NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lanjutan

PUKUL 00:50. LORONG ICU, RUMAH SAKIT

Pak Cang merasakannya sebelum yang lain.

Udara di lorong berubah. Lebih hangat. Lebih hidup. Seperti ada yang baru saja dinyalakan di dalam ruangan itu.

"Dia sudah bersatu," bisiknya. "Mei sudah bersatu dengan Kirana."

Wei menatapnya. "Maksud Bapak?"

"Kirana bukan cuma Kirana sekarang. Dia Kirana dan Mei. Dua jiwa dalam satu tubuh. Kunci yang utuh." Pak Cang berhenti sejenak, matanya menatap pintu ICU. "Tapi jadi satu saja tidak cukup."

Risa mengerutkan kening. "Maksud Bapak?"

Pak Cang menoleh ke mereka. Wajahnya serius. Lebih serius dari sebelumnya.

"Kalian pikir pohon beringin itu cuma satu?"

Wei dan Risa saling pandang.

"Pohon beringin tempat Li Wei digantung... itu di sini. Di Taiwan. Di pegunungan dekat Taichung. Aku sudah ke sana. Aku sudah lihat dengan mata sendiri." Pak Cang menarik napas panjang. "Tapi itu bukan satu-satunya pohon. Itu hanya... cabang."

"Cabang?" Wei tidak mengerti.

"Pohon beringin itu punya dua tubuh. Satu di Taiwan. Satu di Indonesia. Di desa keluarga Kirana. Ditanam dari akar yang sama, lebih dari dua ratus tahun yang lalu. Dipisahkan oleh laut, tapi terhubung oleh sesuatu yang lebih tua dari tanah itu sendiri."

Pak Cang menatap mereka bergantian.

"Li Wei digantung di pohon yang di Taiwan. Di sanalah dia menjadi penjaga. Di sanalah dia menahan pintu agar tidak terbuka sepenuhnya. Tapi pintu yang sebenarnya... pintu utama... ada di Indonesia. Di desa Sukamaju. Di bawah pohon beringin yang satunya."

Risa menelan ludah. "Jadi... pintunya ada dua?"

"Tidak." Pak Cang menggeleng. "Pintunya satu. Tapi dia punya dua sisi. Seperti koin. Sisi Taiwan adalah tempat keluarnya. Sisi Indonesia adalah tempat masuknya. Selama ini Li Wei menjaga sisi Taiwan. Menahan apa pun yang mencoba keluar. Tapi dia tidak bisa menutup pintu itu sendirian. Karena untuk menutupnya... kuncinya harus menyentuh kedua sisi."

Wei mulai mengerti. "Kirana harus ke dua pohon itu."

Pak Cang mengangguk. "Pertama, dia harus ke pohon di Taiwan. Menghadapi Li Wei. Menyatukan jiwanya dengan Mei. Itu yang baru saja terjadi." Dia menatap pintu ICU. "Tapi itu baru setengah perjalanan. Dia masih harus ke Indonesia. Ke pohon yang satunya. Ke pintu utama. Dan di sana..."

Pak Cang berhenti.

"Di sana apa, Pak?" Risa mendesak.

Pak Cang menatapnya. Matanya tua dan lelah.

"Di sana... dia harus menghadapi apa yang ada di balik pintu itu. Sendirian. Karena hanya kunci yang bisa masuk. Hanya kunci yang bisa menutupnya dari dalam."

Lorong hening.

Wei mengepalkan tangannya. "Nggak bisa. Kirana nggak mungkin sendirian. Dia baru saja sadar dari koma. Dia masih lemah. Dia"

"Dia bukan Kirana yang dulu lagi." Pak Cang memotong, suaranya tenang tapi tegas. "Dia Kirana dan Mei. Dia kunci. Dan kunci tidak punya pilihan. Kalau dia tidak menutup pintu itu... apa yang ada di dalamnya akan keluar. Dan kalau itu terjadi, bukan cuma Kirana yang mati. Tapi semua yang ada di sekitarnya."

Dokter Lin, yang selama ini diam mendengarkan percakapan dalam bahasa Indonesia yang tidak sepenuhnya dia mengerti, akhirnya bersuara. "Saya tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Tapi pasien saya di dalam sana baru saja mengalami serangan jantung. Dia perlu istirahat. Dia tidak ke mana-mana."

Pak Cang menoleh ke Dokter Lin. Matanya tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Dokter Lin mundur selangkah.

