NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suara tetesan darah kental yang jatuh dari pilar batu menjadi satu-satunya melodi di aula bawah tanah yang mencekam itu. Tiga mayat tanpa nyawa tergeletak di bawah merah, sementara bau anyir menguar menyengat menyengat hidung.

Di tengah lautan kematian itu, Jiang Xuan berdiri dengan postur santai. Napasnya teratur, tanpa sedikit pun tanda kelelahan setelah mengeksekusi tiga murid tahap lima Kondensasi Qi dengan tangan kosong. Mata yang segelap jurang menatap lurus ke sudut ruangan.

Lin Ruoxue masih berdiri bersandar di dinding yang basah. Tubuhnya bergetar hebat, bukan karena ketakutan, melainkan karena hawa dingin es yang mulai lepas kendali di dalam meridiannya. Namun, alih-alih menjatuhkan gadis itu sendiri dan berterima kasih kepada penyelamatnya, itu justru terkulai dengan susah payah. Tangan memahami yang gemetar memungut sebuah pecahan batu tajam dari lantai, lalu menodongkannya lurus ke arah Jiang Xuan.

"Jangan melangkah lebih dekat," desis Lin Ruoxue. Suaranya serak, tajam, dan dipenuhi ketakutan seekor serigala betina yang terpojok. mengalir dari sudut darah, namun matanya memancarkan permusuhan absolut. Di matanya, Jiang Xuan bukanlah dewa penolong, melainkan predator yang jauh lebih mematikan dan mengerikan daripada tiga bajingan senior tadi.

Melihat batu tajam yang mengarah ke sana, langkah Jiang Xuan berhenti. Keheningan berlangsung selama dua tarikan napas, sebelum akhirnya sebuah tawa pelan yang sangat kering dan meremehkan meluncur dari bibir.

"Hah... hahaha."

Tawa Jiang Xuan tidak mengandung sedikit pun kehangatan. Tawa itu murni rasional.

"Kau pikir sepotong batu kerikil itu bisa melindungimu dariku?" ucap Jiang Xuan datar, menghilangkan sisa tawanya seketika. "Tiga senior tahap lima mati di terima dalam sepuluh detik. Kau hanya berada di tahap dua Kondensasi Qi, dengan meridian yang nyaris hancur. Jika aku menginginkan nyawamu, atau tubuhmu, kau sudah menjadi potongan daging sejak tadi."

Lin Ruoxue tidak menurunkan batunya satu milimeter pun. "Apa maumu? Tidak ada seorang pun di Sekte Awan Azure yang membunuh tanpa alasan. Kau sama busuknya dengan mereka."

"Pragmatis. Aku suka itu," Jiang Xuan mengangguk pelan, matanya berbinar penuh perhitungan. Ia melangkah satu tindak ke depan. "Kau tidak membutuhkan alasan moral dariku, karena aku memang tidak memilikinya. Aku datang ke sini karena aku melihat nilaimu. Tapi saat ini, kau sedang bernafas."

Jiang Xuan menunjuk ke arah dada Lin Ruoxue menggunakan dagunya.

"Akar elemen spiritual adalah milikmu bermutasi, tetapi wadah fisikmu terlalu sampah untuk menahannya. Kau baru saja mencoba membekukan aliran Qi untuk mengumpulkan meridianmu sendiri, kan? Mengirimkannya memang batal, tetapi serangan baliknya telah terjadi. Hawa beku itu sedang membekukan organ dalammu saat kita bicara. Dalam hitungan tiga menit, jantungmu akan membeku dan hancur seperti kaca murahan."

Wajah Lin Ruoxue memucat. Ia tahu Jiang Xuan mengatakan kebenaran absolut. Rasa dingin yang mematikan mulai merambat dari dantiannya, membuat jari-jarinya mati rasa.

"Aku bisa menghentikan serangan balik itu. Aku bisa menyembuhkan meridianmu," tawar Jiang Xuan, suaranya berubah menjadi nada bisnis yang sangat dingin. "Sebagai gantinya, kau akan menandatangani Kontrak Jiwa denganku. Selama kita berada di dalam Reruntuhan Kuno ini, kau akan menjadi pedangku. Kau akan membantai siluman di depanku, menjadi tamengku, dan mematuhi perintah mutlakku. Nyawamu sebagai ganti kesetiaan absolut."

Mata Lin Ruoxue membelalak. Cengkeramannya pada batu tajam itu menguat hingga buku-buku jarinya memutih. Menjadi pelayan mutlak yang terikat oleh jiwanya sendiri? Itu sama saja menyerahkan kebebasannya kepada iblis.

"Cuih!"

Lin Ruoxue meludah, memuntahkan gumpalan darah merah gelap bercampur serpihan es ke atas lantai batu, tepat di depan sepatu Jiang Xuan.

"Lebih baik aku mati membeku hingga jiwaku hancur, daripada menjadi anjing peliharaan dan budak dari bajingan sekte sepertimu!" raungnya dengan sisa tenaga terakhir.

"Begitukah?" Jiang Xuan memiringkan kepalanya. Wajahnya sama sekali tidak tersinggung oleh penolakan keras itu. "Sayangnya, takdirmu tidak lagi berada di tanganmu sendiri."

Tepat setelah Jiang Xuan mengucapkan kalimat itu, batas fisik Lin Ruoxue akhirnya runtuh.

