Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Dua Sisi Langit
...
Malam merayap semakin larut, membawa keheningan yang kian pekat ke seluruh penjuru pesisir pantai. Di lantai atas Kedai "Selasih", setelah Ibu Sarah turun dan mengunci pintu kayu dengan rapat, Pamela tidak langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang empuk. Langkah kakinya yang beralaskan sandal jepit karet murahan menuntunnya keluar menuju sebuah pintu kecil di samping kamar, yang langsung terhubung ke area rooftop kecil di atas kedai.
Rooftop itu sebenarnya hanyalah dak beton sederhana, tempat Joni dan anak-anak magang biasa menjemur kain lap atau celemek kedai di siang hari. Namun di malam hari, tempat ini berubah menjadi sudut tersembunyi yang teramat sunyi. Ada beberapa pot tanaman pandan dan kemangi yang aromanya samar-samar tercium ditiup angin malam, memberikan sedikit rasa asri di tengah gersangnya udara asin laut.
Pamela berjalan mendekati pagar pembatas besi yang sudah agak berkarat. Dia melipat kedua lengannya di atas besi pembatas, membiarkan sweter krem pudar yang longgar itu berkibar pelan dihantam angin laut yang kencang. Rambut panjangnya yang hitam kecokelatan bergerak liar, sesekali menutupi wajah manisnya yang tanpa riasan.
Dari ketinggian ini, Pamela menatap hamparan laut lepas yang hitam pekat. Garis pantai hanya terlihat dari putihnya buih ombak yang pecah menghantam pasir secara ritmis. Suara deburan itu terdengar begitu pekat, seolah menggemakan kekosongan yang sempat merajai batinnya selama bertahun-tahun.
Di bawah langit pesisir yang dipenuhi bintik bintang redup, Pamela merenung. Jiwanya yang lelah perlahan-lahan mengurai kembali memori yang terjadi sejak subuh tadi. Bayangan wajah pucat Papa mertuanya di bangsal VIP, bisikan penuh racun dari Keysha dan Mama mertuanya tentang status sosialnya, hingga... jeritan histeris Ryan dan Riana yang kelaparan di kantin rumah sakit, berputar bergantian di pelupuk matanya.
Setitik air mata kembali mengambang di sudut matanya yang sembap, namun dengan cepat Pamela mengusapnya kasar menggunakan ujung jemari. Dia menghirup napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang dingin dan asin mengisi paru-parunya yang sesak.
Ada rasa perih yang teramat dalam saat mengingat dia harus meninggalkan kedua buah hatinya lagi demi menyelamatkan sisa harga dirinya yang hancur. Sebagai seorang ibu, keputusannya siang tadi terasa begitu kejam. Namun, akal sehatnya yang dingin mengingatkan bahwa kembali ke rumah besar Arkatama dalam kondisi hancur seperti dulu hanya akan membuat anak-anaknya tumbuh melihat seorang ibu yang terus-menerus diinjak-injak tanpa daya.
"Mama akan jemput kalian, Ryan, Riana... Tapi tidak sekarang. Tidak dengan cara merangkak di kaki Papa kalian," bisik Pamela lirih, suaranya teramat dingin namun sarat akan ketegasan mutlak yang lahir dari dalam jiwanya yang kini telah merdeka.
Di tempat ini, di atas rooftop kecil yang sederhana ini, Pamela merasa batinnya jauh lebih tenang. Kesunyian pantai selatan seolah menjadi obat penawar, melindunginya dari kekerasan emosional yang selama tujuh tahun ini merantai hidupnya di kota besar.
...
Di saat yang bersamaan, ratusan kilometer dari garis pantai yang sunyi, suasana yang sama sekali berbeda mengunci rumah mewah bertingkat tiga milik keluarga Arkatama. Langit di atas pusat kota malam ini tampak bersih dari bintang, tertutup oleh pendaran cahaya lampu-lampu gedung pencakar langit yang angkuh dan dingin.
Zidan berdiri sendirian di balkon kamarnya yang luas di lantai dua. Balkon itu beralaskan lantai parket kayu jati premium, dengan pagar kaca tebal dan jajaran lampu hias minimalis yang memancarkan cahaya kekuningan yang elegan. Sebuah pemandangan yang teramat mewah, namun atmosfer di sana terasa begitu mati, mencekam, dan mencekik leher.
Setelan kemeja putih yang seharian dia kenakan kini sudah teronggok asal di atas lantai kamar. Pria itu hanya mengenakan celana kain hitam dengan kaus dalam tipis, membiarkan tubuh tegapnya diterpa angin malam kota yang kering. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber pekat bergoyang pelan, memantulkan bayangan wajahnya yang tampak sangat kacau.
Tatapan sepasang mata elang Zidan yang biasanya sarat akan keangkuhan narsistik, malam ini tampak kuyu, merah, dan dipenuhi kabut keputusasaan yang teramat pekat. Dia menatap lurus ke arah halaman depan rumahnya, tempat di mana mobil sport mewahnya terparkir bisu di bawah temaram lampu taman.
Zidan merenung. Otaknya yang biasa dipenuhi dengan strategi bisnis dan hitungan angka saham, malam ini dipaksa bertekuk lutut memikirkan satu nama, Pamela.
Keheningan malam ini mendadak berubah menjadi pisau kasat mata yang menguliti seluruh ego besarnya. Setiap kali dia meneguk minuman di tangannya, rasa bersalah yang teramat perih justru semakin membakar batinnya. Kejadian di kantin rumah sakit siang tadi terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak yang menyiksa batin.
