Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden jendela apartemen, menyinari kamar mewah yang kini terasa jauh lebih hangat dari biasanya.
Aliya perlahan membuka matanya, merasakan beban hangat di pinggangnya.
Ia baru menyadari bahwa sepanjang malam ia tertidur pulas dalam dekapan Emirhan.
Aliya terdiam, menahan napas sejenak agar tidak membangunkan pria di sampingnya.
Dari jarak sedekat ini, ia bisa dengan leluasa memperhatikan wajah tegas itu.
Matanya terpaku pada brewok tipis yang tumbuh rapi di rahang Emirhan, memberikan kesan maskulin yang sangat kuat namun terlihat lembut saat pria itu sedang terlelap.
Tanpa sadar, Aliya tersenyum tipis. Sosok yang ditakuti banyak orang di dunia bisnis ini, ternyata bisa terlihat begitu damai saat tidur.
"Sudah puas memandangi wajahku?" suara bariton Emirhan yang serak khas bangun tidur tiba-tiba terdengar, membuat Aliya tersentak kecil.
Emirhan perlahan membuka mata, menatap Aliya dengan binar penuh kasih yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
"Selamat pagi, sayang," sapa Emirhan dengan suara rendah yang menenangkan.
Sebelum Aliya sempat menjawab karena rasa malu yang menjalar ke pipinya, Emirhan memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan lembut di dahi Aliya, lalu turun ke pipinya.
Kecupan itu terasa begitu tulus, seolah menjadi janji bahwa mulai hari ini, Emirhan akan menjadi pelindung utama dalam hidup gadis itu.
"Bagaimana perasaanmu? Masih ada yang sakit?" tanya Emirhan sambil mengusap lembut rambut Aliya yang berantakan, enggan melepaskan pelukannya meski matahari sudah mulai meninggi.
"Tidak ada yang sakit, Emir. Aku merasa jauh lebih baik sekarang," jawab Aliya pelan, mencoba memberikan senyuman untuk menenangkan kekhawatiran pria itu.
Aliya mencoba bangkit dan bergeser dari tempat tidurnya, namun tangan kekar Emirhan justru semakin erat melingkar di pinggangnya, menariknya kembali ke dalam pelukan.
"Aku harus sekolah, Emir. Aku sudah terlalu banyak absen," ucap Aliya sambil mencoba melepaskan tangan Emirhan dengan lembut.
"Sebentar saja, Aliya. Aku hanya ingin memelukmu lebih lama," bisik Emirhan dengan suara serak.
Ia memutar tubuh Aliya agar menghadapnya, lalu perlahan mendekatkan wajahnya.
Bibirnya menyentuh bibir Aliya, memberikan ciuman pagi yang hangat dan penuh perasaan, seolah dunia di luar sana tidak ada yang penting.
Namun, momen intim itu terputus saat ponsel Emirhan di atas nakas berdering nyaring.
Emirhan mendengus kesal sebelum meraih ponselnya. Nama 'Ayah' tertera di layar.
"Halo, Ayah?"
"Emirhan, pulanglah sekarang. Kita akan sarapan bersama. Adik laki-lakimu baru saja sampai dari luar negeri, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama," suara tegas Onur terdengar dari seberang telepon.
Emirhan menghela napas panjang dan menutup ponselnya.
Ia menatap Aliya dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah serius dan penuh tekad.
"Ikut aku ke rumahku sekarang. Aku ingin memperkenalkan kamu secara resmi kepada kedua orang tuaku," ucap Emirhan.
Aliya terbelalak, rasa panik seketika menyerangnya.
"Tapi Emir, bagaimana dengan sekolahku? Dan... orang tuamu? Aku tidak siap!"
Emirhan mengusap pipi Aliya, mencoba menenangkannya.
"Soal sekolah, jangan khawatir. Aku akan menghubungi kepala sekolahmu sekarang untuk meliburkan kamu satu hari, oke? Kamu harus bersamaku hari ini. Aku ingin mereka tahu siapa wanita yang sangat berarti bagiku."
Aliya terdiam, hatinya bimbang antara rasa takut menghadapi keluarga Emirhan yang terpandang dan rasa percaya pada perlindungan pria itu. Namun, melihat tatapan Emirhan yang begitu yakin, ia akhirnya menganggukkan kepala perlahan, menyadari bahwa pelariannya telah berakhir dan perjuangan baru bersama Emirhan akan segera dimulai.
Emirhan mengusap lembut bahu Aliya sebelum bangkit dari tempat tidur.
"Sekarang, segeralah mandi. Aku sudah meminta pelayan menyiapkan keperluanmu di sana," ucapnya dengan nada yang tak terbantahkan namun tetap lembut.
Aliya mengangguk patuh. Ia melangkah menuju kamar mandi mewah di apartemen itu, membiarkan air hangat membasuh sisa-sisa ketegangan yang ia rasakan semalam.
Setelah selesai, Aliya keluar dan memilih pakaian yang telah disiapkan.
Ia mengenakan kemeja berwarna broken white dengan potongan sopan dan celana kain yang pas di tubuhnya, memberikan kesan elegan namun tetap sederhana.
Rambutnya ia ikat rapi, menyisakan sedikit helai yang membingkai wajah manisnya.
Kini giliran Emirhan yang masuk ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama bagi sang CEO untuk membersihkan diri.
Hanya dalam beberapa menit, suara pintu kamar mandi terbuka kembali.
Aliya yang sedang merapikan tasnya tersentak saat merasakan sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang.
Aroma sabun maskulin yang segar langsung memenuhi indra penciumannya.
Emirhan menyandarkan dagunya di bahu Aliya, menatap pantulan mereka di cermin besar di depan mereka.
