"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: DEWA YANG TURUN GUNUNG (DEMI SEBUNGKUS GARAM)
Pagi itu, suasana di Puncak Awan Tersembunyi lebih sibuk dari pasar pagi. Para Master Formasi yang kemarin sibuk menyusun batu, kini sibuk berdebat tentang "kendaraan" apa yang pantas untuk Senior Ye Xuan.
"Kita harus menggunakan Kereta Kencana Sembilan Naga!" usul Master Mo dengan mata berapi-api. "Hanya itu yang layak untuk membawa keagungan Senior!"
Ye Xuan keluar dari pondok sambil menggendong tas ransel yang terbuat dari anyaman bambu berisi ubi-ubi pilihan. Ia menatap para kakek itu dengan bingung.
"Naga apa? Kencana apa?" Ye Xuan menggeleng. "Kita akan berjalan kaki atau naik gerobak ubi ini saja. Aku tidak mau menarik perhatian. Ingat, aku ini orang biasa. Kalau kita terlalu mewah, nanti kita dirampok di jalan."
Para ahli formasi itu tertegun. Dirampok? Siapa perampok yang cukup gila untuk mencoba merampok seorang pria yang bisa menghancurkan sekte dengan seprai?! Namun, mereka segera sadar. Ah, Senior sedang melakukan 'Ziarah Manusia'. Beliau ingin merasakan penderitaan rakyat jelata untuk memurnikan hatinya. Sungguh mulia!
Akhirnya, rombongan itu berangkat. Ye Xuan menarik gerobak kayu kecilnya yang berisi ubi, diikuti oleh Lin Meier dan Jian Chengyue yang menyamar sebagai gadis desa (meskipun kecantikan mereka tetap memancarkan cahaya yang sulit disembunyikan). Di belakang mereka, puluhan Master Formasi menyamar menjadi kuli pengangkut barang dengan pakaian dekil—namun di dalam saku mereka, tersimpan jimat-jimat penghancur kota yang siap dilepaskan jika ada lalat yang berani hinggap di baju Ye Xuan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa mil, mereka tiba di kota perbatasan pertama, Kota Awan Mendung. Kota ini adalah pusat perdagangan yang sibuk, namun saat ini sedang dikuasai oleh suasana tegang karena banyaknya kultivator yang menuju ibu kota untuk Turnamen Inovasi.
"Wah, ramai sekali!" Ye Xuan tampak sangat antusias, seperti turis yang baru pertama kali melihat mall. "Lihat itu, Nona Lin! Ada yang jualan manisan buah! Dan lihat, apa itu? Apakah itu toko perabotan?"
Lin Meier tersenyum lembut, namun matanya tetap waspada. "Itu toko alat-alat kultivasi, Senior. Mereka menjual pedang dan jimat tingkat rendah."
"Oh... mainan ya?" gumam Ye Xuan meremehkan, membuat pemilik toko di seberang jalan yang sedang memamerkan 'Pedang Pusaka Tingkat Bumi' hampir tersedak ludahnya sendiri.
Tiba-tiba, jalanan menjadi ricuh. Sekelompok pemuda berbaju merah—murid dari Sekte Api Neraka—meluncur di jalanan dengan kuda-kuda api mereka, mengusir orang-orang dengan kasar.
"Minggir, kalian rakyat jelata! Tuan Muda kami ingin lewat!" teriak salah satu murid sambil mencambuk ke arah kerumunan.
Cambuk itu melesat ke arah seorang anak kecil yang berdiri tepat di samping gerobak Ye Xuan.
Ye Xuan, yang secara insting merasa kasihan, refleks mengangkat tangannya yang sedang memegang batang ubi mentah untuk menghalangi cambuk tersebut.
"Hei! Jangan kasar pada anak kecil!" seru Ye Xuan.
Sret!
Cambuk api yang terbuat dari esensi lava itu menyentuh batang ubi Ye Xuan. Bagi Ye Xuan, itu hanya kontak fisik biasa. Namun, begitu cambuk itu bersentuhan dengan ubi, api neraka di cambuk itu tiba-tiba tersedot habis, padam seketika seolah-olah disiram air samudra. Tidak hanya itu, energi balik dari "batang ubi" itu menjalar ke tangan si murid, membuatnya terpental jatuh dari kudanya.
