Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Apartemen di Wilshire pagi itu dibalut oleh cahaya matahari yang tenang, menembus kaca jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit Los Angeles. Aroma bawang putih yang ditumis dengan mentega mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana rumah tangga yang sangat kontras dengan kehidupan malam yang baru saja Knox lalui di balik jeruji putih pusat rehabilitasi.
Knox berdiri di ambang pintu dapur, masih mengenakan celana training hitam tanpa atasan. Rambutnya berantakan, matanya sedikit merah karena kurang tidur—sebagian karena proyek di markas, sebagian lagi karena pikirannya yang terus berputar pada percakapan dengan Agnesia. Ia menatap punggung Nyx yang sedang sibuk di depan kompor.
Nyx mengenakan kaos kebesaran milik Knox yang panjangnya mencapai pertengahan paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Ia sedang mengaduk nasi goreng di atas wajan, namun satu tangannya bertumpu erat di pinggangnya sendiri.
Knox melangkah mendekat, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. "Baby..." panggil Knox dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ya, Honey?" jawab Nyx tanpa menoleh, tangannya tetap lincah mengayunkan sudip. "Mandilah. Kita ada kelas jam sepuluh pagi ini. Aku tidak mau kau terlambat lagi karena alasan 'analisis mesin'."
Knox tidak mandi. Ia justru menyelinap di belakang Nyx, melingkarkan tangannya di perut gadis itu dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Nyx yang beraroma sabun vanila. Namun, matanya tertuju pada tangan Nyx yang masih mencengkeram pinggangnya sendiri.
"Kenapa tanganmu harus di sana, Nyx?" tanya Knox dengan nada konyol yang dibuat-buat. "Kenapa posisinya mencurigakan sekali?"
Nyx mendesah pelan, merasakan napas hangat Knox di kulitnya. "Posisi apa? Aku hanya sedang berdiri."
"Jangan bohong," Knox mulai menciumi bahu Nyx, tangannya bergerak mengelus tangan Nyx yang ada di pinggang. "Kau encok, ya? Gara-gara pertempuran hebat kita? Apa pinggangmu sakit karena aku terlalu bersemangat melakukannya?"
Nyx memutar bola matanya, pipinya sedikit merona. "Tidak, Knox. Aku tidak encok."
"Lalu kenapa tangannya masih betah di pinggang? Biasanya kau hanya bertumpu kalau kau merasa pegal setelah aku 'Cumbu' habis-habisan," Knox tertawa renyah, tangannya kini mulai nakal menyelinap ke bawah kaos Nyx. "Atau mungkin kau sedang menahan sesuatu di dalam sana agar tidak tumpah?"
Nyx menoleh sedikit, memasang wajah pura-pura bodoh yang paling meyakinkan. "Tangan ini memang tempatnya di sini, Knox. Memang kau mau diletakkan di mana? Di kepalamu agar kau berhenti berpikir mesum?"
Knox menyeringai, sebuah seringai yang sangat Nyx kenali sebagai pertanda bahaya. "Aku punya tempat yang lebih baik untuk tanganmu, dan itu bukan di pinggangmu sendiri."
Knox memutar tubuh Nyx hingga mereka berhadapan. Aroma nasi goreng yang lezat kini kalah telak oleh feromon yang dilepaskan Knox. Mata hitam pria itu menatap Nyx dengan intensitas yang bisa melelehkan baja.
"Aku merindukanmu semalam, Nyx. Tidur di markas itu benar-benar menyiksaku karena tidak ada 'guling' yang sehangat dirimu," bisik Knox, tangannya mulai mengangkat tubuh Nyx hingga duduk di atas meja marmer dapur yang dingin.
"Knox! Aku sedang memasak!" pekik Nyx pelan, meski kakinya mulai melingkar di pinggang kokoh Knox secara refleks.
"Masakannya bisa menunggu, tapi aku tidak," Knox mulai menciumi leher Nyx, memberikan hisapan-hisapan kecil yang dipastikan akan meninggalkan tanda baru.
Nyx terengah, otaknya mulai berkabut. Namun, di sela-sela kesadarannya, ia teringat satu hal penting. "Knox... tunggu... jangan di sini. Ambil... ambil pengaman dulu. Aku tidak mau mengambil risiko."
