NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Perahu Spiritual

Setelah selesai makan, dan berbincang ringan, mereka memutuskan untuk keluar.

"Ayo ikuti kami."

Lei Shan berdiri dari kursinya sambil melempar beberapa keping batu pembayaran ke atas meja. Tatapannya kemudian tertuju pada Huang.

"Setelah sampai di penginapan, kau istirahat terlebih dahulu. Keesokan harinya kita segera berangkat."

Wajah Lei Shan berubah sedikit serius.

"Jangan sampai orang lain lebih dulu menemukan Beruang Langkah itu."

Huang mengangguk sopan. "Saya mengerti, Tuan Lei."

Luo Mei berdiri perlahan lalu berjalan keluar rumah makan tanpa banyak bicara. Huang segera mengikuti di belakang mereka sambil membawa buntalan kainnya.

Jalanan Kota Bifan masih ramai meskipun matahari mulai condong ke barat. Lampion merah mulai dinyalakan di depan kedai-kedai. Suara pedagang bercampur dengan tawa para pemabuk yang mulai memenuhi rumah arak.

Huang berjalan sambil diam-diam memperhatikan sekeliling. Di kejauhan dia melihat seseorang melompat dari atap ke atap dengan ringan. Ada pula pria berjubah hitam yang membawa harimau besar sebagai tunggangan.

Dunia luar benar-benar berbeda dari desa kecil tempatnya dibesarkan. Namun semakin banyak dia melihat, semakin Huang memahami satu hal. Di kota seperti ini, orang lemah bisa hilang tanpa meninggalkan jejak.

Mereka berjalan cukup lama hingga akhirnya tiba di depan sebuah bangunan tiga lantai dengan papan kayu besar bertuliskan Penginapan Awan Musim Semi.

Dua pelayan segera membungkuk hormat begitu melihat Luo Mei dan Lei Shan.

"Hormat kepada murid Sekte Yunwu."

Lei Shan menjawab singkat. "Siapkan satu kamar untuk anak ini."

Pelayan itu buru-buru mengangguk.

"Baik, Tuan."

Setelah itu Luo Mei mengeluarkan sebuah kantung kain kecil dari lengan bajunya. Dia melemparkannya pelan ke arah Huang. Huang menangkapnya dengan cepat.

Saat membuka sedikit bagian atas kantung itu, matanya langsung melihat cahaya redup dari batu-batu kecil di dalamnya. Energi tipis mengalir lembut dari batu tersebut.

"Lima puluh batu roh rendah." Luo Mei berbicara datar. "Anggap saja pembayaran awal."

Huang sedikit terkejut. Jumlah itu jauh lebih banyak dibanding yang dia bayangkan. Dia segera menangkupkan kedua tangan dengan sopan.

"Terima kasih banyak, Nona Luo."

Luo Mei hanya mengangguk. "Jangan mati sebelum menunjukkan jalan besok."

Setelah itu dia dan Lei Shan langsung pergi meninggalkan penginapan.

Huang berdiri diam beberapa saat sambil memegang kantung batu roh itu erat-erat. Ini pertama kalinya dalam hidupnya dia memiliki sesuatu yang begitu berharga.

Pelayan penginapan segera mengantar Huang menuju kamar di lantai dua. Ruangan itu sederhana, tetapi tetap jauh lebih baik dibanding rumah bambu reyot miliknya dahulu. Ada dipan kayu bersih, meja kecil, kendi air, dan dupa penenang yang menyala pelan di sudut ruangan.

Setelah pintu tertutup, Huang akhirnya menghela napas panjang. Tubuhnya langsung terasa berat. Perjalanan panjang selama dua bulan benar-benar menguras tenaga.

Dia meletakkan buntalan kain di sudut ruangan lalu duduk di atas dipan kayu. Tangannya perlahan membuka kantung batu roh itu lagi.

Lima puluh batu roh rendah.

Cahaya lembut keluar dari permukaannya. Huang bisa merasakan energi di dalam batu itu jauh lebih murni dibanding energi tipis yang selama ini dia serap dari udara.

"Jadi ini batu roh..."

Huang bergumam pelan.

Namun dia tidak langsung menggunakannya. Setelah mencuci wajah dan meminum sedikit air, Huang merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu. Matanya perlahan terpejam.

Sudah lama sekali dia tidak tidur di tempat seperti ini. Tidak ada suara hewan buas. Tidak ada angin dingin hutan. Tidak ada akar pohon keras menusuk punggungnya.

Beberapa jam berlalu begitu saja.

Saat Huang membuka mata kembali, malam sudah larut. Suara kota di luar mulai lebih tenang. Hanya sesekali terdengar langkah kaki atau suara tawa mabuk samar dari kejauhan.

Huang segera duduk bersila di atas dipan kayu. Dia mengeluarkan dua batu roh rendah lalu menggenggamnya di kedua tangan.

Begitu mulai bermeditasi, Huang langsung merasakan perbedaan besar. Energi spiritual di Kota Bifan jauh lebih kaya dibanding desa kecilnya dahulu. Ditambah lagi dengan bantuan batu roh, aliran energi yang masuk ke tubuhnya menjadi jauh lebih cepat.

Energi spiritual mengalir melewati meridiannya dengan hangat. Sedikit demi sedikit berkumpul di dantiannya yang kecil namun stabil. Huang mempraktikkan teknik pernapasan yang diwariskan pria tua misterius itu dengan perlahan dan hati-hati.

