Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Politik Dalam Istana
"Lepaskan aku bajingan!! Aku tak sudi melayani nafsu bejat mu!!! "
Tunjung Biru meronta kuat ingin melepaskan diri dari pelukan Pangeran Mapanji Wijaya. Yang tidak ia sangka sang pangeran malah tak berusaha mengekang nya hingga akhirnya perempuan cantik itu akhirnya jatuh terjerembab ke lantai kamar.
Rasa sakit karena jatuh sendiri hampir membuat Tunjung Biru, sang primadona rumah hiburan Nyai Kantil, memaki Pangeran Mapanji Wijaya yang menurutnya sengaja melepaskan nya agar jatuh.
Namun niat itu diurungkan Tunjung Biru.
Apa penyebabnya??!!
Sebuah jarum berwarna biru menancap di lantai hampir seruas jari tepat di hadapannya. Ia pun langsung menyadari sesuatu. Ini jelas jarum beracun yang ditembakkan dari atas.
"Sudah lihat kan? ", tanya Pangeran Mapanji Wijaya sembari mendudukkan pantat nya di tepi ranjang dengan acuh tak acuh.
" K-kau kapan menyadari ada orang yang ingin mencelakai kita? ", Tunjung Biru balik bertanya. Dia bangkit dari tempat jatuhnya dan menatap Pangeran Mapanji Wijaya penuh tanya.
" Sejak awal kita masuk kesini, orang itu sudah ada di atap bangunan ini. Sewaktu aku mengejar mu tadi, dia menembakkan dua kali jarum beracun itu. Masih tak percaya? Lihat yang di dinding sebelah sana.. ", Pangeran Mapanji Wijaya menunjuk ke arah dinding di sebelah kanan Tunjung Biru.
Perempuan cantik itu buru-buru berlari dan melihat ke arah dinding sambil membawa salah satu lampu penerangan kamar tidur itu. Dan semua yang diucapkan oleh Pangeran Mapanji Wijaya benar adanya.
"Kau apakah masih Pangeran Mapanji Wijaya yang pecundang itu?! ", seru Tunjung Biru setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Itulah aku... ", jawab Pangeran Mapanji Wijaya dengan santai.
" Tidak mungkin. Hanya seorang pendekar berilmu tinggi yang bisa melakukan hal seperti ini ( menghindari serangan sumpit di waktu malam gelap gulita).
Kau yang hanya seorang pecundang yang suka berfoya-foya tak mungkin bisa melakukannya", lanjut Tunjung Biru masih tetap tak percaya.
Sebagai bekas putri seorang pimpinan perguruan silat di wilayah Kambang Putih, dia sedikit banyak tahu dunia kependekaran. Meskipun akhirnya ia menjadi budak yang diperjualbelikan ke rumah hiburan karena kesalahan ayahnya yang membantu pemberontakan Adipati Hujung Galuh, Tunjung Biru tahu betul bahwa hanya seorang pendekar berilmu tinggi saja yang bisa menghindari serangan senjata rahasia di malam hari.
"Itu tidak penting...
Aku sudah membayar biaya pelayanan mu selama disini. Kau harus melakukan sesuatu untuk ku.. ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Tunjung Biru segera menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.
" M-mau apa kau hah?! Jangan macam-macam.. ", hardik Tunjung Biru segera.
" Haeehhhhh, aku tak tertarik untuk bercumbu dengan mu. Dada rata belum tumbuh begitu apanya yang menarik?! ", karuan saja omongan Pangeran Mapanji Wijaya membuat Tunjung Biru marah.
" Kau.... !!! "
"Kau apanya yang kau....!
Sudahlah aku tidak tertarik untuk berdebat dengan mu. Aku butuhkan kerjasama mu. Jadi begini selama aku datang kesini, kau akan mencari mu. Kau cukup berpura-pura melakukan itu dengan ku disini. Buat suara yang genit dan heboh, agar mereka percaya aku adalah si bajingan mesum. Aku berjanji tak akan menyentuh mu sama sekali. Bagaimana? Bisa kita kerjasama? ", Pangeran Mapanji Wijaya menatap wajah Tunjung Biru yang kebingungan.
" Kau membayar mahal-mahal hanya untuk terus terlihat sebagai seorang hidung belang?!
Gusti Pangeran, kau sudah gila ya?!! ", sergah Tunjung Biru tak percaya.
" Jangan banyak bicara. Bisa tidak?! Kalau tidak bisa aku bisa mencari orang lain yang mau melakukan nya. Dan kau huh siap-siap saja melayani para pria hidung belang itu selamanya ", tekan Pangeran Mapanji Wijaya penuh kemenangan.
Tunjung Biru terdiam sejenak untuk berpikir. Saat Pangeran Mapanji Wijaya hendak beranjak pergi, dia buru-buru menahannya.
" Baiklah baiklah, aku setuju dengan mu... ", jawab Tunjung Biru segera.
" Sepakat!
Ini sudah cukup malam. Waktunya aku untuk pulang ke istana. Selamat malam... "
Setelah bicara demikian, Pangeran Mapanji Wijaya segera melangkah keluar dari dalam bilik Tunjung Biru. Meninggalkan Tunjung Biru yang masih bertanya-tanya dalam hati.
Semua lelaki yang ada di dalam rumah pelacuran Nyai Kantil menatap ke arah Pangeran Mapanji Wijaya dengan rasa iri karena sudah mendapatkan perempuan secantik Tunjung Biru. Menggunakan kereta kuda mewah, Pangeran Mapanji Wijaya meninggalkan tempat itu menuju ke arah Istana Kotaraja Watugaluh bersama dua orang pengikut setia nya Warak dan Ludaka. Mereka menyusuri jalanan yang sepi di barat kota.
