Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Atlas Tolong Aku
Suara kartu yang dikocok terdengar dari ruangan tempat Alicia ditahan. Tiga penjaga fokus pada tumpukan koin dan uang di lantai, tidak menyadari bahwa mata Alicia memperhatikan mereka dari atas ranjang.
Ya, Alicia kini sudah sadar, tidak lagi dalam keadaan pingsan. Namun, dia tidak cukup ceroboh untuk langsung berteriak atau melawan.
"Di mana aku? Tubuhku terasa sangat sakit..."
Mata Alicia menyapu ruangan, penglihatannya sedikit buram akibat pukulan yang dia terima di kepala saat melawan di dalam mobil. Dalam cahaya redup, Alicia hanya bisa melihat ketiga pria itu sebagai bayangan samar.
Kondisi tangan dan kakinya yang terikat membuat Alicia semakin sulit bergerak dan mengangkat tubuhnya yang nyeri sedikit saja, rasa sakit langsung menyerang.
"Sial, mereka mengikatku dengan sangat kuat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa."
Alicia mencoba memutar tangannya, mencari celah untuk melonggarkan ikatan, tetapi tidak berhasil. Di tengah rasa sakit yang dia rasakan, sosok bayangan tinggi muncul dari arah pintu. Alicia kembali memejamkan mata dan berpura-pura pingsan.
Sosok yang masuk tidak lain adalah Stevan, dengan Brian mengikuti di belakangnya. Tiga pria yang duduk langsung berdiri dan menundukkan badan sebagai bentuk hormat kepada Stevan.
Tatapan liar Stevan tertuju pada Alicia saat dia berhenti tepat di depan ranjang.
"Brian, idemu cukup gila, tapi kurasa aku akan menyukainya. Tubuh ini terlalu indah untuk diabaikan begitu saja." Stevan mengelus kaki Alicia dengan lembut.
"Jika kita ingin menghancurkan apa pun yang berhubungan dengan Atlas, maka jangan ragu untuk melenyapkannya sampai tidak tersisa. Dan kau bilang Atlas sangat mencintai adiknya. Bayangkan saja ketika dia di ambang napas terakhir dan melihat nasib menyedihkan adiknya. Aku jamin kau akan sangat puas dengan itu, Tuan Stevan!"
Stevan menyeringai lebar dan menoleh ke arah Brian, mengangguk. Kata-kata Brian berhasil memengaruhinya. Ide gila Brian tidak lain adalah menyuruh Stevan untuk menikmati tubuh Alicia, yang pada dasarnya berarti memperkosanya.
"Aku sudah lama menginginkan tubuh wanita ini. Kau benar, lekuk dan kecantikannya pantas dinikmati! Alicia, terimalah nasibmu. Bahkan jika kau tahu, kau takkan menyesalinya karena aku akan memperkosamu sepenuhnya!" Stevan mulai melepas jaketnya dan mendekati Alicia.
"Tuan Stevan, kau akan melakukannya sekarang?"
"Tentu saja, aku tidak ingin membuang-buang waktuku lagi! Dan aku ingin kalian semua merekamnya! Haha! Mari kita buat kegilaan ini sempurna, Brian!"
Stevan mengusap wajah Alicia, mengabaikan memar dan luka di sudut dahinya. Pikirannya teringat saat pertama kali mereka bertemu di kantor dulu.
"Brian, kurasa kau dan orang-orangmu juga bisa merasakan tubuh ini. Jangan biarkan aku sendirian, kita hancurkan saja, ya?"
Ketiga penjaga itu langsung menjawab serempak. "Ya, kami setuju!"
Brian menatap anak buahnya dengan tajam, lalu kembali menatap Stevan dan berkata, "Sepakat, Tuan Stevan. Sekarang, mulai permainan ini dan selesaikan dengan sempurna!"
