NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Perjanjian Tiba

Suara itu, suara Raden Titi Kusumo yang menggelegar penuh murka, tiba-tiba lenyap, menyisakan keheningan yang memekakkan telinga.

Agus tersentak, terengah-engah. Ia tidak lumpuh, dan ia tidak berada di sudut kamar yang gelap. Ia berdiri di dapur rumah kontrakan mereka yang sederhana, memegang gagang telepon yang bergetar hebat di tangannya.

Endang, yang sedang menyeduh teh basi di meja dapur, menoleh padanya dengan cemas.

“Kenapa, Gus? Kenapa kau teriak begitu?” tanyanya, suaranya pelan.

Agus melepaskan gagang telepon itu, yang jatuh dan berayun-ayun. Keringat dingin membasahi keningnya. Itu bukan proyeksi masa depan, bukan. Itu adalah rasa takut yang nyata, terwujud dalam mimpi buruk di tengah hari.

“Ki Joladrang baru saja menelepon,” kata Agus, mencoba menstabilkan napasnya. “Malam ini. Dia bilang, malam ini adalah malam bulan gelap yang sempurna. Raden Titi Kusumo akan datang.”

Endang meletakkan cangkir tehnya, tangannya gemetar. “Malam ini? Secepat ini?”

“Ya. Ki Joladrang bilang kita harus segera mempersiapkan segalanya. Sari harus siap. Dan kau harus sudah berada di tempat persembunyian.”

Agus melangkah mendekati Endang, memegang bahu istrinya. “Kau harus tenang, Ndang. Kita sudah sampai di titik ini. Tidak ada jalan mundur.”

Endang menggelengkan kepalanya perlahan, air mata mulai menggenang. “Aku tahu. Tapi aku baru saja melihatnya, Gus. Aku melihat Sari. Dia seperti mayat hidup.”

Sari, sang tumbal pengganti, kini berada di kamar tamu, dalam pengaruh total sihir Mbah Jari. Pelet Punggung telah diaktifkan, dan Sari hanya menunggu, memancarkan aura Endang yang dipaksakan.

“Dia sudah dibayar, Ndang,” desak Agus. “Lima ratus juta sudah masuk ke rekening keluarganya pagi ini. Dia setuju. Ini adalah pekerjaan baginya.”

“Kau tahu itu bukan pekerjaan biasa, Gus!” Endang menarik diri dari sentuhan suaminya. “Kau menipunya. Kau bilang dia hanya harus menginap di sini. Kau tidak bilang dia harus… harus tidur dengan siluman! Dengan entitas gaib yang haus akan koneksi spiritual!”

“Sst! Jangan bicara keras-keras!” Agus melirik ke arah kamar tamu. “Dia tidak boleh mendengar keraguanmu. Energinya akan mengacaukan Topeng Sukma.”

“Aku tidak peduli lagi dengan topeng itu!” Endang berbisik, suaranya nyaris histeris. “Aku tidak bisa, Gus. Aku tidak bisa membiarkan wanita lain menjadi tumbal demi aku! Kau bilang kita akan membatalkan jika itu melibatkan orang lain!”

“Aku berbohong, Ndang! Tentu saja aku berbohong!” bentak Agus, kepanikannya kembali memuncak. “Apa yang kau harapkan? Bahwa kita bisa mendapatkan kekayaan instan tanpa pengorbanan? Itu hanya ada di dongeng! Realitasnya adalah, kita bangkrut. Kita akan diusir!”

“Aku lebih suka diusir daripada harus melihatmu menjual jiwamu, dan sekarang jiwa orang lain!”

Agus mencengkeram lengan Endang, matanya penuh ambisi yang gila. “Jangan munafik, Endang! Kau juga menikmati ilusi kekayaan itu, bukan? Kau tidak menangis saat melihat uang masuk ke rekening Sari. Kau hanya takut pada konsekuensinya!”

“Aku takut pada dirimu!” Endang balas menantang. “Kau sudah berubah, Gus. Kau bukan suamiku yang dulu, yang rela makan nasi dan garam asalkan kita jujur. Kau sekarang hanya melihat angka, dan kau menjadikan Sari sebagai angka terakhirmu.”

Tiba-tiba, ponsel Agus berdering nyaring. Itu pesan dari Ki Joladrang.

Agus membaca pesan itu. Wajahnya pucat.

“Apa?” tanya Endang, suaranya tercekat.

“Ki Joladrang bilang Titi Kusumo sudah meninggalkan Gumrebek,” kata Agus, matanya terbelalak. “Dia akan tiba di sini dalam waktu satu jam. Kita harus segera bersiap. Kau harus masuk ke gudang penyimpanan sekarang.”

Endang menatapnya. Gudang penyimpanan itu, tempat yang dingin dan lembap, adalah penjara sementaranya, di mana ia harus bersembunyi seperti tikus sementara Sari, yang terlihat persis seperti dirinya, menjalani ritual yang mematikan.

