Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Mas Ezar, kamu mau ngapain?"
Ezar yang sudah melepaskan helmnya, kini segera turun masih dengan sikap tenang dan maskulin. Pria itu berdiri di depan gerbang sambil mendesah lelah.
"Begini cara kamu menyambut Bosmu? Kamu nggak usah kege'eran, Miranda. Saya datang cuma mau nanyain jadwal saya besuk," ucapnya.
Miranda hanya membuka kunci gerbang lalu melenggang kembali ke teras. Ezar tersenyum tipis, membuka gerbang sedikit untuk memasukan motornya.
Standart motor sudah di turunkan. Ezar menatap keadaan rumah sederhana itu sambil menghela napas panjang.
Dan hal itu sangat memuakan dalam pandangan Miranda.
Tapi tidak dengan Ezar.
Helaan napas itu untuk menutupi perasaannya yang tengah gugup sekaligus merasa bersalah. Namun bukan Ezar namanya jika harus merendah dan meminta maaf begitu saja.
Miranda mengacuhkan. Lebih memilih fokus membaca diary milik suaminya. Dari semula kalimat yang indah, entah mengapa dalam pandanganya malah berganti wajah Ezar yang begitu tengil. Konsentrasi membaca Miranda jadi Berantakan. Karena Miranda sudah tah tahan lagi, ia kini meletakan diary tadi di atas meja.
Tak!
Bunyi buku yang menghantam meja kaca itu menimbulkan kesan nyaring, bahkan wajah Ezar sampai menegak.
"Mas Ezar mau apa sih? Mau ngehina saya lagi? Mau bilang kalau saya ini wanita murahan-"
Ezar menyambar, "Apa begitu cara seorang wanita muslim berasumsi?" perlahan langkah itu mendekat.
Miranda tercekat. Reflek langkahnya mundur dengan tatapan penuh waspada. "Lalu? Lalu mau apa?"
Langkah lebar itu berhenti di ujung teras. Wajah tampan tanpa senyuman itu lagi-lagi menghela napas dalam. "Saya 'kan sudah bilang, Miranda... Saya mau tanya jadwal saya untuk besuk. Semua jadwal itu ada di email ponsel yang saya berikan sama kamu."
Huh!
Miranda mendesah kasar, lalu segera masuk ke dalam untuk mengambil gawai itu.
Ezar masih tetap menunggunya sambil bersedekap dada. Ia menatap lurus ke depan, hingga langkah Miranda kembali menghampirinya.
"Nih hpnya!" suara ketus Miranda berhasil menarik wajahnya.
"Buka saja!" ucapnya tenang. Ezar sejak tadi tak mampu mengalihkan pandanganya pada sosok cantik terbalut jilbab instan di depanya kini.
Miranda kembali membukanya. Wallpaper pada layar terkunci itu sungguh membuat hati Miranda semakin terasa berdesir. Layar terkunci itu menampilkan fotonya dengan Ezar ketika mereka sedang duduk dan melakukan selfie berdama.
Sangat dekat.
Bahkan, pipi Miranda sampai menempel pada pipi Ezar.
Tangan Miranda sudah gemetar. Di tambah lagi wallpaper ke dua itu. Miranda bertambah syok. Ia tatap wajah Ezar sekilas untuk meminta penjelasan; apa maksud dari semua foto-foto mereka dulu.
"Apa maksud Mas Ezar masih menyimpan foto-foto kita dulu?" suara Miranda sudah bergetar.
Ezar tersenyum tipis. Bukan senyum kagum, atau manis. Tapi senyuman getir yang sudah terselimut rasa kesal mendapati Miranda sudah berkeluarga. "Kamu tidak dengar tadi saya meminta apa?" satu alisnya naik. "Saya kan meminta kamu untuk membuka email saja, Miranda! Ya... Soal foto itu saya nggak tahu, karena itu ponsel lama saya yang sudah tak terpakai."
Miranda mencoba menarik napas panjang. Lalu, jemarinya kembali berselancar untuk membuka email yang tersedia.
"Jika sudah, tolong salin dan kirimkan pada nomor saya. Di sana sudah ada kontak saya," lanjut Ezar.
Tak ada jawaban apapun. Miranda diam, fokus menyalin beberapa jadwal meeting ke nomor pribadi Ezar. Lagi-lagi disana Miranda tercengang kala mendapati nomor beserta chat Whatsappnya dulu masih tersimpan rapi. Dalam foto profil itu, baik Miranda dan Ezar menggunakan foto yang sama yaitu kala mereka berdua mengunjungi pasar malam.
