Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 18
"Tapi aku ingin belanja di Milan! Aku belum sempat membeli koleksi terbaru Gucci!" Alicia mulai merengek lagi, sebuah mekanisme pertahanan untuk menutupi ketakutannya.
"Aku akan membawa seluruh toko Gucci ke Sisilia jika itu yang kau mau," Dante berdiri, wajahnya kembali menjadi sang penguasa. "Tapi sekarang, kau harus masuk ke mobil. Kita berangkat sepuluh menit lagi."
Saat konvoi mobil lapis baja mereka mulai meninggalkan vila, sebuah ledakan hebat mengguncang gerbang belakang. Asap hitam membumbung tinggi.
Alicia berteriak, spontan memeluk perutnya. "Dante!"
"Jangan menoleh!" Dante menarik Alicia ke dalam dekapannya, melindunginya dari guncangan.
Melalui kaca belakang yang tahan peluru, Alicia melihat Bambang berdiri di tengah jalan, memegang peluncur roket dengan wajah tanpa ekspresi, menahan pasukan pengepung yang mencoba mengejar mobil mereka.
"Dante," bisik Alicia di sela mualnya yang kembali menyerang. "Jika kita sampai di Sisilia... aku ingin bantal yang lebih empuk dari yang di sini."
Dante mencium puncak kepala istrinya, tersenyum tipis di tengah kekacauan. "Tentu, Sayangku. Apa pun untukmu."
Perjalanan menuju pedalaman Sisilia bukanlah perjalanan bulan madu yang Alicia bayangkan. Alih-alih jet pribadi yang tenang, ia harus mendekam di dalam SUV baja yang berguncang melewati jalanan setapak pegunungan yang terjal. Setiap guncangan terasa seperti serangan langsung ke perutnya.
"Dante... jika mobil ini melompat sekali lagi, aku bersumpah akan melahirkan sekarang juga meskipun usianya baru dua bulan!" Alicia mengerang, wajahnya sedingin marmer, kepalanya bersandar pada bantal sutra yang ia dekap erat sejak dari Como.
Dante, yang sedang sibuk memeriksa tablet taktis bersama Marcello, hanya bisa menghela napas. "Sabar, Alicia. Kita hampir sampai. Benteng ini dibangun di atas bukit yang tidak bisa dijangkau oleh radar biasa. Kau akan aman di sana."
"Aman tapi mati bosan!" sahut Alicia. "Lihat sekeliling! Hanya ada batu dan pohon zaitun tua. Di mana butik? Di mana salon? Aku merasa kulitku mulai bersisik karena debu pegunungan ini!"
Saat konvoi mereka memasuki gerbang Castello di Pietra, sebuah benteng batu kuno yang kokoh namun interiornya sudah dirombak menjadi istana modern, Alicia hanya bisa mendengus. Tempat itu indah secara visual, namun baginya, itu adalah penjara paling terpencil di dunia.
"Nyonya, kamar Anda sudah siap. Pemandangannya langsung menghadap ke kebun anggur," ucap Marcello mencoba menghibur.
Alicia melangkah masuk ke aula besar, sepatu hak tingginya (yang ia pakai hanya untuk turun dari mobil agar tetap terlihat fabulous) berdentang di atas lantai batu. Ia menatap sekeliling dengan pandangan menghakimi.
"Dante! Kenapa gordennya warna abu-abu? Ini membuatku merasa sedang berada di dalam makam!" Alicia berbalik, menunjuk ke arah gorden beludru yang menjulang tinggi. "Ganti dengan warna cream atau champagne. Dan aku ingin aroma ruangan ini berbau bunga, bukan bau batu lembap seperti ini!"
Dante memberi kode pada pelayan untuk segera melakukan apa pun yang diinginkan Alicia. "Lakukan saja. Berikan dia katalog dekorasi paling lengkap sebelum dia mulai merobek dinding ini dengan kuku-kukunya."
Malam harinya di Sisilia, badai gunung mulai menderu di luar benteng. Alicia terbangun pukul dua pagi dengan mata melotot. Ia tidak mual, tapi ia merasakan sebuah keinginan yang begitu kuat hingga membuatnya merasa bisa gila jika tidak terpenuhi.
Ia mengguncang bahu Dante yang sedang tidur lelap. "Dante... Dante, bangun!"
Dante terbangun dengan sigap, tangannya secara refleks meraih pistol di bawah bantal sebelum menyadari bahwa yang menyerangnya hanyalah istrinya yang sedang merajuk. "Ada apa? Ada serangan?"
"Aku ingin mangga muda," ucap Alicia datar.
Dante mengerjap, mencoba menjernihkan pikirannya. "Mangga... apa?"
