NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.

Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.

Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.

Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.

Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 6.

Pagi itu, kabut tipis menyelimuti taman istana. Evelyn berdiri di depan kolam teratai, permukaan airnya tenang. Namun pikirannya wanita itu tertuju pada seseorang... Eleanor.

Eleanor bukan sekadar permaisuri, tapi seseorang yang sama sepertinya.

“Bernard.”

Kasim tua itu langsung mendekat. “Yang Mulia.”

“Aku ingin semua catatan lama tentang permaisuri Eleanor.”

Bernard terdiam sejenak. “Yang Mulia… saya sudah mengatakan pada Anda, catatan permaisuri Eleanor sebagian besar sudah dimusnahkan.”

“Aku tahu.” Evelyn menoleh, tatapannya tajam. “Yang tidak dimusnahkan… itu yang aku cari.”

Hening.

Bernard menunduk. “Saya akan berusaha mencarinya.”

Hari itu, seluruh istana berjalan seperti biasa. Namun tanpa disadari, bayangan lama mulai digali kembali.

Sore hari, Bernard telah kembali. Membawa sesuatu yang dibungkus kain tua, kasim itu meletakkannya di depan Evelyn.

“Ini ditemukan di gudang lama, tidak tercatat secara resmi.”

Evelyn membuka kain itu perlahan, di dalamnya ada sebuah gulungan peta kecil. Dan sebuah jepit rambut emas sederhana, namun ukirannya halus dan tidak biasa.

Evelyn mengambil jepit rambut itu, saat jarinya menyentuh sebuah sensasi aneh muncul kembali. Sama seperti saat ia menyentuh pisau belati di ruang ajaib.

Matanya sedikit menyipit. “Ini miliknya…”

Bernard mengangguk pelan.

“Konon… permaisuri Eleanor sering ke taman belakang istana lama, taman yang sekarang sudah ditutup.”

Evelyn tersenyum tipis. “Tidak ada tempat yang benar-benar tertutup.”

Malam itu, Evelyn berdiri di depan gerbang tua. Pintu itu terkunci, bahkan sudah berkarat. Seperti tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun. Namun dengan sedikit usaha, pintu itu terbuka dengan suara berderit pelan.

Di dalamnya, hanya ada reruntuhan taman. Tanaman mati, dan tanah retak. Namun... Evelyn bisa merasakannya. Ada sesuatu disana, sama seperti yang ia miliki. Ia melangkah masuk dengan perlahan. Dan di tengah taman, ia berhenti lalu menunduk. Tanah di sana... berbeda.

Evelyn berlutut, tangannya menyentuh tanah itu. Lalu...dunia berubah sekilas. Hanya sekejap, namun cukup jelas. Ia melihat bayangan seorang wanita, berdiri di tempat yang sama. Memakai mahkota, mata wanita itu dingin. Dan di tangannya... ada sebuah cahaya.

Evelyn tersentak, ia kembali ke dunia nyata. Nafasnya sedikit berat, tapi matanya justru bersinar.

“Benar… dia juga punya…”

“Yang Mulia.” Suara Bernard membuatnya kembali sadar.

Evelyn berdiri. “Kita harus pergi, tempat ini tidak aman!”

Namun sebelum pergi, ia menatap taman itu sekali lagi. “Rahasiamu belum selesai, dan aku... akan menemukannya.”

Di saat yang sama, di sisi lain istana seseorang juga bergerak. Aula kembali dipenuhi orang, namun kali ini bukan rapat melainkan pengadilan.

Para selir berdiri berbaris.

Para menteri hadir.

Dan di atas singgasana, Raja Alexander duduk dengan wajah dingin.

Di tengah aula, seorang pelayan berlutut gemetar.

“Yang Mulia… saya melihatnya sendiri…” Suaranya bergetar. “Ratu… melakukan ritual aneh di taman terlarang…”

Bisik-bisik langsung menyebar.

“Ritual?”

“Ilmu hitam?”

“Tidak mungkin…”

Namun keraguan sudah muncul, dan itulah yang diinginkan seseorang.

Selir Sophia berdiri dengan wajah pucat, seolah ia terkejut dan tak percaya.

“Yang Mulia… saya tidak ingin mempercayai ini, tapi banyak pelayan melihat hal yang sama…” Selir Sophia tercekat.

Ia menunduk, air mata tampak di sudut matanya. “Jika ini benar… ini bisa membahayakan kerajaan…”

Aktingnya begitu sempurna, lembut... namun mematikan.

“Panggil Ratu Evelyn!” Perintah raja singkat.

Tak lama, pintu aula terbuka. Evelyn masuk dengan langkah tenang seperti biasa, meski kali ini suasana berbeda. Tatapan orang-orang padanya dipenuhi kecurigaan, dan ketakutan.

Evelyn berhenti di tengah aula, menatap semua orang dengan dingin.

Ia tersenyum tipis. “Sepertinya aku datang di waktu yang menarik.”

Raja Alexander menatapnya dengan tajam dan dalam.

“Ratu... kau dituduh melakukan praktik terlarang.”

Semua menunggu reaksinya. Namun...

Evelyn hanya mengangkat alis, ia melirik ke arah pelayan yang berlutut. “Ceritakan.”