"Dokter," kata Pak Cang pelan, dalam bahasa Mandarin yang fasih. "Saya menghormati pekerjaan Anda. Tapi apa yang terjadi pada gadis di dalam sana... bukan urusan medis. Ini urusan yang sudah ada sebelum rumah sakit ini dibangun. Sebelum kota ini ada."

Dokter Lin ingin membantah. Tapi kata-katanya tersangkut.

"Besok pagi," lanjut Pak Cang, "dia akan pulang. Bukan karena saya yang menyuruh. Tapi karena dia sendiri yang akan memintanya. Dan Anda akan mengizinkannya. Karena Anda tahu... tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk menghentikannya."

PUKUL 06:17. PAGI. POHON BERINGIN TUA, PEGUNUNGAN TAICHUNG.

Matahari belum sepenuhnya terbit.

Di lereng gunung yang berkabut, jauh dari hiruk-pikuk kota Taichung, sebuah pohon beringin tua berdiri. Batangnya besar, akarnya menjalar ke mana-mana seperti ular raksasa yang membeku. Pohon ini tidak ada di peta wisata. Tidak ada di buku sejarah resmi. Hanya penduduk lokal yang tahu keberadaannya dan Kirana yang melihat ini di mimpinya.

Di bawah pohon itu, tiga orang berdiri.

Kirana. Wei. Risa.

Mereka keluar dari rumah sakit pukul empat pagi. Diam-diam. Tanpa izin resmi. Dokter Lin melihat mereka pergi, tapi dia tidak menghentikan. Dia hanya berdiri di jendela lorong, menatap mereka menghilang ke dalam gelap, dan bergumam pelan: "Semoga kalian selamat."

Pak Cang memandu mereka ke sini. Dia tahu jalannya. Dia sudah beberapa kali ke pohon ini mencari jawaban, mencari petunjuk, mencari cara untuk membantu. Tapi dia tidak pernah masuk terlalu dekat. Karena pohon ini bukan untuknya.

Ini untuk Kirana.

Kirana berdiri di depan pohon beringin. Napasnya membentuk uap tipis di udara pagi yang dingin. Tubuhnya masih lemah, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda. Sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Ketenangan. Kepastian.

Dia menatap pohon itu.

Dan pohon itu... menatapnya balik.

Bukan dengan mata. Tapi dengan sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang bergetar di udara, di tanah, di akar-akar yang menjalar di bawah kakinya.

"Li Wei," bisik Kirana.

Angin berhembus. Dedaunan bergesekan. Dan di bawah salah satu cabang terbesar.

Sesosok muncul.

Li Wei.

Masih dengan jubah pengantin merahnya yang lusuh. Masih dengan kepala miring ke kiri. Masih dengan bekas jeratan di lehernya yang gelap dan mengelupas.

Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Di tangannya, tidak ada amplop merah.

Amplop itu sudah terbuka. Isinya sobekan kain dengan tulisan darah sudah dibaca Kirana. Sudah memenuhi tujuannya.

Sekarang, Li Wei menatap Kirana dengan rongga matanya yang kosong. Dan entah bagaimana, Kirana bisa melihat kelegaan di dalamnya.

"Kau datang," suara Li Wei berbisik di kepalanya.

Kirana mengangguk. "Aku datang."

Dia melangkah maju. Wei ingin menahannya, tapi Pak Cang memegang lengannya. Menggeleng.

"Biarkan dia. Ini urusannya."

Kirana berhenti tepat di depan Li Wei. Begitu dekat sehingga dia bisa melihat detail jubahnya benang emas yang kusam, noda-noda gelap bekas darah dan tanah, dan lipatan-lipatan kain yang tidak lagi rapi setelah lebih dari seratus tahun.

Dia mengangkat tangannya. Menyentuh wajah Li Wei.

Dingin. Tapi tidak sedingin yang dia kira.

"Terima kasih," bisik Kirana. "Sudah menjaganya. Sudah menungguku."

Li Wei tidak menjawab. Tapi tangannya tangan yang sama yang memegang amplop merah selama lebih dari seratus tahun terangkat. Menyentuh tangan Kirana yang menempel di wajahnya.

"Ini belum selesai," suaranya berbisik. "Pohon ini... hanya separuh. Separuh yang lain ada di desamu tempat kamu di lahirkan Di Indonesia. Di sanalah pintu utama berada."

Kirana mengangguk. "Aku tahu. Pak Cang sudah bilang."

"Dan kau tahu apa yang harus kau lakukan?"

Kirana diam sejenak. Lalu mengangguk lagi. "Aku harus masuk. Ke dalam pintu itu. Dari sisi tempat aku di lahirkan. Dan menutupnya dari dalam."

"Kau tidak akan sendiri."

