Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Benturan Dua Dunia dan Lolosnya Sang Bayangan
Suhu di halaman Istana Dewangga anjlok melewati titik beku dalam hitungan detik. Uap air di udara mengkristal, turun bagaikan salju hitam yang membawa aroma kematian. Genangan darah dari para penjaga yang tewas seketika membeku menjadi es merah yang retak di bawah tekanan aura yang tak kasat mata.
Elena, sang pembunuh bayaran elit dari Ordo Teratai Malam, merengkuh dadanya sendiri sambil berlutut di lantai marmer. Wajahnya membiru. Tekanan Qi dari entitas yang melayang mendekat itu terlalu pekat; rasanya seperti ada gunung es tak kasat mata yang menghimpit paru-parunya.
"T-Tuan... napasku..." Elena tersedak, pembuluh darah di matanya mulai pecah.
Arya tidak menoleh, namun ia menjentikkan jari telunjuknya ke arah Elena. Seberkas Qi murni berwarna kebiruan melesat dan menyelimuti tubuh wanita itu, membentuk perisai tipis yang langsung menetralisir tekanan aura mematikan tersebut. Elena terbatuk keras, menghirup udara dengan rakus seolah baru saja ditarik dari dasar lautan.
"Tetap di belakangku. Tetap diam, atau paru-parumu akan meledak dari dalam," perintah Arya tanpa nada emosi.
Fokus Arya sepenuhnya terkunci pada sosok berjubah hitam pekat yang kini telah mendarat sepuluh meter di hadapannya. Jubah itu tidak memantulkan cahaya; ia justru menyerap sisa-sisa cahaya lampu dari paviliun, membuat sosok itu terlihat seperti lubang hitam berbentuk manusia. Wajahnya tersembunyi di balik tudung yang memancarkan kabut gelap.
[Ding! Sistem Mengaktifkan Mode Analisis Tempur.]
[Peringatan Risiko Tinggi!]
[Target: Utusan Kuil Kegelapan (Kode: Sang Bayangan).]
[Tingkat Kultivasi: Ranah Pembentuk Fondasi Qi (Tahap Menengah).]
[Atribut Energi: Yin Korosif / Kematian. Target memiliki kepadatan Qi 300% lebih tinggi dari praktisi bumi biasa.]
"Ranah Pembentuk Fondasi Tahap Menengah," Arya bergumam pelan. Sebuah senyum tipis, dingin, dan menakutkan terbentuk di sudut bibirnya. Untuk pertama kalinya sejak ia mendapatkan Sistem Naga Leluhur, ia menghadapi musuh yang secara hierarki kultivasi berada satu tingkat di atasnya.
Bukannya takut, darah di pembuluh nadi Arya justru mendidih oleh antisipasi.
"Arya Permana..." suara Sang Bayangan terdengar berderak, seolah berasal dari gesekan dua lempeng besi karatan. Suaranya bergema langsung di dalam tengkorak Arya melalui telepati Qi. "Tiga tahun kami mencari bangkai pesawat itu, mencari Kunci Dimensi Naga. Ternyata, tikus kecil dari Keluarga Permana berhasil selamat dan bersembunyi di selokan Nusantara City."
"Tikus kecil ini baru saja memusnahkan anjing penjagamu di Ibukota," balas Arya rasional, suaranya tenang tanpa sedikit pun getaran gentar. "Katakan padaku, apakah Kuil Kegelapan selalu mengirim badut berjubah untuk melakukan pekerjaan kotor mereka?"
"Kelancangan yang lahir dari ketidaktahuan," Sang Bayangan mendengus dingin. "Kau pikir membunuh lalat seperti Bramantya Dewangga membuatmu sejajar dengan para dewa? Serahkan cincin hitam di jarimu itu. Serahkan dengan patuh, dan aku akan mencabut nyawamu tanpa rasa sakit. Jika kau menolak, aku akan mengekstrak jiwamu dan membakarnya di dalam Lentera Kutukan selama ribuan tahun!"
Arya mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan cincin naga hitam yang melingkar di jarinya. "Berdasarkan analisis logis, jika kau bisa mengambilnya dengan mudah, kau tidak akan membuang waktu dengan berdialog."
Kalimat itu adalah pemicu.
Udara di sekitar Sang Bayangan meledak. Kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya bermanifestasi menjadi empat tentakel bayangan raksasa setebal batang pohon. Tentakel itu melesat melintasi halaman, menghancurkan sisa-sisa pilar marmer dan lantai batu, mengarah langsung untuk mencabik-cabik tubuh Arya.
Serangan itu terlalu cepat untuk diikuti oleh mata manusia. Elena bahkan tidak sempat berteriak.
