NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pil Pertama

Pukul 05.30 pagi. Aditya terbangun di kamar kosnya yang berukuran 3x4 meter—sebuah kotak beton di gang sempit pinggiran kota. Bau selokan dan suara ayam tetangga sudah menjadi alarm alami yang tidak pernah terlambat.

Tapi pagi ini berbeda.

Dadanya hangat. Liontin matahari itu masih menempel di kulitnya, seolah sudah menjadi bagian dari tubuh. Panel holografik melayang di atas wajahnya:

STATUS HOST

· Level Kultivasi: 0 (Manusia Biasa)

· Koin Sistem: 150

· Inventaris: Pil Pemurnian Tubuh Level 1 (belum digunakan)

Misi Aktif:

Terima Tawaran Sang CEO (Progres: Menunggu kehadiran di kantor)

Misi Harian: Lakukan 50 push-up, 50 sit-up, lari 5 km (Hadiah: 10 Koin)

Aditya menghela napas. Jadi sekarang hidupnya punya "misi harian" seperti game RPG. Ironis, mengingat dia bahkan tidak punya ponsel pintar untuk main game.

"Baiklah," gumamnya, mendudukkan diri di kasur kapuk yang sudah mengempis. "Pil Pemurnian Tubuh. Apa ini?"

Ia membuka panel inventaris. Sebuah pil berwarna emas muncul di telapak tangannya—padat, seukuran kelereng, mengeluarkan aroma yang tidak bisa ia deskripsikan. Seperti hutan setelah hujan. Seperti oksigen murni.

Tanpa pikir panjang, ia menelannya.

Satu detik. Dua detik.

Lalu—

Panas.

Bukan panas seperti cabe. Tapi panas yang menjalar dari lambung ke setiap sel tubuhnya. Aditya menahan jeritan. Otot-ototnya berkontraksi. Tulang-tulangnya berderak seperti bambu kering terbakar.

"A-Apa yang—!"

Proses Pemurnian Dimulai.

Mengeluarkan racun: Logam berat (timbal, merkuri), residu makanan instan 10 tahun, nikotin pasif, polusi udara kronis.

Efek samping: Nyeri sementara.

"Se-mentara?!"

Aditya berguling di lantai. Kulitnya mengeluarkan cairan hitam kental—bau busuk luar biasa, seperti bangkai tikus yang terendam got sebulan. Matanya berair. Telinganya mendenging.

Lima menit yang terasa seperti lima jam.

Lalu semuanya berhenti.

Aditya terbaring kehabisan napas. Tubuhnya penuh lendir hitam. Kamarnya bau seperti tempat pembuangan akhir.

Tapi—

Ia menggerakkan jari. Ringan. Sendi-sendinya tidak lagi berderak. Kepalanya jernih, seolah kabut tebal yang menyelimuti pikirannya selama 22 tahun tiba-tiba tersingkap.

Pemurnian Selesai.

+3 Kekuatan, +2 Kecepatan, +3 Stamina, +1 Charm.

Racun tubuh: 0%.

Tubuh siap untuk kultivasi dasar.

Aditya bangkit. Cermin retak di sudut kamar memantulkan dirinya—dan ia nyaris tidak mengenali orang yang berdiri di sana.

Kulitnya masih sawo matang, tapi bercahaya. Bekas jerawatnya hilang. Postur tubuhnya yang tadinya bungkuk kini tegak. Matanya... lebih tajam.

"Gila," bisiknya.

Tapi tidak ada waktu untuk kagum-kagum. Misi harian menunggu.

---

Pukul 08.00. Aditya berdiri di lobi Pradipa Tower dengan pakaian baru—kemeja putih dan celana hitam sederhana, hadiah dari sistem untuk menyelesaikan misi pertama. Penampilannya masih jauh dari eksekutif, tapi setidaknya ia tidak lagi berbau karbol.

"Aditya Pratama?"

Seorang wanita berambut cepak dengan setelan jas hitam mendekat. Posturnya atletis, tatapannya waspada.

All-Seeing Eye Teraktivasi.

Nama: Kapten Maya Kirana

Jabatan: Kepala Keamanan Pradipa Group, Mantan Kopassus

Kekuatan: 42

Kelemahan: Cedera bahu kanan kronis, trauma masa lalu terkait adik perempuan yang hilang

"Ya, saya," Aditya mengangguk.

