Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Gedung serbaguna Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI pagi itu terpantau ramai lancar. Aroma kopi instan bercampur bau-bau kegugupan anak-anak baru mewarnai suasana sekitar.
Spanduk “Selamat Datang Mahasiswa Baru FEB UI 2025” masih bergoyang-goyang terkena angin sepoi-sepoi di plafon. Semua orang berdiri bergerombol, bernyanyi yel-yel setengah hati sambil foto-foto memakai toga mini yang disewakan seharga 25 ribu rupiah.
Willy duduk di baris belakang, tangannya bersandar di kursi, pura-pura membaca panduan orientasi sambil mata mencari-cari.
Summer Lidya atau yang biasa disapa Mer. Gadis itu sudah terlihat sejak tadi oleh teman-temannya. Rambut panjang bergelombang dicampur dengan kacamata frameless yang membuat matanya kelihatan lebih besar. Dia sedang duduk di pojok kiri depan bersama tiga cewek lain yang kelihatannya langsung akrab. Summer hanya melempar tersenyum tipis kalau ditanya, tangannya sibuk memegang botol air mineral yang belum dibuka.
Willy memperhatikan dari jauh. Dia telah berjanji pada diri sendiri, tidak akan mengejar lagi seperti dulu. Ya, meski tetap saja kata orang jika ada yang jatuh cinta, semuanya mendadak gila. Termasuk Willy tentunya, telanjur menaruh investasi lebih dalam ke hati Summer. Setiap kali memandang, ia tersenyum manis, berharap kisah indah akan diraih dalam waktu dekat.
Tiba-tiba MC naik ke atas panggung. Perawakannya tinggi, memakai kemeja batik dan celana kain. Suara bass yang termasuk berat itu menarik atensi anak-anak.
“Selamat pagi, adik-adik angkatan 2025! Kita mulai sesi perkenalan kelompok kecil, ya. Silakan bergabung dengan kelompok sesuai nomor di name tag kalian. Kakak-kakak senior bakal nemenin.”
Sorak-sorai terdengar bersahutan ketika orang-orang mulai bergerak. Tatapan Willy tertuju pada Summer yang menegang seketika. Badannya terlihat kaku, lalu melihat name-tag sendiri. Tertulis kelompok 7 di sana.
Tak lama, seorang kakak pembimbing kelompok 7 naik ke panggung. Cowok brewok tipis, umurnya sekitar 22 tahun.
“Kelompok 7, sini dong semuanya kumpul di depan!” teriak cowok itu.
Summer enggan berpindah posisi. Teman cewek di sebelahnya menyenggol bahu Summer pelan.
“Mer, ayo. Kelompok kita tuh.”
“Gue tunggu penuh dulu aja deh,” balas Summer menggeleng cepat.
Temennya menoleh bingung, tidak memaksa kehendak Summer. Ia memilih ikut yang lain sebelum terjadi hal aneh. Summer tetap duduk diam. Napasnya mulai cepat, tangan kiri memegang lengan kanan sendiri, seperti sedang menahan sesuatu.
Willy merasa dadanya sesak. Bukan seperti perempuan mahal yang tak sembarangan didekati pria. Lebih mendekati seseorang yang sedang ditagih utang keliling Bank Emok. Terlihat dari wajah Summer yang kaku lagi memucat.
Saat sesi diskusi mulai, Willy yang kebetulan kelompok 12 jauh dari 7 masih bisa melihat bidadarinya dari posisi itu. Kakak brewok itu sedang membagi-bagi tugas ice breaking. Dia jalan ke arah Summer yang masih duduk sendirian.
“Kak, kamu nomor berapa? Kelompok 7 kan? Ayo ikut sini, nggak usah malu-malu.”
Summer langsung mundur di kursi sampai punggungnya menyentuh dinding. Kepalanya menunduk dalam-dalam, memperbaiki kacamata yang melorot. Suaranya sangat pelan, hampir tak terdengar.
“Maaf, Kak, saya boleh nggak ikut kelompok yang cewek aja?”
“Lho, kelompoknya emang campur kok. Emang kenapa?”
Summer tidak menjawab, hanya menggeleng pelan. Tangan kanannya sekarang meremas botol air erat-erat sampai plastiknya berkerut.
Willy tidak tahan. Dia bangun perlahan, jalan mendekat ke area kelompok 7, tapi berhenti di jarak aman sekitar 4 meter. Dia tidak ingin membuat Summer semakin ketakutan, seolah Willy adalah momok menakutkan.