Namun, Arya telah menghitung lintasan serangan itu menggunakan indera Fisik Petarung-nya. Bukannya mundur, Arya melangkah maju menantang maut.
Ia menyatukan kedua telapak tangannya. "Perisai Cermin Naga!"
Sebuah dinding energi berwarna putih kebiruan bermanifestasi di depannya. Empat tentakel bayangan itu menghantam perisai Arya secara bersamaan.
BUMMMMM!
Gelombang kejut dari benturan dua energi Pembentuk Fondasi itu menciptakan kawah sedalam lima meter di halaman Istana Dewangga. Debu dan pecahan es terlempar ke udara layaknya badai. Perisai Arya bergetar hebat, retakan halus mulai muncul di permukaannya akibat sifat korosif dari Qi Yin milik musuh.
"Bertahan di depanku adalah kesia-siaan!" raung Sang Bayangan. Ia menekan tangannya ke depan, menambah pasokan energi hitam.
Retakan di perisai Arya semakin membesar. Perbedaan antara Tahap Awal dan Tahap Menengah dalam Ranah Pembentuk Fondasi adalah jurang yang sangat lebar. Energi Sang Bayangan jelas memiliki kapasitas yang lebih besar.
Namun, wajah Arya tetap datar. Ia tidak panik.
"Dalam ilmu fisika dasar," suara Arya menembus gemuruh ledakan energi, "ketika sebuah massa mendesak maju dengan kekuatan penuh, titik gravitasi mereka menjadi sangat rapuh di bagian inti."
[Ding! Mengaktifkan Keterampilan Hadiah: Mata Dewa!]
Pupil mata Arya tiba-tiba berubah warna menjadi keemasan yang menyilaukan. Seketika, dunia di sekelilingnya berubah wujud. Ia tidak lagi melihat tentakel bayangan atau jubah hitam, melainkan melihat jaringan aliran energi (meridian) musuh yang bercahaya seperti peta termal.
Melalui Mata Dewa, Arya melihat sebuah kejanggalan fatal. Aliran energi Sang Bayangan tidak bersumber dari Dantian alaminya, melainkan disalurkan melalui sebuah batu permata hitam yang tertanam di dadanya. Kultivasi Tahap Menengah itu adalah hasil modifikasi buatan, bukan hasil murni!
"Fondasi buatan," cemooh Arya.
Tanpa ragu, Arya menarik perisai energinya secara tiba-tiba.
Kehilangan tahanan secara mendadak membuat empat tentakel bayangan itu meleset dari sasarannya dan Sang Bayangan kehilangan keseimbangan mikroskopis akibat momentumnya sendiri. Celah waktu itu hanya seperseribu detik, namun bagi Arya, itu lebih dari cukup.
Arya melesat maju, kecepatannya menembus batas suara, meninggalkan bayangan sisa (afterimage) di udara. Ia menyelinap di antara celah tentakel bayangan, langsung masuk ke zona pertahanan jarak dekat musuh.
Sang Bayangan terkejut. "Kecepatan macam apa ini?!"
Sebelum Sang Bayangan sempat menarik energi untuk melindungi dadanya, Arya telah berada tepat di bawahnya. Arya mengerahkan seratus persen Qi murni dari Dantian-nya, menyalurkannya ke ujung jari telunjuk dan tengah kanan. Kedua jarinya memancarkan cahaya putih yang sangat menyilaukan, setajam ujung tombak dewa.
"Jarum Sembilan Naga: Penusuk Bintang!"
Tangan Arya meluncur ke depan dengan kekuatan kinetik absolut.
CRAAAAT!
Bilah jari energi Arya menembus lapisan pelindung Qi hitam Sang Bayangan seolah menembus kertas tisu, menancap tepat di tengah dadanya, dan menghancurkan batu permata hitam buatan yang menjadi inti energinya.
"TIDAAAAAAK!"
Sang Bayangan menjerit histeris. Suaranya tidak lagi bergema dalam telepati, melainkan jeritan fisik dari pita suara manusia yang robek. Tudung jubahnya terlempar ke belakang oleh gelombang ledakan, memperlihatkan wajah seorang pria pucat pasi yang dipenuhi pembuluh darah hitam yang menonjol.
Batu inti di dadanya hancur berkeping-keping. Kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya seketika buyar, menguap ke udara terbuka. Tubuhnya terhempas ke belakang bagaikan layang-layang putus, menghantam reruntuhan gerbang besi dengan keras dan memuntahkan darah hitam dalam jumlah besar.
Kultivasinya hancur. Ia kini kembali ke tingkat manusia biasa yang sekarat.