Dia tidak berani terburu-buru. Pria tua itu menitipkan pesan dalam warisan pemahaman, bahwa keserakahan adalah awal dari kehancuran banyak kultivator.

Malam terus berlalu. Energi spiritual berputar di dalam tubuh Huang berkali-kali. Pemahamannya terhadap teknik kultivasi menjadi semakin matang. Meskipun saat ini dia masih berada di Ranah Fana Tahap Akhir, Huang tahu fondasinya jauh lebih kokoh dibanding sebelumnya.

Fajar akhirnya tiba.

TOK TOK TOK.

Suara ketukan pintu membuat Huang membuka mata perlahan.

"Huang. Bersiaplah."

Itu suara Lei Shan.

Huang segera berdiri lalu membuka pintu. Lei Shan sudah mengenakan pakaian tempur cokelat tua. Pedang besar di punggungnya tampak jauh lebih mengintimidasi dibanding kemarin. Di sampingnya berdiri Luo Mei dengan wajah tenang seperti biasa.

"Kita berangkat sekarang," ujar Luo Mei.

Huang mengangguk sopan.

"Baik, Nona Luo."

Mereka segera meninggalkan penginapan lalu berjalan keluar Kota Bifan. Pagi hari membuat jalanan kota mulai ramai kembali. Pedagang membuka kios mereka satu per satu sementara kereta barang mulai memasuki gerbang kota.

Setelah cukup jauh dari kota, Luo Mei tiba-tiba mengangkat tangan. Cahaya putih kebiruan melintas dari cincin ruang di jarinya.

WUSSH!

Sebuah perahu panjang muncul melayang di udara. Tubuh perahu itu terbuat dari kayu hitam mengilap dengan ukiran awan dan burung bangau di sisinya. Cahaya spiritual samar mengalir di seluruh badan perahu.

Mata Huang sedikit membesar. Ini pertama kalinya dia melihat benda seperti itu secara langsung.

"Naik," kata Luo Mei singkat.

Huang segera mengikuti mereka naik ke atas perahu spiritual tersebut. Begitu ketiga orang itu berada di atasnya, perahu langsung melayang perlahan dari tanah.

Lalu...

WUSH!

Perahu melesat cepat membelah langit. Angin menerpa wajah Huang dengan keras. Pepohonan di bawah berubah menjadi bayangan hijau panjang. Gunung-gunung terlihat jauh lebih kecil dari atas sini.

Huang benar-benar kagum. Namun dia menahannya dengan cukup baik. Hanya matanya yang diam-diam bergerak memperhatikan semuanya.

Lei Shan melirik Huang lalu tertawa kecil. "Kau belum pernah naik perahu spiritual sebelumnya?"

Huang menjawab jujur. "Belum pernah, Tuan."

Lei Shan menyeringai. "Wajar."

Luo Mei yang berdiri di ujung perahu tiba-tiba bertanya. "Di arah mana goanya?"

Huang segera menunjuk ke arah utara.

"Terus lurus melewati hutan batu. Di dekat tebing hitam ada goa, disitulah."

Luo Mei mengangguk tipis lalu mengendalikan perahu ke arah yang Huang tunjuk.

Perjalanan yang sebelumnya membutuhkan waktu dua hari kini terasa sangat singkat. Tidak sampai setengah hari, Huang mulai melihat wilayah yang terasa familiar, hutan batu, tebing hitam, dan aura dingin samar yang dulu membuat bulu kuduknya berdiri.

"Itu di sana," ujar Huang sambil menunjuk ke arah celah batu besar di bawah.

Perahu spiritual perlahan turun lalu mendarat tidak jauh dari mulut goa. Begitu kaki mereka menyentuh tanah, Lei Shan langsung mengeluarkan pedang besarnya. Aura kuat samar keluar dari tubuhnya.

Sementara Luo Mei mengangkat tangan kanan. Energi spiritual dingin berputar lembut di sekitar jarinya seperti kabut es tipis.

Huang diam memperhatikan. Dia akhirnya bisa melihat sedikit kekuatan nyata para kultivator dunia luar.

Lei Shan melirik Huang. "Kau tetap di belakang."

Huang segera mengangguk.

"Baik, Tuan."

Mereka bertiga mulai memasuki goa. Lorong batu di dalam terasa dingin dan lembap. Bekas cakaran besar terlihat di beberapa dinding batu. Semakin masuk ke dalam, suhu udara semakin rendah. Huang kembali merasakan rasa ngeri yang dulu pernah dia rasakan ketika singgah di tempat ini.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di ruang goa besar. Dan di sana... seekor beruang raksasa sedang tertidur di atas batu besar.

Bulu birunya berkilau samar seperti es di malam hari. Napasnya berat dan dalam. Setiap kali mengembuskan napas, udara dingin menyebar tipis di sekitar tubuhnya.

Lei Shan langsung membelalak.

"Itu benar-benar Beruang Langkah..."

Bahkan Luo Mei yang biasanya tenang pun tampak terkejut. Matanya memancarkan cahaya antusias yang sulit disembunyikan.

"Itu Beruang Langkah tua..." gumamnya pelan.

Aura dingin yang keluar dari tubuh beruang itu membuat seluruh goa terasa seperti gua es.

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!