"Ikuti saya. Nyonya Alesha sudah menunggu."

Mereka masuk lift khusus direksi. Maya memencet tombol lantai 48, lalu menyilangkan tangan. Tatapannya menusuk.

"Jadi kau asisten baru."

"Betul."

"Kau sadar dua asisten sebelumnya—"

"Satu koma, satu hilang. Saya tahu."

Maya mengangkat alis. "Dan kau tetap mau?"

Aditya tidak menjawab. Matanya menatap angka lift yang terus naik.

Maya mendengus. "Kau entah sangat berani, atau sangat bodoh."

"Atau sangat tidak punya pilihan lain."

Pintu lift terbuka. Koridor lantai 48 sudah bersih—tidak ada jejak penyerangan tadi malam. Alesha berdiri di depan kantornya, kali ini dengan gaun abu-abu dan rambut disanggul rapi. Di sebelahnya, seorang pria tua berjas mahal sedang berbicara dengan nada tinggi.

"—dan aku tidak terima, Alesha! Mengangkat cleaning service jadi asisten pribadi? Apa dewan direksi akan setuju?"

Pria itu—Paman Edwin, Aditya mengenali dari foto-foto di lobi—melotot ke arah Aditya.

"Ini dia? Bocah yang katamu menyelamatkanmu tadi malam?" Paman Edwin mendengus. "Badanmu kurus. Tatapanmu kosong. Kau bisa apa, hah?"

Aditya menatap mata Paman Edwin. Tiga detik.

Data: Edwin Pradipa. Jabatan: Wakil Presiden Direktur. Penghasilan sampingan: Kongsi gelap dengan Kartel Lotus sejak 2018. Bukti transfer: Rp 4,7 miliar dalam 3 bulan terakhir. Motif: Ingin mengambil alih perusahaan dengan menyingkirkan Alesha dan pewaris sah lainnya.

Aditya merasakan darahnya mendidih.

Tapi ia menahan diri. Alesha sedang mengujinya—ia tahu itu.

"Saya tidak bisa apa-apa, Pak Edwin," Aditya berkata sambil menunduk. "Saya hanya cleaning service yang beruntung."

"Tepat sekali! Makanya—"

"Tapi saya bisa pastikan satu hal," Aditya memotong, suaranya tetap rendah. "Selama saya hidup, Nyonya Alesha tidak akan terluka."

Paman Edwin terkejut mendengar jawaban itu. Maya menatap Aditya dengan ekspresi tak terduga. Dan Alesha...

Alesha tersenyum tipis.

"Cukup, Paman. Keputusan sudah kubuat. Besok rapat dewan akan kuberi penjelasan."

Paman Edwin menggeram, lalu melengos pergi. Tapi sebelum masuk lift, ia berbisik pada Aditya—cukup keras untuk didengar:

"Kau baru saja menggali kuburanmu sendiri, bocah."

Lift tertutup.

Alesha menatap Aditya. "Kau menemukan sesuatu tentang pamanku?"

"Banyak," Aditya mengangguk. "Tapi saya perlu waktu untuk menjelaskan semuanya."

"Bagus. Karena tugas pertamamu dimulai sekarang." Alesha menyerahkan sebuah amplop cokelat. "Kakekku dirawat di rumah sakit keluarga. Dokter tidak tahu penyakitnya. Sudah tiga tahun koma."

Aditya membuka amplop itu. Foto seorang pria tua dengan wajah bijaksana, hasil lab, catatan dokter.

"Gunakan sistemmu," suara Alesha berubah pelan—hampir rapuh. "Kakek adalah satu-satunya orang yang tahu rahasia di balik kematian ayahku. Jika kau bisa membangunkannya..."

DING!

Misi Baru: Bangkitkan Kakek Alesha dari Koma.

Hadiah: Pil Pemulihan Jiwa, cetak biru senjata kuno, 2000 Koin.

Batas Waktu: 7 hari.

Catatan: Penyakit tidak diketahui sains modern. Sumber: racun kultivator.

Aditya menatap kata terakhir itu.

Racun kultivator.

Jadi dunia persilatan yang disinggung sistem... benar-benar nyata.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!