Begitu memasuki istana, Pangeran Mapanji Wijaya segera menuju ke arah Keputran yang menjadi tempat tinggal nya. Di sudut timur keputran Watugaluh, di sebuah puri indah, ia melangkah dengan gontai seperti habis menenggak minuman keras.
Dua penjaga puri Pangeran Mapanji Wijaya hanya menghormat pada sang empunya tempat tanpa bicara sepatah katapun. Mereka tahu salah sedikit saja, pasti kena hajar.
Ludaka dan Warak langsung kembali ke tempat tinggal mereka yang ada di luar ruang peristirahatan Pangeran Mapanji Wijaya.
Sesampainya di tempat tidur, bukannya merebahkan tubuh Pangeran Mapanji Wijaya malah duduk bersila dengan kedua tangan menangkup di depan dada. Tak lama kemudian...
Clliiiiiinngggg!!!
Seorang lelaki sepuh dengan janggut putih panjang muncul di hadapan Pangeran Mapanji Wijaya. Kemunculan pria tua ini membuat Pangeran Mapanji Wijaya menghentikan semedi nya dan langsung berjongkok sambil menyembah pada orang tua itu.
"Guru, kau sudah datang.. "
Hemmmmmmmmm...
"Aku melihat kau sudah cukup siap untuk menerima ilmu dari ku, Wijaya..
Aku akan membawa mu ke suatu tempat. Pejamkan mata mu", ucap lelaki sepuh berpakaian serba putih itu sambil memegang pergelangan tangan Pangeran Mapanji Wijaya. Sang putra kedua dari Maharani Sri Isyana Tunggawijaya ini dengan patuh memejamkan mata dan di kejap waktu berikutnya mereka sudah menghilang dari tempat itu.
Sementara itu, di timur tembok istana...
Mangir berjalan sambil tersenyum lebar. Dengan berhasil menghasut Jantaka untuk memberi pelajaran pada Pangeran Mapanji Wijaya, ia mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Dia tidak perlu memberikan upah yang dititipkan pada nya sekaligus juga sudah berhasil menjalankan perintah.
Dia menuju ke sebuah rumah besar yang dipagar tembok tinggi, mirip dengan istana hanya dalam bentuk yang lebih kecil. Itu adalah kediaman Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana, pelaksana tugas yang bertanggungjawab langsung pada Maharani Sri Isyana Tunggawijaya.
Dua prajurit yang berjaga di pintu gerbang rumah hanya menganggukkan kepala saat Mangir masuk. Sepertinya mereka memang saling mengenal satu sama lain.
Seorang lelaki paruh baya dengan pakaian bangsawan sedang berbincang-bincang dengan seorang perwira yang lebih muda. Pembicaraan mereka langsung terhenti saat Mangir masuk.
"Bagaimana, Ngir? Beres?? ", tanya lelaki paruh baya itu begitu Mangir duduk bersila di hadapan nya.
" Ampun Gusti Rakryan Kanuruhan...
Saat ini Pangeran Mapanji Wijaya sedang bersenang-senang di rumah hiburan Nyai Kantil. Saat ini orang suruhan hamba pasti sudah bertindak ", lapor Mangir sambil menghormat.
" Kau yakin orang ini bisa diandalkan? ", tegas lelaki paruh baya itu seraya menatap ke arah Mangir.
" Hamba mengenal nya sudah lama, tahu bagaimana kemampuan nya. Masalah ini Gusti Rakryan Kanuruhan tak perlu cemas", balas Mangir sembari tersenyum.
" Bagus!
Si pecundang itu akhirnya mendapatkan balasan dari perbuatan bejat nya. Aku sudah lama tidak suka dengan sepak terjang nya selama ini. Dengan begini jalan bagi Gusti Mahamantri I Hino Pangeran Mapanji Jayanegara akan semakin mudah dengan berkurangnya satu pesaing untuk menjadi Yuwaraja Kerajaan Medang.
Akhirnya hari ini tiba juga hahaha... ", tawa lepas lelaki paruh baya yang bernama Mpu Kertawahana ini terdengar keras.
" Tapi Gusti Rakryan Kanuruhan..
Bukankah masih ada Pangeran Mapanji Setyaki? Dia sekarang saja sudah diangkat oleh Maharani Sri Isyana Tunggawijaya sebagai Mahamantri I Halu. Menurut hamba, dia juga pantas kita waspadai ", ujar seorang lelaki yang duduk bersila di samping Mpu Kertawahana.
Ckckckck...
" Kau berpikir terlalu pendek, Tumenggung Mpu Kandadaha. Mapanji Setyaki hanya anak seorang selir. Sekalipun ia putra tertua Sri Lokapala yang terkenal pintar dan berbudi luhur seperti Pangeran Mapanji Jayanegara, tetapi Maharani Sri Isyana Tunggawijaya tak mungkin memilihnya sebagai penerus tahta Kerajaan Medang ini. Penguasa kerajaan ini tetap Maharani Sri Isyana Tunggawijaya sekalipun ia sepenuhnya bergantung pada kebijaksanaan Sri Lokapala di belakang nya. Dan aku tahu Sri Lokapala sudah menyerahkan sepenuhnya urusan Yuwaraja Kerajaan Medang pada Maharani Sri Isyana Tunggawijaya. Dia tidak akan ikut campur sedikitpun", Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana menghela nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan omongan nya,
"Satu-satunya pesaing utama perebutan tahta kerajaan ini,
Hanya pangeran bejat itu.. "