Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GADIS DESA
"Om, Om dari kota ya?" sapa seorang gadis, mungkin masih berusia 19 tahun dan dia adalah anak kepala gudang teh, milik papa Lingga. Kebetulan Lingga diajak singgah oleh Pak Sigi ke rumah. Bertemulah dengan gadis cerewet yang menyebalkan di mata Lingga.
"Am om am om, gue bukan om lo, dan gue gak setua itu!" ketus Lingga, Ayu langsung dipelototin oleh Pak Sigi, dianggap tak sopan.
Gadis itu langsung berdecak sebal, dan masuk ke dalam rumah. "Ganteng-ganteng juteknya minta ampun," cerocos Ayu dengan bibir monyong 5 centi.
"Kenapa?" tanya Ibu sembari mengaduk teh.
"Pak Lingga tuh jutek banget ya, Bu. Padahal ganteng banget loh!" celoteh Ayu sembari membantu sang ibu menata pisang goreng ke dalam piring.
"Hush, jangan keras-keras. Lagian kamu juga gak boleh genit sama beliau," ujar Ibu mengingatkan sang putri untuk menjaga sopan santun pada pemilik perkebunan teh.
Ayu pun diminta memberikan pisang goreng tersebut kepada Lingga yang sedang mengobrol dengan sang ayah. Entah mengapa, Lingga sama sekali tak melirik Ayu. Hingga gadis itu kesal.
Ayu bukan berniat menggoda Pak Lingga layaknya perempuan nakal, bukan. Tapi Ayu ingin dekat dengan bos ayahnya itu untuk tanya kehidupan orang kota. Rasanya Ayu bosan hidup di desa tanpa melakukan apapun. Dia hanya tamatan SMA pinggiran yang memang tak ada target untuk memajukan prestasi siswa.
Otak Ayu sebenarnya pintar, sayang bukan kalau tidak dimanfaatkan untuk berjuang di kota. Hidup di kota rasanya seperti air yang mengalir tanpa ada tantangan, dan perjuangan berlebih. Tak punya uang pun masih bisa makan, singkong tinggal cabut. Ubi jalar juga banyak. Tinggal 19 tahun di desa membuat Ayu ingin suasana baru.
Setelah lulus SMA, Ayu pun hanya mengirim jatah makan sang ayah saat bekerja di gudang teh, setelah itu dia hanya menggambar pemandangan desa. Rasanya bosan sekali hidupnya semonoton ini.
"Kamu mau ke mana?" tanya ibu pagi itu, saat Ayu sudah siap mengayuh sepedanya.
"Ke kebun teh, Bu!"
"Mau ngapain, kan Ayah gak kerja, gak usah antar makan siang?" tanya ibu lagi.
"Ayu ingin jalan-jalan saja, janji gak lama," ucapnya.
"Gak usah genot sama laki-laki," Ayu mendengus kesal, selalu saja sang ibu berpikir dirinya genit, nyatanya Ayu itu tipe gadis energik yang ingin mencoba hal baru, namun tak punya arah saja.
Ia membawa buku gambar dan pensil, siap menggambar di gubuk kebun teh. Beberapa pekerja tahu si Ayu dan dipanggil Neng Cantik.
Ia memarkir sepeda di samping gubuk, dan segera mengeluarkan peralatan menggambarnya. Suasana sedang bagus, dan lagi banyak pekerja yang sedang memetik daun teh. Asyik sekali Ayu memggambar, sampai ia tak tahu ada Lingga yang berniat duduk di gazebo tersebut.
"Kamu ngapain?" tanya Lingga mengagetkan, sontak saja Ayu berjingkat, hingga ada goresan random pada gambarnya.
"Ya Allah Pak Lingga mengagetkan saja, ucap salam kek!" protes Ayu dengan bibir manyun Lingga hanya mengangkat alis, kok dirinya yang disalahkan.
Gadis aneh, batin Lingga.
"Eh Bapak mau ngapain?" tanya Lingga yang tiba-tiba duduk di samping Ayu, sampai menggeser krayon milik gadis itu.
"Duduk, milik umum kan?" sindir Lingga kemudian meneguk air dari tumbler yang ia bawa.
Ayu kemudian melanjutkan kegiatannya, bermain dengan warna. "Kamu bisa gambar?" tanya Lingga, sempat melirik hasil karya Ayu.
"Bisa, Pak. Soalnya otak saya kalau suruh mengerjakan matematika langsung nge-hang." Sontak saja Lingga tertawa mendengar kejujuran Ayu.
"Terus setelah kamu menggambar kamu simpan di mana?" tanya Lingga penasaran.
"Buku gambarnya saya tumpuk di kamar, Pak. Hanya iseng juga, mau dijadikan apa juga! Kalau di kota, gambar begini bisa dijual, Pak?" tanya Ayu.
