Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Sisi Timur
Tangga kecil itu membawa mereka ke ruang yang lebih terang, tetapi bukan berarti lebih aman.
Wira naik paling belakang setelah memastikan Panca tidak terpeleset di anak tangga yang licin oleh debu dan embun. Di depan mereka, lorong kayu yang ditunjukkan Arya membentang sempit, dengan dinding dari papan tua yang sudah menghitam dimakan usia. Beberapa papan retak, dan dari celahnya masuk cahaya sore yang samar. Udara di sini tidak lagi lembap seperti lorong bawah tanah, tetapi tetap terasa berat, seolah tempat ini pernah menyimpan terlalu banyak rahasia untuk dibiarkan bernapas lega.
Arya berjalan di depan dengan langkah mantap. Ki Rangga mengikuti tepat di belakangnya, sementara Jaya menutup barisan, sesekali menoleh ke arah belakang. Raden Seta menggenggam naskah ibu Wira di dada, dan Panca berjalan sambil terus memandangi sekeliling dengan tatapan jengah.
“Aku resmi tidak percaya lagi pada lorong yang dibangun oleh orang lama,” gumam Panca.
Jaya menjawab tanpa menoleh, “Bagus. Itu tanda kau masih punya ketajaman rasa.”
Panca mendecak. “Firasatku bilang kita akan kembali turun ke tanah.”
Wira tidak ikut berbicara. Matanya tertuju pada punggung Arya. Sejak mereka berangkat dari ruang saksi, pria itu belum banyak bicara selain petunjuk-petunjuk singkat. Namun justru kesunyian itu membuat Wira makin sulit menilai. Arya berjalan seperti orang yang tahu persis ke mana pergi, tapi tidak sekali pun tampak santai. Ada ketegangan kecil di bahunya, sesuatu yang menunjukkan bahwa ia juga sedang dikejar bayangan masa lalu yang sama besarnya.
Mereka akhirnya keluar dari lorong kayu itu ke sisi bukit yang lebih terbuka.
Di depan mereka membentang lereng curam yang ditumbuhi semak rendah dan beberapa pohon tua. Dari sini, Wira bisa melihat sebagian besar lembah di bawah. Jalan yang mereka lewati tadi tampak seperti garis sempit yang tersembunyi di antara batu dan akar. Di kejauhan, rumah lama yang mereka datangi sebelumnya kini hampir tak terlihat, tertutup jarak dan bayangan pepohonan.
Arya berhenti dan menoleh. “Kita berhenti di sini dulu.”
Ki Rangga menatap sekeliling. “Kenapa?”
“Karena mereka belum jauh di belakang,” jawab Arya singkat.
Wira menegang. “Mereka masih mengejar?”
Arya mengangguk. “Dan mereka punya orang yang tahu jalur bawah.”
Raden Seta memucat. “Jadi ada pengkhianat.”
Arya menatapnya singkat. “Selalu ada orang yang memilih sisi aman.”
Panca langsung menggerutu. “Kalimat bagus untuk menambah gelisah hati.”
Jaya memeriksa jalur di belakang mereka. “Kalau begitu kita tidak bisa terlalu lama diam.”
Arya mengangguk lalu mengeluarkan kain kecil dari balik bajunya. Di dalamnya ada potongan peta tua yang dilipat berkali-kali. Ia membentangkannya di atas batu datar, lalu menunjuk titik yang diberi tanda silang tipis di sisi timur bukit.
“Ini arah kita,” katanya.
Wira mendekat. Di peta itu tampak jalur berliku menuju area yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Ada tanda seperti bangunan kecil, lalu garis menuju titik yang diberi nama samar. Setelah Wira menyipit, ia bisa membaca sebagian tulisan itu.
“Balai tua?”
Arya mengangguk. “Dulu tempat itu dipakai untuk pertemuan kecil. Sekarang sudah nyaris ditinggalkan.”
Panca menatap titik itu lalu mendengus. “Tentu saja. Semua tempat dalam cerita ini ‘nyaris ditinggalkan’.”