“Aku tidak mau, Gus,” kata Endang, nadanya tegas. “Aku akan keluar. Aku akan bicara pada Pangeran itu. Aku akan mengatakan yang sebenarnya.”

Agus menggeleng. “Tidak! Kau tidak mengerti! Jika kau mengatakan yang sebenarnya, dia akan marah. Dan kemarahannya tidak hanya akan menghancurkan kita, dia akan mengambil Sari dan juga dirimu! Dia akan mengambil dua tumbal, Ndang!”

Agus mendorong Endang menjauh, menuju pintu gudang kecil di belakang dapur.

“Kau harus masuk ke sana, Endang. Dan kau harus diam. Aku akan berada di kamar, mengawasi. Aku akan memastikan Sari selamat. Aku akan memastikan kita kaya.”

Endang menangis. “Kau tidak akan selamat, Gus. Kita sudah melanggar janji spiritual yang paling suci. Kau menipu entitas yang haus akan koneksi tulus. Kau menghinanya. Kita akan membayar mahal.”

“Diam!” bentak Agus. Ia membuka pintu gudang itu, mendorong Endang masuk, dan segera menguncinya.

“Aku melakukannya demi kita!” seru Agus, menyandarkan tubuhnya ke pintu.

Suara Endang terdengar teredam dari dalam. “Kau hanya melakukannya demi dirimu, Agus. Kau takut kembali miskin.”

Agus mengabaikan suara itu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang rasa bersalah yang menusuk. Ia harus fokus. Ia harus memastikan Sari sempurna.

Ia berjalan ke kamar tamu, di mana Sari duduk di tepi ranjang. Sari sudah mengenakan kain batik Endang, dan rambutnya diikat longgar, persis seperti Endang. Di bawah pengaruh sihir, ia memancarkan ketenangan yang mengerikan.

“Sari,” panggil Agus.

Sari mengangkat kepalanya. Matanya, dihiasi oleh aura Endang, tampak lembut.

“Sudah waktunya, Gus?” tanya Sari, suaranya Endang.

“Ya,” jawab Agus, mendekat. “Dengarkan aku. Kau harus ingat, kau adalah Endang. Kau mencintai suamimu. Kau rela melakukan apa saja demi suamimu.”

Sari mengangguk pelan. “Aku tahu. Aku adalah pengorbanan yang tulus.”

“Ya, pengorbanan yang tulus,” ulang Agus, merasakan lidahnya pahit. “Pangeran itu akan datang. Dia akan mencari koneksi spiritual. Berikan dia itu. Jangan biarkan Sari yang asli muncul.”

Agus melihat kelelahan di balik mata Sari. Ia tahu sihir Mbah Jari bekerja keras, menyerap energi Endang yang dikunci.

“Aku akan mencoba, Gus,” kata Sari. “Tapi… bisakah aku meminta satu hal?”

“Apa?”

“Pastikan keluargaku aman. Pastikan uang itu sampai ke mereka. Ini adalah harga jiwaku.”

Agus merasa jijik pada dirinya sendiri, tetapi ia memaksakan senyum meyakinkan. “Tentu. Aku janji. Kau akan aman, dan keluargamu akan kaya.”

Agus lalu melangkah ke kamar utama, kamar tempat ritual akan berlangsung. Ia menarik Sari masuk dan membaringkannya di ranjang. Ia harus berdiri di sudut, mengawasi, menjadi penonton yang cemburu.

Jam dinding berdetak kencang, setiap detiknya terasa seperti palu yang menghantam kepalanya.

Tiba-tiba, ponsel Agus bergetar lagi. Bukan pesan, tapi panggilan. Dari Kuskandar.

Agus mengangkatnya dengan tangan gemetar.

“Halo, Kun?”

Suara Kuskandar terdengar tegang, berbisik. “Gus! Kau sudah siap? Aku baru dapat kabar dari Ki Joladrang. Ada yang aneh. Raden Titi Kusumo tidak datang sendiri.”

“Apa maksudmu?”

“Dia membawa dua pengawal khodam. Dan dia datang dengan zirah penuh. Dia tidak datang untuk ritual mesra, Gus. Dia datang seperti… seperti seorang raja yang mencurigai ada pengkhianatan.”

Agus merasakan tenggorokannya tercekat. “Pengkhianatan? Mustahil! Sihir Mbah Jari sempurna!”

“Aku tidak tahu, Gus! Tapi kau harus sangat berhati-hati. Kalau dia curiga sedikit saja, dia tidak akan hanya mengambil tumbal. Dia akan mengambil nyawa!”

Kuskandar memutuskan sambungan.

Agus mematikan ponselnya, menatap Sari yang terbaring kaku di ranjang. Lalu ia menoleh ke jendela.