Dia ingat betul bagaimana ringannya Pamela melangkah pergi meninggalkannya, mengabaikan statusnya sebagai seorang CEO yang terbiasa dituruti. Kata 'mantan suami' yang meluncur dari bibir tipis Pamela terdengar begitu mutlak, seolah-olah seluruh nama besar Arkatama yang dulu dia agung-agungkan di depan wanita itu kini tidak lebih berharga dari segenggam pasir pantai yang kotor.
Zidan mencengkeram pembatas balkon dengan tangan kirinya hingga buku-buku jarinya memutih dan urat di lengan kekarnya menonjol tegang. Rahangnya mengeras menahan gelojak emosi dingin yang kian mengiris kewarasannya.
"Kenapa, Pam...? Kenapa kamu bisa berubah sedingin ini?" gumam Zidan, suaranya terdengar parau dan serak, bergetar menahan hantaman penyesalannya yang datang terlambat.
Selama ini, dia selalu berpikir bahwa Pamela adalah wanita lemah yang tidak akan pernah bisa hidup tanpanya. Dia mengira, dengan memberikan rumah mewah, pakaian bermerek, dan uang belanja yang melimpah, dia sudah menunaikan tugasnya dengan sempurna. Dia menutup mata saat ibunya memperlakukan Pamela seperti pembantu, dia membiarkan Keysha memaki Pamela dengan sebutan wanita miskin, bahkan dia sendiri sering melakukan kekerasan psikologis dengan mendiamkan istrinya berhari-hari hanya karena masalah sepele di kantor.
Kini, setelah Pamela benar-benar melepaskan seluruh kemewahan itu dan memilih tinggal di sebuah kamar kecil di atas kedai pinggir pantai, Zidan baru sadar... bahwa yang miskin di sini sebenarnya adalah dirinya sendiri. Dia kaya akan harta, namun jiwanya miskin, hampa tanpa ada lagi kehangatan tulus yang dulu selalu Pamela berikan tanpa pamrih.
Zidan membalikkan badannya perlahan, melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya yang luas melalui pintu geser kaca yang besar. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah setiap jengkal lantai marmer yang dia pijak menuntut bayaran atas dosa-dosa masa lalunya.
Pria itu berjalan melewati ranjang berukuran king size yang tampak rapi namun terasa begitu dingin dan asing. Dia melangkah menuju sebuah pintu kayu ganda di sudut ruangan, yang menghubungkan kamarnya dengan kamar anak-anak.
Cklek.
Zidan membuka pintu itu dengan sangat perlahan, menahan napasnya agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Cahaya remang-remang dari lampu tidur berbentuk bulan sabit memayungi ruangan bernuansa biru muda itu.
Di atas ranjang tingkat yang didesain khusus, Ryan dan Riana sudah tertidur lelap. Kedua anak kembar itu tidur dalam posisi saling berdekatan, meringkuk di bawah selimut wol tebal. Wajah mungil mereka tampak begitu polos, namun sisa-sisa air mata yang mengering di pipi sembap mereka menjadi bukti otentik betapa hancurnya perasaan mereka setelah ditinggalkan sang ibu siang tadi.
Riana tampak menggeliat kecil, jemari tangannya yang mungil meremas ujung bantalnya, sementara mulutnya sesekali bergumam lirih dalam tidurnya, "...Mama... jangan pergi..."
Mendengar igauan putrinya, dada Zidan terasa seolah dihantam oleh benda tumpul yang teramat besar. Rasa perih yang menjalar di ulu hatinya membuat pria dingin itu harus menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu agar tidak ambruk.
Penyesalan keluarga ini kini telah berubah menjadi lingkaran setan yang menyiksa seluruh penghuni rumah mewah ini. Zidan berjalan mendekat dengan langkah gemetar, lalu berlutut di samping ranjang anak-anaknya. Dia mengulurkan tangannya yang besar, mengusap dengan teramat lembut puncak kepala Ryan dan Riana secara bergantian sebuah gestur kasih sayang yang sangat jarang dia lakukan dulu saat dia masih sibuk dengan dunianya sendiri dan asyik mengejar ego narsismu bersama Karina.
"Maafkan Papa, Nak... Maafkan Papa," bisik Zidan, suaranya tercekat di tenggorokan. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Zidan Arkatama, setitik air mata penyesalan yang murni lolos dari sudut matanya, jatuh membasahi permukaan sprei tempat tidur anaknya.
Dia menyadari satu hal dengan teramat pasti malam ini. Kehancuran keluarganya tidak akan pernah bisa diperbaiki hanya dengan kata maaf atau pameran harta. Dinding es yang telah membeku di dalam hati Pamela sudah terlalu tebal, dan untuk mencairkannya, Zidan tahu dia harus siap merangkak di dalam lumpur penderitaan batin yang sama panjangnya dengan tujuh tahun air mata yang telah Pamela habiskan untuknya.
Malam kian larut, menyisakan dua manusia yang terpisah jarak ratusan kilometer, menatap satu langit yang sama namun dengan isi jiwa yang saling bertolak belakang, Pamela yang mulai menemukan kedamaian di atas ketegasan miskinnya, dan Zidan yang mulai membusuk di dalam penjara kemewahan penyesalannya sendiri.
...
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
masa orang kaya bodoh gitu
jangan diulang ulang
makasih
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