Ki Rangga memeriksa peta lebih dekat. “Apa hubungannya dengan Danar?”
Arya menatap Wira lalu menjawab, “Di sanalah dia terakhir terlihat sebelum dibawa.”
Wira langsung menatapnya. “Kau melihat dia?”
“Tidak langsung,” jawab Arya. “Tapi aku tahu orang-orang yang membawanya melewati tempat itu.”
Wira menahan napas. Ada getaran aneh dalam dirinya, campuran marah dan ingin tahu. Sejak mendengar nama Danar di daftar saksi, ia merasa seperti berdiri di dekat api yang belum selesai membakar. Sekarang api itu punya titik yang lebih nyata.
“Siapa yang membawanya?” tanya Wira.
Arya menatapnya lama. “Orang-orang yang ingin menghapus semua jejak keluargamu.”
Panca menatap Wira dengan ragu. “Mereka bukan cuma ambil nama, ya?”
Raden Seta menghela napas pelan. “Sepertinya tidak.”
Ki Rangga melipat peta itu kembali. “Kalau begitu kita ke balai tua.”
Arya mengangguk. “Tapi kita harus hati-hati. Tempat itu mungkin sudah dipasangi tanda.”
Jaya mengerutkan dahi. “Tanda apa?”
“Kalau kalian sudah pernah lihat ruang bawah tanah sebelumnya,” jawab Arya, “maka kalian tahu sistem lama tidak hanya menyimpan barang. Ia juga melindungi jalur tertentu dari orang yang salah.”
Wira menatapnya. “Kau bicara seperti pernah jadi bagian dari sistem itu.”
Arya tidak langsung menjawab. Pandangannya justru melayang ke lembah di bawah, seakan ada sesuatu yang jauh lebih berat di sana daripada sekadar bangunan tua.
“Aku pernah dekat,” katanya akhirnya.
Kalimat itu menggantung di udara.
Ki Rangga menatap Arya dalam diam, seolah mengukur apakah pria itu jujur atau tidak. Raden Seta tampak semakin tegang. Jaya lebih banyak memerhatikan arah sekitar, sementara Panca jelas tidak puas dengan jawaban setengah jadi itu.
“Aku benci orang yang bilang ‘pernah dekat’ lalu berhenti,” kata Panca.
Arya meliriknya sekilas. “Kau tidak suka apa pun yang belum selesai.”
“Benar.”
“Bagus. Karena cerita ini memang belum selesai.”
Wira menunduk sejenak, lalu menatap sisi timur bukit. Angin sore bergerak lembut di antara dedaunan. Di kejauhan, ia bisa melihat atap samar sebuah bangunan kecil yang setengah tertutup pohon. Balai tua itu mungkin hanya tinggal reruntuhan, tetapi dari sini saja sudah terlihat bahwa tempat itu pernah penting.
Ki Rangga memberi tanda untuk bergerak lagi. “Kita jangan menunggu sampai mereka menemukan jalan ke atas.”
Mereka menuruni lereng dengan hati-hati. Wira berjalan di samping Ki Rangga, sementara Arya memimpin jalur di depan. Semakin turun, semak makin rapat dan tanah makin tidak rata. Beberapa kali mereka harus memegang batang pohon agar tidak tergelincir. Wira merasakan kakinya mulai pegal, tapi ia tidak berani mengeluh.
Setelah beberapa lama, mereka tiba di dataran kecil di pinggir hutan. Di situ berdiri bangunan tua yang disebut Arya tadi: sebuah balai sederhana dengan tiang kayu lapuk dan atap rumbia yang sudah banyak bolong. Dindingnya sebagian roboh, menyisakan ruang terbuka yang memperlihatkan bagian dalamnya. Dari jauh tempat itu tampak kosong. Namun saat mereka mendekat, Wira melihat bekas tapak kaki lama yang hampir tertutup daun.
“Baru-baru ini ada orang di sini,” kata Jaya.
Arya mengangguk. “Aku tahu.”
Panca langsung menegang. “Kau tahu dan tetap bawa kami ke sini?”
