NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBENARAN DI BALIK TOPENG DAN PERTARUNGAN TERAKHIR

Arjuna menyerang dengan sekuat tenaga, seolah seluruh rasa sakit, iri hati, dan kemarahan yang sudah menumpuk selama puluhan tahun itu dituangkan dalam setiap gerakannya. Ia bergerak cepat dan lincah, menggunakan segala gaya dan cara yang ia ketahui—termasuk yang selama ini ia lihat dan pelajari dari cara bertarung Raka sendiri. Ia pikir, dengan begitu ia pasti bisa mengalahkan orang itu dengan mudah, karena ia tahu persis kelebihan dan kelemahan dari setiap gerakan yang dilakukan.

Tapi Raka tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik saja. Setiap kali ia menangkis atau menghindari serangan, ia tidak melakukannya hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia juga berusaha mencari kesempatan untuk membuat Arjuna sadar, untuk membuka mata hatinya yang sudah tertutup rapat oleh ambisi dan kebencian.

“Berhentilah, Arjuna!” seru Raka sambil terus bergerak menghindar.

“Kau ini bukan orang yang seperti ini dulunya! Aku masih ingat saat kita masih muda, saat kau selalu menolong orang lain, saat kau bekerja dengan tulus demi kebaikan bersama! Apa yang membuatmu berubah menjadi seperti ini?!”

Arjuna tertawa sinis, suaranya terdengar parau dan penuh kepahitan. “Kau ingat itu? Kau benar-benar ingat?! Dulu aku memang seperti itu! Tapi apa yang aku dapatkan? Hanya pengorbanan, hanya kerja keras, tapi tidak ada penghargaan apa pun! Semua yang aku lakukan selalu dianggap hal yang biasa saja, sedangkan hal kecil yang kau lakukan selalu dipuji dan dihormati! Selalu saja kau yang menjadi pusat perhatian, selalu saja kau yang dianggap paling baik, paling hebat, paling segalanya! Aku sudah lelah menjadi orang yang ada di belakang, yang tidak pernah dilihat dan dianggap ada!”

“Itu bukan karena kau tidak berharga!” jawab Raka dengan suara yang keras tapi tetap tenang.

“Tapi karena kau sendiri yang selalu memilih untuk diam dan bersembunyi! Kau selalu merasa tidak cukup, selalu merasa kurang, padahal kau memiliki banyak hal yang orang lain tidak miliki! Kau hanya melihat apa yang orang lain miliki, tapi kau tidak pernah melihat apa yang sudah kau miliki sendiri!”

“Omong kosong! Semua itu hanya omongan kosong untuk menenangkan hati orang yang tidak beruntung!” bentak Arjuna, dan serangannya makin menjadi-jadi.

“Aku lebih pintar, lebih cekatan, lebih pandai dari kalian semua! Tapi kenapa aku yang selalu berada di bawah?! Kenapa aku yang selalu harus mengikuti kehendak orang lain?! Aku tidak mau lagi! Aku ingin menjadi orang yang diikuti, orang yang dihormati, orang yang ditakuti! Dan hari ini, aku akan mendapatkannya!” lanjutnya penuh tekat.

Mereka terus bertarung, bergerak ke seluruh ruangan itu. Batu-batu dan benda-benda di sekitar terlempar dan hancur terkena benturan. Keduanya sama-sama mendapatkan luka dan memar, darah mulai mengalir dan membasahi pakaian mereka, tapi tidak ada yang mau berhenti atau mengalah. Bagi Arjuna, ini adalah kesempatan terakhir untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Sedangkan bagi Raka, ini adalah pertarungan untuk menyelamatkan banyak nyawa, untuk melindungi apa yang sudah ia bangun dengan susah payah, dan juga untuk menyelamatkan orang yang dulunya pernah menjadi temannya itu.

><><><><

Di tempat lain, orang-orang yang bersama mereka juga sedang berjuang dengan keras. Mereka harus menghadapi banyak orang yang bersenjata dan tidak punya belas kasihan sedikit pun. Sementara itu, sebagian lagi terus bergerak mencari alat peledak yang sudah dipasang, berusaha menonaktifkannya sebelum waktunya tiba. Setiap detik terasa begitu berharga, dan setiap kesalahan bisa berakibat sangat buruk.

Alana ikut bergerak bersama kelompok itu. Ia tidak hanya diam dan menunggu, tapi juga ikut membantu, menggunakan kecerdasan dan ketelitiannya untuk mencari tahu di mana saja alat-alat itu tersembunyi. Ia tahu, nyawa ribuan orang ada di tangan mereka, dan ia tidak akan membiarkan semuanya berakhir dengan buruk.

