"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Sinkronisasi Berdarah
Ruang inti laboratorium 'Elysium' bergetar hebat. Ribuan server setinggi pohon kelapa yang mengelilingi ruangan itu berkedip-kedip merah, mengeluarkan suara dengungan yang menyakitkan telinga. Di tengah ruangan, Erwin berdiri dengan wujud barunya—sebuah perpaduan mengerikan antara daging, mesin, dan energi uang yang dikonversi paksa. Setiap kali Erwin bernapas, uap ungu keluar dari celah baju zirah organiknya, menandakan suhu tubuhnya yang mencapai batas maksimal.
"Andra... bisakah kau merasakannya?" Erwin mengangkat tangannya, dan aliran listrik statis menyambar-nyambar di ujung cakarnya. "Setiap triliun yang kau kumpulkan dengan sombongnya di Swiss, kini mengalir di pembuluh darahku. Kau kaya karena sistem ini, tapi aku kuat karena aku adalah kehancuran sistem ini!"
Andra berdiri tegak, meskipun tubuhnya terasa seperti dihantam ribuan jarum akibat penggunaan protokol Zero Balance Strike. Ia menatap ke arah belakang Erwin, di mana sebuah tabung kristal raksasa tergantung di langit-langit, terhubung ke server utama dengan ribuan kabel saraf transparan. Di dalamnya, Siska tampak mengapung. Matanya terbuka, namun pupilnya putih bersih—ia telah dijadikan Biocomputer, otak manusia yang digunakan untuk menstabilkan aliran data antara Sistem Andra dan tubuh monster Erwin.
"Siska..." gumam Andra. Kebenciannya pada wanita itu masih ada, namun melihatnya dijadikan alat tak bernyawa oleh si Kurator memicu kemarahan yang berbeda di dada Andra.
[Ding! Peringatan Kritis!] [Target 'Siska' berfungsi sebagai Bridge (Jembatan) Sinkronisasi.] [Jika Inang membunuh Erwin tanpa memutus koneksi Siska\, 90% memori Sistem Inang akan terhapus selamanya!]
"Kau sadar sekarang, kan?" Suara Kurator bergema dari pengeras suara, sementara pria bertopeng perak itu berdiri di balkon kaca tinggi di atas mereka. "Siska adalah kunci pengamannya. Dia adalah pengalih arus. Jika kau menyerang Erwin dengan kekuatan penuh, gelombang baliknya akan menghanguskan otak Siska—dan karena dia terhubung dengan Sistemmu, kau pun akan kehilangan identitasmu. Kau akan kembali menjadi kurir miskin yang tidak tahu apa-apa, sementara aku akan memiliki Erwin sebagai dewa baruku!"
Andra tersenyum dingin. "Kau terlalu banyak bicara untuk seorang pengecut yang bersembunyi di balik masker perak."
Erwin tidak menunggu lagi. Ia melesat maju, meninggalkan jejak lantai logam yang meleleh. Kecepatannya kini berada di level yang bahkan mata sistem Andra kesulitan untuk melacak.
BANG!
Cakar Erwin menghantam perisai energi Andra hingga retak dalam satu pukulan. Andra terlempar ke belakang, menabrak barisan server hingga meledak. Belum sempat Andra bangkit, Erwin sudah berada di atasnya, mencengkeram leher Andra dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Mana kesombonganmu, Andra?!" Erwin meraung, lalu menghantamkan tubuh Andra ke lantai berulang kali. Setiap hantaman menciptakan kawah di lantai baja. "Kau pikir kau bisa menang hanya dengan angka di layar? Di sini, di kedalaman bumi, hanya kekuatan murni yang diakui!"
Andra merasakan tulang rusuknya retak. Sistem di otaknya terus memberikan peringatan Red Alert.
[Saldo Tersisa: Rp 85.000.000.000.000 (Menurun Cepat)] [Tingkat Sinkronisasi Musuh: 85%]
"Sistem," bisik Andra di tengah cekikan Erwin. "Aktifkan Protokol 'Shadow Bank'."
[Ding! Protokol Terlarang Terdeteksi. Inang, ini akan menghancurkan ekonomi dunia selama 24 jam!]
"Lakukan saja! Dunia bisa dibangun lagi, tapi harga diriku tidak!" perintah Andra.
Seketika, seluruh saldo Andra yang tersisa menghilang dari rekening bank global. Angkanya menjadi nol. Namun, uang itu tidak hilang begitu saja. Uang itu ditarik paksa ke dalam jaringan internal laboratorium, menciptakan Data Overload pada server yang sedang memberi tenaga pada Erwin.
Erwin tiba-tiba berteriak kesakitan. Tubuhnya yang tadinya bercahaya ungu kini mulai mengeluarkan percikan api hitam. "Apa... apa yang kau lakukan?! Energi ini... terlalu panas!"
"Uangku bukan cuma untuk dibelanjakan, Erwin," ucap Andra sambil melepaskan diri dari cengkeraman Erwin yang melemah. "Uangku adalah beban. Kau ingin merasakan kekayaanku? Rasakan beratnya beban triliunan rupiah yang tidak sanggup ditanggung oleh tubuh sampahmu!"
Andra memukul dada Erwin dengan telapak tangannya. Kali ini, ia tidak menggunakan energi sistem, melainkan membalikkan aliran energi yang sedang diserap Erwin.
BOOM!
