NovelToon NovelToon
THE SILENCE OF ADORING YOU

THE SILENCE OF ADORING YOU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Jantung Kota

Tahun 2045. Jakarta telah berubah menjadi rimba baja yang lebih dingin dari sebelumnya. Teknologi Smart City telah mengambil alih hampir seluruh fungsi pelayanan publik. Di tengah hiruk-pikuk itu, sayap baru Perpustakaan Nasional mahakarya Raka yang fenomenal itu tetap berdiri teguh. Namun, sebuah kabar mengejutkan datang dari kementerian: rencana pembongkaran sebagian area perpustakaan untuk perluasan jalur transportasi otomatis bawah tanah.

Kabar ini sampai ke Yogyakarta saat Raka dan Alana sedang menikmati sore yang tenang di Atelier Aksara. Raka, yang kini berusia 65 tahun, menatap surat elektronik itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Mereka menyebutnya 'Optimalisasi Ruang Publik'," geram Raka. "Mereka ingin memotong area Ruang Arsip Kuno untuk jalur kereta. Mereka tidak tahu bahwa setiap inci bangunan itu dirancang untuk menjaga keseimbangan beban kubah utama."

Alana bangkit dari kursi malasnya, tatapannya masih setajam dulu. "Kita tidak akan membiarkan mereka melakukannya, Raka. Jika mereka menyentuh pondasi itu, mereka tidak hanya merusak gedung, mereka membunuh sejarah. Hubungi Satria. Hubungi Maudy. Kita harus kembali ke Jakarta."

Jakarta menyambut mereka dengan udara yang kering dan suara bising mesin yang tak pernah berhenti. Pertemuan darurat diadakan di sebuah ruangan di lantai atas Perpustakaan Nasional.

Satria, yang kini sudah menjadi arsitek senior yang disegani, hadir dengan wajah lelah. Maudy, yang tetap terlihat elegan meskipun usia telah menggores wajahnya, datang dengan tim hukum terbaiknya. Dan di sudut ruangan, Arka Aksara berdiri dengan perangkat hologramnya, menatap visualisasi struktur bawah tanah kota.

"Mas Raka, tekanan politiknya sangat besar," lapor Satria. "Gubernur baru menganggap perpustakaan ini terlalu memakan ruang di tengah krisis lahan. Mereka punya data bahwa kunjungan fisik menurun, jadi mereka merasa pemotongan area arsip adalah hal logis."

Raka berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah Monas. "Kunjungan fisik mungkin menurun, tapi nilai peradaban tidak diukur dari statistik pengunjung. Gedung ini adalah napas kota ini."

Maudy angkat bicara, suaranya tenang namun mengandung otoritas. "Secara hukum, bangunan ini dilindungi sebagai cagar budaya modern. Tapi mereka menggunakan celah 'Keadaan Darurat Infrastruktur'. Kita butuh sesuatu yang lebih kuat dari sekadar argumen hukum. Kita butuh dukungan publik yang masif."

Alana mengambil peran yang selama ini menjadi kekuatannya: Kata-kata. Ia memulai sebuah gerakan literasi digital berskala besar. Ia menulis esai-esai pendek yang menyentuh tentang kenangan orang-orang di perpustakaan itu.

"Sebuah gedung bukan hanya tentang beton," tulis Alana dalam salah satu naskahnya yang viral dalam semalam. "Ia adalah rumah bagi janji-janji yang pernah diucapkan, riset-riset yang mengubah hidup, dan tempat di mana jutaan anak-anak pertama kali mengenal dunia lewat buku. Merusak perpustakaan ini berarti menghapus ingatan kolektif kita sebagai bangsa."

Arka, menggunakan kemampuannya, menciptakan sebuah instalasi seni digital di depan perpustakaan. Ia menerjemahkan data struktur bangunan yang terancam menjadi visualisasi "detak jantung" yang melemah. Setiap kali ada orang yang memberikan dukungan secara digital, detak jantung bangunan itu menguat dan bersinar lebih terang.

