NovelToon NovelToon
KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.

Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Halaman Satu dan Tangis Sekampung

Satu minggu. Koran "Cahaya Hati" terbit.

Aku tidak beli. Tidak kuat jalan ke kota. Tidak punya uang juga. Aku cuma duduk di kandang ayam, ngitung detik, nunggu kabar dari langit.

Sampai sore, Pak RT lari-lari ke gang. Napasnya ngos-ngosan. Mukanya merah padam. Di tangannya ada koran lecek.

"Galih! Galih! Ini beneran kamu?!" teriaknya dari luar pagar.

Satu kampung keluar. Ibu-ibu nyetop ngupas bawang. Bapak-bapak matiin TV. Anak-anak berhenti main kelereng. Semua ngumpul depan kandang ayamku.

Pak RT sodorin koran itu. Tangannya gemetar. Halaman satu. Judul gede, tebal, hitam:

"WASIAT UNTUK ANAKKU NISA"

Oleh: Galih, Ayah Lumpuh dari Kandang Ayam

Di bawahnya ada fotoku. Foto yang diambil Pak Arman diam-diam minggu lalu. Aku lagi merangkak, nulis di kardus Indomie, Nisa tidur di punggungku.

Hening. Hening kayak kuburan Jendral.

Lalu pecah. Bukan tawa. Tapi tangis.

Bu RT yang minggu lalu ngehina aku "halu", sekarang nutup mulut pake daster. Air matanya netes ke tanah. "Ya Allah Galih... maafin Bu RT ya Nak..."

Pak lurah yang bilang aku "sampah masyarakat" jongkok depan kandang. Kepalanya nunduk. "Pak Galih... kampung kita bangga sama Bapak..."

Bahkan mertuaku yang paling benci aku, sekarang masuk kandang. Nyodorin koran itu ke tanganku. Pertama kalinya dia nyentuh aku tanpa rasa jijik.

"Galih... baca Nak. Tulisan kamu... bagus banget..."

Aku terima koran itu. Tanganku gemetar lebih parah dari pas divonis lumpuh. Kubaca tulisanku sendiri yang udah dicetak rapi. Bau tinta koran nyampur bau kandang ayam. Aneh. Tapi indah.

Nisa lari dari dalam rumah. "Ayah! Itu nama Nisa! Ada nama Nisa di koran!"

Dia loncat ke pangkuanku. Kami baca bareng. Kalimat demi kalimat. Air mata kami netesin koran itu lagi. Bedanya, dulu netes karena sedih. Sekarang netes karena dunia akhirnya denger suara kami.

Malam itu, warung Bu Haji habis. Koran "Cahaya Hati" diborong warga sekampung. Tetangga yang ngehina aku, beli 2 eksemplar. Satu buat dibaca. Satu buat disimpan.

Pak Arman telepon dari kota. "Pak Galih, redaksi heboh. Telepon masuk terus. Pembaca nangis-nangis minta kisah lanjutannya. Pemimpin redaksi yang nolak bapak kemarin, sekarang suruh saya nawarin Bapak kolom tetap. Gaji bulanan, Pak."

Aku diem. Telepon murahan itu hampir jatuh. Gaji bulanan. Kata yang 4 bulan lalu cuma mimpi.

Kutatap 10 surat penolakan di dinding. Sekarang ada 1 koran halaman satu nempel di tengahnya. Menang.

Aku bisikin ke Nisa yang udah tidur di punggungku: "Nak... Ayah janji. Ini baru halaman satu. Ayah bakal tulis satu buku penuh buat kamu."

Di luar, suara jangkrik kayak tepuk tangan. Di dalam, Galih si lumpuh baru aja menangin perang pertamanya.

Dan perang ini, baru dimulai.Dan perang ini, baru dimulai. Tapi malam ini aku menang satu babak penting: hati manusia.

Esok paginya, anak-anak sekolah mampir ke kandang. Bawa koran. Minta tanda tangan. "Om Galih, tulis 'Untuk Adik' ya." Tanganku gemetar nulis di koran bekas itu. Pertama kalinya ada yang minta tanda tanganku. Bukan KTP. Tapi sebagai penulis.

Pak Lurah datang lagi. Bawa amplop coklat. "Ini honor pertama dari koran, Pak Galih. Kecil. Tapi halal." Isinya 50 ribu. Uang pertama yang kuhasilkan

1
Raihan
mampir juga lah di novel ku
Raihan: ya sama kan kita harus saling support mampir juga ya di novel ku 😄
total 2 replies
Raihan
kak bagus cerita
Tuti irfan
maaf mo nanya bukannya lumpuh pas ijab kabul ya kok udah punya anak
ELNARA: Halo Kak Tuti, terima kasih sudah mampir dan bertanya ya, izin saya jelaskan sejelas-jelasnya ya Kak 🤗

Betul sekali Kak, kejadiannya memang tepat pas hari ijab kabul, saya ambruk dan lumpuh saat itu juga. Tapi di cerita "KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM" ini ceritanya baru di bagian awal kejadian itu, jadi di sini BELUM ADA Balqis sama sekali.

Balqis itu anak saya, dia lahir dan ada bertahun-tahun SETELAH kejadian sakit itu. Kisah perjuangan saya membesarkan Balqis, berjuang demi dia sampai bangkit dan sukses, itu diceritakan di karya saya yang lain, judulnya "AYAH BALQIS".

Jadi urutan ceritanya begini Kak:

1. 📕 Cerita ini: Sakit pas nikah → orang bilang masa depan saya suram → belum ada anak.

2. 📘 Cerita Ayah Balqis: Bertahun-tahun kemudian → saya berjuang hidup → dikaruniai Balqis → berjuang demi dia sampai berhasil buktikan semua orang salah.

Memang beda judul dan beda fokus ceritanya, tapi itu satu perjalanan hidup saya yang dibagi jadi dua buku biar lebih jelas alurnya. Makasih banyak ya Kak sudah perhatikan detailnya, semoga sekarang sudah paham ya. Sehat selalu dan bahagia ya Kak 🙏✨
total 1 replies
Tuti irfan
mampir Thor, Bru baca selamat berkarya 💪
ELNARA: "Alhamdulillah, makasih banyak ya Kak Tuti! 🥰 Senang banget sekali ceritaku bisa diterima dan dibaca saksama sama Kakak. Semoga makin betah, makin penasaran, dan ceritanya makin menyentuh hati Kakak sampai akhir nanti. Lanjutkan ya Kak, masih banyak perjuangan dan kejutan selanjutnya! Sehat selalu dan bahagia ya Kak, terima kasih banyak sudah mampir dan dukung terus karyaku 🙏✨"
total 1 replies
ELNARA
Makasih banyak ya sudah jadi pembaca setia novel ini 😊
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!