NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 – Pernikahan Tanpa Senyum

Segalanya terjadi begitu cepat.

Hanya beberapa jam setelah Alya mengangguk setuju—sebuah persetujuan yang terpaksa oleh keadaan—hidupnya terasa seperti ditarik ke dalam arus deras yang tak memberinya kesempatan barang sedetik pun untuk berpikir ulang. Ia hanya sempat kembali ke ruang rawat ibunya, menyampaikan kabar singkat pada perawat jaga, lalu, tanpa jeda, semuanya bergerak. Sebuah mobil hitam mewah datang menjemput.

Bukan sekadar mobil biasa. Interiornya luas, sunyi, dan dipenuhi aroma kulit mahal yang asing bagi Alya. Ia duduk kaku di kursi belakang, sementara pemandangan di luar jendela melaju begitu cepat, seolah dunia berputar meninggalkannya sendirian dalam pusaran peristiwa ini.

Raka duduk di sampingnya.

Diam.

Sejak mereka meninggalkan rumah sakit, tak ada percakapan yang berarti. Hanya keheningan tebal yang menggantung di antara mereka, setiap detik yang berlalu terasa semakin menekan, seakan mengumumkan secara terang-terangan bahwa keputusan ini—langkah yang baru saja diambilnya—sungguh nyata dan tak terhindarkan.

Alya melirik sekilas ke arah pria di sebelahnya.

Raka Pratama.

Kini… calon suaminya.

Kata itu terasa begitu aneh, bahkan di dalam benaknya sendiri. Seperti mengenakan pakaian yang sama sekali tidak pas, terasa canggung dan asing.

“Ke mana kita pergi?” akhirnya Alya memberanikan diri bertanya, memecah kesunyian yang mencekik.

“Kantor catatan sipil,” jawab Raka singkat, tanpa basa-basi.

Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada nada lembut yang menenangkan. Hanya fakta yang disampaikan dengan datar.

Alya mengangguk pelan, lalu kembali menatap ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi mulai mendominasi pemandangan, menggantikan suasana rumah sakit yang suram dan penuh kecemasan. Ibu… ia belum tahu bagaimana ibunya akan bereaksi saat sadar nanti.

Ia menggenggam tangannya sendiri di pangkuan, mencoba meredakan dingin yang menjalari jemarinya. Jantungnya berdegup tak beraturan.

Ini benar-benar terjadi. Ia akan menikah.

Mobil berhenti di depan sebuah gedung besar dengan arsitektur modern yang menjulang. Bangunan itu tidak terlalu ramai, tapi jelas bukan tempat biasa. Bukan pula tempat yang diidamkan seorang perempuan untuk mengikat janji suci.

Pintu dibukakan oleh seorang pria berseragam rapi.

“Silakan, Tuan.”

Raka keluar lebih dulu, lalu menoleh ke arah Alya. Pandangannya kosong, tanpa ekspresi.

“Ayo.”

Satu kata. Dingin. Namun cukup untuk membuat Alya menggerakkan kakinya. Ia turun dari mobil, merasakan embusan angin pagi yang masih dingin menyentuh kulitnya. Langkahnya terasa ringan… sekaligus berat, seakan memikul beban tak terlihat.

Di dalam gedung, semuanya sudah tampak siap. Seorang petugas menyambut mereka dengan sikap hormat yang kentara.

“Selamat pagi, Bapak Raka. Semua sudah kami persiapkan.”

Alya menoleh cepat, tak bisa menahan rasa penasaran. Semua sudah disiapkan? Seberapa jauh pria ini merencanakan segalanya? Seberapa cepat ia bergerak untuk memastikan semuanya berjalan sesuai kehendaknya?

Raka hanya mengangguk tipis. “Baik. Kita mulai sekarang.”

Alya mengikuti langkah tegap Raka, masuk ke sebuah ruangan yang sederhana namun tertata rapi. Di dalamnya sudah ada beberapa orang—petugas administrasi, dua saksi yang tak dikenalnya, dan seorang wanita paruh baya yang tampak seperti pejabat pencatat pernikahan.

