Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-34
Malam itu, suasana terasa sangat tenang dan hangat di dalam rumah Nara. Setelah seharian penuh diliputi ketegangan, kemarahan, dan kelelahan luar biasa, Arkan memilih untuk tidak pulang ke kediamannya yang megah namun terasa sepi itu.
Ia lebih memilih menetap di sini, di rumah sederhana namun penuh kasih sayang milik Nara. Baginya, tempat ini adalah pelabuhan terbaik untuk menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kacau.
"Nah, makan dulu yang banyak ya. Kamu kan capek seharian," ujar Nara lembut sambil menyajikan sepiring nasi goreng hangat buatan sendiri beserta segelas susu hangat di hadapan Arkan.
Pria itu kini sudah berganti pakaian menjadi kaos santai dan celana panjang, membuatnya terlihat jauh lebih rileks dan manusiawi dibandingkan saat menjadi CEO yang dingin di kantor tadi siang.
"Makasih banyak sayang... kamu emang terbaik," jawab Arkan tulus. Ia langsung menyantap makanan itu dengan lahapnya. Rasanya sangat familiar dan menenangkan, jauh lebih enak daripada makanan restoran mewah manapun.
Nara duduk di hadapannya, hanya menatap pria itu makan dengan senyum tipis. Ia bisa melihat betapa lelahnya Arkan hari ini. Mata itu terlihat sayu, dan bahunya tampak sangat berat memikul tanggung jawab perusahaan yang baru saja diserang.
"Sayang..." panggil Nara pelan.
"Hmm?" Arkan menghentikan makannya sejenak, menatap wanita itu.
"Kamu... gak papa kan? Masih mikirin masalah tadi?" tanya Nara hati-hati.
Arkan menghela napas panjang, lalu meletakkan sendoknya. Ia meraih tangan Nara di atas meja makan, menggenggamnya erat-erat.
"Jujur sayang... aku masih kesal dan penasaran. Siapa orang yang berani main kotor begini? Dia mainnya sangat bersih dan pintar, bener-bener niat mau jatuhin aku," cerita Arkan dengan nada berat. "Tapi... begitu aku masuk ke rumah ini, liat kamu, dan makan masakan kamu... rasa capek dan marah itu hilang seketika. Rumah kamu tuh kayak obat penenang alami buat aku."
Nara tersenyum mendengarnya, pipinya merona.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan suasana yang sangat akrab dan manis. Seolah-olah mereka sudah menjadi pasangan suami istri yang hidup bersama bertahun-tahun lamanya.
Setelah selesai makan dan membereskan piring, mereka memutuskan untuk duduk santai di ruang tengah sambil menyalakan televisi. Namun tak lama kemudian, kepala Arkan perlahan menunduk, matanya mulai berat menahan kantuk yang luar biasa.
Keletihan fisik dan mental seharian akhirnya mengalahkan ketahanannya.
Nara yang melihat itu hanya bisa tersenyum gemas. Ia bangkit dan berjalan mendekati pria itu.
"Yuk, masuk kamar. Tidur sana, kamu pasti ngantuk banget kan," bisik Nara lembut.
Arkan hanya mengangguk lemas, lalu berdiri dengan langkah berat. Nara pun menggandeng tangan pria itu menuju kamar tidurnya sendiri.
Di dalam kamar, suasana menjadi sangat hening dan intim.
"Kamu tidur di sini aja ya. Aku tidur di luar di sofa," tawar Nara sopan.
Belum sempat Nara berbalik, tangannya sudah ditarik kuat hingga tubuhnya terpental masuk ke dalam pelukan hangat.
Bugh!
"Nggak mau!" rengek Arkan manja, membenamkan wajahnya di ceruk leher Nara. "Aku mau tidur sama kamu. Peluk kamu. Aku butuh ketenangan. Jangan jauh-jauh dari aku sayang... hari ini aku udah cukup banyak pikiran, jangan buat aku sedih lagi."
Nara tertawa kecil, hatinya meleleh melihat sisi lemah dan manja dari sang CEO tangguh itu.
"Iya iya... sama-sama tidur. Tapi janji jangan nakal ya!" ancam Nara setengah bercanda.
"Janji... cuma mau peluk aja kok," jawab Arkan polos.
Mereka pun akhirnya berbaring berdampingan di atas kasur empuk itu. Arkan langsung menarik tubuh Nara agar berada persis di sampingnya, lalu memeluk pinggang wanita itu sangat erat, seakan takut jika dilepaskan sedikit saja Nara akan menghilang.
Kepala Nara bersandar nyaman di dada bidang yang berdetak teratur itu. Suara detak jantung Arkan justru membuatnya merasa sangat aman dan damai.