“Di sini!” serunya saat menemukan satu perangkat yang tersembunyi di balik tumpukan barang-barang tua.

“Cepat, kita harus mematikan ini sekarang juga!”

Mereka bekerja dengan cepat dan hati-hati, tidak berani membuat kesalahan sedikit pun. Satu per satu alat peledak berhasil ditemukan dan dinonaktifkan, tapi masih ada beberapa lagi yang belum ditemukan, dan waktu yang tersisa makin sedikit saja.

><><><><

Sementara itu, di ruangan tempat Raka dan Arjuna bertarung, keadaan makin memanas. Arjuna yang merasa ia tidak bisa mengalahkan Raka dengan kekuatan fisiknya, mulai melakukan hal-hal yang tidak adil dan berbahaya. Ia mengambil sebuah batang besi yang besar dan tajam, lalu menyerang dengan sekuat tenaga, berniat untuk mengakhiri semuanya sekaligus.

“Kau tidak akan pernah bisa menghentikanku!” teriaknya.

“Kalau aku tidak bisa menang dengan cara yang adil, aku akan menang dengan cara apa pun yang ada!”

Ia mengayunkan besi itu ke arah tubuh Raka dengan kecepatan yang sangat tinggi. Raka melihatnya, dan ia tahu bahwa kalau ia menghindar saja, maka besi itu akan menghantam tiang penyangga yang ada di dekatnya. Tiang itu sudah terlihat rapuh dan hampir patah, dan kalau sampai terkena benturan seberat itu, seluruh bagian bangunan di atasnya akan runtuh dan menimpa siapa saja yang ada di sekitarnya.

Tanpa berpikir panjang, Raka tidak menghindar sepenuhnya. Ia memutar badannya sedemikian rupa, sehingga bagian bahunya saja yang terkena hantaman itu, bukan bagian tubuh yang vital. Rasa sakit yang luar biasa seketika menyergapnya, darah segar mengalir deras, dan ia terjatuh ke lantai karena kesakitan dan kehabisan tenaga.

Melihat hal itu, Arjuna tertawa lebar, merasa ia akhirnya menang. Ia berjalan perlahan mendekati Raka yang terbaring di lantai, wajahnya penuh rasa kemenangan dan kesombongan.

“Akhirnya... akhirnya aku mengalahkan kau juga...” serunya dengan suara yang terengah-engah tapi penuh rasa puas.

“Selama ini kau selalu menjadi penghalang bagiku, selalu menjadi orang yang paling baik dan paling hebat. Tapi sekarang, kau ada di bawah kakiku, dan akulah yang menang...”

Ia mengangkat besi itu lagi, bersiap untuk memberikan pukulan terakhir yang akan mengakhiri nyawa Raka.

“Selamat tinggal, Raka... kini akulah yang berkuasa di sini...”

Tapi tepat saat ia hendak mengayunkan besi itu, tiba-tiba ia berhenti. Ia melihat bahwa meski terbaring lemah dan kesakitan, Raka tidak memandangnya dengan pandangan benci atau takut. Ia malah memandangnya dengan pandangan yang sedih dan penuh rasa iba, seolah ia melihat orang yang sangat disayanginya sedang dalam kesulitan, bukan musuh yang ingin mencelakakannya.

“Kenapa... kenapa kau memandangku seperti itu?” tanya Arjuna dengan suara yang mulai bergetar.

“Kau tidak benci padaku? Aku telah berbuat begitu banyak hal jahat kepadamu, aku telah berusaha menghancurkan segalanya yang kau miliki, aku hampir saja membunuhmu... kenapa kau tidak membenci aku?!”

Raka berusaha mengangkat badannya sedikit, meski terasa sangat berat dan menyakitkan. Ia menatap Arjuna dengan pandangan yang tulus dan dalam.

“Kenapa aku harus membenci orang yang sebenarnya adalah korban juga?” tanyanya dengan suara yang lemah tapi jelas.

“Kau bukan orang yang jahat sejak lahir, Arjuna. Kau menjadi seperti ini karena rasa sakit dan perasaan yang salah yang kau simpan di dalam hatimu. Kau merasa tidak dihargai, tidak dilihat, tidak dianggap ada... dan itu membuat hatimu menjadi gelap dan penuh luka. Aku tidak membenci dirimu, aku hanya merasa sedih melihat orang yang dulu aku kenal dan hormati, menjadi seperti ini sekarang...”

Ungkapan itu membuat hati Arjuna terasa seperti tertusuk sesuatu yang tajam. Ia teringat kembali pada masa-masa yang sudah lama berlalu. Saat ia masih muda, saat ia bekerja bersama orang tua Raka dan orang tua Alana, saat mereka semua hidup dengan damai dan saling menyayangi. Ia teringat bagaimana mereka selalu saling membantu, bagaimana mereka selalu berbagi suka dan duka, dan bagaimana mereka selalu menganggapnya sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri.