Tidak ada dekorasi indah, tak secuil pun bunga yang melambangkan harapan. Tak ada sanak keluarga yang turut berbahagia, tak ada tawa atau air mata haru. Yang ada hanyalah formalitas belaka, serangkaian prosedur yang harus dilalui. Sebuah pernikahan yang terasa hampa, dingin, dan tanpa perasaan.

Alya berdiri di samping Raka, tangannya mulai dingin membeku. Ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian—masih mengenakan kemeja sederhana dan rok panjang yang ia pakai sejak kemarin. Penampilannya sangat kontras dengan Raka yang tetap sempurna dalam setelan jas hitamnya, seolah ia selalu siap menghadapi apapun.

Wanita di depan mereka tersenyum profesional. “Kita akan segera memulai prosesi ini. Mohon kedua pihak memastikan bahwa ini adalah keputusan yang diambil tanpa paksaan.”

Kalimat itu membuat Alya sedikit terdiam. Tanpa paksaan? Ia hampir tertawa ironis. Situasi yang dihadapinya ini bukanlah paksaan dalam arti kekerasan fisik, tapi juga bukan pilihan yang benar-benar bebas. Ini adalah jebakan, sebuah pertukaran yang tak adil, demi keselamatan ibunya.

“Apakah Anda, Saudari Alya Maheswari, bersedia menikah dengan Saudara Raka Pratama?”

Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba. Langsung. Tanpa jeda.

Alya menelan ludah. Untuk sesaat, pikirannya kembali ke ruang rawat ibunya. Ke wajah pucat yang kini tergantung pada alat-alat medis. Ke suara mesin yang terus berbunyi, menjaga detak jantung. Dan tanpa keraguan lagi—

“…Saya bersedia,” suaranya pelan, namun cukup jelas untuk didengar oleh semua yang ada di ruangan itu.

Wanita itu mengangguk, lalu beralih ke Raka. “Apakah Anda, Saudara Raka Pratama, bersedia menikah dengan Saudari Alya Maheswari?”

“Ya.” Jawaban Raka cepat, nyaris tanpa jeda. Tanpa emosi. Seolah ia sedang menyetujui sebuah kontrak bisnis yang menguntungkan. Dan mungkin… memang itu adanya.

Proses berlanjut. Penandatanganan dokumen. Pertukaran berkas. Semuanya berjalan cepat, efisien, tanpa gangguan berarti. Hingga akhirnya—

“Sah.”

Satu kata. Sederhana. Namun kata itu melayang di udara, mengubah segalanya.

Alya kini… istri seseorang. Istri dari pria yang hampir tidak ia kenal, yang baru beberapa jam lalu ia sangka adalah ancaman.

Ia menatap dokumen di tangannya. Namanya. Nama Raka. Tertera berdampingan. Realitas itu terasa aneh, mencengangkan, dan membebani.

“Selamat,” kata petugas itu dengan senyum formal.

Raka mengangguk tipis. Alya hanya membalas dengan senyum kecil yang tidak sepenuhnya mencapai matanya. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Hanya keheningan yang tebal dan dingin.

Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke luar gedung. Langit mulai sedikit cerah, namun suasana hati Alya tetap terasa dingin, seolah tak terjamah oleh sinar mentari.

Alya berdiri di samping mobil, masih mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi. Sampai suara Raka memanggilnya, menariknya kembali dari lamunan.

“Alya.”

Ia menoleh.

“Mulai sekarang, ada beberapa hal yang perlu Anda pahami.” Nada suaranya kembali profesional, seperti seorang atasan yang memberikan instruksi pada bawahannya.

Alya mengangguk pelan. “Apa saja?”

Raka menatapnya lurus, sorot matanya tajam dan tanpa emosi. “Di depan publik, kita adalah pasangan suami istri yang harmonis.”

Alya menahan napas. Ini adalah benih konflik pertama. Perbedaan besar antara kenyataan dan topeng yang harus dikenakan. “Dan di belakang publik?” ia memberanikan diri bertanya.

“Kita tetap pada perjanjian kita.” Batasan itu kembali ditegaskan. Jelas. Tegas. Tidak bisa ditawar.

Alya mengangguk lagi. “Baik.”

Raka melanjutkan, “Anda akan tinggal di rumah saya mulai hari ini.”

“Langsung?” Alya tersentak.