Kirana menatapnya, bingung.

Li Wei menunjuk dadanya sendiri. "Aku akan ikut denganmu. Bukan sebagai penjaga lagi. Tapi sebagai... penunjuk arah. Aku tahu jalan di dalam sana. Aku sudah melihatnya. Seratus dua puluh tiga tahun aku berdiri di depan pintu ini... aku melihat apa yang ada di baliknya."

"Kenapa kau nggak masuk saja? Kenapa nggak kau tutup sendiri?"

Li Wei diam. Lama.

Lalu suaranya datang lagi, lebih pelan. Lebih getir.

"Karena aku bukan kuncinya. Aku hanya penjaga. Aku bisa menahan, tapi tidak bisa menutup. Hanya kau yang bisa. Hanya Mei."

Kirana menelan ludah. "Apa yang ada di balik pintu itu, Wei? Apa yang selama ini kau tahan?"

Li Wei menatapnya. Rongga matanya yang kosong entah bagaimana terlihat lebih gelap.

"Sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada di dunia ini. Sesuatu yang dipanggil oleh leluhurmu... dan leluhur keluarga yang membunuhku. Mereka bekerja sama dulu. Membuka pintu itu. Memanggil sesuatu. Tapi sesuatu itu tidak bisa dikendalikan. Jadi mereka menguncinya. Mengorbankan aku sebagai penjaga. Dan mengikat keluargamu sebagai kuncinya."

Kirana merasakan darahnya dingin. "Leluhurku... ikut membuka pintu itu?"

"Ya. Mereka semua. Keluargamu. Keluarga mempelai wanita. Mereka sama-sama ingin kekuasaan. Tapi mereka takut pada apa yang mereka panggil. Jadi mereka menguncinya. Dan mengorbankan aku."

Kirana mengepalkan tangannya. Kemarahan mulai tumbuh di dadanya. Tapi dia menahannya. Sekarang bukan waktunya marah. Sekarang waktunya menyelesaikan ini.

"Aku akan tutup pintu itu," katanya, suaranya mantap. "Buat selamanya. Tapi aku butuh bantuanmu. Tunjukin jalannya."

Li Wei mengangguk. "Aku akan menunjukkannya. Tapi ingat... begitu kau masuk, kau tidak bisa keluar sebelum pintu itu tertutup. Dan menutupnya... ada harganya."

"Harga apa?"

Li Wei tidak menjawab.

Tapi Kirana bisa merasakannya. Di udara. Di tanah. Di akar-akar pohon beringin yang bergetar di bawah kakinya.

Harganya adalah... dia sendiri.

PUKUL 09:42. BANDARA INTERNASIONAL TAOYUAN, TAIWAN.

Pesawat Garuda Indonesia GA 853 siap lepas landas.

Kirana duduk di kursi dekat jendela. Wei di sebelahnya. Risa di seberang lorong. Pak Cang di belakang mereka.

Tapi ada satu penumpang tambahan yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Li Wei.

Berdiri di lorong pesawat. Tidak bergerak. Hanya menatap ke depan. Ke arah selatan. Ke arah Indonesia. Ke arah pohon beringin kedua. Ke arah pintu utama.

Kirana menatap ke luar jendela. Taiwan semakin mengecil di bawah sana.

"Kita akan ke dua pohon," bisiknya. "Pohon di sini sudah kita datangi. Tinggal pohon di desa."

Wei menggenggam tangannya. "Gue ikut."

"Gue juga," kata Risa dari seberang.

Pak Cang, dari belakang, menambahkan: "Saya akan menemani. Sampai akhir."

Kirana menoleh ke mereka. Teman-temannya. Keluarga yang dia pilih sendiri.

Air matanya jatuh. "Kalian nggak harus",

"Kita udah jauh," potong Wei. "Dari sini. Dari ritual" itu kami ingin kamu balik seperti Kirana yang kita kenal. Dari amplop merah itu. Gue nggak akan ninggalin kamu sendirian."

Risa mengangguk. "Kita bertiga. Sampai selesai."

Kirana tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menggenggam tangan Wei lebih erat.

Dan di lorong pesawat, Li Wei menoleh.

Menatap mereka bertiga.

Lalu untuk pertama kalinya dalam lebih dari seratus tahun sesuatu muncul di wajahnya yang mati.

Bukan senyuman. Wajahnya tidak bisa lagi tersenyum.

Tapi ada kehangatan di sana.

Kehangatan karena akhirnya... dia tidak sendiri lagi.

1
no more dreams
bagus thor
no more dreams
lanjut thor
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CInga@🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!