Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
**Bab 11: Retakan di Dinding Kaca**
Malam itu, apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan turun membasahi Jakarta, meninggalkan jejak-jejak air yang merambat di kaca jendela besar ruang tengah. Aku duduk di meja makan, mencoba fokus pada buku latihan Fisika, namun mataku terus tertuju pada pulpen mewah yang tergeletak di samping buku catatanku.
Suara pintu utama terbuka. Derap langkah sepatu pantofel yang tegas menggema di lantai marmer. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu adalah Charles. Aroma *cedarwood* yang dingin segera memenuhi ruangan, membawa serta aura wibawa yang selalu ia bawa pulang dari kantor.
"Belum tidur?" suaranya rendah, memecah keheningan.
Aku mendongak. Charles berdiri di sana, melonggarkan simpul dasinya dengan satu tangan. Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya, tapi matanya tetap tajam. "Masih ada tugas yang harus selesai besok," jawabku pelan.
Charles berjalan mendekat, lalu berhenti di samping mejaku. Matanya tertuju pada pulpen yang tadi ia berikan di sekolah. Ia terdiam sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu di kepalanya.
"Kejadian di aula tadi..." aku memulai, suaraku sedikit ragu. "Teman-temanku tidak berhenti bertanya. Siska bahkan hampir menginterogasiku sepanjang jam istirahat."
Charles menarik kursi di seberangku dan duduk. Ia menyandarkan punggungnya, menatapku dengan intensitas yang sulit dibaca. "Dan apa yang kau katakan pada mereka?"
"Aku bilang itu cuma kebetulan. Tapi kau tahu itu tidak masuk akal, Charles. Kau mempertaruhkan semuanya hanya untuk sebuah pulpen."
"Aku tidak mempertaruhkan segalanya, Andini," potongnya datar. "Aku hanya memastikan bahwa di tempat itu, tidak ada yang berani meremehkanmu. Aku melihat bagaimana beberapa siswa menatapmu saat kau berjalan masuk. Aku tidak suka itu."
Aku terpaku. Jadi itu alasannya? Bukan karena dokumen, bukan karena investasi, tapi karena dia merasa perlu melindungiku dari tatapan orang lain?
"Kau tidak bisa terus melindungiku dengan cara seperti itu," bisikku. "Duniaku dan duniamu itu berbeda. Di sekolah, aku harus menjadi orang biasa agar bisa bertahan."
Charles mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya bertumpu di atas meja. "Kau pikir aku tidak tahu itu? Sepuluh tahun aku hidup dengan menyembunyikan setiap inci kelemahanku. Aku tahu persis rasanya harus menjadi orang lain agar tidak dihancurkan."
Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya jemarinya menyentuh ujung jariku yang sedang memegang pena. Sentuhannya dingin, namun perlahan terasa hangat. "Tapi melihatmu di sana, mengenakan seragam itu... aku menyadari bahwa kau adalah satu-satunya hal nyata yang tersisa dalam hidupku yang penuh kepura-puraan ini."
Jantungku berdegup kencang. Ini adalah kali pertama Charles bicara tanpa istilah bisnis, tanpa dinding es yang tebal.
"Charles..."
"Jangan katakan apa-apa," sela Charles, suaranya melembut. "Aku hanya ingin kau tahu, bahwa meski pernikahan ini dimulai karena sebuah janji lama, aku tidak menyesal melakukannya."
Tiba-tiba, ponsel Charles bergetar hebat di atas meja. Nama "Kakek Utama" muncul di layar. Wajah Charles seketika kembali mengeras. Ia mengambil ponselnya, berdiri, dan menjauh menuju balkon.
Aku memperhatikannya dari balik kaca. Ia berbicara dengan nada tinggi, rahangnya mengeras, dan sesekali ia menoleh ke arahku dengan tatapan yang penuh kecemasan. Aku bisa merasakan ada badai yang sedang menuju ke arah kami.
Beberapa menit kemudian, Charles kembali masuk. Ia tidak duduk lagi. "Kakek tahu tentang kejadian di sekolah tadi. Dia ingin kita datang ke kediaman Utama besok malam."
"Tapi besok malam aku ada belajar kelompok dengan Siska," protesku.
"Batalkan," perintahnya, kembali ke mode otoriter. "Ini bukan sekadar makan malam biasa. Seseorang telah membocorkan foto kita di sekolah ke media sosial internal perusahaan. Ada pihak yang mulai mencium rahasia ini, Andini."
Duniaku serasa runtuh. Ketakutan terbesarku menjadi kenyataan. Rahasia di balik seragam ini mulai retak.
"Siapa yang melakukannya?" tanyaku dengan suara bergetar.
Charles menatapku, matanya memancarkan kemarahan yang tertahan. "Vivian. Dia tidak suka posisinya terancam oleh 'kerabat jauh' yang tiba-tiba muncul. Dia sedang mencoba membuktikan bahwa hubungan kita lebih dari sekadar bisnis."
Charles berjalan mendekatiku lagi, kali ini ia meletakkan kedua tangannya di bahuku. "Dengarkan aku. Apapun yang terjadi besok, tetaplah di sampingku. Jangan lepaskan tanganku, dan jangan biarkan mereka melihatmu takut. Kau adalah istriku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."
Aku menatap mata Charles, mencari sisa-sisa pria dingin yang dulu kubenci. Namun yang kutemukan hanyalah seorang pria yang siap berperang demi melindungi apa yang ia miliki.
Aku mengangguk pelan. "Aku tidak akan takut, Charles. Selama kau ada di sana."
Charles tidak menjawab, namun ia menarikku ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya, aku merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. Di luar, hujan semakin deras, seolah sedang mempersiapkan kami untuk badai yang sesungguhnya di kediaman Utama besok malam.
Rahasia ini bukan lagi sekadar beban bagiku. Sekarang, rahasia ini adalah sesuatu yang harus kami pertahankan bersama. Karena di balik seragam sekolah dan setelan jas mewah itu, ada dua hati yang mulai saling menemukan jalan pulang.