"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Desing peluru sniper tadi masih terngiang di telinga Alzena, sebuah suara tajam yang baru saja melenyapkan satu-satunya kunci informasi mereka. Baron tewas dengan mulut terkunci selamanya. Di bawah dek dermaga yang basah dan berbau amis, Alzena bisa merasakan detak jantung Keano yang berpacu di punggungnya. Tubuh besar pria itu melindunginya sepenuhnya, menjadi tameng hidup dari serangan yang bisa datang kapan saja.
"Jangan bergerak," bisik Keano, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh deru ombak yang menghantam tiang-tiang dermaga.
Alzena menggertakkan gigi. Rasa takut sempat menyapa, tapi amarahnya jauh lebih besar. "Sniper itu ada di bukit sebelah utara. Gue liat kilatan lensanya tadi. Keano, kita nggak bisa diem aja di sini kayak tikus kejepit!"
"Gue tau," balas Keano. Ini pertama kalinya Keano menggunakan bahasa yang lebih santai, seolah tembok formalitas Winchester runtuh di bawah tekanan maut. "Evan sudah di posisi bawah dengan *speedboat*. Begitu gue kasih aba-aba, lo lari ke arah air, jangan nengok ke belakang."
"Lo pikir gue selemah itu sampai harus lo suruh lari duluan?" Alzena mendesis, tangannya meraba saku jaket kulitnya, mencari perangkat pengganggu sinyal kecil yang selalu ia bawa. "Gue bakal bikin kekacauan. Lo tembak kalau liat ada yang gerak."
Tanpa menunggu persetujuan Keano, Alzena melempar sebuah bola logam kecil ke arah tumpukan kontainer. *Bzzzt!* Bola itu meledak dalam percikan listrik statis, menciptakan asap tebal yang mengganggu sensor panas (thermal) yang mungkin digunakan oleh si penembak jitu.
"Sekarang!" teriak Alzena.
Mereka berdua melesat keluar dari bawah dek. Keano melepaskan tiga tembakan beruntun ke arah bukit untuk memberikan tekanan balasan, sementara Alzena berlari dengan kelincahan yang membuat Keano terpana. Mereka melompat ke atas *speedboat* yang sudah menunggu di bawah dermaga tepat saat peluru kedua menghantam beton tempat mereka berdiri satu detik yang lalu.
Evan memacu mesin kapal dengan kecepatan maksimal, membelah air dingin Calveron yang gelap. Begitu mereka cukup jauh dari jangkauan sniper, Alzena jatuh terduduk di lantai kapal, napasnya tersengal.
"Alexander Crowe," gumam Alzena sambil menatap Keano yang masih berdiri waspada di buritan kapal. "Nama itu... Baron bilang dia dalangnya. Tapi lo bilang dia udah mati dua puluh tahun lalu?"
Keano menurunkan senjatanya, wajahnya tampak sangat kalut. "Secara resmi, iya. Alexander Crowe adalah kakek buyutku, pendiri fondasi Winchester yang paling kejam. Dia dinyatakan meninggal karena gagal jantung dan dimakamkan di mausoleum keluarga di puncak bukit Calveron."
"Kalau dia beneran mati, kenapa namanya disebut sebagai orang yang pengen Arcelia lenyap?" Alzena berdiri, mendekati Keano. "Ada yang nggak beres sama keluarga lo, Keano. Dan gue ngerasa Papa Adrian tau lebih banyak dari yang dia omongin tadi."
Keano menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh konflik. "Gue nggak akan biarin siapa pun nyakitin lo, meskipun itu bayangan dari masa lalu keluarga gue sendiri."
Mereka tidak kembali ke mansion utama. Keano membawa Alzena ke sebuah rumah persembunyian kecil di pinggiran hutan yang hanya diketahui olehnya dan Evan. Rumah itu tersembunyi di balik tebing, sangat aman dari pantauan publik.
Di dalam rumah yang hangat oleh perapian, Alzena langsung membuka laptopnya. Jarinya bergerak seperti kilat, mencoba meretas database rahasia Winchester yang hanya bisa diakses dari jaringan internal Calveron.
"Lo lagi ngapain?" tanya Keano sambil membawakan segelas wiski dan air hangat untuk Alzena.
