NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyusup ke Pasar

Tiga mil ke arah barat di Kawasan Bawah adalah perjalanan yang menguji batas kewarasan. Udara semakin pengap, dan penerangan sepenuhnya bergantung pada lumut beracun yang menempel di dinding logam rongsokan.

Chu Chen memimpin jalan, tubuhnya semakin memerah. Hawa panas yang ia pancarkan membuat genangan air limbah di sekitarnya mendidih dan menguap sebelum kakinya sempat menginjaknya. Dantiannya bergemuruh pelan, namun tanpa henti, seperti seekor binatang buas yang mencoba mendobrak sangkar besinya.

"Di sana," Bai menunjuk ke depan, suaranya sedikit bergetar karena hawa dingin dari tubuhnya sendiri mulai bertabrakan dengan panas yang memancar dari Chu Chen.

Di ujung lorong raksasa itu, aliran limbah berwarna hijau pekat jatuh dari atas, membentuk sebuah tirai air terjun beracun yang menutupi sebuah celah gua besar. Bau asam dari air terjun itu sangat menyengat, cukup untuk melelehkan tulang manusia fana.

Namun, di balik tirai air beracun itu, terdengar sayup-sayup hiruk-pikuk suara ratusan orang.

"Rumah Lelang Akar Darah," gumam Meng Fan, menelan ludah. "Markas rahasia Perkumpulan Naga Hitam. Bagaimana kita bisa menembus air terjun asam itu tanpa meleleh?"

Chu Chen tidak menjawab. Ia melangkah maju, mengangkat tangan kanannya yang bersisik hitam, dan dengan satu sapuan pelan, hawa panas mutlak dari Api Teratai Merah yang bocor dari tubuhnya langsung menguapkan tirai air beracun itu, menciptakan sebuah terowongan uap yang aman.

"Masuk," perintah Chu Chen serak.

Begitu mereka melewati tirai uap, pemandangan berubah drastis. Sebuah gua bawah tanah yang sangat luas terhampar di depan mereka, diterangi oleh ratusan lampion yang terbuat dari tengkorak binatang buas. Tempat ini dipenuhi oleh berbagai macam lapak yang menjual barang-barang haram: pusaka berdarah, organ tubuh manusia, racun tingkat tinggi, hingga budak-budak dari benua bawah yang dikurung dalam sangkar besi.

Ini adalah pasar gelap terdalam di Kota Perbatasan.

Ratusan penjaga dari Perkumpulan Naga Hitam berpatroli, memancarkan aura Alam Inti Emas Tahap Akhir hingga Istana Jiwa Tahap Awal.

Melihat penampilan Chu Chen yang berantakan, basah oleh keringat merah, dan diikuti oleh pria tua kurus serta wanita berkerudung, beberapa penjaga langsung mendekat dengan wajah curiga.

"Hei! Siapa kalian? Tirai asam di depan tidak bisa ditembus oleh—"

WUSH!

Chu Chen tidak membuang waktu sedetik pun. Ia melesat melewati penjaga itu, langsung menuju sebuah bangunan pualam hitam tiga lantai yang terletak di pusat gua—bangunan utama Rumah Lelang.

Hawa panas yang ditinggalkan oleh kecepatan Chu Chen membuat para penjaga itu jatuh terduduk, kulit mereka melepuh hanya karena terkena angin pelariannya.

Chu Chen menendang pintu pualam itu hingga terbuka, mengabaikan teriakan peringatan dari dalam. Di bangsal utama yang mewah, seorang pria berpenampilan rapi dengan gejolak Alam Istana Jiwa Tahap Menengah berdiri dengan wajah terkejut. Pria itu adalah Pengurus Utama Rumah Lelang Akar Darah.

"Kurang ajar! Berani sekali kau menerobos—" Pengurus itu menghunus pedangnya, Niat Membunuh meledak dari tubuhnya.

BAM!

