🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Posesif Keanu yang tak pernah berubah
Mendengar suara seseorang yang memanggilnya, Anindia pun langsung menoleh. Pandangannya langsung bertemu pada sosok pemuda yang kini tepat berdiri di hadapannya, hanya berjarak beberapa langkah saja.
"Eh, pagi kak," ujar Anindia dengan senyuman ramah.
"Sorry, gue ganggu gak?" Ujar pemuda blasteran Indo-Perancis itu.
Pemuda yang dimaksud adalah Ardyan, sang Presma kampus. Matanya biru tajam, rambutnya tersisir rapi, senyumnya menawan, serta sikap yang percaya diri membuatnya sangat populer di kalangan mahasiswa. Ia juga memiliki kepribadian yang ramah, membuatnya mudah di sukai oleh orang lain.
Anindia yang memiliki kepribadian yang ramah, membuatnya cepat akrab dengan mahasiswa mahasiswi lainnya, meskipun ia baru masuk kuliah selama dua bulan terakhir.
"Enggak sama sekali, kak. Ada apa ya?" Ujar Anindia sopan.
"Ah, enggak," ujar Ardy sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, seutas senyum tipis terukir di wajahnya. "Gue cuma lagi nyari seseorang yang bisa bantu gue dengan proyek desain grafis untuk acara kampus. Lo kan jurusan desain, gue liat portofolio lo keren-keren. Mau bantu gue, gak?" Ujarnya yang langsung pada intinya.
Anindia terkejut, merasa heran dengan penuturan Ardy. Ia menunjuk dirinya sendiri, seakan tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. "A-aku?" Ujarnya.
Ardy tersenyum lebih lebar, lalu mengangguk dengan antusias. "Iya, gue percaya lo bisa bantu gue dengan proyek ini, Anindia. Plus, gue butuh fresh ideas dari anak desain kayak lo," ujarnya.
"Maaf sebelumnya kak, bukan bermaksud untuk menolak. Tapi, kenapa harus aku ya, kak?" Ujar Anindia yang merasa ragu-ragu.
Ardy tertawa kecil, menganggap pertanyaan Anindia itu sangat wajar. "Hmm, gue pilih lo karena portofolio lo emang keren banget, Anin. Plus, gue butuh orang yang punya ide-ide kreatif. Dan ya, lo masuk kriteria itu," ujarnya.
Anindia terdiam untuk sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. "Humm, oke deh, kak. Tapi, bisa liat dulu gak detail proyeknya?" Ujar Anindia pada akhirnya.
"Bisa banget, Anin. Gue ada ide buat acara ini, yuk kita cari tempat yang lebih santai buat bahas detailnya. Kafe depan kayaknya cocok tuh," ujar Ardy sembari menoleh ke arah kafe di seberang jalan.
Anindia merasa tidak enak dengan Keanu, ia yakin suaminya itu pasti akan salah paham jika Anindia menerima ajakan Ardy. Ia terdiam beberapa saat, memikirkan jawaban yang tepat untuk menolaknya.
"Ekhem!"
Di sela-sela keheningan, tiba-tiba saja terdengar suara deheman keras dari seseorang. Suara langkah kaki itu kian mendekat, membuat keduanya langsung menoleh ke arah suara.
"Ngapain harus di kafe?" Ujar Keanu dingin, ketika ia mendengar jelas penuturan Ardy.
Anindia langsung menoleh ke arah Keanu, sementara Ardy langsung tersenyum canggung. Anindia bisa melihat jelas rasa cemburu di raut wajah Keanu.
"Ma-mas? Kamu kok di situ?" Ujar Anindia sedikit gugup.
Keanu menatap tajam ke arah Ardy dengan penuh rasa posesif, lalu ia menoleh ke arah Anindia dengan tatapan yang hanya dipahami oleh istrinya itu.
"Tadinya aku mau antar hp kamu, tadi ada di jaket aku." Ujar Keanu sembari memberikan ponsel ke tangan Anindia. "Tapi, aku gak sengaja dengar laki-laki ini mengajak kamu ke kafe. Ada maksud apa?" Lanjutnya, berusaha menahan rasa cemburu.
Anindia menerima ponselnya dari tangan Keanu, senyum tipis terukir di wajahnya. Ia merasa bahwa posesifnya Keanu masih sama, dan ia yakin bahwa Keanu sedang merasa cemburu saat ini. Namun, Anindia memilih untuk bungkam, bukan karena ia tidak bisa berkata-kata, melainkan ingin melihat kecemburuan suaminya lebih lama.
"Eh Keanu, gue cuma..." Ujar Ardy sedikit gelagapan, ketika melihat Keanu yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Cuma apa? Lo mau deketin semua mahasiswi di sini?" Ujar Keanu kemudian. "Gue denger lo suka godain cewek-cewek," lanjutnya sedikit sarkastis.
Ardy langsung menyangkal, wajahnya memerah karena merasa tertuduh. "Gak, gue gak ada maksud apa-apa. Santai bro," ujarnya santai.
