*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. Duet Maut
Dua minggu telah berlalu sejak insiden penuh gengsi di rumah keluarga Yudhistira, dan jika ada satu hal yang disadari oleh seluruh karyawan Yudhistira Tower, hal itu adalah: lantai dua puluh kini dihuni oleh dua orang yang memiliki sinkronisasi otak paling tidak masuk akal.
Arsenio Yudhistira tetaplah seorang CEO tiran yang perfeksionis dengan tingkat ego yang sanggup menembus atmosfer bumi. Namun, kehadiran Kiera Anandita sebagai asisten pribadinya selama dua minggu terakhir ini telah menciptakan sebuah fenomena baru di kantor. Hubungan kerja mereka adalah kombinasi paling ajaib—penuh dengan debat argumen di balik layar, namun di hadapan publik, mereka adalah potret profesionalisme tingkat tinggi yang sangat kompak.
Pukul 10.00 WIB, ruang rapat utama lantai dua puluh sedang mencekam.
Divisi perencanaan baru saja menyodorkan draf laporan kerja sama proyek properti yang formatnya berantakan dan target capaian timnya tidak sinkron. Arsenio duduk di ujung meja panjang dengan aura tiran monster yang siap memecat siapa saja. Wajah tampannya dingin, dan rahangnya mengeras menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
*BRAK! PLAK!*
Suara hantaman keras bergema di ruang rapat saat Arsenio melempar tumpukan dokumen tebal itu hingga tercabik dan berserakan di atas meja marmer, bahkan beberapa lembar kertas melayang jatuh ke lantai. Para kepala divisi langsung tersentak, menunduk dalam-dalam dengan tubuh gemetar ketakutan. Keringat dingin mulai bercucuran deras di tengah keheningan yang mencekam.
"Jadi," desis Arsenio rendah, suaranya begitu tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan. Ia melepas kacamata bacanya dengan gerakan lambat yang mengintimidasi. "Kalian menghabiskan waktu satu minggu hanya untuk menghasilkan tumpukan kertas sampah tanpa estetika kerja ini? Margin berantakan, data tidak akurat. Otak kalian semua tertinggal di rumah, atau kalian memang sudah bosan kerja di perusahaan ini?"
Suasana mendadak sedingin es kutub. Tidak ada satu pun orang yang berani bernapas keras, tahu betul bahwa satu salah kata saja bisa membuat surat pemecatan mereka keluar hari ini juga.
Tepat saat Arsenio baru saja membuka mulut untuk mengeluarkan kalimat kejam jilid dua, Kiera yang berdiri di sampingnya dengan sigap langsung mengambil alih situasi. Dengan pembawaan yang sangat tenang, anggun, dan berkelas, Kiera melangkah maju. Tidak ada kesan ugal-ugalan atau nada bercanda. Di depan karyawan lain, Kiera menampilkan pesona seorang asisten pribadi yang sangat elegan dan tahu betul cara meredam badai.
Tanpa sedikit pun rasa takut atau canggung, Kiera membungkuk sedikit untuk memungut beberapa lembar kertas yang terjatuh, lalu merapikannya kembali dengan gerakan yang sangat halus. Ia meletakkan segelas kopi hitam panas tepat di dekat tangan Arsenio tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu menyodorkan sebuah map dokumen biru baru yang sudah ia siapkan dari komputernya sendiri.
"Izin memotong, Pak Arsenio," sela Kiera dengan nada suara yang lembut, sangat sopan, namun penuh penekanan profesional yang tegas. "Ini dokumen revisi yang sudah saya sinkronkan kembali dengan draf utama. Semua poin indikator dan rincian data di dalamnya sudah saya rapikan secara menyeluruh agar standarisasinya selaras."
Arsenio terdiam. Matanya yang tajam melirik kopi hitamnya, lalu beralih menatap map dari Kiera. Sumbu pendeknya yang tadinya sudah menyala membakar ruangan, mendadak padam begitu saja saat melihat pekerjaan Kiera yang luar biasa rapi, terstruktur, dan tanpa cacat celah sedikit pun. Rasa hormat dan cara panggil Kiera yang sangat formal di depan tim membuat ego agung Arsenio merasa sangat dihargai dan disanjung di tempat yang tepat.
"Hmm. Lumayan. Format ini yang saya mau," gerutu Arsenio pendek, meredam kemarahannya demi gengsi tingkat tinggi meski tatapannya masih menyorot tajam staf lainnya.
Kiera kemudian berbalik menatap para kepala divisi dengan senyuman profesional yang menenangkan, bertindak sebagai jembatan komunikasi yang sempurna. "Untuk divisi perencanaan, maksud dari Pak Arsenio tadi adalah... beliau ingin tabel proyeksi keuntungan di halaman empat disederhanakan menjadi grafik batang agar lebih efisien saat dipresentasikan ke investor. Benar begitu, Pak Arsenio?" Kiera menoleh pada Arsenio, mengangguk hormat dengan tatapan mata yang cerdas.
Arsenio hanya mengedikkan bahu pasrah, bersandar pada kursinya sambil menyesap kopi. "Begitu saja harus diajarkan oleh asisten saya? Kerjakan ulang dan selesaikan dalam waktu dua jam."
"Baik, Pak!" sahut para kepala divisi serempak dengan nada penuh kelegaan yang amat sangat.