"Hhh... enaknya kalau begini," gumam Arkan puas, matanya terpejam rapat sambil mengusap punggung Nara pelan dan berirama. "Sayang..."
"Hmm?"
"Aku sayang banget sama kamu. Apapun yang terjadi nanti, apapun rencana jahat orang lain, janji sama aku... kamu bakal tetap di sini sama aku ya?" bisik Arkan lirih, terdengar sangat tulus dan sedikit rentan.
Nara mengangkat kepalanya sedikit, lalu menatap wajah tampan itu di bawah cahaya lampu tidur yang remang. Ia mengecup pelan dada pria itu tepat di jantungnya.
"Iya Kan... aku janji. Dimana ada kamu, disitu ada aku. Kita hadapin semuanya bareng-bareng ya," jawab Nara tegas.
Arkan tersenyum lebar, merasa dunia miliknya sendiri.
"Makasih ya..."
Tak lama kemudian, nafas Arkan sudah terdengar teratur dan panjang. Pria itu akhirnya terlelap dalam tidur yang sangat nyenyak, ditemani oleh wanita yang paling ia cintai di dunia ini, melupakan sejenak masalah berat yang sedang menimpa perusahaan mereka.
Malam itu berlalu dengan sangat damai, seolah-olah badai besar yang mengancam mereka siang tadi hanyalah mimpi buruk belaka.
_________
Di saat Arkan dan Nara sedang menikmati kedamaian serta kehangatan, melepaskan segala kepenatan dan beban hari ini dalam pelukan satu sama lain, suasana yang berbeda justru terjadi di tempat lain.
Hanya berjarak dua rumah dari sana, di dalam kamar yang gelap dan mencekam milik Amira...
Wanita itu berdiri tegap di balik tirai jendela yang sedikit terbuka. Matanya yang tajam tak pernah berkedip menatap lurus ke arah rumah Nara. Ia bisa melihat jelas mobil mewah milik Arkan yang terparkir rapi di halaman sana. Tanda bahwa pria itu sedang ada di dalam, bersama wanita yang paling ia benci.
Segelas anggur merah berputar-putar dengan anggun di genggaman tangannya yang putih dan halus. Dengan gerakan lambat dan penuh kontrol, ia mendekatkan gelas itu ke bibirnya, menyesap cairan merah pekat itu sedikit demi sedikit. Rasanya pahit, namun tidak sepahit rasa dendam yang menggerogoti hatinya saat ini.
"Ahh..." desisnya pelan, lalu perlahan berbalik badan meninggalkan jendela.
Ia berjalan santai menuju ruang tengah yang luas namun terasa sangat menyeramkan. Di sana, tepat di dinding utama yang berhadapan dengan sofa mewah tempat ia biasa duduk, terpasang dua buah foto berukuran besar.
Foto itu adalah gambar Arkan dan Nara. Foto pasangan kekasih yang terlihat begitu bahagia, tersenyum manis, dan penuh cinta.
Namun... keindahan foto itu hancur total.
Hampir seluruh permukaan foto itu dipenuhi oleh pisau-pisau tajam yang tertancap dengan kuat. Pisau-pisau itu menancap tepat di wajah, di dada, dan di tubuh gambar mereka berdua. Seolah-olah itu bukan sekadar kertas gambar, melainkan tubuh asli orang yang sedang disakiti.
Amira duduk bersandar di sofa dengan pose elegan, namun tatapan matanya sedingin es. Ia menatap foto-foto itu dengan penuh kebencian yang membara.
Tiba-tiba...
Sleeppp!
Dari jarak beberapa meter, dengan sigap dan akurat Amira melempar sebuah pisau baru.
Pisau itu mendarat tepat menancap kuat di bagian leher gambar sosok pria dalam foto itu.
"Hhh... hanya karena wanita sialan itu... kau berani melenyapkan adikku, Arkan?!" gumamnya lirih, namun suaranya terdengar sangat berat dan penuh dendam di ruangan yang hening itu.
Tangannya kembali mengepal erat, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan.
"Kau pikir kau sudah menang? Kau pikir hidupmu akan bahagia selamanya dengannya? Salah besar! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Adikku menderita, dan kalian juga harus merasakan penderitaan yang sama! Bahkan lebih dari itu!"
Matanya kembali menatap tajam ke arah foto Nara yang juga penuh dengan tanda tusukan pisau.
"Tunggu saja... permainan ini baru saja dimulai, dan aku yang akan menjadi pemenangnya!" bisiknya penuh ancaman.
BERSAMBUNG...