Puncaknya adalah sidang dengar pendapat di Balai Kota. Raka harus berhadapan dengan para teknokrat muda yang hanya melihat gedung sebagai angka dan koordinat.

"Tuan Raka, dengan segala hormat, teknologi konstruksi sekarang memungkinkan kita untuk memperkuat struktur atas sambil memotong bagian bawahnya," ujar salah satu konsultan pemerintah.

Raka tersenyum tipis, sebuah senyum yang dulu sering ia berikan saat menghadapi Pak Surya. Ia mengeluarkan sebuah maket kecil yang sudah usang—maket asli tahun 2026.

"Konstruksi mungkin soal teknik, tapi keseimbangan adalah soal filosofi," ujar Raka. "Sayap perpustakaan ini dirancang dengan prinsip 'Akar Saling Mengikat'. Jika Anda memotong satu akar di bagian timur, Anda menciptakan tegangan mikro yang tidak akan terdeteksi oleh sensor Anda sekarang, tapi akan meretakkan kubah utama dalam sepuluh tahun ke depan. Apakah Anda siap bertanggung jawab atas runtuhnya mahkota ilmu pengetahuan bangsa ini?"

Suasana sidang menjadi hening. Argumen teknis Raka yang didasarkan pada intuisi dan pengalaman puluhan tahun membuat para ahli muda itu terdiam.

Di tengah ketidakpastian itu, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Ribuan mahasiswa dan warga Jakarta berkumpul di halaman perpustakaan. Mereka tidak berteriak atau berdemo secara anarkis. Mereka duduk diam sambil membawa buku masing-masing. Mereka melakukan "Baca Bersama Nasional".

Pemandangan ini terekam oleh ribuan kamera dan disiarkan ke seluruh dunia. Dunia melihat bahwa di tengah modernitas yang dingin, Jakarta masih memiliki hati yang mencintai buku.

Gubernur akhirnya luluh. Tekanan publik dan argumen tak terbantahkan dari Raka memaksa pemerintah memindahkan jalur transportasi bawah tanah tiga ratus meter menjauh dari area perpustakaan.

Malam setelah pengumuman pembatalan pembongkaran, Raka dan Alana berdiri di bawah kubah kaca utama. Cahaya lampu kota menembus kaca, menciptakan pola bayangan yang indah di lantai.

"Kita masih punya taji, ya?" canda Raka sambil merangkul pundak Alana.

"Kita bukan hanya membela gedung, Raka. Kita membela rumah kita," jawab Alana pelan.

Maudy dan Satria mendekat, membawakan kabar bahwa Perpustakaan Nasional akan mendapatkan dana restorasi penuh untuk meningkatkan fasilitas digitalnya tanpa mengubah strukturnya. Arka menyusul, ia tampak sibuk mengatur sensor-sensor barunya yang akan memastikan gedung itu bisa "berbicara" lebih baik kepada pengelolanya.

Alana membuka buku catatannya buku yang permukaannya sudah halus karena sering dipegang. Di bawah cahaya remang-remang perpustakaan, ia menuliskan baris untuk Bab 33:

"Mereka mengira usia membuat kita rapuh, dan modernitas membuat kita tidak relevan. Namun hari ini kita membuktikan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh algoritma: Integritas, Kenangan, dan Cinta. Raka membangun dinding ini dengan doa, dan aku menjaganya dengan kata-kata. Selama masih ada satu orang yang membuka buku di bawah kubah ini, perjuangan kita belum selesai."

Raka dan Alana yang berjalan keluar dari perpustakaan, bergandengan tangan, meninggalkan gedung yang kini bersinar lebih terang dari sebelumnya. Perjalanan mereka memang belum tamat, karena setiap tantangan baru hanyalah cara dunia untuk menguji seberapa kuat fondasi yang telah mereka bangun.

1
🌹Widian,🧕🧕🌹
ini ada alinea yang berulang ya kak ?
Bunga
penggambaran keadaan n hati Alana seperti aku di masa kuliah
jadi nostalgia😍
Bunga
lanjut Thor
cerita yang bagus
🌷tinull💞
semangat terus Thor, terus berkarya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!