"Gue lagi cari 'kematian' Alexander Crowe," jawab Alzena tanpa menoleh. "Kalau dia beneran mati, gue mau liat laporan otopsinya. Kalau dia cuma pura-pura mati, gue mau tau di mana lubang persembunyiannya."
Keano duduk di sampingnya, memperhatikan layar yang penuh dengan kode-kode merah. "Kau benar-benar bukan Alzena yang aku nikahi setahun lalu. Kadang aku bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang ada di balik mata ini?"
Alzena terhenti sejenak. Dia menatap pantulan dirinya di layar laptop. *Gue Arcelia, adik kembar yang dibuang keluarga Halim, dan sekarang lagi nyari keadilan buat diri gue sendiri di tubuh kakak gue,* batinnya. Namun, yang keluar dari mulutnya adalah: "Gue adalah jawaban dari semua dosa yang dilakukan orang tua kita, Keano. Itu aja yang perlu lo tau."
*BEEP.*
Layar laptop Alzena menunjukkan sebuah dokumen bertanda *Classified: Black Box*.
"Ketemu," bisik Alzena.
Di sana terlampir sebuah transaksi bulanan yang sangat besar selama dua puluh tahun terakhir. Dana itu mengalir ke sebuah yayasan medis bernama *Evergreen Sanctuary* yang berlokasi di pegunungan terpencil Calveron. Dan yang mengejutkan, pemberi dana itu adalah Adrian Winchester.
"Papa Adrian... dia membiayai Alexander Crowe?" Alzena menatap Keano dengan ngeri. "Alexander nggak mati, Keano. Dia disembunyikan. Dia hidup sebagai 'hantu' yang mengendalikan semuanya dari balik layar."
Keano mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Evergreen Sanctuary itu tempat peristirahatan khusus untuk anggota Winchester yang sakit parah. Tapi tempat itu tertutup untuk siapa pun, termasuk aku."
"Itu tempat panti asuhan Arcelia dulu dipindahkan secara administratif sebelum dibakar," Alzena menemukan benang merahnya. "Alexander Crowe menginginkan warisan murni dari Ibu Mirelle Halim. Kenapa? Apa yang spesial dari warisan itu?"
"Mirelle Halim bukan hanya seorang sosialita," Keano menjelaskan dengan suara rendah. "Dia adalah pewaris tunggal dari penemuan formula farmasi yang bisa mengubah industri medis dunia. Formula itu... kalau jatuh ke tangan yang salah, bisa jadi senjata biologis atau monopoli obat yang mengerikan. Alexander Crowe dikenal terobsesi dengan keabadian dan kekuasaan mutlak."
Alzena menyenderkan punggungnya, merasa kepalanya ingin pecah. "Jadi, Papa Aldric buang Arcelia karena Alexander Crowe yang minta? Dan panti asuhan itu dibakar karena Arcelia nggak sengaja tau soal formula itu?"
"Kemungkinannya begitu," Keano berdiri, mengambil mantelnya. "Kita harus ke Evergreen Sanctuary sekarang juga."
"Lo gila? Ini tengah malem, dan kita baru aja ditembakin sniper!"
"Justru karena ini tengah malem," Keano menarik tangan Alzena, membantunya berdiri. "Mereka pikir kita bakal sembunyi ketakutan. Mereka nggak tau kalau kita bakal balik nyerang. Evan sudah menyiapkan helikopter kecil di belakang rumah ini. Kita selesaikan ini, Alzena. Gue nggak mau hidup dalam bayang-bayang hantu selamanya."
Alzena tersenyum miring. Sifat bar-barnya kembali berkobar. "Oke, Winchester. Mari kita liat seberapa hebat hantu kakek buyut lo itu kalau dapet kunjungan dari 'cucu menantu' yang bar-bar kayak gue."
Perjalanan udara menuju puncak gunung terasa sangat dingin. Helikopter itu mendarat di sebuah area yang tidak terdeteksi radar. Di depan mereka, berdiri sebuah bangunan modern yang sangat kontras dengan alam liar sekitarnya. *Evergreen Sanctuary*.