“Aku tidak bilang tempat ini aman,” jawab Arya. “Aku bilang ini arah.”
Wira memandang balai tua itu. Rasa waspada langsung naik. Ia tidak percaya tempat yang dikunjungi tepat setelah seseorang berkata “ada orang di sini.” Namun ia juga tahu mereka tidak punya banyak pilihan. Jika tempat itu memang titik terakhir Danar terlihat, maka di sanalah mereka harus mencari.
Ki Rangga memeriksa sisi luar bangunan. “Ada bekas gesekan di tanah.”
Raden Seta menyusul dan melihat pada salah satu tiang. Di sana ada goresan halus membentuk simbol lama yang sudah hampir tidak tampak.
“Ini penanda,” katanya.
Arya mengangguk. “Benar. Itu tanda bahwa ada ruang bawah di sini.”
Wira langsung menoleh. “Masih ada bawah tanah lagi?”
Panca mengangkat tangan ke dahi. “Aku sudah tahu jawabannya sebelum kau bicara.”
Jaya mendekat ke lantai balai yang tampak paling tua. Ada satu papan kayu yang bunyinya lebih kosong saat diinjak. Ia mengetuknya pelan, lalu menatap Arya. “Di mana bukaannya?”
Arya menunjuk ke pojok dekat tiang belakang. “Ada ring kecil tertutup tanah.”
Wira berjongkok dan menyapu tanah dengan jari. Benar saja, ada cincin besi kecil yang tertanam di papan lantai. Ki Rangga membantunya menarik. Papan itu bergeser dengan suara berderit panjang, memperlihatkan tangga pendek ke bawah.
Wira menatap lubang gelap itu dengan napas tertahan.
Arya berkata, “Di bawah sana ada ruang pertemuan lama.”
Raden Seta menelan ludah. “Ruang untuk siapa?”
“Untuk orang-orang yang dulu menentukan nasib nama,” jawab Arya.
Wira menegang. Kata-kata itu membuat tengkuknya dingin.
Mereka satu per satu turun ke ruang bawah balai tua. Tempat itu lebih luas dari yang mereka duga, tetapi jauh lebih sepi. Dindingnya terbuat dari batu kasar dan kayu tua, dengan meja panjang di tengah ruangan. Di atas meja, ada debu tebal dan beberapa benda yang tampak sengaja ditinggalkan: tali kusut, pecahan segel, dan lembaran kertas yang sudah hampir hancur.
Wira melangkah pelan. Di bagian dinding paling belakang, ia melihat satu papan kayu besar menempel miring. Tulisan di atasnya sudah pudar, tetapi ada satu nama yang masih cukup jelas.
Danar.
Wira langsung membeku.
Panca yang melihatnya lebih dulu berbisik, “Itu namanya.”
Raden Seta mendekat cepat. “Ada catatan.”
Ki Rangga membaca beberapa baris lalu menatap Arya. “Kau bilang Danar dibawa. Ini catatan penyerahan.”
Wira melangkah maju, jantungnya berdebar keras. Di bawah nama Danar, ada beberapa kalimat pendek yang ditulis seperti laporan. Salah satunya berhasil ia baca.
“Orang itu dipindahkan setelah menolak pengucapan ulang.”
Wira menatap tulisan itu tak berkedip. “Pengucapan ulang?”
Raden Seta memucat. “Mungkin upacara untuk menghapus atau mengganti identitas.”
Panca mengusap wajahnya. “Kalian sungguh bikin kata-kata paling menyeramkan untuk hal paling gila.”
Jaya menatap papan itu lebih teliti. “Ada nama lain di bawahnya.”
Wira menoleh. Benar. Di baris bawah ada satu nama yang hampir hilang karena tertutup debu. Ki Rangga meniup debu tipis itu, lalu membaca dengan kening mengernyit.
“Laras.”
Wira menoleh cepat. “Siapa itu?”
Arya mendadak diam.
Wira menangkap perubahan itu. “Arya?”
Pria itu menghela napas panjang, lalu berkata pelan, “Laras adalah orang yang menemani ibumu.”
