NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putri Kecil Itu

Bab 13 – Putri Kecil Itu

“Akhirnya… putri kecil itu datang juga.”

Kalimat itu terlontar pelan, namun terdengar sangat jelas dan menusuk di ruangan bawah tanah yang dingin dan lembap itu.

Tubuh Alya langsung menegang kaku. Seluruh bulu kuduknya berdiri tegak. Suasana di ruangan itu terasa makin mencekam dan dingin.

Pria bertopeng yang terikat kuat di kursi besi itu tertawa pelan. Tawanya terdengar serak dan sakit, bercampur dengan darah yang menetes dari sudut bibirnya. Salah satu matanya lebam biru, tapi tatapan matanya tetap tajam dan liar, seolah tahu segalanya.

Alya mundur refleks hingga punggungnya menabrak dada bidang dan kokoh di belakangnya. Itu Kael.

“Dia… dia kenal aku?” bisik Alya gemetar, menatap punggung pria di depannya.

Kael berdiri tegap, menatap tahanan itu tanpa emosi sedikit pun. Wajahnya datar seperti batu.

“Itu yang akan kita cari tahu sekarang.”

Di samping kursi tahanan, Riko berdiri siap sambil memegang tongkat besi tebal. Wajahnya serius.

“Tuan, orang ini keras kepala. Dia menolak bicara apa pun sejak tadi kami tangkap,” lapor Riko.

Kael melangkah maju perlahan.

Tok. Tok. Tok.

Suara sepatu kulitnya yang menghentak lantai beton terdengar sangat berwibawa dan menakutkan.

“Kalau begitu… aku bicara, dia mendengar. Atau dia mati,” ucap Kael dingin.

Pria bertopeng itu mendengus sinis, meludahkan darah ke lantai.

“Kau tetap sama saja, Kael Lorenzo. Sombong dan sok berkuasa.”

“Dan kau tetap bodoh. Berani-beraninya menyusup masuk ke sarang harimau seperti ini,” balas Kael santai namun mematikan.

Ia berhenti tepat di depan wajah pria itu. Tanpa aba-aba, tangan besarnya mencengkeram dagu tahanan itu dengan kuat lalu menarik topeng kain yang menutupi wajahnya dengan kasar hingga terlepas.

Alya menahan napas.

Wajah pria itu terlihat kasar, penuh dengan bekas luka-luka lama yang melintang di pipi dan dahi. Terlihat seperti orang yang sudah lama berkecimpung di dunia gelap. Umurnya mungkin sekitar empat puluhan.

Alya mengerutkan kening. Ia yakin… ia tidak pernah melihat wajah ini sebelumnya. Ia tidak mengenalnya.

Namun anehnya, pria itu justru menatap Alya dengan senyum aneh, senyum yang seakan sudah menunggu gadis itu datang sejak lama.

“Kau… kau sangat mirip dengan ibumu. Sangat mirip,” ucapnya pelan.

DUG!

Jantung Alya berdegup kencang tak karuan.

“Kamu… kamu kenal ibuku?” tanyanya tak percaya.

Kael di sampingnya langsung menoleh cepat, tatapannya tajam menusuk ke arah tahanan.

“Siapa kau sebenarnya?!” desisnya rendah.

Pria itu tertawa kecil. “Nama tidak penting. Yang penting pesanku sampai.”

Kael memberi isyarat mata kecil ke arah Riko.

Seketika, BUGH!

Tongkat besi menghantam perut pria itu dengan keras.

“AKHH!!!” Pria itu meringis kesakitan, tubuhnya membungkuk, tapi ia masih tetap tertawa.

“BERHENTI!” jerit Alya tidak tega melihatnya.

“Masih terlalu lembut, Kael. Dulu kau jauh lebih kejam dari ini saat menginterogasi musuh,” ejek pria itu sambil terbatuk-batuk.

Kael menatapnya dingin tanpa ampun.

“Jangan uji kesabaranku. Aku sedang tidak dalam mood baik malam ini.”

Pria itu perlahan mengangkat wajahnya kembali, menatap Alya.

“Aku datang ke sini… bukan untuk membunuh gadis ini.”

“Lalu untuk apa?” potong Kael cepat, jarinya sudah siap di pelatuk senjata.

“Aku datang… untuk menyelamatkannya.”

BRUK!

Seakan waktu berhenti. Seluruh orang di ruangan itu terdiam kaku.

Alya membelalakkan mata tak percaya.

“Menyelamatkanku? Dari siapa?”

Pria itu tidak menjawab Alya. Ia justru menatap lurus ke arah Kael dengan tatapan menantang.

“Dari keluarga Lorenzo. Dari kau. Dari dunia kejam ini.”

BRAAKK!!!

Tangan Kael bergerak lebih cepat dari bayangan.

Satu pukulan keras mendarat tepat di wajah pria itu. Begitu kuat hingga kursi besi tempat ia duduk hampir terbalik dan terseret beberapa sentimeter.

“KAEL!!!” Alya menjerit kaget setengah mati.

Pria itu terhuyung, darah segar memuncrat dari hidung dan mulutnya. Namun anehnya, ia justru tertawa lebih keras.

“Lihat itu?! Lihat temperamennya?! Persis seperti ayahnya! Sama kejamnya!” teriaknya di sela-sela tawa.

Mata Kael berubah menjadi sangat gelap dan hitam pekat. Aura membunuhnya begitu pekat hingga membuat Alya merasa sulit bernapas.