Pelayan itu gemetar, namun tetap berbicara.

“Saya melihat Yang Mulia Ratu Evelyn di taman terlarang… berbicara sendiri… dan menyentuh tanah dengan cara aneh. Dan setelah itu… tanaman tumbuh dengan cepat…”

Ruangan langsung riuh.

Evelyn tertawa kecil. “Jadi… menanam tanaman sekarang dianggap ilmu hitam?”

Beberapa orang terdiam.

Sophia langsung maju. “Bukan itu maksudnya, Yang Mulia. Namun kecepatan itu tidak wajar…”

Ia menatap Evelyn dengan lembut tapi menusuk. “Dan taman itu… dulunya milik seseorang yang… juga dituduh memiliki kemampuan aneh.”

Serangan halus, namun tepat. Semua mata kembali ke Evelyn, mereka menunggu.

Evelyn menghela nafas pelan, dan melangkah maju. Hingga ia berdiri tepat di depan pelayan itu.

“Kalau begitu… buktikan,” suaranya lembut.

Pelayan itu terdiam.

“Buktikan bahwa aku melakukan ilmu hitam.” Lanjut Evelyn dengan wajah tenang namun suaranya tajam.

Hening, tak ada jawaban.

Evelyn berbalik, menghadap semua orang.

“Tanaman tumbuh cepat karena metode yang berbeda. Tanah harus diolah, air digunakan dengan benar. Dan benih... dipilih dengan baik.”

Ia berhenti, tatapannya menyapu seluruh aula. “Jika itu disebut ilmu hitam, maka seluruh petani di kerajaan ini adalah penyihir.”

Sunyi.

Tidak ada yang bisa langsung membantah.

Evelyn menatap langsung ke arah Sophia, senyumnya tipis. “Atau… ini hanya alasan untuk menjatuhkanku?”

Ruangan langsung membeku.

Sophia sedikit terdiam, tapi dengan cepat ia mengendalikan diri. “Saya hanya khawatir—”

“Cukup!” Suara dingin Raja Alexander memotong.

Semua langsung diam.

Raja berdiri perlahan, tatapannya berpindah dari Sophia… ke Evelyn.

“Tidak ada bukti.” Kalimat Raja sederhana, namun cukup untuk mengakhiri segalanya. “Kasus ini… dihentikan!”

Sophia menunduk, tangannya mengepal di balik lengan bajunya. Ia... gagal.

Sementara itu, Evelyn berdiri tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa. Namun saat ia berbalik, tatapannya bertemu dengan pandangan raja yang rumit. Dan kali ini, ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Raja Alexander pada Evelyn.

Malam itu...

Raja Alexander berdiri sendirian di balkon istana, angin malam berhembus pelan.

“Dia benar-benar berbeda…” gumamnya pelan.

Bukan hanya sikap dan cara bicara Evelyn, tapi juga cara berpikir wanita itu. Cara menghadapi tekanan dan juga cara Evelyn membalik situasi. Semua… tidak mungkin dimiliki oleh wanita yang dulu.

Ia teringat tatapan Evelyn di aula. Begitu tenang, seolah sudah tahu hasilnya. Seakan wanita itu bisa mengendalikan semuanya.

Langkah kaki terdengar di belakangnya, seorang penjaga mendekat.

“Yang Mulia, apakah perlu menyelidiki lebih lanjut tentang ratu?”

Alexander diam sejenak. “Tidak!”

Penjaga itu terkejut, Raja Alexander menatap langit yang gelap.

“Karena aku ingin melihat, seberapa jauh dia akan berubah.”

Di sisi lain istana, Evelyn berdiri di depan cermin. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam. Ia tahu, hari ini ia bukan hanya menang dari Sophia. Ia juga, menarik perhatian raja sepenuhnya.

Evelyn tersenyum tipis. “Permainan ini akan semakin menarik.”

1
Tiara Bella
waduh pinter bngt author ceritanya saling menyambung ya
Wanita Tangguh🧩🌠: Kurang tau kak, mungkin beberapa ada yg gk lanjut baca 🤭 pas beberapa bab gak sesuai ekspektasi mereka, jd gk lanjut baca. Gpp, nulis ini aku santai aja kak bt selingan karya Leya😁
total 3 replies
Surianto Tiwoel
wah,, pasti ibu suri yg bunuh,, ibunya Alexander
Miss Typo
Raja dan Ratu bikin perasaan campur aduk, harusnya formal aja eh romantis bgt lagi 🤣
Tiara Bella
so sweet bngt ya raja Alexander sm ratu Evelyn.....😍
Rita
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😅😅😅😅😅
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
😅😂😂😂😂😂
Rita
wah siap2 evelyn ngambek😅😂😂
Rita
waahhhh👍👍👍👍
Nyonya Gunawan
Kirain alex beneran koma..😄😄
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili
Rita
ceritanya bagus,seru,tegang g betele2
Rita
berani macam2 tunggu pembalasan ku😅😂pov evelyn
Rita
bangun̈in singa betina
Rita
ikut panik
Rita
waspada yg bs dilakukan plus bersiap
Rita
peka
Rita
waspada
Rita
tuh 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!