NovelToon NovelToon
Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Ichigatsu

Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 - Perjalanan Pertama

Sejak datang di dunia iblis, Avara hanya beberapa kali keluar istana. Paling jauh, dia hanya menjangkau gudang Ibu Kota untuk mengecek keadaan logistik di sana. Pandangan para iblis adalah satu dari beberapa alasannya untuk tidak berada jauh dari pagar istana. Namun hari itu berbeda.

Setelah Fulqentius mengerahkan semua iblis yang mampu mengerjakan magitech (termasuk trio Oxron, Fulton, dan Gaiyus) untuk segera menyelesaikan papan terminal di seluruh penjuru kerajaan, Avara memutuskan untuk mengecek sendiri implementasinya di beberapa tempat acak. Survei yang awalnya dia pikir hanya akan dia jalankan bersama satu-dua orang iblis muda sebagai pendamping, justru dihadiri oleh Fulqentius sendiri. Agaknya sang raja iblis ingin tahu langsung hasil penerapan sistem itu di kerajaannya.

Jadi saat pagi-pagi Avara sudah siap di depan gedung tempatnya bekerja untuk berangkat, dia harus dikejutkan oleh kedatangan kereta kuda besar yang jelas bukan ditujukan untuk kelas menengah ke bawah sepertinya, yang rupanya sudah dihuni sendirian oleh sosok Fulqentius. Avara dan seorang iblis muda yang rencananya akan menemaninya melongo, sama sekali tidak menduga akan mendapati sang raja tiba dalam kesiapan untuk pergi keluar istana.

Si iblis muda tentu luar biasa takut dan segan untuk sekadar menatap, jadi dia menunduk dan mundur pelan-pelan dari pelataran, meninggalkan Avara seorang diri menatap jendela kereta yang terbuka.

"Your Majesty? Anda mau pergi ke mana?"

Fulqentius membuka pintu kereta dan melongok. "Ikut denganmu. Masuklah."

Avara kembali melongo. Dia tidak salah dengar?

Fulqentius perlu mengulangi ucapannya untuk bisa membuat Avara menyadari keseriusannya dan memaksanya segera memasuki kereta. Di dalam, Avara mengerjap berusaha menyadari bahwa apa yang sedang dia alami bukan mimpi, dan seketika kagum oleh penampakan kereta yang luar biasa mewah. Duduk berseberangan dari Fulqentius, Avara membelalakkan mata ke seluruh penjuru kereta, menelan pertanyaannya; kenapa Oriole tidak ikut serta.

Fulqentius diam-diam tersenyum sebelum mengetuk sisi kereta dan berkata, "Berangkat."

Dengan keingintahuan khas anak-anak, Avara melongokkan kepala ke jendela, ingin mengetahui sendiri bagaimana kereta kuda bergerak dan pemandangan apa saja yang sedang terhidang luas di luar sana.

"Pertama kali naik kereta?"

Avara mengalihkan mata ke Fulqentius, malu telah ketahuan mengagumi banyak hal kecil yang mungkin sangat biasa bagi sang raja.

Avara mengangguk pelan. "Di dunia saya, kereta seperti ini hanya ada di masa lalu dan mungkin masih dimiliki beberapa orang yang sangat kaya.. entahlah. Yang jelas tidak ada kemungkinan bagi saya untuk bisa naik seumur hidup selain memimpikannya."

Fulqentius mau tak mau membayangkan dunia asal Avara yang terasa jauh dan ajaib, dan mengira-ngira bagaimana rupa dunia tanpa kereta kuda yang biasa ada di sini. "Dan sekarang kau tidak sedang bermimpi," ujarnya lebih lembut dari yang dia duga.

...****************...

Tiba di muka Kantor Wilayah Ibu Kota, mereka disambut oleh banyak iblis yang berkumpul karena melihat kereta kuda milik raja datang mendekat. Dari anak-anak hingga dewasa, semuanya berkumpul untuk menjumpai sendiri raja iblis yang berkunjung tanpa kabar.

Tidak ada yang tidak kagum pada penampakan Fulqentius yang tegap tinggi, pun tidak ada yang tidak takut kepadanya. Semua iblis di sana hampir menundukkan kepala untuk menunjukkan penghormatan mereka saat sosok lain yang lebih kecil turun di belakangnya. Seorang manusiaーAvara.

"Hei, lihat. Ada manusia."

"Itu manusia yang menjadi penyihir arsip, kan?"

"Ada orang arsip di sini."

"Jadi dia penyihir arsip itu."

Seketika gemuruh bisik-bisik membahana, menyambut Avara dengan perasaan asing yang sama seperti saat pertama kali dia tiba di dunia itu. Namun sebelum dia tenggelam di dalamnya, beberapa anak iblis berlari mendekatinya, menarik jubah yang dia kenakan.

"Penyihir arsip, lihat, kartuku bisa menyala!" ujar salah satu anak sambil mengacungkan segel identitas.

"Lihat punyaku juga!"

"Punyaku juga!"