Di sudut ruangan, beberapa staf senior yang menyaksikan interaksi itu hanya bisa saling berpandangan, mengernyitkan dahi, dan geleng-geleng kepala berjamaah. Mereka benar-benar takjub sekaligus bingung. Di satu sisi, Kiera terlihat begitu menghormati Arsenio dan sangat elegan dalam menyampaikan draf. Namun di sisi lain, mereka bisa melihat betapa kompaknya gestur tubuh kedua orang ini, seolah-olah Kiera adalah satu-satunya orang di dunia yang memiliki kunci manual untuk menjinakkan keganasan sang CEO tiran.
---
Malam harinya, pukul 21.00 WIB.
Begitu pintu kaca ruang rapat tertutup dan lantai dua puluh sudah sepi menyisakan mereka berdua di ruang kerja CEO, barulah topeng formal itu perlahan melonggar. Sikap elegan Kiera langsung berganti dengan mode santai yang biasanya.
"Kiera, data analisis kompetitor di bagian utara ini tidak sinkron dengan grafik yang kamu buat," protes Arsenio ketus, mengetuk layar tabletnya dengan pulpen premium begitu mereka kembali berhadapan di meja marmer.
"Lah, sinkron kok, Pak Bos! Bapaknya aja yang matanya sudah mulai minus karena kebanyakan begadang," balas Kiera tidak mau kalah, berjalan mendekat dan mencondongkan tubuhnya ke meja untuk menunjuk baris data yang dimaksud. "Lihat nih, ini angka pertumbuhan tahun lalu, yang ini tahun sekarang. Jelas-jelas sinkron!"
"Jangan mendebat saya, Kiera. Logika berpikir saya jauh lebih presisi daripada kalkulatormu," sahut Arsenio angkuh, menatap Kiera dari jarak yang cukup dekat.
"Iya deh, terserah Pak Bos yang paling genius sedunia!" Kiera mencibir terang-terangan.
Meski mulut mereka terus saling melempar argumen dan ejekan, anehnya tangan dan otak mereka bekerja dengan kecepatan yang luar biasa kompak. Arsenio mendiktekan poin-poin penting, dan Kiera dengan cekatan langsung mengetik dan menyusunnya ke dalam format dokumen yang sempurna. Mereka bergerak seperti dua roda gigi yang saling mengunci dengan pas.
Saat Kiera sedang fokus mengetik, terdengar suara helaan napas lelah yang sangat tipis dari seberang meja. Kiera menggeleng-geleng kepala dan mendapati Arsenio sedang memijat pangkal hidungnya, wajah tampannya tampak luar biasa letih namun egonya menolak untuk beristirahat.
Ada secuil rasa peduli yang mendadak menyelinap di dada Kiera. Gadis itu diam-diam bangkit berdiri, berjalan ke arah meja dapur kecil di sudut ruangan, dan kembali dengan segelas air putih hangat beserta sebotol vitamin.
"Nih, diminum dulu, Pak Bos Sumbu Pendek. Jangan sampai besok pagi Bapak pingsan dan bikin saya repot harus mengurus asuransi kesehatan Bapak," ucap Kiera dengan nada ketus yang sengaja dibuat-buat untuk menutupi rasa pedulinya.
Arsenio tersentak, menatap gelas hangat di hadapannya lalu beralih menatap wajah cantik Kiera yang kini sudah tampak kelelahan. Sesuatu di dalam dada Arsenio kembali bergetar aneh—sebuah letupan hangat yang dua minggu ini selalu coba ia sangkal mati-matian.
Tanpa berkata apa-apa, Arsenio meminim air hangat itu sampai habis. Gengsi kepribadiannya mendadak bergejolak, mencari cara agar ia tidak terlihat "lemah" di depan asistennya. Pria itu bangkit dari kursinya, melepas jas abu-abu mahalnya, lalu melangkah mendekati Kiera yang sudah kembali duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya yang mulai terkantuk-kantuk.
*Sret.*
Kiera tersentak kecil saat merasakan sebuah kain tebal, hangat, dan beraroma parfum maskulin yang sangat mewah mendadak tersampir di atas kedua bahunya. Ia mendongak, mendapati Arsenio sedang membuang muka ke arah lain dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Jangan geer, Kiera," ucap Arsenio dengan suara bariton rendahnya yang mendadak terdengar sangat berat di keheningan malam. "Aku hanya tidak mau asisten pribadi aku jatuh sakit, lalu semua laporan kerja sama aku besok berantakan karena dikerjakan oleh orang lain. Mengerti?"
Kiera terpaku selama beberapa detik, merasakan kehangatan jas Arsenio yang merambat ke tubuhnya. Sebuah senyuman manis yang sangat tulus—tanpa ada unsur ejekan—perlahan terbit di wajah cantiknya.
"Iya, Pak Bos. Terima kasih," bisik Kiera lembut.
Arsenio kembali berdehem kaku, buru-buru berbalik badan menuju mejanya dengan detak jantung yang mendadak berdegup gila di balik kemeja putihnya. Dua minggu ini ia selalu meyakinkan dirinya bahwa Kiera hanyalah asisten pengacau, namun malam ini, Arsenio tahu retakan di benteng pertahanannya sudah semakin membesar dan mustahil untuk diperbaiki lagi.