NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: FAJAR BARU DI ATAS PUING-PUING LAMA

​Suara ledakan yang sebelumnya sempat menggetarkan nyali di Galeri Nasional ternyata bukanlah bom penghancur. Itu adalah sistem pengamanan darurat yang dipicu oleh Ayah Nara untuk menghancurkan seluruh server data cadangan agar tidak jatuh ke tangan orang-orang Baron. Di tengah kepulan asap tipis, bukan sosok Cansu yang muncul—karena wanita itu memang telah memilih hidup damai di Milan, merawat ibunya di sebuah vila kecil yang jauh dari hingar-bingar politik.

​Yang muncul dari balik asap adalah Yusuf, yang entah bagaimana caranya sudah berhasil melakukan infiltrasi lebih cepat dari bayangan Ian.

​"Tuan Muda, area sudah bersih. Baron dan anak buahnya sudah diamankan oleh unit reaksi cepat yang bekerja sama dengan ayah Nara," lapor Yusuf dengan napas yang sedikit tidak teratur, namun setelan jasnya tetap tampak kaku dan rapi.

​Ian menurunkan senjatanya, napasnya yang memburu perlahan mulai tenang. Ia menoleh ke arah pria tua yang berdiri di kegelapan: Ayah Nara. Pria itu memberikan sebuah microchip kecil kepada Ian—kunci terakhir untuk menghancurkan seluruh sisa-sisa sekutu Pradikta.

​"Gunakan ini dengan bijak, Adrian Diningrat. Jangan biarkan darah yang mengalir di chip ini sia-sia," ucap Ayah Nara dengan suara parau.

​Ian mengangguk pelan. "Mulai malam ini, Anda dan Nara bebas. Keluarga Diningrat tidak akan lagi menjadi bayang-bayang ketakutan bagi kalian."

​Satu Bulan Kemudian: Damai yang "Berisik"

​Satu bulan telah berlalu sejak malam di Galeri Nasional. Pradikta dan seluruh anteknya telah dipastikan membusuk di penjara dengan pengamanan super ketat. Nama keluarga Diningrat akhirnya bersih, bukan karena kekuasaan, melainkan karena keberanian mereka membongkar borok sendiri.

​Pagi itu di mansion pegunungan, suasananya jauh dari kata "berkelas".

​"PAK TOTOK! ITU JANGAN DIPASANG DI SITU!" teriak Mbok Yem dari lantai dua.

​Pak Totok, yang sedang berdiri di atas tangga aluminium sambil memegang lampu hias berbentuk hati, mendongak. "Lho, Nyonya Besar—eh, Mbok Yem, ini kan instruksi Mas Yusuf! Katanya buat merayakan sebulan kedamaian!"

​"Mas Yusuf itu pinter komputer, tapi soal estetika dia itu ndeso! Masa lampu warna-warni dipasang di depan kamar Tuan Muda? Nanti kalau Tuan Muda kaget dikira ada razia polisi gimana?" omel Mbok Yem sambil mengacungkan sapu lantai.

​Di bawah, Yusuf hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Di usianya yang ke-34, ia merasa mengurus keamanan negara jauh lebih mudah daripada mengurus perdebatan antara Mbok Yem dan Pak Totok.

​"Mbok, Pak Totok... tolong fokus. Hari ini kita akan mengadakan makan siang keluarga pertama yang benar-benar santai. Jangan sampai ada insiden lampu jatuh ke piring rendang lagi," ucap Yusuf lelah.

​Vier dan Nara: Melukis Masa Depan

​Di taman belakang yang menghadap lembah, Vier sedang duduk di kursi taman, namun posisinya sangat konyol. Ia menjadi model lukisan bagi Nara. Nara, yang kini tampak jauh lebih segar dengan pipi yang mulai merona, sedang asyik memainkan kuas di atas kanvas.

​"Nara, kakiku sudah kesemutan. Sudah satu jam aku berpose seperti 'Patung Pemikir' begini," keluh Vier dengan wajah yang dibuat-buat menderita.

​Nara tertawa, suara renyahnya memenuhi taman. "Diamlah, Dokter Adhirdja. Ini adalah terapi untuk kesabaranmu. Kamu bilang ingin menjagaku seumur hidup, kan? Menjadi model lukisanku adalah syarat pertamanya."

​Vier mendesah dramatis, namun matanya memancarkan cinta yang tak terukur. "Baiklah, demi calon Ibu Dokter Adhirdja, aku akan bertahan meskipun kaki ini harus berubah jadi beton."

​Tiba-tiba, Vier bergerak dan mencium pipi Nara dengan cepat, membuat gadis itu tersipu dan salah menggoreskan warna merah di kanvasnya.

​"Vier! Lukisannya jadi rusak!"

​"Bukan rusak, itu namanya 'Aksen Cinta'. Sangat mahal harganya," goda Vier sambil tertawa lepas.

​Ian dan Rhea: Di Balik Tirai Jendela

​Dari balkon lantai dua, Ian dan Rhea memperhatikan pemandangan di bawah. Ian melingkarkan tangannya di pinggang Rhea, menariknya mendekat. Aroma parfum Rhea yang menenangkan selalu berhasil menjadi penawar bagi rasa lelah Ian.