Keanu menatap Ardy dengan tatapan ragu-ragu, seakan tidak percaya dengan penuturan pemuda itu. "Hmm, gak ada maksud apa-apa ya? So, kenapa lo ajak Nindi ke kafe?" Ujarnya dengan nada dingin.
Anindia berusaha untuk menahan senyum, sifat Keanu yang posesif membuatnya merasa berbunga-bunga, terlebih ia memang merasa tidak nyaman jika berbicara dengan Ardy di kafe jika hanya berdua saja.
Ardy sendiri terlihat mengusap tengkuknya, ia merasa terjebak dalam perkataan Keanu. Baginya, usahanya untuk mendekati Anindia tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya.
"Ah itu..." Ujar Ardy setelah hening beberapa saat. "Come on bro, gue cuma pengen bahas tentang proyek kampus aja," lanjutnya sembari menepuk pundak Keanu.
Keanu melirik tangan Ardy di pundaknya, lalu menoleh ke arah Ardy sembari memicingkan mata, seakan tidak percaya dengan penuturan seniornya itu.
"Proyek kampus?" Ujar Keanu diikuti dengan deheman kecil, berusaha untuk membasahi tenggorokannya. "Lo bisa bahas di kampus, kak! Gak perlu di kafe," lanjutnya sembari menurunkan tangan Ardy di pundaknya.
"Bro, bro! Posesif banget lo!" Ujar Ardy dengan tawa kecil sembari menggelengkan kepalanya perlahan. "Menurut gue lebih enak bahas di kafe, bro. Lebih santai dan gak ada gangguan," lanjutnya.
Keanu merasa tensi di antara mereka mulai meningkat, bahkan ia bisa merasakan bahwa nafasnya mulai memburu karena perkataan Ardy. "Gue gak liat ada yang santai kalo lo bahas proyek kampus berdua dengan Nindi di kafe," ujarnya penuh penekanan.
Anindia yang melihat ketegangan di antara mereka langsung memegangi lengan Keanu. Ia tidak ingin terjadi pertengkaran di antara keduanya, terlebih ia tahu pasti bahwa Keanu cepat sekali terbawa emosi.
"Mas, udah ih!" Ujar Anindia yang sedari tadi diam.
Keanu menoleh ke arah Anindia, lalu ia menarik nafas panjang. Keanu merasa bahwa dirinya mudah sekali terbawa emosi, terlebih sejak hadirnya Shaka di dalam kehidupan mereka.
Anindia menepuk lengan Keanu pelan dengan anggukan singkat. Ia tidak membutuhkan kata-kata dari Keanu, karena ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan oleh suaminya itu.
"Oke-oke, gue berubah pikiran. Bahas di kampus aja sama yang lain," ujar Ardy pada akhirnya.
"Iya kak, lebih baik bahas di kampus aja," ujar Anindia dengan seutas senyum.
Keanu menarik nafas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan diri. "Setuju, gue ikut. Ya, gue cuma ingin pastikan aja kalo lo gak lagi modus sama Nindi," ujarnya.
Anindia menggelengkan kepalanya, senyum tipis terukir di wajahnya. Sementara Ardy, pemuda itu langsung tertawa garing. Ia merasa terjebak dengan permainan yang ia ciptakan sendiri.
"Yaelah, aman bro. Gue serius ingin bahas proyek aja. Gue ajak yang lain juga, jadi gue gak cuma berdua sama Anindia," ujar Ardy kemudian.
"Oke," ujar Keanu singkat.
Anindia merasa bahagia dengan sifat Keanu yang masih sama seperti dulu. Ia memegangi tangan Keanu lembut, menunjukkan bahwa ia tidak marah dengan sikap posesif suaminya itu.
"Jadi gini ya rasanya punya suami yang posesif banget?" Batin Anindia.
"Okelah, gue pamit dulu mau ke kelas. Kita bahas proyek kampus setelah jam kuliah berakhir," pamit Ardy pada keduanya.
Keanu hanya menatap Ardy tanpa kata, sementara Anindia langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya kak, sampai nanti," ujar Anindia.
Tanpa kata lagi, Ardy langsung melangkah pergi meninggalkan Anindia dan Keanu di tempat. Pandangan Keanu masih tertuju pada Ardy, hingga pemuda itu menghilang dari pandangan.
Anindia menatap Keanu dengan tatapan lembut, lalu memukul lengannya pelan. "Mas, kamu kok gak bisa santai sih?" Ujarnya.
Keanu menatap Anindia dalam, lalu mengambil tangan Anindia dan mengelusnya lembut. "Aku cemburu, sayang. Aku gak mau kamu pergi berdua sama laki-laki lain," ujarnya dengan suara yang sedikit berat.
"Ciee, ada yang cemburu nih!" Goda Anindia pada suaminya itu.
"Hmm, gimana ya?" Ujar Keanu yang mengambil jeda sejenak. "Cemburu itu wajar, sayang. Karena aku emang secinta itu sama kamu. Intinya kamu gak boleh pergi berduaan dengan laki-laki manapun. Jika memang penting, aku harus ikut buat pantau kamu. Paham sayang?" Lanjutnya dengan nada yang terdengar begitu serius.