Mereka menyelinap masuk melalui saluran ventilasi yang sudah diretas oleh Alzena sebelumnya. Di dalam, suasana terasa seperti laboratorium futuristik daripada panti jompo. Begitu sampai di lantai paling atas, mereka sampai di depan sebuah pintu besi raksasa yang membutuhkan pemindaian retina.
"Gue bisa bypass ini dalam dua menit," ujar Alzena. Dia menyambungkan alatnya, dan pintu itu terbuka dengan suara desis yang pelan.
Di dalam ruangan yang sangat luas dan dingin itu, terdapat sebuah ranjang medis dengan berbagai peralatan penunjang hidup. Di sana duduk seorang pria yang sangat tua, namun matanya tetap tajam dan penuh wibawa. Alexander Crowe.
Di sampingnya, berdiri Papa Adrian dengan wajah penuh penyesalan.
"Papa?" Keano mematung di ambang pintu.
Adrian menoleh, wajahnya tampak sangat lelah. "Keano... Alzena... kalian tidak seharusnya datang ke sini."
Alexander Crowe tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar menyeramkan. "Cicitku... dan cucu Halim yang seharusnya sudah lenyap. Selamat datang di akhir dari permainan kecil kalian."
Alzena maju paling depan, tidak memedulikan moncong senjata yang dipegang oleh pengawal Alexander di sudut ruangan. "Gue bukan Alzena yang lemah, Alexander. Dan gue tau Arcelia masih hidup. Di mana dia?!"
Alexander tersenyum tipis. "Kau ingin mencari Arcelia? Kau sedang menatap bayangannya setiap kali kau berkaca, Nona. Tapi jika kau ingin tahu siapa yang membakar panti asuhan itu... tanyalah pada ayah mertuamu yang terhormat. Dia yang memegang korek apinya."
Dunia Alzena seolah runtuh. Dia menatap Papa Adrian dengan tatapan tidak percaya. "Papa? Papa yang bakar panti itu?"
Adrian menunduk, tidak berani menatap mata menantunya. "Aku terpaksa, Alzena... Alexander mengancam akan membunuh Keano yang saat itu masih kecil jika aku tidak melenyapkan bukti formula itu di panti asuhan. Aku mencoba menyelamatkan anak-anak di sana, tapi Baron... dia lepas kendali."
Keano meledak. Dia menerjang ayahnya, mencengkeram kerah bajunya. "Bagaimana bisa kau melakukan itu, Pa?! Selama ini aku mengagumimu!"
"Sudah cukup dramanya," potong Alexander Crowe. "Berikan formula yang disimpan di dalam kalung yang kau pakai itu, Alzena. Atau malam ini Calveron akan menjadi pemakaman massal bagi kalian berdua."
Alzena meraba lehernya. Kalung pemberian Ibu Mirelle yang selama ini ia anggap hanya perhiasan biasa. Ternyata, di dalamnya tersimpan kunci dari segala kekacauan ini.
Alzena menarik kalung itu, menatap Alexander dengan penuh kebencian. "Lo mau ini? Ambil... di neraka!"
Alzena melempar kalung itu ke arah tangki oksigen di sudut ruangan dan menembaknya dengan pistol kecil yang ia sembunyikan di balik jaketnya.
*BOOM!*
Ledakan terjadi, menciptakan kekacauan total. Di tengah asap dan api, Alzena menarik Keano untuk melarikan diri. "Kita harus keluar dari sini! Tempat ini bakal meledak!"
Keano menarik ayahnya, memaksa Adrian untuk ikut lari. Di belakang mereka, Alexander Crowe hanya tertawa di tengah kobaran api, seolah dia sudah siap untuk benar-benar mati kali ini.
Pelarian mereka dari *Evergreen Sanctuary* menjadi awal dari babak baru. Mereka selamat, tapi rahasia yang terungkap telah mengubah segalanya. Keano menatap Alzena di bawah cahaya fajar Calveron.
"Kita akan hancurkan sisa-sisa Alexander Crowe, apa pun risikonya," janji Keano.
Alzena menatap matahari terbit. "Gue nggak butuh pahlawan, Keano. Gue butuh lo tetep di samping gue buat ngeratain siapa pun yang berani bangun dari kubur buat ganggu hidup kita."
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