Ia teringat bahwa dulu, ia memang dihormati, dihargai, dan disayangi. Tapi ia sendiri yang tidak pernah merasa cukup, ia sendiri yang selalu menginginkan lebih dan lebih lagi, sampai akhirnya ia melupakan semua hal baik yang pernah ia miliki.

“Selama ini aku... aku pikir aku tidak mendapatkan apa-apa...” bisiknya, dan air matanya mulai menetes jatuh, meski ia berusaha keras menahannya.

“Aku pikir aku selalu dirugikan, selalu di bawah orang lain... tapi ternyata... ternyata aku yang tidak pernah melihat apa yang sebenarnya ada di depanku sendiri... aku yang menghancurkan semuanya dengan tanganku sendiri...”

Tiba-tiba, dari luar ruangan terdengar suara langkah kaki yang cepat. Alana, Gubernur William, dan orang-orang yang bersama mereka datang masuk. Wajah mereka terlihat lega sekaligus cemas.

“Kita berhasil!” sahut Gubernur William. “Semua alat peledak sudah kita temukan dan kita nonaktifkan. Rencanamu gagal, Arjuna. Tidak ada yang akan hancur, tidak ada yang akan binasa.”

Arjuna tidak menoleh, ia hanya terus menatap Raka yang ada di depannya. Besi yang ada di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara yang keras. Ia merasa kosong dan hancur, jauh lebih hancur daripada saat ia merasa kalah dalam pertarungan. Ia baru sadar bahwa selama ini ia berjuang dan berkorban untuk hal yang salah, dan ia telah menghancurkan hidupnya sendiri dengan sia-sia.

“Aku sudah kalah sejak awal...” katanya dengan suara yang sangat lemah dan penuh penyesalan.

“Aku pikir aku berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, tapi ternyata aku hanya menghancurkan segala sesuatu yang berharga yang sudah aku miliki... aku bodoh sekali... aku sangat bodoh...”

Ia berlutut di lantai, menundukkan kepalanya, dan air matanya mengalir semakin deras. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kedamaian di dalam hatinya, tapi itu juga disertai dengan rasa penyesalan yang begitu dalam yang tidak bisa dihapuskan oleh apa pun.

“Maafkan aku...” ujarnya berulang kali.

“Maafkan aku... aku telah berbuat salah begitu banyak... aku telah menyakiti orang-orang yang tidak bersalah, aku telah mengkhianati orang-orang yang baik kepadaku... aku tidak pantas untuk diampuni...”

Raka berusaha bergerak mendekat, lalu meletakkan tangannya di atas bahu Arjuna dengan lembut.

“Kesalahan yang sudah terjadi memang tidak bisa diubah kembali,” ujar Raka sedikit menjeda.

“Tapi kesadaranmu sekarang, itu sudah merupakan langkah yang besar. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki dirinya sendiri, dan itu juga berlaku untuk dirimu. Hukuman yang akan kau terima nanti adalah akibat dari perbuatanmu, tapi itu juga bisa menjadi jalan bagimu untuk menebus kesalahan dan mendapatkan kedamaian di dalam hatimu.”

Arjuna mengangkat kepalanya, dan ia melihat di hadapannya bukan lagi orang yang ia anggap sebagai saingan dan musuh, tapi orang yang tulus dan berhati mulia. Ia sadar sekarang, bahwa selama ini ia tidak kalah karena ia tidak cukup pandai atau tidak cukup kuat, tapi karena ia berjuang untuk hal yang salah dan dengan cara yang salah. Sedangkan Raka selalu berjuang untuk kebenaran dan kebaikan, dan itulah yang membuatnya selalu menang.

Orang-orang kemudian datang mendekat dan memborgol tangan Arjuna. Ia tidak melawan sama sekali, ia hanya berjalan dengan kepala tertunduk, menerima segala apa yang akan terjadi padanya. Ia tahu, inilah yang pantas untuk ia dapatkan, dan ia akan menjalani semuanya dengan hati yang pasrah.

Setelah semuanya selesai, Raka segera dibawa untuk mendapatkan pertolongan medis. Lukanya cukup parah, tapi tidak mengancam nyawa. Selama masa penyembuhannya, Alana selalu ada di sisinya, merawat dan menemaninya, membuatnya merasa bahwa ia memiliki segalanya yang ia butuhkan di dunia ini.