Knox terhenti sejenak. Sebuah kilatan rasa bersalah sekaligus tekad muncul di matanya saat ia teringat pengakuannya pada Agnesia semalam. Tiga bungkus yang sudah bocor.
"Tentu saja, Sayang. Apapun untuk keamananmu," ucap Knox dengan nada yang terlalu manis.
Ia melepaskan Nyx sejenak, berlari kecil menuju kamar dan kembali dalam hitungan detik dengan sebuah bungkusan kecil di tangannya—bungkusan yang sudah ia pastikan memiliki lubang mikroskopis berkat jarum jahit yang ia gunakan semalam.
Di atas meja marmer yang dingin, pertempuran pagi itu pecah dengan liar. Knox bergerak dengan ritme yang menuntut, seolah ingin menebus waktu yang hilang semalam. Nyx mencengkeram bahu Knox, kepalanya terlempar ke belakang saat sensasi panas itu mulai menguasai seluruh sarafnya.
Di tengah desah napas yang menderu, Nyx mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang terasa lebih... nyata.
"Knox..." rintih Nyx, tangannya meremas rambut pirang Knox yang basah oleh peluh. "Kenapa... kenapa beberapa kali ini aku selalu merasa sangat hangat di dalam? Rasanya seperti... sangat penuh dan panas."
Knox membeku sesaat, jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena aktivitas fisik, tapi karena ia tahu persis mengapa Nyx merasa begitu. Cairan kehidupannya kini mengalir tanpa hambatan, mencoba mencari jalan menuju sel telur yang mungkin sedang menunggu.
"Itu... itu hanya perasaanmu saja, Baby," jawab Knox dengan suara serak, mencoba mengatur napasnya. Ia mengecup bibir Nyx dengan dalam untuk membungkam kecurigaan gadis itu. "Mungkin karena marmer ini dingin, jadi kau merasa bagian dalammu lebih panas dari biasanya. Hukum konduksi panas, kau tahu?"
Nyx hanya bisa mengangguk pasrah, terlalu lemah untuk mendebat teori teknik konyol Knox di saat seperti ini. Ia membenamkan wajahnya di leher Knox, menikmati setiap detik ledakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan seintens ini sebelumnya.
Setelah semuanya berakhir, Knox tetap memeluk Nyx di atas meja dapur itu selama beberapa menit. Ia menyelimuti tubuh mungil Nyx dengan jaketnya, tidak membiarkan hawa dingin menyentuh kulit gadis itu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Nyx pelan saat melihat Knox menatap perutnya dengan binar yang aneh.
"Aku hanya berpikir," Knox mengusap perut rata Nyx dengan lembut. "Betapa hebatnya jika kehangatan yang kau rasakan tadi benar-benar menetap di sana. Menjadi sesuatu yang nyata."
Nyx mencubit lengan Knox. "Sudah kubilang jangan melantur. Ayo, bantu aku membersihkan ini. Nasi gorengnya sudah dingin!"
Knox tertawa, menggendong Nyx menuju kamar mandi. Di dalam hatinya, ia membisikkan doa yang sama dengan yang ia ucapkan pada Agnesia semalam. Jadilah nyata, Riccardo kecil. Jadilah pengikat yang membuat ibu mu tidak akan pernah bisa pergi dariku.
Knox berhasil menyembunyikan rahasianya dengan sempurna pagi itu. Namun, ia tidak tahu bahwa takdir seringkali memiliki cara yang lebih gila untuk mengungkap kebenaran daripada sekadar bocornya sebuah pengaman.
Di sela-sela uap kamar mandi, masa depan mereka baru saja diputuskan oleh sebuah rencana gila seorang pria yang sedang jatuh cinta.
"Kau benar-benar tidak akan menginap di markas lagi kan malam ini?" tanya Nyx sambil menyabuni dada Knox.
"Tidak akan pernah lagi, Nyx. Aku akan memastikan setiap malamku habis di dalam dirimu," jawab Knox jujur, kali ini tanpa kebohongan sedikit pun.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
semangattt thorr
semangaattt💃