Arya menurunkan tangannya, pernapasan sedikit memburu. Serangan barusan menguras hampir enam puluh persen cadangan Qi-nya. Ia melangkah perlahan menuju Sang Bayangan yang terkapar di tanah.
"Informasi adalah mata uang termahal di duniaku," ucap Arya dingin, menatap musuhnya yang tak berdaya. "Beritahu aku letak markas utama Kuil Kegelapan, dan aku akan membunuhmu tanpa menyiksa."
Pria pucat itu terbatuk darah, namun ia menyeringai mengerikan. Matanya memancarkan kegilaan fanatik.
"Kuil Kegelapan... ada di mana-mana... Kau pikir ini akhir, Arya Permana? Ini baru permulaan! Saat Tuan Besar kami keluar dari meditasinya... bumi ini akan tenggelam dalam darah!"
Tiba-tiba, Sang Bayangan merogoh saku jubahnya dengan tangan gemetar dan mengeluarkan sebuah jimat kertas berwarna merah darah yang dipenuhi rune aneh. Ia menghancurkan jimat itu dengan mematahkan giginya sendiri dan menyemburkan esensi darahnya ke atas kertas tersebut.
[Peringatan Sistem! Fluktuasi Ruang Terdeteksi. Target menggunakan Jimat Pemindah Spasial Instan (Blood Escape Talisman).]
Sebuah pusaran energi merah darah seketika menelan tubuh Sang Bayangan.
Arya melesat maju untuk meraih lehernya, namun tangannya hanya mencengkeram udara kosong. Tubuh utusan Kuil Kegelapan itu lenyap tanpa jejak, meninggalkan bau tembaga yang tajam dan tawa gila yang bergema sesaat di udara malam.
"Berhasil lolos," gumam Arya tanpa ekspresi kecewa. Analisis rasionalnya menyimpulkan bahwa jimat ruang angkasa tingkat tinggi seperti itu mustahil dibatalkan tanpa menguasai hukum dimensi spasial yang belum ia pelajari.
Namun, saat Arya menunduk, ia melihat sebuah benda kecil tertinggal di tempat Sang Bayangan berbaring tadi. Benda itu mungkin terjatuh dari sakunya saat jimat spasial diaktifkan.
Arya memungutnya. Itu adalah sebuah plakat giok hitam berukuran sebesar kotak korek api. Di permukaannya terukir lambang gerhana matahari, dan di bagian belakang tertulis satu kata dalam bahasa kuno: "Kunlun".
[Sistem Menganalisis Objek...]
[Objek: Plakat Masuk Ranah Tersembunyi Kunlun. Sebuah dimensi saku di bumi yang dihuni oleh para praktisi kultivasi purba.]
"Kunlun," Arya mengusap plakat giok itu, matanya menyipit dengan perhitungan tajam. Pegunungan mitologis yang menjadi pusat dunia bela diri tersembunyi. Ternyata, legenda itu bukanlah fiksi, melainkan realitas yang sengaja disembunyikan dari masyarakat modern.
Suara deru mesin mobil yang berat memecah lamunan Arya. Dari luar gerbang Istana Dewangga yang hancur, puluhan mobil lapis baja berwarna hitam dengan logo Dragon Corp berdatangan.
Thomas adalah orang pertama yang keluar dari mobil terdepan, diikuti oleh ratusan anggota Pasukan Bayangan yang bersenjata lengkap. Manajer tua itu berlari menghampiri Arya, menatap sekeliling halaman yang hancur lebur seperti baru saja dijatuhi bom mortar.
"Tuan Muda! Anda tidak terluka?" Thomas bertanya dengan nada khawatir.
"Hanya sedikit berolahraga," jawab Arya tenang, memasukkan plakat giok Kunlun ke dalam sakunya.
Arya menoleh ke arah bangunan utama Istana Dewangga yang sebagian atapnya telah runtuh. "Mulai detik ini, bersihkan setiap inci properti Keluarga Dewangga. Bekukan rekening mereka, ambil alih seluruh jaringan satelit dan infrastruktur komunikasi mereka di Ibukota sebelum matahari terbit. Siapa pun dari dewan direksi kota yang menolak tunduk, lenyapkan."
"Sesuai perintah Anda, Penguasa Ibukota," Thomas membungkuk dalam-dalam, diikuti serentak oleh ratusan Pasukan Bayangan di belakangnya.
Arya Permana menatap langit malam Ibukota yang mulai menampakkan semburat merah fajar. Bisnis fana dan permainan uang di kota ini telah berhasil ia taklukkan. Namun plakat giok di sakunya mengingatkan bahwa musuh sesungguhnya belum tersentuh.