Ekspresi penuh hasrat kini terlihat di wajah Stevan. Tanpa ragu, dia mengelus paha Alicia sambil mendekatkan wajahnya untuk menciumnya. Bibir penuh Alicia dan penampilannya yang cantik semakin meningkatkan hasrat Stevan.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Tepat saat bibir mereka hampir bertemu, Alicia tiba-tiba membuka matanya dan menanduk Stevan.
"Ugh!"
"Tuan Stevan!" Brian menatap Alicia dan berkata, "kau!"
"Kalian semua bajingan! Jangan pernah berpikir bisa menyentuhku!"
"Berani sekali kau, Alicia! Kau pikir siapa dirimu sampai-sampai melarangku melakukan itu? Terima saja nasibmu!"
Stevan kembali mendekati Alicia, dan kali ini tanpa ampun, ia menciumnya dengan paksa. Di belakang mereka, Brian memberi isyarat kepada tiga penjaga untuk mulai merekam.
Namun sekali lagi, Stevan harus mundur sambil berteriak kesakitan.
"Argh! Sialan kau!" Stevan memegang bibirnya kesakitan.
"Aku sudah bilang, bodoh! Jangan sentuh aku! Jangan pikir aku tidak bisa melawan hanya karena keadaanku seperti ini! Kalian salah! Aku akan bertahan sampai Atlas datang menyelamatkanku!"
Stevan tertawa terbahak-bahak mendengar nama Atlas dari mulut Alicia. "Apa yang kau katakan? Atlas akan datang menyelamatkanmu? Ayolah, Alicia! Aku jamin kau akan hancur sebelum dia datang!"
Kata-kata itu sempat membuat Alicia gemetar, tetapi dia menepis rasa takut itu. Alicia menggelengkan kepala, meskipun matanya berkaca-kaca, dia tetap mengangkat wajahnya dengan berani.
"Aku tidak takut pada kalian! Apa pun yang kalian katakan, Atlas akan datang!"
"Berangan-angan sajalah kau! Baiklah, waktumu habis, Alicia. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku lagi. Sepertinya kau tidak bisa diajak bicara baik-baik. Seharusnya aku yang pertama dan satu-satunya yang menyentuh tubuh indahmu! Tapi... kau memilih agar ini dilakukan dengan kasar dan gila, Alicia." Stevan menoleh ke Brian. "Tahan kepalanya, mari kita buat dia menyesal telah menyakitiku hari ini!”
Detak jantung Alicia berdegup kencang. Rasa takut yang dia sembunyikan kini meledak. Saat tangan Stevan mulai bergerak dan Brian mencengkeram wajahnya, senyum Stevan membuat Alicia panik.
Dia berusaha menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga untuk mencegah tangan Stevan mencapai area sensitifnya. Bahkan saat tiga pria menahannya, dia tetap berusaha melawan. Namun Brian tidak tinggal diam.
"Jadi kau masih berani melawan. Baik."
"Akkkhhh!"
Teriakan Alicia menggema saat Brian menampar wajahnya. "Apa yang akan kau pilih? Diam saja atau menuruti semua permainan ini?”
Alicia menggelengkan kepalanya, menatap Stevan yang hendak mencium pahanya, lalu dengan cepat menggerakkan lututnya, membuat kakinya menghantam hidung Stevan.
"Argh!" Stevan menatap Alicia dengan marah. "Kau!"
Tamparan kembali menghujani wajah Alicia. Kali ini, Brian dan Stevan tanpa henti menyerangnya. Alicia menerima semua itu, karena baginya itu lebih baik daripada membiarkan mereka melecehkan tubuhnya.
"Siapkan dirimu untuk mati, Alicia! Bahkan jika kau menjadi mayat, aku tetap akan menyentuh tubuhmu! Pelacur!"
Tawa Stevan bergema di telinga Alicia.
Satu-satunya harapan yang tersisa di hati Alicia adalah kedatangan Atlas.
'Atlas, tolong aku!' bisiknya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