“Tuan, jangan…” Riko maju sedikit waspada takut bosnya benar-benar membunuh orang itu sekarang.

Kael mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar Riko mundur dan berhenti.

Ia menatap tajam ke arah tahanan itu selama beberapa detik yang terasa sangat lama.

“Sebut namamu. Sekarang.”

Pria itu menyeringai, memperlihatkan giginya yang berlumuran darah.

“Darius.”

Nama itu meluncur santai dari bibirnya.

Namun begitu mendengar nama itu, rahang Kael langsung mengeras. Jari-jarinya yang memegang pistol mengepal kuat hingga memutih.

Alya yang berdiri di belakang menangkap perubahan drastis pada wajah Kael.

“Kamu… kamu kenal dia?” tanyanya pelan.

Kael menjawab dengan suara yang terdengar sangat dingin dan berat.

“Dulu… dia adalah pembunuh bayaran andalan milik ayahku. Salah satu yang paling kejam.”

Tubuh Alya meremang ketakutan. Jadi orang ini adalah bagian dari masa lalu gelap keluarga ini juga?

Darius tertawa mendengarnya.

“Dulu iya. Dulu aku anjing setia mereka. Tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah bebas.”

Alya mengacak-acak pikirannya sendiri. Ia bingung, takut, dan penasaran bercampur jadi satu.

“Kalau begitu… apa hubungannya semua ini dengan aku? Kenapa kamu bilang ‘putri kecil’? Kenapa kamu bilang mau menyelamatkanku?” tanyanya bertubi-tubi.

Darius menatap Alya lama sekali, sorot matanya aneh.

“Kau benar-benar tidak tahu siapa dirimu sebenarnya?”

“TAHU APA?! BERKATA JELAS!!!” bentak Alya sudah tak tahan lagi dengan teka-teki ini.

“Kau bukan sekadar gadis biasa yang kerja di toko bunga, Alya. Kau… jauh lebih dari itu.”

“CUKUP!” Kael melangkah maju, berdiri tepat di depan tubuh Alya, menghalangi pandangan Darius seolah melindungi gadis itu dari kata-kata beracun itu. “Jangan bicara omong kosong!”

“Ah, menutup telinga? Takut kalau rahasia besar itu terbongkar?” ejek Darius semakin berani.

Kael dengan cepat mengeluarkan pistolnya dari saku dan langsung menodongkan larasnya tepat ke dahi Darius.

Suasana menjadi sangat tegang. Napas tertahan di tenggorokan.

“Aku bisa mengakhiri hidupmu dalam sepersekian detik, Darius. Jangan pancing amarahku.”

Darius sama sekali tidak terlihat takut. Ia justru tersenyum lebar.

“Tembak saja kalau berani. Tapi ingat… kalau aku mati, kau tak akan pernah tahu kenapa ayahmu begitu memaksakan pernikahan dengan Serena. Dan kau juga tak akan pernah tahu… kenapa nama Alya ada di daftar buruan.”

Jantung Alya seakan berhenti berdetak.

“Apa… apa maksudmu namaku ada di daftar buruan? Kenapa aku harus dimatikan?” suaranya bergetar hebat.

Kael tidak mengalihkan pistolnya, tapi ia memberi kode bicara.

“Lanjutkan omongmu.”

Darius menoleh pelan ke arah Alya yang bersembunyi di balik bahu Kael.

“Ibumu… Rina. Dua puluh dua tahun yang lalu, dia pernah bekerja sebagai pembantu di rumah utama keluarga Lorenzo.”

Alya membeku.

“Itu… itu benar. Ibuku pernah bilang dulu dia pernah kerja di rumah orang sangat kaya, tapi dia tak pernah mau cerita detail atau menyebut namanya,” gumam Alya.

“Benar. Dan ada satu malam yang sangat penting. Malam di mana ibumu kabur dari rumah itu dalam keadaan panik dan terburu-buru.”

Darius berhenti sejenak, menatap mereka bergantian.

“Dan malam itu juga… dia membawa lari sesuatu yang sangat berharga milik keluarga Lorenzo. Sesuatu yang sangat dijaga rapi oleh Tuan Lorenzo tua.”

“Apa yang dia bawa?!” tanya Kael mendesak, suaranya terdengar tidak sabar.

Darius menyeringai, lalu menatap tepat ke jendela hati Alya.

“Dia membawa lari… seorang bayi perempuan.”

SUUUUUUUUT…

Ruangan itu mendadak menjadi sunyi senyap.

Sangat hening hingga suara detak jam dinding pun seakan terdengar keras.

Napas Alya tercekat di tenggorokan. Tidak bisa keluar.

“Tidak… tidak mungkin…” bisiknya pelan, kepalanya terasa pusing dan berputar.

Perlahan-lahan… Kael menoleh ke belakang. Ia menatap Alya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Alya melihat perubahan besar di sorot mata pria itu.

Bukan tatapan dingin.

Bukan tatapan marah.

Bukan tatapan menggoda.

Tapi tatapan… terkejut. Sangat terkejut.

Darius tertawa rendah, suaranya bergema di ruangan sempit itu.

“Ya, Kael… kau dengar benar. Gadis yang kau incar, gadis yang kau mau nikahi, gadis yang kau obsesi itu… kemungkinan besar… adalah darah dagingmu sendiri. Dia mungkin adikmu. Atau… sesuatu yang jauh lebih rumit dari itu.”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!