Chu Chen tidak menggunakan Pusaran Ketiadaan. Ia langsung melempar sebuah kantong sutra berwarna emas yang menghantam meja giok di depan sang Pengurus dengan suara dentuman berat. Kantong itu tidak terikat rapat. Ratusan Batu Roh Tingkat Atas yang memancarkan energi kemurnian mutlak tumpah ruah ke atas meja.

Cahaya menyilaukan dari Batu Roh Kekaisaran itu seketika membutakan mata sang Pengurus. Pedangnya terhenti di udara. Niat Membunuhnya menguap digantikan oleh keserakahan yang meluap-luap.

"Aku butuh ruang rahasia kuno di lantai paling bawah," suara Chu Chen terdengar seperti gergaji berkarat, napasnya mengeluarkan asap. Mata naga emasnya menatap lurus menembus jiwa sang Pengurus. "Sekarang. Atau aku akan membakar tempat ini menjadi abu, dan mengambil ruangannya dari mayatmu."

Pengurus itu menelan ludah. Hawa panas yang memancar dari pemuda ini... itu bukan sekadar penyimpangan Qi. Itu adalah hawa maut dari pemangsa puncak. Seratus Batu Roh Tingkat Atas adalah kekayaan yang tidak bisa dikumpulkan oleh pasar gelap ini dalam setahun!

"R-Ruangan itu... khusus untuk Ketua Perkumpulan kami..." sang Pengurus tergagap, tatapannya terbagi antara mata emas Chu Chen dan gunungan Batu Roh.

Chu Chen mencondongkan tubuhnya ke depan. Meja giok di bawah tangannya mulai retak dan meleleh. "Ketua Perkumpulanmu bisa mencari gua lain untuk tidur malam ini. Bawa. Aku. Ke sana."

Ditekan oleh ancaman pembakaran hidup-hidup dan godaan kekayaan, Pengurus itu akhirnya menyerah. "B-Baik! Ikuti saya, Tuan!"

Ia segera menyapu seluruh Batu Roh itu ke dalam cincinnya dan berlari memandu Chu Chen, Bai, dan Meng Fan menuju sebuah tangga batu melingkar yang mengarah jauh ke dasar gua.

Di ujung tangga, terdapat sebuah pintu batu bundar yang terbuat dari Batu Hitam Penekan Jiwa. Pintu itu dipenuhi ukiran kuno yang memancarkan aura penolakan mutlak terhadap segala jenis energi spiritual.

"Ini tempatnya," ucap Pengurus itu dengan tangan gemetar. "Batu ini akan memblokir setiap riak Qi, suara, dan Niat Spiritual. Bahkan dewa dari langit pun tidak akan bisa mengintip ke dalam."

Chu Chen mengangguk. Ia menoleh ke arah Bai dan Meng Fan.

"Kalian berdua, tunggu di lorong ini. Jangan biarkan siapapun menyentuh pintu batu ini," Chu Chen menatap Bai dengan tajam. "Ingat jejak di jantungmu, Nona Bai. Jika aku terganggu dan mati di dalam, kau akan meledak bersamaku."

Bai menggertakkan giginya di balik kerudung, namun ia mengangguk pelan. Ia tahu posisinya.

Chu Chen melangkah masuk ke dalam ruang rahasia kuno itu. Begitu pintu batu penekan jiwa tertutup rapat di belakangnya, suara-suara dari luar terputus mutlak. Ruangan itu hanya diterangi oleh pendaran redup dari lumut di langit-langit.

Ketenangan dan kesunyian mutlak yang ia butuhkan akhirnya didapatkan.

Chu Chen tidak bisa menahan diri lagi. Ia jatuh bertumpu pada kedua lututnya. AARRRGH! Erangan kesakitan yang sedari tadi ia tahan akhirnya meledak.

Kulit perunggunya retak di puluhan titik, memancarkan cahaya magma keemasan. Energi dari Kapten Yan Kuang—seorang Raja Fana—telah mencapai titik didih tertinggi, berbenturan liar dengan Lautan Qi Lapis Akhir miliknya.

"Saatnya menelan langit!"