"Apa?! Cambuk Api Nerakaku... padam oleh sebatang ubi?!" murid itu berteriak histeris, menatap ubi di tangan Ye Xuan dengan ketakutan luar biasa.
Tuan Muda Sekte Api Neraka, Huo Da, menghentikan kudanya. Ia menatap Ye Xuan dengan tatapan tajam. "Siapa kau? Beraninya kau menghina teknik sekte kami dengan sayuran?!"
Ye Xuan gemetar di dalam hati. Aduh, cari masalah lagi! Kenapa orang-orang di sini sumbunya pendek sekali?
"Maaf, Tuan. Ini bukan sayuran sembarangan, ini... ini ubi kesehatan!" jawab Ye Xuan dengan suara gemetar, mencoba bernegosiasi. "Aku hanya tidak ingin anak ini terluka. Tolong, jangan marah."
Huo Da merasa terhina. Di matanya, Ye Xuan hanyalah rakyat jelata tanpa kultivasi yang sedang mengejeknya dengan wajah polos. "Sehat kepalamu! Serahkan sayuran itu dan berlututlah, atau aku akan membakar gerobakmu!"
Mendengar gerobak ubinya diancam, mata Ye Xuan mendadak berubah. Bagi seorang petani, kebun dan hasil panen adalah harga mati. Rasa kesalnya mengalahkan rasa takutnya.
"Kau boleh menghinaku," ucap Ye Xuan dengan nada dingin yang tak sengaja memicu tekanan udara di sekitarnya. "Tapi jangan pernah menyentuh ubi-ubiku. Mereka tumbuh dengan susah payah."
Tiba-tiba, suasana kota menjadi sangat dingin. Para Master Formasi di belakang Ye Xuan sudah bersiap melepaskan segel mereka. Namun, mereka berhenti ketika melihat Ye Xuan mengambil sebuah botol air minum dari gerobaknya—air sumur yang sering ia minum.
"Minumlah ini dan dinginkan kepalamu, Tuan Muda," ucap Ye Xuan sambil memercikkan sedikit air dari botolnya ke arah Huo Da.
Ye Xuan hanya ingin "mendinginkan" suasana. Namun, percikan air itu berubah menjadi "Hujan Pemurnian Surga". Begitu tetesan air itu menyentuh kuda-kuda api mereka, kuda-kuda itu seketika berubah menjadi kuda poni kecil yang lucu dan jinak. Api di tubuh Huo Da padam total, bahkan kultivasi elemen apinya yang sombong mendadak membeku, berubah menjadi elemen air yang tenang.
Huo Da jatuh dari kudanya yang sekarang mungil. Ia mencoba mengeluarkan api dari tangannya, namun yang keluar hanyalah gelembung sabun.
"Kultivasiku... berubah menjadi teknik gelembung?!" Huo Da melongo, hancur secara mental di depan seluruh kota.
Ye Xuan menghela napas lega melihat musuhnya tidak lagi terlihat berbahaya (malah terlihat konyol). "Nah, begitu kan lebih baik. Gelembung sabun lebih aman untuk lingkungan."
Ia kemudian menarik kembali gerobaknya, melewati Huo Da yang masih sibuk meniup gelembung tanpa sengaja. "Ayo Nona-nona, kita harus cepat. Aku tidak mau kehabisan garam di pasar."
Berikut adalah gambaran suasana Kota Awan Mendung yang sibuk, lengkap dengan momen humoris saat Ye Xuan dan para Master Formasi yang menyamar 'mengacaukan' ketenangan pasar:
Di tengah pasar yang penuh sesak dan dinaungi awan mendung, Ye Xuan tampak bingung dan sibuk. Ia menggendong ransel ubi dan memegang bamboo sirkuit dari penemuan sebelumnya, sementara gerobaknya dari dipenuhi oleh ubi yang bersinar dan komikal wooden inventions. Dua dari Master Formasi yang menyamar sebagai kuli pengangkut barang terlihat kepayahan membawa keranjang besar, ekspresi serius mereka kontras dengan suasana yang chaotic. Lin Meier, dengan visual , dan Jian Chengyue, berdiri di dekatnya, masing-masing sibuk dengan ubi dan tea set sambil mengamati kegemparan di pasar. Suasana keseluruhan terlihat dinamis dan imersif, mencerminkan kesibukan dan humor dalam novel Anda.