Salah satu kakak cewek senior yang sedang menemani kelompok lain me-notice Willy berdiri mematung. Ia pun menghampiri.
“Eh, kamu kelompok berapa? Kok planga-plongo di sini?”
“Kelompok 12. Cuma lagi liat temen lama. Dia kayaknya lagi sakit,” balas Willy membuat kakak cewek itu menoleh ke arah Summer.
“Oh, iya. Dari tadi dia emang kelihatan tegang kalau ada cowok deket. Kita udah notice pas registrasi kemarin. Kayaknya semacam phobia atau apa gitu.”
“Bukan sok jual mahal ya, Kak?” Willy mengangguk pelan.
“Bukan, serius. Tadi pas foto bareng panitia cowok aja dia mundur ke belakang banget. Sampai dosen pembimbing pria masuk ruangan, dia langsung pindah duduk ke pojok.”
Willy pun terdiam. Otaknya memutar aktif mencari akal. Ya, jadi selama ini bukan sekadar alasan. Penolakan Summer waktu itu bukan kode bahasa cewek agar mau dikejar hingga ke ujung dunia, tetapi memang ia tidak nyaman hingga mempengaruhi fisik.
Dia melirik Summer lagi. Sekarang gadis itu pindah duduk ke barisan paling belakang kelompok cewek-cewek yang dibentuk dadakan oleh kakak senior perempuan. Summer terlihat agak lega, napasnya pelan-pelan normal lagi meski matanya masih menunduk lesu.
Willy balik ke tempat duduknya sendiri. Gio sahabat sejatinya yang selalu mengekor, ternyata satu angkatan dan satu fakultas juga. Dunia memang sesempit daun kelor. Dia langsung datang mendekat sambil membawa dua gelas es teh manis.
“Bro, lo ngapain deh bengong di sana? Belom bisa move-on lagi?”
“Bukan. Gue cuma penasaran dikit. Ternyata beneran.” Willy menerima gelas teh itu.
“Beneran apa? Lo jelek?”
“Bukan gitu bego. Dia nggak nyaman deketan sama cowok. Kayak takut gitu, semacam phobia,” ucap Willy menggetok kening Gio.
“Serius? Jadi penolakan lo di kelulusan itu bukan karena lo jelek?” Gio berhenti terkekeh.
“Wah gila, siapa bilang gue jelek? Tapi iya beneran. Bukan karena gue jelek, tapi emang nggak bisa deket lawan jenis,” balasnya manyun.
“Terus lo mau ngapain? Masih mau ngejar?”
Willy melempar pandang ke arah Summer lagi. Gadis itu tengah berbincang hangat dengan teman-temannya. Sesekali disela dengan tawa canda. Rambut panjangnya yang bergerak pelan karena angin kipas, masih membuat dada Willy kembang kempis kehabisan oksigen.
“Nggak, gue cuma kasian. Pengen bantu kalau bisa, tapi dari jauh dulu. Dia tinggal di kost cewek only, ‘kan?”
“Iya, Kost Bunga Bangsa. Konon katanya kost itu punya pagar tinggi, satpam galak, cowok dilarang masuk radius 50 meter. Berasa tinggal dibimbing Bapak KDM, bapak aing!”
“Bagus. Berarti aman,” balas Willy tak mengindahkan jokes asbun viral ala Gio.
“Lo mau ngapain, Will? Nyanyi seperti mati lampu di depan pagar, terus manjat muter-muter kayak King Nassar?”
“Diem deh, congor lo gue ganti tabung kerucut mau? Intinya, gue nggak bakal maksa dia ngobrol. Cuma pengen buktiin kalau nggak semua cowok itu bikin dia takut,” balas Willy yakin. Gio hanya menggeleng pelan sambil terkekeh mengejek.
“Lo emang aneh, Wil. Lo udah ditolak, bukannya kapok malah sekarang mau jadi detektif trauma. Keren sih, tapi aneh.”
Willy hanya tersenyum kuda. Matanya masih menempel ke Summer yang sekarang sedang membantu temennya mengukir nama di name-tag.
Di dalam hati Willy hanya ada satu pikiran yang masih berputar layaknya gasing. Senyum kering dari gigi membuat Gio setengah takut. Willy lebih seperti orang kesurupan atau kena gendam.
“Gue pasti bisa jadi orang yang bantu dia biar nggak takut cowok lagi. Terus ending-nya gue bisa deh jadian sama dia.”
“Ah, indahnya mimpi di siang bolong.”