Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia yang memilih melawan aturan
Angin masuk menerobos jendela kamar rumah sakit di mana Kirana di rawat,
Tapi kali ini tidak lembut.
Seperti sesuatu yang dipaksa masuk.
Tirai bergetar keras, meski tidak ada angin dari luar.
Kirana langsung sadar.
Napasnya tertahan.
“…Li Wei?” sangat lembut bisik Kirana
Tidak ada jawaban di awal.
Hanya suara kecil
seperti kaca yang retak sangat pelan di udara.
Lalu…
sosok itu muncul.
Lebih utuh dari sebelumnya.
Bukan bayangan.
Bukan siluet setengah jadi.
Ini hampir manusia.
Hampir nyata.
Kirana mundur setengah langkah tanpa sadar, ia mulai kebingungan,
“Tidak… ini tidak seperti biasanya…”
Matanya gemetar.
Karena kali ini, dunia di sekitarnya tidak stabil.
Lampu berkedip - kedip terus menerus
Udara terasa berat menusuk ,angin berhembus kencang ,
Seperti realitas sedang “dipaksa” menahan sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Tiba - tiba sosok itu muncul ,LI Wei berdiri di sana pas di depan sana.
Dan untuk pertama kalinya
dia tidak langsung memudar.
Kirana berbisik pelan:
“Kamu… tidak seharusnya bisa lama begini…”
Li Wei menatapnya.
Matanya jelas.
Terlalu jelas.
Dan itu justru terasa salah.
“…aku tahu,” katanya pelan lirih penuh makna
Suara itu lebih stabil dari sebelumnya.
Lebih “hidup”.
Kirana menegang.
“Kalau kamu tahu… kenapa kamu masih di sini?”
Li Wei tidak langsung menjawab.
Dia menatap tangannya sendiri.
Seolah sedang memastikan sesuatu.
Lalu
dia melangkah.
Satu langkah kecil.
Dan dunia bereaksi.
Udara di sekitarnya bergetar.
Lampu di ruangan meredup sesaat.
Seperti sistem yang menolak keberadaannya.
Kirana mundur lagi.
“Berhenti… kalau kamu terus begini kamu akan”
Li Wei memotong.
“hilang?”
Hening.
Dia tersenyum kecil.
Bukan senyum bahagia.
Tapi senyum seseorang yang sudah menerima konsekuensinya.
“…aku sudah hilang, Kirana.”
Kirana membeku.
Li Wei melanjutkan, pelan tapi tegas:
“Aku hanya sedang mencuri waktu dari sesuatu yang tidak mengizinkanku kembali tapi aku masih ingin melihatmu di sini ".
Udara berubah lebih berat.
Seperti ada sesuatu yang mulai “menarik” dirinya keluar dari dunia ini.
Tapi Li Wei tidak mundur.
Justru dia mendekat.
Satu langkah lagi.
Dan kali ini
tangannya mulai terlihat lebih nyata.
Lebih stabil.
Kirana refleks mengangkat tangan.
“Jangan… jangan mendekat lagi…”
Suaranya bergetar, air mata Kirana mulai jatuh matanya mulai memerah karena menahan tangis,
Bukan karena takut.
Tapi karena tahu ini akan menyakitkan.
Li Wei berhenti tepat di depannya.
Jarak mereka sangat dekat.
Terlalu dekat.
Dan untuk pertama kalinya
dia tidak menghilang.
Dia benar-benar ada di sana.
Li Wei berkata pelan:
“Kalau aku mengikuti aturan…”
“Aku tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi.”
Diam.
Kirana menahan napas.
“…jadi kamu melawan aturan itu?”
Li Wei mengangguk.
Pelan.
Dan di detik itu
retakan muncul di udara.
Bukan di dunia.
Tapi di “keberadaan” Li Wei sendiri.
Seperti sesuatu sedang menghukum keberaniannya.
Kirana langsung panik.
“Li Wei tubuhmu!”
Namun Li Wei tidak mundur.
Dia malah mengangkat tangannya.
Dan untuk pertama kalinya
dia membelai rambut Kirana.
Nyata.
Hangat.
Stabil.
Kirana membeku total.
Air matanya langsung jatuh tanpa izin.
“…kamu…”
Li Wei berbisik sangat pelan:
“Aku tidak punya banyak waktu.”
Tangannya sedikit bergetar.
Tapi tidak dilepas.
Seolah dia menolak untuk mengikuti sistem yang mencoba menariknya kembali.
“Kalau aku tetap mengikuti aturan itu…”
“…aku hanya akan jadi sesuatu yang tidak pernah sampai padamu.”
Kirana menatapnya, hancur.
“Ini menyakitkan…”
Li Wei tersenyum kecil.
“Iya.”
Diam sebentar.
Lalu dia menambahkan:
“Tapi lebih sakit kalau aku hanya jadi ‘sebentar’ selamanya.”
Dan saat itu
dunia mulai menariknya lebih kuat.
Udara di sekitarnya pecah seperti tekanan yang tidak bisa ditahan, angin berhembus sangat kencang dari luar seolah memaksa Li Wei untuk keluar .
Tangan Li Wei mulai memudar lagi.
Kirana panik.
“Tidak !!!!!!! jangan pergi lagi!”
Li Wei tetap menatapnya.
Dan kali ini, suaranya hampir seperti bisikan terakhir:
“Kalau aku hilang lagi…”
“jangan berhenti percaya aku akan tetap sampai di sini lagi .”
Lalu
genggaman itu menghilang.
Bukan cepat.
Tapi perlahan.
Seperti cahaya yang dipadamkan dengan tangan yang berat.
Dan sebelum benar-benar hilang…
jari Li Wei sempat menyentuh ujung jari Kirana sekali lagi.
Hangat.
Satu detik.
Cukup.
Sunyi.
Tirai berhenti bergerak.
Lampu kembali normal.
Dunia “menyembuhkan dirinya sendiri”.
Kirana berdiri diam.
Tangannya masih di udara.
Gemetar.
Tapi kali ini
dia tidak hanya kehilangan.
Dia juga mendapatkan sesuatu yang baru.
Bukti.
Bahwa Li Wei tidak hanya “muncul”.
Dia memilih untuk melawan agar bisa sampai kepadanya.