NovelToon NovelToon
The Employer

The Employer

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: zanizen_

Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.

Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.

Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.

Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter dua

Saat aku tinggal di dalam mobil, aku harus menjaga segala sesuatunya tetap sederhana.

Satu hal yang pasti, aku tidak akan bisa mengadakan acara kumpul-kumpul besar. Tidak ada pesta alkohol dan baberque, tidak ada malam bermain uno. Itu tidak masalah, karena aku memang tidak punya siapa pun yang ingin kutemui. Masalah yang lebih besar adalah tempat untuk mandi. Tiga hari setelah aku diusir dari apartemenku—yang terjadi tiga minggu setelah aku dipecat dari pekerjaanku—aku menemukan sebuah tempat istirahat yang memiliki fasilitas mandi. Aku hampir menangis kegirangan saat melihatnya. Ya, kamar mandi itu sangat kurang privasi dan sedikit berbau kotoran manusia, tetapi pada titik itu, aku sudah sangat putus asa ingin membersihkan diri.

Sekarang aku sedang menikmati makan siangku di kursi belakang mobil. Aku memang punya kompor listrik portabel kecil yang bisa dicolokkan ke pemantik rokok untuk acara-acara khusus, tetapi biasanya aku hanya makan roti lapis dan mi instan. Banyak sekali mi. Aku punya kotak pendingin kecil tempatku menyimpan sosis dan keju, serta sebungkus roti tawar putih—seharga sepuluh ribu di supermarket. Dan tentu saja cemilan. Keripik kentang. Biskuit dengan rasa susu coklat. Kue bolu yang bisa awet berminggu-minggu. Pilihan makanan tidak sehat di sini tidak ada habisnya.

Hari ini aku memutuskan untuk makan roti lapis isi sosis dan keju slice, dengan sedikit saos tomat. Di setiap gigitan yang kuambil, aku mencoba untuk tidak memikirkan betapa muaknya aku dengan roti lapis ini.

Setelah aku memaksa diriku menelan setengah dari roti lapis itu, ponsel di sakuku berdering. Aku memakai salah satu ponsel lipat prabayar tipe lama yang biasanya hanya digunakan oleh orang-orang pengedar opium, atau mereka yang terlempar kembali ke masa lima belas tahun yang lalu. Tetapi aku butuh ponsel, dan hanya ini yang sanggup kubeli.

"Laningsih Sarasti?" Suara ketus seorang wanita terdengar di ujung telepon.

Aku meringis mendengar nama lengkapku disebut. Laningsih adalah nama nenek dari pihak ayahku, yang sudah lama meninggal. Aku tidak tahu orang kampungan macam apa yang tega menamai anak mereka Laningsih di era modern ini, seolah tidak ada nama gadis lain yang terdengar lebih nyentrik, tetapi aku sudah tidak berbicara lagi dengan orang tuaku dan begitu pula sebaliknya, mereka tidak mau bicara denganku.

Jadi sudah agak terlambat untuk menanyakannya.

Lagipula, aku selalu dipanggil Laily, dan aku mencoba mengoreksi orang sesegera mungkin jika mereka salah memanggilku. Tetapi aku merasa bahwa siapa pun yang meneleponku saat ini bukanlah seseorang yang akan memanggilku dengan nama akrab dalam waktu dekat. 

"Ya...?"

"Nona Laningsih." Kata wanita itu. "Aku Divya, admin dari Eddies't Burgers."

Oh, benar. Eddies't Burgers—kedai makanan cepat saji berminyak yang memberiku kesempatan wawancara beberapa hari lalu. Pekerjaannya adalah membalik daging burger atau menjaga mesin kasir. Tetapi jika aku bekerja keras, ada peluang pasti untuk naik jabatan. Dan yang lebih baik lagi, peluang untuk memiliki cukup uang agar bisa pindah dari mobilku.

Tentu saja, pekerjaan yang sangat kuinginkan adalah di rumah keluarga Arshawirya. Tetapi sudah seminggu penuh berlalu sejak aku bertemu dengan Selina Arshawirya. Amannya, bisa dikatakan aku tidak mendapatkan pekerjaan impianku itu.

"Saya hanya ingin memberi tahu Anda." Wanita bernama Divya itu melanjutkan, "...bahwa kami sudah mengisi orang lain untuk semua posisi lowongan di Eddies't Burgers. Namun, kami mendoakan yang terbaik untuk pencarian kerja Anda."

Sosis dan keju slice di dalam perutku terasa bergejolak. Aku pernah membaca di internet bahwa Eddies't Burgers tidak memiliki proses perekrutan yang sangat ketat. Bahwa meskipun aku memiliki catatan kriminal, aku mungkin masih punya kesempatan. Ini adalah wawancara terakhir yang berhasil kudapatkan semenjak Nyonya Arshawirya tidak kunjung meneleponku kembali—dan aku sudah putus asa. 