Avara tertegun. Tepat sebelum dia memberanikan diri untuk bicara, sudah ada lebih banyak iblis dewasa yang bicara terhadapnya.

"Betul dia penyihir arsip yang katanya menjaga stok di gudang selalu utuh?"

"Berkat dia, sekarang aku tidak perlu antre panjang untuk mengambil obat."

"Gajianku sekarang juga tidak pernah telat."

Dadanya menghangat. Mungkin.. mungkin Avara tidak pernah merasa diterima sebaik sekarang. Anak-anak iblis itu bahkan bersembunyi dari raja iblis di balik jubah yang dia kenakan, menggunakannya sebagai tameng untuk melindungi diri dari hal yang menakuti mereka.

Aneh.

Padahal seharusnya Fulqentius, raja iblis paling kuat di benua, dihormati sedemikian rupa oleh semua rakyatnya. Namun kini popularitasnya dikalahkan seorang staf admin manusia.

"Kau terkenal," goda Fulqentius.

Avara menggeleng. "Ini karena SIM."

"Tidak," ujar Fulqentius pelan. "Mereka membutuhkanmu."

Avara pura-pura tidak mendengarnya. Jantungnya terlalu berisik.

...****************...

Siang itu Avara menjelaskan prosedur penggunaan segel identitas. Dia mengajari para pegawai tua cara 'tap' kartu sebelum mengambil barang maupun saat mereka menerimanya. Dia terus mengulangi cara yang sama agar semua iblis paham dan tidak menimbulkan selisih di kemudian hari.

"Betul, tunggu sampai bunyi ting seperti ini," jelas Avara. "Lalu begini."

"Kalau salah, apa yang terjadi?"

Pandangan Avara horor, menyapu semua mata para iblis di sana. "Meledak."

Tapi sebelum mereka bereaksi apapun, buru-buru Avara mengatakan, "Bercanda." Dan tertawa. Diikuti oleh tawa para iblis lainnya.

Sorenya, Fulqentius dan Avara menuju kota terdekat. Di sana, seolah deja vu mereka mengalami hal yang nyaris sama seperti yang mereka alami di Kantor Wilayah Ibu Kota. Iblis-iblis memuji Avara dan membuatnya berkali-kali mengulangi penjelasan tentang penggunaan segel identitas yang benar.

Di sela waktunya, gadis itu mengerjakan perhitungan dan penginputan data ke dalam sistem, memanfaatkan celah apapun untuk menyelesaikan pekerjaannya yang semakin menumpuk. Hinggaー

"Kita sedang dalam perjalanan inspeksi," kata Fulqentius. "Kenapa kau bekerja?"

Avara ragu. "Karena belum selesai?"

"Kau bisa melakukannya besok."

"Kalau menumpuk, besok akan lebih melelahkan."

Logis. Tapi entah kenapa, itu membuat dada raja iblis terasa tidak nyaman.

...****************...

Malamnya mereka kembali ke istana untuk segera menyantap makan malam yang cukup terlambat. Fulqentius mengundang Avara agar ikut makan bersamanya.

"Terima kasih atas undangannya, Your Majesty. Tapi lebih baik saya makan di kamar saya sendiri," tukas Avara. "Selamat malam."

Maka gadis itu berlalu, meninggalkan Fulqentius yang hanya bisa menatap punggungnya yang semakin terlihat kecil.

Lelaki itu menenangkan racauan yang timbul dalam dirinya sendiri; mungkin besok.. mungkin besok dia mau makan bersama.

Esoknya, Avara tidak ada di ruangannya maupun di meja di ruangan raja iblis.

Tidak ada yang tahu ke mana perginya dia ketika Fulqentius mencarinya, para iblis di ruangannya bahkan tidak tahu jika Avara sudah pulang ke istana.

"Apa sudah ada yang mengecek ke kamarnya?"

Karena semua orang menggeleng, Fulqentius bergegas pergi ke sana. Itu masih kamar yang sama yang ditempati Avara sejak dia tiba di dunia ini, sebuah kamar untuk seorang tawanan tanpa jendela berarti, yang mungkin hingga kini masih terasa mengurungnya agar tak melarikan diri. Mengingat itu, Fulqentius merasa bersalah.

Meringkuk di atas meja dengan kristal sihir yang masih berpendar lemah, Avara masih tertidur. Lingkar hitam jelas di bawah matanya. Tampaknya dia sudah bekerja terlalu lama.

Mengetahui itu, Fulqentius berdiam diri. Lama.

Sangat lama.

Lantas dengan hati-hatiーsangat hati-hatiー Fulqentius mengangkat gadis itu dan memindahkannya ke ranjang. Tubuhnya demikian ringan.

Oriole melihatnya dari belakang, seolah mengawasi apa yang akan terjadi kemudian.

Sayangnya dari sana Oriole tidak akan tahu kemarahan yang terpendam dalam diri Fulqentius kepada dirinya sendiri, karena telah membiarkan satu manusia kecil memikul seluruh kerajaannya sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!