><><><><

Beberapa minggu kemudian, keadaan sudah kembali tenang dan damai sepenuhnya. Arjuna dan orang-orang yang bersamanya telah diadili dan mendapatkan hukuman yang setimpal. Masyarakat kembali hidup dengan aman dan tentram, dan kota itu menjadi tempat yang semakin baik dan makmur dari sebelumnya.

Suatu hari, Raka dan Alana pergi berkunjung ke tempat penahanan tempat Arjuna ditahan. Mereka ingin bertemu dan berbicara dengannya, bukan sebagai orang yang menang dan kalah, tapi sebagai orang yang pernah saling mengenal dan memiliki hubungan di masa lalu.

Saat melihat mereka datang, Arjuna terkejut sekaligus terharu. Ia pikir orang-orang itu akan membencinya dan tidak mau lagi melihat wajahnya, tapi ternyata tidak demikian.

“Kalian datang ke sini...” katanya dengan suara yang lembut.

“Aku tidak menyangka kalian masih mau bertemu denganku.”

“Kenapa tidak?” jawab Raka.

“Kita semua adalah manusia, dan kita semua pernah melakukan kesalahan, baik yang kita sadari maupun yang tidak. Kita datang bukan untuk menghakimi atau membenci, tapi hanya ingin melihat keadaanmu, dan menyampaikan bahwa kami tidak menaruh dendam apa pun di dalam hati kami.”

“Terima kasih...” ujar Arjuna, dan air matanya kembali menetes.

“Kalian benar-benar orang yang mulia. Aku baru sadar sekarang, bahwa kebahagiaan dan kehormatan itu tidak bisa didapatkan dengan cara mengambil atau menghancurkan milik orang lain. Itu hanya bisa didapatkan dengan membangun, dengan berbuat baik, dan dengan hidup dalam kebenaran. Aku baru menyadarinya sekarang, saat semuanya sudah terlambat...”

“Tidak ada yang terlambat selama kita masih hidup,” sahut Alana cepat.

“Selama ada kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri, itu berarti masih ada harapan. Kau bisa menggunakan waktumu di sini untuk merenung, untuk memahami banyak hal, dan untuk mempersiapkan dirimu agar bisa menjadi orang yang lebih baik lagi di masa depan.”

Arjuna mengangguk perlahan. “Kalian benar. Aku akan melakukan itu. Aku akan memikirkan kembali segala hal yang telah terjadi, dan aku akan berusaha menebus kesalahanku dengan cara apa pun yang aku bisa. Terima kasih... terima kasih karena masih ada orang yang mau berharap baik padaku, meski aku telah berbuat begitu banyak hal yang jahat...”

Setelah itu, mereka berpamitan dan meninggalkan tempat itu. Selama perjalanan pulang, mereka berjalan berdampingan, menikmati suasana yang damai dan indah di sekitar mereka.

“Kau tahu, Raka...” ucap Alana sambil menggandeng lengan orang yang dicintainya itu.

“Dari semua peristiwa yang kita lalui, aku baru sadar bahwa musuh yang paling berbahaya itu bukanlah orang yang datang dari luar, tapi perasaan dan pikiran yang salah yang ada di dalam hati dan pikiran kita sendiri. Itulah yang membuat orang berubah dan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.”

“Kau benar sekali,” jawab Raka sambil menatap wajah gadis itu dengan penuh kasih sayang.

“Dan itulah sebabnya kita harus selalu menjaga hati dan pikiran kita, supaya kita tidak tergelincir dan terjebak dalam hal-hal yang salah. Kita harus selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari, tidak hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitar kita.”

“Dan kita akan melakukannya bersama-sama kan?” tanya Alana sambil tersenyum.

“Ya, kita akan melakukannya bersama-sama,” jawab Raka sambil tersenyum juga.

“Selamanya.”

Dan begitulah, kisah mereka yang penuh dengan lika-liku, perjuangan, bahaya, dan kejutan itu akhirnya benar-benar berakhir dengan kedamaian dan kebahagiaan. Mereka tidak hanya berhasil menyelesaikan apa yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, tapi juga membangun sesuatu yang baru, yang kuat, dan yang abadi. Mereka menjadi teladan bagi banyak orang, dan membuktikan bahwa kebenaran, kebaikan, dan kesetiaan akan selalu menang, dan akan selalu membawa kebahagiaan yang sejati.

Meskipun mereka tahu bahwa hidup ini tidak akan pernah terbebas dari masalah dan tantangan baru, tapi kali ini mereka sudah siap menghadapi apa pun yang akan datang. Karena mereka memiliki satu sama lain, mereka memiliki keyakinan yang kuat, dan mereka memiliki pengalaman yang telah mengajarkan mereka banyak hal yang berharga. Dan dengan begitu, mereka tahu bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan selalu bisa melewatinya bersama-sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!