​"Lihat mereka," gumam Ian sambil menunjuk ke arah Vier dan Nara. "Aku tidak pernah menyangka rumah ini bisa seberisik dan sebahagia ini."

​Rhea menyandarkan kepalanya di bahu Ian. "Itu karena kamu mengizinkan kebahagiaan masuk, Ian. Kamu berhenti menjadi 'Algojo Diningrat' dan memilih menjadi Adrian."

​Ian mencium pelipis Rhea. "Terima kasih sudah bertahan, Rhea. Bahkan saat kontrak kita terasa seperti hukuman mati."

​"Kontrak itu sudah aku bakar, ingat?" Rhea mendongak, menatap mata tajam Ian yang kini terasa hangat. "Sekarang yang ada hanya kita. Dan janji sarapan telur gosong darimu setiap akhir pekan."

​Ian meringis. "Soal telur itu... bisakah kita negosiasi lagi? Aku lebih baik mengurus merger dua perusahaan daripada menghadapi minyak panas."

​"Tidak ada negosiasi untuk Tuan CEO," goda Rhea sambil mencubit hidung Ian.

​Insiden Makan Siang yang Kacau

​Saat waktu makan siang tiba, meja besar di ruang tengah sudah dipenuhi masakan Mbok Yem. Ada rendang, ayam pop, hingga sambal matah Bali yang menjadi kenangan misi mereka.

​Semua berkumpul: Ian, Rhea, Vier, Nara, Yusuf, Mbok Yem, dan Pak Totok. Ian memang telah menghapus sekat antara majikan dan pelayan untuk acara spesial ini.

​"Sebelum kita makan, saya ingin memberikan sambutan," ucap Pak Totok sambil berdiri tegak, seolah sedang pidato kenegaraan.

​"Duduk, Pak! Keburu dingin!" potong Mbok Yem sambil menarik baju Pak Totok.

​Semua orang tertawa. Namun, saat Yusuf hendak mengambil nasi, sebuah suara "KREK" terdengar keras. Ternyata, kursi yang diduduki Yusuf patah karena Pak Totok salah memasang sekrup saat memperbaikinya kemarin.

​Yusuf terjungkal ke belakang dengan posisi kaki di atas, sementara piringnya mendarat tepat di pangkuan Pak Totok.

​"YUSUF!" teriak Ian, namun ia tidak bisa menahan tawa.

​Vier sampai tersedak minumannya karena melihat asisten kakaknya yang paling cool itu kini berbaring di lantai dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah-olah jatuh dari kursi adalah bagian dari rencana strategisnya.

​"Lapor Tuan Muda... gravitasi hari ini sedang tidak bersahabat," ucap Yusuf dari bawah meja dengan nada kaku yang tetap konsisten, membuat seisi ruangan meledak dalam tawa yang paling keras yang pernah terdengar di mansion itu.

​Senja di Pegunungan

​Setelah kekacauan makan siang berakhir, Ian dan Rhea berjalan-jalan di area perkebunan teh di belakang mansion. Matahari mulai turun, menciptakan warna jingga yang memikat di ufuk barat.

​"Ian," panggil Rhea pelan.

​"Ya?"

​"Apa kamu merindukan masa lalu? Tentang... semuanya?"

​Ian berhenti melangkah, menatap langit yang luas. "Ada bagian yang aku rindu, seperti saat aku merasa tak terkalahkan. Tapi jika aku harus memilih antara kekuasaan mutlak di masa lalu atau duduk di lantai menertawakan Yusuf yang jatuh dari kursi hari ini... aku akan memilih hari ini, setiap saat."

​Ian menarik sebuah kotak beludru dari sakunya. Kali ini bukan untuk misi, bukan untuk sandiwara.

​"Rhea Candrakirana. Tidak ada kontrak, tidak ada paksaan, dan tidak ada duri. Maukah kamu menjadi satu-satunya orang yang aku lihat saat aku bangun pagi—meskipun aku harus memasakkan telur gosong untukmu selamanya?"

​Rhea terpaku. Air mata haru mengalir di pipinya. Ia tidak butuh kemegahan Galeri Nasional atau Istana Bogor untuk momen ini. Ia hanya butuh pria yang ada di depannya.

​"Iya, Adrian. Aku mau," bisik Rhea.

​Saat Ian memasangkan cincin itu di jari manis Rhea, di kejauhan terdengar suara Mbok Yem yang sedang mengejar Pak Totok karena lupa mencuci piring, dan suara Vier yang sedang menyanyi sumbang untuk Nara.

​Masa lalu mereka mungkin ditulis dengan tinta hitam dan darah, tapi masa depan mereka baru saja dimulai dengan warna-warna paling cerah. Di puncak gunung itu, keluarga Diningrat bukan lagi sebuah dinasti yang ditakuti, melainkan sebuah rumah tempat hati akhirnya menemukan jalan pulang.

​Simfoni pengkhianatan telah berakhir, digantikan oleh simfoni kehidupan yang jauh lebih indah—meskipun sedikit konyol.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!