Lingga mengangguk, "Biasanya di taman kota, sketsa wajah begitu sangat laku," ujar Lingga yang pernah membeli sketsa wajahnya dan Tania dulu.
"Nah, di kota itu peluang kerja banyak kan, Pak. Saya juga berpikir begitu, makanya saya itu ngotot pengen kerja ke kota, Pak. Saya bosen tinggal di desa, gak bisa ngapa-ngapain. Sejak lulus SMA saya itu pengen kerja di kota, seperti teman-teman saya, tapi ibu dan ayah melarang. Mereka takut saya kenapa-kenapa."
"Ayah dan ibu kamu benar!" ucap Lingga yang sudah merasakan beratnya hidup di kota. Memang semuanya serba ada, tapi godaan hidup sangat beragam juga. Tinggal kuat penderian saja agar tak terjerumus ke limbah nista. Bahkan Lingga saja sampai hidup bersama dengan Tania tanpa ikatan.
"Ah, Pak Lingga. Kok malah dukung ayah dan ibu sih."
"Ya memang. Kamu belum punya pengalaman, bisa terombang-ambing di kota. Bahkan banyak gelandangan setelah pindah ke kota, kamu mau?" Lingga memberikan gambaran.
"Masa' sih?" Ayu tak percaya, bisa saja Lingga hanya menakuti. Toh, tetangga Ayu yang bekerja di kota atau luar pulau baik-baik saja. Tidak ada yang ditakutkan seperti halnya pikiran ayah dan ibu Ayu.
"Lagian kalau kamu mau ke kota, kamu mau ngapain?" tanya Lingga ingin tahu.
"Aku bisa masak, aku bisa cuci baju, jadi aku bisa menjadi ART, terus uangnya nanti aku tabung, untuk sekolah. Jadi aku bisa melanjutkan kuliah."
"Bagus sih pemikiran kamu. Memang mau kuliah apa?" tanya Lingga lagi.
"Aku bisa gambar, maka aku bisa ambil arsitek, atau desain. Kalau di sini, di kecamatan ada kampus tidak ada jurusan yang aku pilih, makanya aku gak berniat kuliah di sini. Lagian nih, Pak Lingga, menurut pandanganku orang yang merantau ke kota itu pemikirannya lebih luas, karena mereka bertemu dengan banyak orang dengan perbedaan karakter yang beragam, sehingga mau tak mau kita beradaptasi. Bukan begitu?"
Lingga tersenyum, dan mengangguk. Ia bisa melihat Ayu adalah gadis cerdas, mendadak ia ingat Tania. Wanitanya dulu juga memiliki tekad kuat untuk mencapai sesuatu, tak peduli sebanyak apa rintangan yang akan ia hadapi. Tak punya uang pun, Tania sampai ikut banyak lomba.
Mendadak Lingga merasa bersalah telah merusak perempuan itu, dan dia tak bisa bertanggung jawab lebih. "Kelak usiamu lebih dewasa lagi, kamu bisa merantau Ayu. Merantau bukan hanya sekedar pindah, melainkan harus ada persiapan mental dan modal. Jangan sampai tertipu dengan berbagai modus, karena di kota banyak sekali modus kejahatan terlebih buat perempuan lugu seperti kamu."
"Lalu untuk mencari modalnya aku harus ngapain?"
"Kerja saja di perkebunan, kan bisa!"
"Ayah tidak mengizinkan."
"Posesif sekali Ayah kamu," ujar Lingga sembari tersenyum.
"Katanya biar tidak banyak yang naksir, karena ayah tak mau aku nikah muda, takut direndahkan oleh lelaki!"
"Gak mau direndahkan tapi tidak mengizinkan kamu untuk berpetualang, ya sama aja membatasi cara kamu berpikir."
"Ah Pak Lingga, tak perlu berbelit-belit, untuk modal merantau saya harus apa?" desak Ayu tak sabar.
"Kalau ponselmu termasuk ponsel pintar, manfaatkan ponsel itu!" ujar Lingga sembari menepuk kepala Ayu pelan.
"Jadi apa dengan ponsel?"
"Affiliator!" sahut Lingga kemudian menjauhi Ayu. Sontak saja gadis itu merapikan alat gambarnya, berniat pulang untuk mencari pekerjaan yang bernama affiliator itu.
buat calista jatuh sejatuh-jatuhnya bahkan untuk merangkak pun ga bisa thor,,, buat pak dokter carikan jodoh yg lain yg lbh baik dri tania toh ibunya pak dokter jg udh menjauh dri tania kasian klo harus dipaksakan berjodoh dgn pak dokter... sekian terima gajih
GO go Tania semangat