Tanpa terasa, dada Miranda kembali bergemuruh. Matanya mulai terasa panas, bahkan tarikan bapasnya mulai terasa berat.
Ezar mengacuhkan. Pria itu duduk saja tanpa di persilahkan.
"Sudah belum?"
Miranda mencoba mengenyahkan. Ia tahan air matanya yang mulai menggenang. "O-oh, iya... Sudah! Saya sudah mengirim semuanya jadwal Mas Ezar." Miranda sudah membalikan badan hendak mengembalikan gawai tadi. "Ini ponsel Mas Ezar. Besuk siang saya akan datang ke kantor untuk memeberikan surat pengunduran diri. Ini... Lebih baik Mas Ezar pulang sekarang dan jangan ganggu hidup saja lagi."
Ezar tak menerima juga tak mau menatap.
Merasa kesal dan percuma, Miranda meletakan gawai itu diatas meja. Ia sudah berniat untuk masuk, namun tanganya di taha oleh Ezar seraya masuk.
"Tunggu!"
Miranda berhenti. Ia menatap lenganya dibalik cardigan rajut yang saat ini di pegang oleh sang mantan.
"Lepaskan!" di tariklah tanganya kembali.
Ezar melepaskan dengan gugup. Sementara Miranda menatap sambil mengernyit dalam. "Apa lagi?"
"Saya tidak menerima resign kamu! Dan ponsel ini akan tetap kamu bawa untuk melihat jadwal saya," katanya.
Miranda kini bersedekap dada. "Maaf, Mas Ezar... Tapi saya besuk akan tetap datang ke kantor untuk membawa surat pengunduruan diri-"
Ezar menyambar begitu saja. "Saya meminta maaf!"
"Minta maaf?" Miranda memicing. "Apa maksud, Mas Ezar?"
"Saya sudah tahu semuanya. Saya sudah tahu jika Mamah lah yang menjebak kamu malam itu," mata yang biasanya menatap penuh kebencian dan tatapan rendah, malam ini tertunduk, mengerjab penuh rasa sesal.
Miranda tersenyum getir memalingkan wajahnya sekilas. Kemana saja Ezar selama ini. Hati Miranda sudah membatu. Rasanya terlalu berat hanya untuk memaafkan setelah apa yang Ezar lakukan untuknya.
"Lebih baik Mas Ezar pergi saja. Semuanya sudah berlalu, Mas! Saya juga sudah nggak peduli sama kejadian 5 tahun yang lalu itu. Saya sudah berkeluarga, dan saya hanya ingin fokus pada keluarga saya saja."
Kalimat itu sukses meremat hati Ezar. Miranda melenggang masuk begitu saja dan segera mengunci pintu rumahnya.
Ezar hanya mampu menatap nanar. Kedua pundaknya luruh, serasa harapanya baru saja di hempas Miranda. Beberapa kata tercekat, tak mampu ia torehkan walau sekedar penyesalan.
Sementara dibalik pintu itu, Miranda meluruhkan tubuhnya. Air matanya pecah dalam keheningan. Dadanya terasa semakin sesak dengan kalimat maaf tadi.
"Ya Allah, rasanya sangat sakit sekali. Kenapa dia harus datang di saat seperti ini. Hamba hanya ingin hidup tenang saja. Hamba hanya takut jika Mas Ezar tahu jika Tama putra kandungnya...." Miranda sesegukan dalam diamnya.
Sementara di luar, Ezar bergerak menuju pintu. Tatapanya sendu, tanganya terangkat -- ragu. Ingin mengetuk, namun keadaan memaksakan dirinya untuk diam terlebih dulu.
Ezar memilih duduk di tepi teras sambil meratapi kehampaan hatinya. Pria itu memandang jauh, teringat semua kalimat keji yang ia lemparkan pada hati Miranda.
"Aku memang nggak pantas mendapatkan maaf darinya. Aku sudah sangat kejam merusak hidupnya. Dan aku juga yang sudah merampas kesuciannya waktu itu. Hidup Miranda sudah hancur, dan semua itu berawal dari perbuatanku...."
ezar yg tanggung jawab Arya sama dewa, Sinta yang berjaya modal air mata dan ngancam bundir. gak sesuai ekspektasi sih tapi apa lah pembaca hak penuh author 🙏