Erwin terlempar menabrak tabung Siska. Guncangan itu membuat Siska sedikit tersadar dari komanya. Matanya yang putih mulai kembali berwarna, menatap pemandangan mengerikan di bawahnya.
"An... dra..." suara Siska terdengar sangat lemah melalui speaker laboratorium. "Maaf... kan... aku..."
Andra menatap ke atas, ke arah Siska. "Diamlah, Siska. Kau belum pantas mendapatkan maafku. Kau harus tetap hidup untuk melihat bagaimana aku menghancurkan penciptamu."
Kurator yang berada di balkon mulai panik. Ia mengetik cepat di konsol kontrolnya. "Tidak! Jangan biarkan sinkronisasi terputus! Erwin, bangkit! Gunakan Protokol 'Lintah'!"
Erwin bangkit dengan gerakan patah-patah. Tubuhnya kini terlihat tidak stabil, daging dan mesinnya mulai mengelupas. Tentakel di punggungnya memanjang, menusuk server-server di sekitarnya untuk menyerap energi cadangan.
"Aku... tidak akan... kalah lagi!" Erwin berteriak, matanya pecah mengeluarkan cairan hitam. Ia melompat ke arah tabung Siska, berniat menyerap seluruh energi kehidupan mantan istrinya itu untuk pemulihan instan.
"Jangan harap!" Andra melesat menggunakan Max Speed.
Di udara, Andra mencegat Erwin. Keduanya bertabrakan di tengah ruangan, menciptakan bola energi raksasa yang mulai menghisap benda-benda di sekitarnya. Andra mencengkeram wajah Erwin, sementara Erwin menusukkan cakarnya ke perut Andra. Darah segar menyembur, membasahi wajah keduanya.
"Sistem! Bakar seluruh sisa aset propertiku di seluruh dunia! Ubah menjadi Burst Energy!" raung Andra.
[Ding! Perintah Ekstrim Diterima!] [Menjual Seluruh Aset Real Estate... Konversi ke Energi Murni... Selesai!]
Sebuah ledakan emas keluar dari jantung Andra, menembus tubuh Erwin dan terus meluncur ke arah server utama. Cahaya itu memutus kabel-kabel saraf yang terhubung ke tabung Siska, menjatuhkan tabung itu ke lantai dengan bantalan udara darurat yang diaktifkan Andra di detik terakhir.
"TIDAKKKK!" Kurator berteriak saat melihat server utamanya mulai meledak satu per satu.
Erwin terjatuh ke lantai, tubuh monsternya perlahan menciut dan hancur, menyisakan Erwin yang asli—kurus, botak, dan tanpa busana, gemetar ketakutan di tengah reruntuhan. Sistem predator di tubuhnya telah hangus terbakar oleh energi emas Andra.
Andra mendarat dengan tertatih. Perutnya berlubang, namun sistem mulai melakukan regenerasi darurat menggunakan sisa-sisa energi. Ia melangkah mendekati Erwin yang merangkak mencoba melarikan diri.
"Dulu kau mengambil istriku. Lalu kau mencoba mengambil nyawaku. Sekarang kau mencoba mengambil sistemku," ucap Andra, suaranya terdengar seperti malaikat pencabut nyawa. "Kau tahu apa yang tersisa darimu sekarang, Erwin?"
Erwin menengadah, wajahnya hancur oleh tangis dan lendir hitam. "Andra... tolong... kita sahabat, kan? Ini semua karena pria bertopeng itu! Dia yang memaksaku!"
Andra menginjak tangan Erwin hingga terdengar suara tulang remuk. "Sahabatku sudah mati di hari kau tidur dengan istriku. Sekarang, kau hanyalah kegagalan statistik."
Andra menoleh ke atas, ke arah Kurator yang mencoba melarikan diri melalui pintu rahasia di balkon. "Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Kurator."
Dengan sisa tenaganya, Andra melemparkan belati energi yang langsung menembus bahu Kurator, memaku pria bertopeng itu ke pintu baja.
"Jagal! Amankan Siska dan bawa dia ke jet!" perintah Andra melalui alat komunikasi. "Dan untuk pria bertopeng ini... aku ingin dia tetap hidup. Aku ingin tahu siapa 'Majikan' yang sebenarnya di atas dia."
Laboratorium itu mulai runtuh. Alarm evakuasi meraung-raung. Andra berdiri di tengah kehancuran, menatap tangannya yang masih berlumuran darah. Ia baru saja membakar hampir seluruh kekayaannya hanya untuk memenangkan pertempuran ini. Namun, sistem di otaknya tiba-tiba mengeluarkan suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya—suara seorang wanita yang lembut namun dingin.
[Ding! Ujian Kelayakan Pertama: Selesai.] [Inang telah membuktikan bahwa kehendak lebih kuat daripada saldo.] [Membuka Kunci Rahasia: Asal Usul Sistem - Sektor Angkasa.] [Saldo baru akan segera dikreditkan dari sumber non-bumi...]
Mata Andra melebar. Saldo dari sumber non-bumi? Jadi, semua triliunan rupiah yang ia miliki selama ini hanyalah "uang receh" di mata pencipta sistem ini?
Andra memandang langit-langit laboratorium yang mulai runtuh, menembus hingga ke permukaan tanah Kalimantan. Di atas sana, di balik awan malam, ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang menatapnya.
"Permainan baru saja naik ke level bintang-bintang," bisik Andra.