Ruang itu seketika sunyi.
Wira memandang Arya. “Maksudmu?”
“Dia bukan pelayan biasa,” jawab Arya. “Dia saksi kedua. Orang yang masih hidup setelah malam penghapusan.”
Raden Seta langsung mengerutkan dahi. “Masih hidup?”
Arya mengangguk. “Kalau dia belum mati.”
Panca menatap Wira dengan wajah cemas. “Sekarang ada saksi kedua, saksi pertama, ayah yang mungkin dipindahkan, dan ibu yang hilang. Aku mulai merasa cerita ini terlalu ramai.”
Ki Rangga tetap fokus pada papan kayu. “Laras mungkin tahu ke mana Danar dibawa.”
Wira memandang tulisan itu dengan dada terasa sesak. “Kalau begitu dia kuncinya.”
Arya menatap Wira lama lalu berkata, “Bisa jadi. Tapi ada satu masalah.”
“Apa?” tanya Jaya cepat.
“Aku tidak tahu apakah dia masih percaya pada siapa pun.”
Wira mengerutkan dahi. “Kenapa?”
Arya menatap papan kayu itu, lalu ke meja panjang di tengah ruangan. “Karena pada malam itu, Laras melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Dan setelah itu, ia menghilang.”
Panca menggeleng. “Hebat. Saksi yang satu hilang, yang satu dibawa, yang satu lagi muncul entah dari mana. Aku rasa ini bukan cerita biasa.”
Wira tidak menjawab. Pikirannya terfokus pada satu nama: Laras. Jika ia memang saksi kedua, maka dialah satu-satunya orang yang mungkin tahu bagaimana ayahnya dibawa dan ke mana ibunya sebenarnya bersembunyi. Tapi kalau dia juga menghilang, berarti mereka kembali pada titik rawan.
Jaya tiba-tiba membungkuk dan memungut sebuah benda kecil dari lantai. Itu selembar kain lipat yang hampir rusak.
“Ini ada tulisannya.”
Raden Seta mendekat. “Bacakan.”
Jaya membuka lipatan kain itu. Tulisan di sana singkat, tapi jelas.
“Bila anak Danar datang, bawa ia ke mata air yang tidak disebut.”
Wira menatap kain itu, lalu menoleh cepat ke Arya. “Kau tahu tempat itu?”
Arya mengangguk perlahan. “Ya.”
“Di mana?”
Arya menatap Wira, kemudian menjawab dengan suara rendah, “Tak jauh dari sini. Tapi kalau kita ke sana, kita harus cepat. Karena orang-orang yang mengejar kalian juga akan mencari saksi kedua.”
Ki Rangga langsung menegakkan tubuh. “Berarti kita bergerak sekarang.”
Panca menghela napas berat. “Tentu saja. Aku belum sempat kecewa lebih lama.”
Wira menggenggam liontin ayahnya di balik kain. Sekarang semuanya mulai membentuk satu garis: ayahnya, Danar, dipindahkan dari balai tua ini; Laras, saksi kedua, hilang dan mungkin masih hidup; ibunya meninggalkan petunjuk menuju mata air yang tidak disebut. Semua seakan menuntunnya pada satu titik yang belum mereka capai.
Arya menatap ke arah pintu bawah. “Kita tidak boleh tinggal lama.”
Ki Rangga mengangguk. “Pimpin.”
Mereka pun mulai bergerak keluar dari ruang bawah balai tua. Wira menatap sekali lagi ke papan nama Danar di dinding. Bukan lagi sekadar nama samar, tetapi jejak yang nyata. Ayahnya pernah berada di sini. Dan mungkin masih hidup di suatu tempat yang sedang mereka dekati.
Saat ia melangkah ke atas mengikuti yang lain, Wira tahu satu hal: di sisi timur bukit ini, masa lalu keluarganya tidak hanya dipajang sebagai bukti. Ia masih bernapas, masih bersembunyi, dan mungkin sebentar lagi akan kembali ditemukan.
bukin pusing aja