"Mangga muda! Yang masam, yang kalau digigit suaranya krak, dan aku ingin sambal garam pedas seperti yang dijual di pinggir jalan Jakarta!" Alicia mulai duduk tegak, matanya berbinar penuh harap. "Sekarang, Dante. Aku bisa merasakan lidahku pahit kalau tidak makan itu."
Dante mengusap wajahnya dengan kasar. "Alicia, ini musim dingin di pedalaman Sisilia. Mangga adalah buah tropis. Tidak ada mangga di sini, apalagi yang muda."
"Tadi kau bilang kau bisa membawa seluruh toko Gucci ke sini! Sekarang satu buah mangga saja kau tidak bisa?" Alicia mulai terisak, air mata "ajaib"-nya mulai turun. "Kau berbohong! Kau hanya peduli pada takhtamu! Anak ini ingin mangga, Dante! Kau ingin anakmu lahir dengan ileran karena ayahnya pelit?"
Dante menatap istrinya dengan pasrah. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat soal logika dengan wanita hamil di jam dua pagi.
Ia bangkit, mengambil ponsel satelitnya, dan menghubungi Marcello yang mungkin baru saja terlelap di barak pengawal. "Marcello, bangunkan pilot helikopter. Cari mangga muda. Aku tidak peduli kau harus menjarah supermarket di Palermo atau menerbangkan pesawat ke Afrika Utara malam ini juga. Temukan mangga itu dalam tiga jam atau jangan kembali."
Tiga jam kemudian, saat fajar mulai menyingsing di cakrawala Sisilia, sebuah helikopter mendarat di pelataran benteng. Marcello masuk ke kamar dengan wajah pucat, membawa sebuah kotak kayu berisi beberapa buah mangga yang tampaknya diambil paksa dari gudang impor di Catania.
Alicia bersorak kegirangan. Ia segera memotong mangga itu dengan pisau perak, mencocolnya ke campuran garam dan cabai yang ia buat sendiri di dapur benteng.
"Enak... ini baru hidup," gumam Alicia, mengabaikan Dante yang menatapnya dengan pandangan tak percaya dari balik cangkir kopinya.
Namun, ketenangan itu terganggu saat Bambang muncul di ambang pintu kamar. Ia tidak lagi memakai tudung. Wajahnya yang cacat terlihat jelas di bawah lampu ruangan.
"Dante, kita punya masalah," ucap Bambang tanpa basa-basi. "Sinyal pelacak yang ditinggalkan Moretti di dermaga Como ternyata hanya pengalih perhatian. Mereka sudah tahu kita di sini bukan dari GPS, tapi dari pengkhianat di tim pengiriman logistikmu."
Alicia berhenti mengunyah mangganya. "Apa maksudmu?"
"Ada armada tentara bayaran yang sedang bergerak menuju kaki bukit ini," lanjut Bambang, matanya menatap tajam ke arah Alicia. "Dan kali ini, mereka membawa artileri berat. Mereka tidak berniat menculikmu lagi, Alicia. Mereka berniat meratakan benteng ini dengan kau di dalamnya."
Dante berdiri, auranya seketika berubah menjadi dingin dan mematikan. Ia melirik mangga di piring Alicia, lalu menatap Bambang.
"Marcello! Siapkan posisi bertahan! Aktifkan sistem pertahanan udara!" perintah Dante.
Alicia ikut berdiri, rasa manjanya seketika hilang digantikan oleh ketakutan yang nyata. "Dante, kita harus lari?"
Dante berbalik, memegang kedua bahu Alicia dengan kuat. "Tidak ada lagi pelarian, Alicia. Benteng ini adalah tempat terakhir. Jika mereka ingin mengambilmu, mereka harus melangkahi mayatku dan seluruh klan Vallo."
Dante kemudian menoleh pada Bambang. "Kau bilang kau ingin membuktikan kesetiaanmu? Ambil senjatamu. Kau dan Marcello pimpin lini depan. Aku akan menjaga Alicia di ruang perlindungan bawah tanah."
Saat mereka bersiap menuju bunker, Alicia meraih tangan Dante. "Tunggu! Jika aku harus bersembunyi di bawah tanah yang gelap itu... aku ingin kau membawa piring manggaku. Aku tidak mau mati dalam keadaan kelaparan."
Dante tertegun sejenak, lalu tawa singkat keluar dari bibirnya di tengah ketegangan perang yang akan pecah. Ia mengambil piring mangga itu dengan satu tangan, dan pistol otomatis dengan tangan lainnya.
"Hanya kau, Alicia... hanya kau yang bisa memikirkan camilan di tengah pengepungan mafia," bisik Dante sembari menuntunnya turun ke kegelapan.
Di luar, suara dentuman pertama meriam mulai menggetarkan dinding batu kuno Castello di Pietra.
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