Anindia mengulum senyum, ia merasa salah tingkah dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Keanu. Ia menatap Keanu dengan perasaan cinta yang masih sama, membiarkan Keanu mengelus tangannya.
"Mas, kamu masih sama ya? Gak pernah berubah," ujar Anindia dengan nada yang sedikit menggoda. "Aku suka kok, kamu cemburu gini. Kamu lucu kalo lagi cemburu, Mas. Plus, semakin ganteng aja ayah Shaka ini," lanjutnya.
Keanu merasa salting, wajahnya sedikit memerah karena pujian dari Anindia. Ia mencoba untuk mempertahankan ekspresi serius, tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum yang mulai muncul di wajahnya.
"Hmm, kamu suka aku cemburu?" Ujar Keanu sedikit menggoda, sembari mendekatkan wajahnya ke arah Anindia. "Aku cemburu karena aku gak mau kehilangan kamu, sayang. Kamu milik aku, dan aku gak mau ada laki-laki lain yang mendekati kamu," lanjutnya dengan suara rendah dan berat.
Anindia terkekeh sembari memukul dada Keanu pelan. Ia membiarkan Keanu mendekatinya, merasakan kehangatan wajahnya yang dekat.
"Ututuuttuu, suami aku posesif banget sih?" Ujar Anindia sembari mencubit lengan Keanu pelan. "Tapi udah ada laki-laki lain yang mendekati aku, Mas. Gimana dong?" Lanjutnya berusaha menahan senyum.
Ekspresi wajah Keanu langsung berubah menjadi masam, matanya menatap Anindia tajam, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Hmm, udah ada cowok lain yang ngedeketin kamu?" Ujar Keanu yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Siapa?"
Anindia tidak bisa lagi menahan tawanya, ia langsung meledak dalam tawa lepas. "Hahaha, Mas! Aku cuma bercanda, ih! Langsung cemberut gitu," ujarnya sembari menyenggol lengan Keanu.
Keanu menatap Anindia dengan ekspresi yang masih sedikit masam, tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum yang mulai muncul di wajahnya. "Hmm, gitu ya?" Ujarnya sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Maaf Mas, aku cuma bercanda," ujar Anindia kemudian.
Keanu akhirnya tertawa dengan gelengan singkat. Ia tidak menyangka bahwa istrinya itu bisa mengerjainya pagi-pagi seperti ini, terlebih ia baru saja merasakan cemburu karena ulah Ardy.
"It's okay, sayang. Gapapa," ujar Keanu sembari mengelus rambut Anindia penuh kasih sayang.
Anindia tersenyum dan mengangguk, membiarkan Keanu mengelus rambutnya. Mahasiswa mahasiswi lainnya terlihat berlalu lalang, tapi mereka berdua tidak memperdulikan.
"Aku ke kelas dulu ya, Mas. Semangat buat hari ini, ayahnya Shaka," ujar Anindia setelah hening beberapa saat.
"Pasti sayang, semangat juga ya my wife," bisik Keanu tepat di telinga Anindia.
Tanpa kata lagi, Anindia melangkahkan kakinya menuju ke ruang kelasnya. Keanu menatap Anindia dengan senyum, hingga Anindia menghilang dari pandangannya.
Setelahnya, Keanu juga melangkahkan kakinya ke lain arah, menuju ke ruang kelasnya. Di dalam kelasnya, Keanu langsung duduk tenang di bangkunya, seolah memberi batasan kepada teman-teman barunya.
Sembari menunggu dosen memasuki ruangan, Keanu memilih untuk memainkan ponselnya sejenak. Sejak berpisah dengan Niko, Keanu sulit mendapatkan teman baru. Baginya, teman-temannya di kampus tidak se-frekuensi dengan dirinya.
Tapi, bagaimanapun juga Keanu tahu bahwa semua itu ada masanya. Teman-teman dekatnya juga sedang berjuang untuk masa depannya masing-masing. Ia hanya berharap bahwa mereka semua bisa sukses suatu hari nanti.
Sementara itu di dalam kelasnya, Anindia sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Canda tawa terdengar dari mereka, membuat suasana di ruangan itu menjadi lebih santai.
Bagi Anindia, memiliki banyak teman itu sangat menyenangkan, karena ia bisa berbagi cerita dan berbagi banyak hal dengan mereka.
Beberapa menit berlalu, seorang dosen memasuki ruangan. Hening, tidak ada yang berani berbicara ketika pria paruh baya berkacamata itu memasuki ruangan. Dosen itu memulai kuliah, membuat seisi kelas langsung memperhatikan dengan seksama.
Tak jauh beda dari kelas Keanu, ia juga melakukan hal yang sama. Keanu yakin bahwa ini adalah pilihan yang tepat untuk dirinya juga keluarga kecilnya. Tanggung jawab yang ia pikul kini bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga ada Anindia dan Shaka.
"Aku yakin bisa, demi Anindia dan Shaka," batin Keanu di sela-sela kuliah yang sedang berlangsung.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