Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Arga menghentikan motornya tepat di depan pagar besi berwarna hitam yang menjulang tinggi. Ia melepaskan helm, membiarkan angin sore menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Matanya menatap lekat ke arah bangunan di hadapannya. Meski cat dindingnya kini telah berganti menjadi putih gading yang elegan, ingatan Arga tidak bisa dikelabui. Bagi orang lain, ini hanyalah rumah mewah di kawasan Griya Nirwana. Namun bagi Arga, setiap sudut tempat ini adalah fragmen masa kecil yang ia simpan rapat dalam laci memorinya.
Ia teringat pagar itu dulu berwarna hijau lumut dan sedikit berkarat di bagian bawahnya. Arga menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang mendadak tidak beraturan. Ia melangkah menuju bel, menekannya sekali, dan menunggu dengan perasaan yang campur aduk. Tidak lama kemudian, suara langkah kaki mendekat. Pintu gerbang kecil terbuka, menampilkan sosok Nala yang mengenakan kaus santai dan celana jins pendek.
"Kamu akhirnya sampai juga," ujar Nala sambil membuka gerbang lebih lebar.
Arga hanya mengangguk tipis sebagai jawaban. Ia menuntun motornya masuk ke area parkir yang kini sudah dipaving rapi. Dahulu, area ini adalah tanah lapang kecil tempat mereka sering mengejar capung atau sekadar duduk beralaskan rumput teki. Kini, semuanya tampak lebih dingin dan teratur.
"Ayo masuk, teman-teman yang lain sudah di dalam," lanjut Nala.
Nala berjalan di depan, memandu Arga menuju teras samping yang langsung menghadap ke taman. Arga mengikuti dari belakang, matanya terus berpindah secara liar, mencari sisa-sisa jejak masa lalu yang mungkin masih tertinggal. Di pojok taman, ada sebuah pohon mangga yang kini sudah sangat besar. Arga tahu persis, di balik batang pohon itu, ada bekas goresan kunci yang membentuk inisial nama mereka yang kini mungkin sudah tertutup kulit kayu yang menebal.
"Wah, si pangeran es akhirnya muncul juga," seru Dimas yang sudah duduk bersila di atas karpet bulu di teras.
Dimas tampak asyik mengunyah kerupuk kaleng sambil membuka laptop. Di sampingnya, Satria sedang sibuk membolak-balik buku paket geografi dengan gaya yang sok serius. Kehadiran Satria di sana membuat suasana hati Arga sedikit memburuk, namun ia berusaha tetap tenang. Rara yang duduk di dekat Nala hanya melambaikan tangan singkat, sementara matanya tampak menyelidiki ekspresi Arga.
"Sini, Ga, tinggal bagian kamu yang belum kita bahas," ajak Satria dengan nada suara yang terdengar terlalu ramah di telinga Arga.
Arga duduk di sisi paling pinggir, menjaga jarak yang cukup aman. Ia mengeluarkan buku catatan dari tasnya. Saat ia hendak mulai menulis, matanya tidak sengaja menangkap sebuah pot bunga keramik tua di sudut teras. Pot itu sudah retak di beberapa bagian, namun tetap dipertahankan. Arga mengenalnya. Itu adalah pot yang sama yang pernah ia pecahkan saat mereka berusia sembilan tahun, yang kemudian direkatkan kembali oleh ayah Nala dengan sisa-sisa semen.
"Kamu sering melamun, ya, sekarang?" celetuk Nala yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya sambil membawa nampan berisi gelas-gelas minuman dingin.
Arga tersentak kecil, lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah buku. "Hanya teringat sesuatu," jawabnya singkat.
Nala meletakkan segelas jus jeruk di depan Arga. Untuk sesaat, tangan mereka nyaris bersentuhan. Nala sempat terdiam, menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada gurat kebingungan di wajah gadis itu, seolah ia sedang berusaha mencocokkan wajah Arga saat ini dengan siluet seseorang yang pernah ia kenal di masa lalu. Namun, keraguan itu segera sirna saat Satria memanggil nama Nala untuk menanyakan poin tugas kelompok mereka.
"Rumah ini banyak berubah, ya, Nal," gumam Rara sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Iya, Papa banyak renovasi sejak kami pindah balik ke sini. Tapi ada beberapa bagian yang sengaja tetap dibiarkan begini karena alasan kenangan," kata Nala sambil tersenyum tipis.
Arga merasakan dadanya sesak. Ia ingin sekali bertanya apakah Nala masih mengingat siapa yang membantunya menanam pohon mangga itu, atau siapa yang selalu menunggunya di depan pagar setiap pagi sebelum berangkat sekolah dasar. Namun, ia hanya bisa terdiam. Ia sadar bahwa dirinya saat ini hanyalah Arga, teman sekelas yang pendiam dan membosankan, bukan lagi bocah laki-laki yang pernah berjanji untuk selalu menjaganya.
"Jangan terlalu kaku begitu, Ga. Kita di sini mau kerja kelompok, bukan mau ujian nasional," goda Dimas sambil menyenggol bahu Arga.
Arga hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ia mulai fokus pada materi geografi di hadapannya, berusaha mengabaikan aroma melati dari taman yang membangkitkan ribuan kenangan pahit manis. Setiap kali Nala tertawa karena lelucon Satria, Arga merasa seperti ada sembilu yang mengiris hatinya pelan-pelan. Ia tahu ia harus profesional, namun berada di rumah ini, di tempat yang dulu ia anggap sebagai rumah kedua, terasa seperti sedang berjalan di atas pecahan kaca.
Tiba-tiba, seorang asisten rumah tangga datang membawakan camilan tambahan. Ia sempat menatap Arga cukup lama, dahinya berkerut seolah sedang mengenali wajah yang familiar.
"Mas ini, sepertinya saya pernah lihat dulu waktu kecil, ya?" tanya asisten rumah tangga itu dengan ragu.
Suasana di teras mendadak hening. Nala menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Arga dengan rasa ingin tahu yang besar. Jantung Arga berdegup kencang. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar.
"Mungkin salah orang, Bi. Saya baru pertama kali ke sini," jawab Arga dengan suara yang tetap tenang meski hatinya bergejolak hebat.
Asisten rumah tangga itu hanya mengangguk pelan, meski matanya masih menunjukkan keraguan sebelum akhirnya berlalu masuk ke dalam rumah. Nala masih menatap Arga, mencari kejujuran di balik mata laki-laki itu. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sebuah kepingan puzel yang terasa hampir pas namun tetap tidak bisa ia satukan.
Sementara itu, Arga kembali menunduk, menatap barisan tulisan di bukunya yang kini tampak kabur karena air mata yang hampir saja menyeruak keluar. Di tempat ini, delapan tahun yang lalu, ia pernah menjadi segalanya bagi Nala, dan kini ia harus berpura-pura menjadi orang asing yang paling tidak berarti.