Chu Chen memaksakan diri duduk bersila. Ia membuka seluruh batas meridian emasnya dan membiarkan Dantian naganya berputar terbalik dengan kecepatan tanpa batas.

Seni Kaisar Naga: Pelahapan Semesta—Gilingan Yin-Yang!

Di dalam Lautan Qi-nya, energi hitam (Yin) dan putih (Yang) yang ia dapatkan dari Mata Air Purba berputar membentuk sebuah pusaran raksasa. Energi Raja Fana yang memberontak itu ditarik paksa ke tengah pusaran, lalu digiling tanpa ampun. Di saat yang sama, Api Teratai Merah dan Niat Pedang Purba ikut menggempur energi kotor tersebut, memurnikannya menjadi cairan Qi emas yang luar biasa pekat.

Tetes demi tetes, cairan emas itu jatuh memenuhi Dantian Chu Chen.

Satu jam berlalu. Tubuh Chu Chen yang awalnya membara kini mulai mendingin, diselimuti oleh uap putih yang sangat tebal. Retakan di kulitnya menutup kembali tanpa bekas.

BUM! Gelombang energi pertama meledak di dalam ruang kedap jiwa itu, namun tertahan sepenuhnya oleh dinding batu kuno. Cairan Qi di Dantiannya telah mencapai batas penuh.

Namun Chu Chen tidak berhenti.

"Lebih padat! Belum cukup untuk menembus Istana Jiwa! Padatkan!" raung Chu Chen dalam kesunyian.

Ia memeras Lautan Qi-nya sendiri, memaksa lautan cairan energi itu untuk menyusut, mengkristal, dan memadat di pusat Dantiannya.

Di dunia luar, kultivator fana memadatkan Lautan Qi mereka menjadi sebuah inti kecil (Inti Emas), lalu membangun fondasi istana di sekitarnya. Namun bagi Chu Chen, Inti Emas Naganya sudah ada, ia sedang memadatkan seluruh lautan tersebut untuk membangun istana jiwanya.

Di dalam Dantiannya, bayangan sebuah bangunan megah yang terbuat dari tulang naga hitam dan diselimuti api merah mulai terbentuk secara perlahan di atas Lautan Qi yang bergolak.

Puncak Inti Emas! Ia telah menyentuh gerbang Istana Jiwa!

...

Sementara Chu Chen sedang berpacu melawan rasa sakit penciptaan, situasi di atas pasar gelap berubah menjadi kiamat kecil.

Di bangsal utama Rumah Lelang Akar Darah, Pengurus Istana Jiwa yang baru saja menikmati kekayaannya tiba-tiba terhempas keras ke dinding pualam, memuntahkan darah segar.

BRAAAK!

Pintu gerbang rumah lelang hancur berkeping-keping. Enam pilar cahaya emas menembus langit-langit gua dari arah kota atas, menerangi pasar gelap itu dengan cahaya penghakiman.

Puluhan prajurit berzirah emas dari Pasukan Pemburu Bayangan Matahari melangkah masuk, pedang mereka telah terhunus dan berlumuran darah para penjaga Naga Hitam yang mencoba melawan di luar.

Tiga sosok yang memancarkan aura mengerikan Alam Raja Fana melayang masuk melalui atap yang hancur. Mereka adalah panglima pilihan kekaisaran yang dikirim langsung oleh Jenderal Penyatuan Langit.

"Kawasan kotor ini bau tikus," ucap salah satu panglima Raja Fana, matanya yang dingin menyapu ribuan budak dan penjahat yang berlutut ketakutan di lantai gua.

Panglima itu berjalan mendekati Pengurus yang terkapar, menginjak dada pria itu dengan sepatu besi emasnya.

"Seseorang dengan sayap tulang hitam baru saja turun ke selokan ini. Niat Spiritual kami kehilangan jejaknya dua mil dari sini. Jika kau tidak menyerahkan pemuda itu sekarang, aku akan membakar seluruh pasar gelap ini, beserta setiap nyawa yang ada di dalamnya, menjadi abu yang paling halus."

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!