”
“Hm?”
“Tadi kamu bilang tidur, tapi kamu di kasur aku.”
“Iya.”
“Kasur kamu di samping.”
“Gue tahu.”
“Kenapa nggak ke sana?”
Ravian membuka satu mata. “Karena di sini baunya lo.”
Aelira menutup wajahnya dengan bantal. “Dasar Vano bau.”
Ravian menarik bantal itu perlahan. Matanya menatap lembut.
“Gue tidur di lantai, deh. Pakai karpet. Lo kasih selimut.”
Aelira menatapnya. Ravian tampak serius.
“Beneran?”
“Beneran. Asal lo di sini.”
Aelira menghela napas. Lalu turun dari ranjang, mengambil selimut tebal dan karpet tambahan.
Ravian sudah bergerak ke lantai. Membaringkan diri di samping ranjang Aelira—tepat di sampingnya. Tangannya naik, meraih tangan Aelira yang menggantung di tepi ranjang.
“Gini aja. Pegang tangan.”
Aelira membiarkan.
Jari-jari mereka bertaut di kegelapan malam.
“Selamat malam, Vano.”
“Selamat malam, satu-satunya rumahku.”
Aelira tersenyum. Dan di keheningan itu, ia mendengar napas Ravian perlahan teratur—tenang.
Fobia sentuhan. Tapi Ravian baru belajar bahwa fobia bisa reda—bukan karena obat, tapi karena orang yang tepat memilih untuk tetap memegang tangannya, meskipun dunia memberinya alasan untuk pergi.
Di luar, hujan mulai turun. Rian masih berdiri di bawah payung, menatap rumah itu dari kejauhan.
Dia tidak masuk. Tidak mengetuk.
Diam-diam, ia berbalik—dan pergi.
Seperti yang selalu ia lakukan.