"Cantik sekali kamu, Sayang," bisik Emirhan dengan suara rendah yang menggetarkan hati Aliya.
Matanya menatap Aliya dengan binar kekaguman yang nyata.
Wajah Aliya memerah seketika. Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan posesif itu, meski hatinya terasa hangat.
"Lekas pakai baju, Emir. Kita sudah ditunggu Ayahmu, kan? Kamu hanya mengenakan handuk seperti itu."
Emirhan tertawa kecil, suara tawa yang jarang terdengar namun terdengar sangat merdu di telinga Aliya.
Ia memberikan satu kecupan singkat di tengkuk Aliya sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
"Baiklah, Nyonya Besar. Beri aku waktu dua menit," goda Emirhan sambil melangkah menuju walk-in closet-nya untuk memilih setelan jas yang akan ia kenakan untuk menghadapi pertemuan keluarga yang menentukan ini.
Setelah semuanya siap dan tampil sempurna, Emirhan melajukan mobil sedannya membelah jalanan pagi menuju kediaman utama keluarga Karadağ.
Di dalam kabin mobil yang mewah, keheningan terasa begitu kontras dengan deru mesin yang halus.
Emirhan sesekali melirik ke samping, memperhatikan Aliya yang sejak tadi hanya terdiam sambil meremas jemarinya sendiri.
Emirhan bisa melihat napas Aliya yang pendek-pendek.
Gadis itu benar-benar sedang merasakan jantungnya berdetak kencang, seolah-olah ia sedang menuju ke medan perang, bukan ke sebuah acara sarapan keluarga.
Emirhan mengulurkan tangan kanannya, menggenggam tangan Aliya yang terasa dingin, lalu membawanya ke bibirnya untuk dikecup singkat.
"Jangan takut seperti itu, Sayang. Ada aku di sampingmu," ucap Emirhan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan untuk menenangkan.
Aliya menoleh, menatap Emirhan dengan mata yang menyiratkan kegelisahan mendalam.
"Tapi Emir, mereka pasti akan melihatku aneh. Anak SMA bersamamu, seorang CEO besar. Apa yang akan mereka pikirkan? Aku merasa tidak pantas berada di sana."
Emirhan mempererat genggamannya, memberikan kekuatan lewat sentuhan itu.
"Mereka akan melihatmu sebagai wanita yang sudah menyelamatkan nyawa putra mereka. Itu lebih dari cukup bagi mereka untuk menghormatimu."
"Dunia kita terlalu berbeda, Emir. Aku takut Ayahmu akan menganggapku hanya pengganggu," bisik Aliya lagi, membayangkan wajah Onur yang tegas dan berwibawa.
Emirhan tersenyum tipis, sorot matanya penuh tekad.
"Ayahku memang keras, tapi dia menghargai keberanian. Dan kamu adalah gadis paling berani yang pernah kutemui. Ingat, jangan lepaskan tanganku. Siapa pun yang mencoba merendahkanmu, mereka harus berhadapan denganku dulu."
Mobil itu akhirnya berbelok memasuki gerbang besi raksasa yang dijaga ketat.
Begitu bangunan megah kediaman keluarga Emirhan terlihat, Aliya menarik napas panjang, mencoba menata hatinya untuk menghadapi kenyataan yang ada di balik pintu besar itu. Sebuah babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai.
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan teras utama.
Begitu turun, Emirhan langsung menggenggam erat tangan Aliya, seolah ingin menunjukkan pada seluruh dunia bahwa gadis itu berada di bawah perlindungannya.
Langkah mereka yang beriringan masuk ke dalam rumah disambut oleh keheningan yang mencekam.
Dari kejauhan, di sudut ruang keluarga, Laura menatap sinis ke arah mereka.
Matanya berkilat penuh kebencian dan rasa tidak percaya melihat tangan sepupunya tertaut dengan gadis asing yang tampak begitu muda.
Di sampingnya, Zaenab—ibu Emirhan—juga menunjukkan ekspresi serupa.
Ia menatap Aliya dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan pandangan menghakimi yang membuat Aliya semakin menunduk.
Onur, sang kepala keluarga, berdiri dari kursinya. Ia tampak sangat terkejut sekaligus murka melihat kedatangan mereka berdua yang tak terduga, terutama dengan sikap posesif putra sulungnya.
"Ayah, Ibu. Perkenalkan, dia Aliya. Calon pendamping hidupku," ucap Emirhan dengan suara lantang dan penuh keyakinan yang menggema di seluruh ruangan.
Pernyataan itu bak petir di siang bolong. Laura menggelengkan kepalanya berkali-kali, wajahnya memucat karena tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Emirhan.
Sementara itu, rahang Onur mengeras, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
"Emirhan, ikut Ayah ke ruang kerja sekarang!" perintah Onur dengan nada rendah yang mengandung ancaman.
Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.
Emirhan menoleh ke arah Aliya yang tubuhnya mulai gemetar.
Ia mengusap punggung tangan gadis itu dengan jempolnya untuk memberikan ketenangan.
"Jangan khawatir. Duduklah di ruang makan dan tunggu aku di sini, ya?" bisik Emirhan lembut.
Aliya hanya bisa mengangguk pasrah. Ia berjalan menuju ruang makan yang megah namun terasa dingin, sementara Emirhan melangkah mantap mengikuti ayahnya. Di belakang mereka, tatapan tajam Zaenab dan Laura seolah siap menguliti Aliya hidup-hidup saat Emirhan tak lagi berada di sisinya.
Di ruangan besar itu, Aliya merasa begitu kecil, terjepit di antara cinta seorang CEO dan dinding-dinding kekuasaan keluarga Karadağ yang kokoh.