Udara di luar rumah tiba-tiba menjadi sangat dingin. Bau melati yang tajam menyengat hidungnya, jauh lebih kuat daripada yang pernah ia bayangkan. Bau itu membawa serta aroma besi kuno dan tanah basah.

“Dia datang,” bisik Agus, panik.

Ia bersembunyi di balik lemari, membiarkan bayangan menyelimutinya.

Sari membuka matanya, menatap pintu kamar dengan ekspresi Endang yang dipaksakan.

Di luar, suara langkah kaki terdengar. Langkah kaki yang sangat berat, seolah-olah seseorang mengenakan sepatu bot baja kuno, berjalan di atas kerikil. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar.

Pintu itu berderit, didorong terbuka oleh tekanan energi yang tak terlihat.

Raden Titi Kusumo berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan zirah perak kuno, dan di belakangnya, Agus bisa melihat sekilas dua bayangan tinggi, diam dan mengancam.

Titi Kusumo melangkah masuk. Matanya yang biru pucat langsung tertuju pada Sari di ranjang.

“Endang,” sapa Titi Kusumo, suaranya merdu, tetapi dingin. “Malam ini, akhirnya kita terikat.”

Titi Kusumo berjalan ke ranjang, tangannya terangkat, siap untuk menyentuh Sari.

Tiba-tiba, ia berhenti. Ia memejamkan mata, mengendus udara.

“Tunggu,” bisik Titi Kusumo. “Aku mencium aroma ketulusan yang sangat dalam. Tapi aku juga mencium aroma… ketakutan dan pengkhianatan yang baru saja terjadi. Siapa yang baru saja kau tipu, Endang?”

Agus menahan napas di balik lemari. Sari (sebagai Endang) harus segera menjawab.

Sari membuka mulutnya, dan dengan suara Endang yang lembut, ia menjawab, “Aku tidak menipu siapa pun, Raden. Aku hanya… aku hanya memastikan suamiku aman.”

Titi Kusumo tersenyum, senyum yang tidak mencapai matanya. Ia melangkah mendekat, dan tangannya kini tidak hanya terulur ke Sari. Tangannya menunjuk langsung ke arah lemari tempat Agus bersembunyi.

“Kau yakin, Endang?” tanya Titi Kusumo. “Atau apakah kau menyembunyikan sesuatu… atau seseorang dariku?”

Agus membeku. Ia tahu ia tidak bisa bersembunyi lebih lama lagi. Ia melangkah keluar dari bayangan, memaksakan senyum di wajahnya yang pucat.

“Selamat datang, Raden Titi Kusumo,” kata Agus, suaranya bergetar.

Titi Kusumo memutar kepalanya, dan pandangannya yang dingin kini menusuk Agus.

“Ah, Manusia,” desis Titi Kusumo. “Aku mencium aroma kecemburuan yang sangat kotor darimu. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah koneksi ini.”

Titi Kusumo berbalik, menatap Sari. Ia menjulurkan tangannya dan menyentuh punggung Sari, tepat di tempat Pelet Punggung Mbah Jari bekerja.

Sari tersentak hebat, tetapi ia menahan diri untuk tidak menjerit.

“Aku akan mengambil apa yang menjadi hakku,” kata Titi Kusumo, dan ia mulai merapal mantra.

Agus menyaksikan, jantungnya berdebar kencang. Ini adalah awal dari segalanya.

Tiba-tiba, Sari menjerit. Bukan jeritan Endang, tetapi jeritan keputusasaan Sari.

Titi Kusumo tersentak, menghentikan mantera. Ia menarik tangannya, menatap Sari dengan kebingungan.

“Kenapa kau menjerit?” tuntut Titi Kusumo.

Sari terbatuk, dan ia berbicara, bukan dengan suara Endang yang lembut, tetapi dengan suara Sari yang kasar.

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya! Aku tidak bisa menjual jiwaku untuk kebohongan ini!”

Agus panik. Sari telah pecah!

“Sari! Diam!” teriak Agus, melangkah maju.

Titi Kusumo berbalik, matanya berkilat biru pucat. Ia menatap Agus, lalu menatap Sari.

“Sari?” Titi Kusumo mengulang nama itu. Ia lalu menoleh ke arah Agus, dan senyum yang mengerikan terukir di wajahnya.

“Kau menipuku?” desis Titi Kusumo, dan ia mengangkat tangannya, siap untuk merobek ilusi itu.

Agus tahu ini adalah akhir.

Tiba-tiba, dari balik pintu gudang, terdengar suara Endang yang marah dan kuat.

“Kau bajingan, Agus! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini!”

Pintu gudang itu didobrak paksa, kuncinya patah. Endang yang asli muncul, memegang sebilah pisau dapur di tangannya.

Ia tidak melihat Titi Kusumo. Ia hanya melihat Agus.

“Aku lebih baik mati miskin daripada hidup dengan darah Sari di tanganmu, Agus!” teriak Endang, dan ia berlari ke arah Agus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!