Aku tidak bisa makan satu roti lapis lagi di dalam mobil ini. Benar-benar tidak bisa.

"Nona Divya." Ujarku tiba-tiba.

"Saya hanya penasaran, apakah Anda mungkin bisa mempekerjakan saya di cabang lain. Saya pekerja yang sangat berdedikasi tinggi. Saya sangat bisa diandalkan. Saya selalu..."

Tut!~

Aku berhenti bicara. Dia sudah menutup teleponnya.

Aku mencengkeram roti lapisku dengan tangan kanan selagi menggenggam ponsel dengan tangan kiri. Ini sia-sia. Tidak ada yang mau mempekerjakanku. Setiap calon pemberi kerja menatapku dengan cara yang persis sama. Yang kuinginkan hanyalah sebuah awal yang baru. Aku akan bekerja mati-matian jika harus. Aku akan melakukan apa pun yang diperlukan.

Aku menahan air mata, meskipun aku tidak tahu mengapa aku harus repot-repot menahannya. Tidak akan ada yang melihatku menangis di kursi belakang mobil Ayla ini. Tidak ada lagi orang yang peduli padaku. Orang tuaku sudah lepas tangan dariku lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Ponselku berdering lagi, mengejutkanku dari lamunan rasa ibaku pada diri sendiri. Aku menyeka air mata dengan punggung tangan dan menekan tombol hijau untuk menerima panggilan. 

"Halo?" Suaraku serak.

"Halo? Apakah ini Lailly?"

Suara itu terdengar samar dan tidak asing. Aku menempelkan ponsel erat-erat ke telingaku, jantungku berdebar. "Ya..."

"Ini Selina Arshawirya. Kau melakukan wawancara denganku minggu lalu?"

"Oh..." Aku menggigit bibir bawahku keras-keras. 

Mengapa dia baru menelepon sekarang? Aku mengira dia sudah mempekerjakan orang lain dan memutuskan untuk tidak memberitahuku. 

"Ya, tentu saja."

"Jadi, jika kau tertarik, kami akan sangat senang untuk menawari Anda pekerjaan ini."

Aku merasakan aliran darah yang deras ke kepalaku yang membuatku hampir pusing. 

"Kami akan sangat senang untuk menawari Anda pekerjaan ini."

Apakah dia serius? Masih masuk akal jika Eddies't Burgers mau mempekerjakanku, tetapi rasanya benar-benar mustahil jika seorang wanita seperti Selina Arshawirya mau mengundangku masuk ke dalam rumahnya. Untuk tinggal di sana.

Mungkinkah dia tidak memeriksa kertas resume-ku? Tidak melakukan pemeriksaan latar belakang yang sederhana? Mungkin dia sangat sibuk sehingga tidak pernah sempat melakukannya. Mungkin dia adalah salah satu wanita polos yang hanya mengandalkan firasat.

"Laily? Kau masih di sana?"

Aku tersentak kecil, sadar akan kebisuanku di ujung telepon. "Y-ya? Saya di sini."

"Jadi, apakah kau tertarik dengan posisi ini?"

"Saya tertarik." Aku mencoba agar tidak terdengar terlalu bersemangat secara berlebihan. 

"Saya sangat tertarik. Saya akan sangat senang bekerja untuk Anda."

"Bekerja bersamaku." Selina mengoreksi ucapanku.

Aku melepaskan tawa yang agak tertahan. "Benar. Tentu saja."

"Jadi, kapan kau bisa mulai?"

"Umm, kapan Anda ingin saya mulai?"

"Secepat mungkin!" Aku cemburu pada tawa riang Selina yang terdengar sangat berbeda dengan tawaku sendiri. Seandainya saja aku bisa menjentikkan jari dan bertukar posisi dengannya. 

"Kami punya tumpukan cucian yang perlu dilipat!"

Aku menelan ludah. "Bagaimana kalau besok?"

"Itu bagus sekali! Tetapi apakah kau tidak butuh waktu untuk mengemas barang-barangmu?"

Aku tidak ingin memberi tahu dia bahwa semua barang yang kumiliki sudah berada di dalam bagasi mobilku. "Saya orang yang cepat dalam mengemas barang."

Dia tertawa lagi. "Aku menyukai semangatmu, Laily. Aku tidak sabar menunggumu datang dan bekerja di sini."

Saat Selina dan aku saling bertukar informasi detail untuk besok, aku bertanya-tanya—

Apakah dia akan berpikir hal yang sama tentangku jika dia tahu bahwa aku menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupku di dalam penjara?

.

.

.

.

.

.

To be continue...

Vote!!

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!