“Ya.” Sekali lagi—tidak ada waktu untuk bersiap. Tidak ada ruang untuk menyesuaikan diri. Semuanya serba cepat, serba mendesak.

“Barang-barang saya…”

“Akan diurus.” Jawaban singkat, penuh keyakinan. Seolah semua hal praktis sudah diatur dengan rapi oleh timnya.

Alya menatapnya beberapa detik. Pria ini benar-benar tidak memberi celah. Tidak memberi ruang untuk keraguan atau penolakan. Semuanya sudah direncanakan dengan sempurna.

“Kenapa rasanya seperti… saya hanya mengikuti alur yang sudah kamu buat?” gumam Alya tanpa sadar, suaranya nyaris berbisik.

Raka tidak tersinggung. Ia hanya menatapnya, lalu berkata, “Karena memang begitu.”

Jawaban jujur itu membuat Alya terdiam. Tidak ada penyangkalan. Tidak ada usaha untuk memperhalus keadaan. Hanya kenyataan pahit yang disampaikan apa adanya. Sebuah getaran asing melanda dirinya. Kejelasan yang tak berbasa-basi itu, alih-alih melegakan, justru terasa lebih mengintimidasi.

Ponsel Raka tiba-tiba bergetar. Ia melihat layar, lalu mengangkat panggilan. “Ya.” Nada suaranya berubah sedikit—lebih tegas, lebih berwibawa. Alya memperhatikan diam-diam.

“Tidak. Konferensi pers tetap berjalan,” lanjut Raka. “Saya akan datang bersama istri saya.”

Alya tersentak. *Istri saya.* Kata itu keluar begitu mudah dari mulut Raka. Seolah sudah biasa diucapkan. Padahal bagi Alya… itu masih terasa asing, sebuah identitas baru yang dipaksakan.

Raka menutup telepon, lalu kembali menatap Alya. “Kita punya jadwal berikutnya.”

Alya mengernyit. “Apa lagi?”

“Konferensi pers.”

“…Apa?”

“Pernikahan ini akan diumumkan hari ini.”

Alya membeku. Tekanan publik yang tiba-tiba menganga di hadapannya. “Hari ini juga?!”

“Ya.”

“Tanpa persiapan?”

“Kita tidak punya waktu untuk menunda.”

Alya menggeleng pelan, mencoba menenangkan dirinya yang mulai panik. Ini terlalu cepat. Terlalu banyak tuntutan dalam waktu singkat. “Tapi saya bahkan tidak tahu harus bersikap seperti apa.”

Raka menatapnya sejenak. Lalu, untuk pertama kalinya—

Ia sedikit mendekat. Tidak terlalu dekat, namun cukup untuk membuat Alya merasakan kehadirannya lebih nyata, lebih menekan.

“Cukup berdiri di samping saya,” katanya pelan. “Dan jangan terlihat seperti Anda ingin lari.” Nada suaranya tetap datar, dingin. Namun kalimat itu, alih-alih meyakinkan, justru terdengar seperti sebuah peringatan keras. Atau mungkin, sebuah tantangan terselubung.

Alya menelan ludah. Jika ia gagal… apa konsekuensinya? “Kalau saya gagal?”

Raka menatapnya lurus. “Jangan.”

Satu kata. Namun cukup membuat jantung Alya berdegup lebih cepat, seolah melompat dari tempatnya.

Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Lalu mengangguk. “Baik.” Tidak ada pilihan lain.

Raka membuka pintu mobil untuknya. “Masuk.”

Alya masuk tanpa banyak bicara. Kali ini, ia tidak melihat ke luar jendela. Ia menatap lurus ke depan. Mencoba menyiapkan dirinya. Untuk dunia yang bahkan belum ia pahami, yang kini menunggunya di balik pintu mobil.

Mobil kembali melaju. Menuju tempat berikutnya. Menuju kehidupan barunya.

Sebagai—

Istri Raka Pratama.

Tanpa cinta. Tanpa senyum. Dan tanpa jaminan… bahwa hatinya akan tetap aman.

Di luar, langit akhirnya mulai cerah dan memancarkan kehangatan. Tapi di dalam dirinya—badai itu baru saja dimulai.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!