Serangan balik Qi es meledak di dalam tubuhnya. Lapisan bunga es tipis merambat cepat dari leher hingga ke pipinya. Mata Lin Ruoxue berputar ke belakang. Batu tajam itu terlepas dari genggamannya, jatuh berdenting ke lantai, disusul oleh tubuhnya yang ambruk sepenuhnya. Ia jatuh telentang di atas genangan darah, tubuhnya kejang-kejang ringan karena syok hipotermia ekstrem.

Jiang Xuan melangkah maju mendekati tubuh yang terkapar itu. Ia tidak memiliki simpati atas prinsip dan kebanggaan gadis itu. Dalam dunia yang menelan yang lemah, menolak bantuan untuk bertahan hidup adalah kebodohan paling murni.

"Pilihanmu tidak relevan," gumam Jiang Xuan kejam.

Ia berjongkok di samping tubuh murid gempal yang isi perutnya telah terburai. Tanpa rasa jijik, Jiang Xuan mencelupkan jari telunjuk dan jari tengah kanannya ke dalam genangan darah segar yang paling pekat.

Ia kemudian berpindah, berlutut tepat di samping kepala Lin Ruoxue. Tangan kirinya menjambak rambut Lin Ruoxue, memaksa kepala gadis yang sedang kejang itu mendongak, sementara tangan kanannya yang berlumuran darah bersiap di atas dahi sang gadis.

Dalam kondisi setengah sadar, Lin Ruoxue merasakan hawa kematian mendekat. Ia mengerang, kedua tangannya yang membeku berusaha mendorong dada Jiang Xuan dengan lemah. "T-tidak... lepaskan..."

"Diam, dan terima segel ini," perintah Jiang Xuan dingin.

Dua jari berdarah Jiang Xuan menusuk ke dahi Lin Ruoxue.

SRET! SRET! SRET!

Jiang Xuan menggunakan Void Calligraphy tingkat lanjut, memadatkan Niat Formasi dan Niat Membunuhnya langsung ke dalam goresan darah tersebut. Darah segar itu tidak mengalir turun, melainkan membakar kulit dahi Lin Ruoxue, bersinar dengan cahaya merah gelap yang mengerikan. Ini adalah Array Pengikat Jiwa—sebuah segel kuno yang mutlak dan tidak bisa dibantah.

Goresan demi goresan mengukir pola teratai hitam berduri di kulit gadis itu. Lin Ruoxue menjerit tertahan, tubuhnya melengkung menahan rasa sakit saat jiwanya dipaksa menerima rantai tak kasat mata dari sang Cendekiawan Tinta Hantu.

Tepat saat Jiang Xuan bersiap menggoreskan garis terakhir untuk menyempurnakan segel tersebut, suasana epik dan mencekam yang dipenuhi dominasi maut itu tiba-tiba dihancurkan berkeping-keping.

KRUCUK!

Suara perut keroncongan yang sangat nyaring bergema.

Dari balik kerah jubah Jiang Xuan yang sedikit terbuka karena posisinya yang menunduk, sebuah gumpalan bulu putih melesat keluar bagaikan meriam kecil.

"Kyuuu!"

Baozi melompat penuh semangat ke udara. Hidung mungilnya telah mencium aroma darah dan sisa energi Qi tahap lima dari mayat murid gempal yang tergeletak hanya selangkah dari Jiang Xuan. Mengira isi perut yang terburai itu adalah hidangan prasmanan, Baozi mendarat tepat di atas dada mayat tersebut, membuka mulut kecilnya lebar-lebar, dan bersiap menggigit lengan buntung sang mayat.

Urat hijau di pelipis Jiang Xuan langsung menonjol seukuran cacing tanah. Fokus Niat Formasinya nyaris buyar akibat gangguan absurd tersebut.

"Bola bulu keparat! Kau mau memakan daging busuk manusia?!" raung Jiang Xuan, rasa jengkel yang luar biasa meledak dari dadanya, menghancurkan aura dingin dan misteriusnya seketika.

Tanpa ragu sedetik pun, Jiang Xuan melepaskan jambakannya pada rambut Lin Ruoxue, memutar pinggangnya, dan menendang Baozi tepat di perut bulatnya sekuat tenaga layaknya menendang bola kulit.

BAM!

"Kyuuu~?"

Baozi terlempar melintasi aula, memantul dua kali di langit-langit batu, sebelum akhirnya mendarat di sudut ruangan dan menggelinding masuk ke dalam tengkorak kosong milik siluman kelelawar. Makhluk itu terjebak di dalam sana, kakinya menendang-nendang udara dengan kebingungan.

Jiang Xuan menarik napas panjang, menekan amarahnya dengan susah payah. Ia mengusap wajahnya yang terpercik sedikit darah, lalu menoleh kembali ke arah Lin Ruoxue yang masih terkapar.

Suasana tegang telah sepenuhnya rusak, namun Jiang Xuan adalah sosok yang pragmatis. Ia tidak butuh teater, ia hanya butuh hasil.

Ia kembali memusatkan Niat Formasinya, menekan kembali jari berdarahnya ke dahi Lin Ruoxue, dan menyelesaikan goresan terakhir.

BZZZT!

Cahaya merah dari pola teratai hitam di dahi Lin Ruoxue menyala terang, lalu meresap sepenuhnya ke dalam kulitnya, menyisakan sebuah tanda samar yang menghilang. Kontrak Jiwa telah terhubung. Di dalam lautan kesadaran Jiang Xuan, ia kini bisa merasakan denyut kehidupan gadis itu dan memiliki kendali mutlak atas hidup dan matinya.

Segel itu juga bertindak sebagai saluran. Jiang Xuan mengalirkan Niat Formasinya ke dalam tubuh Lin Ruoxue, memaksa hawa es yang mengamuk di meridian gadis itu untuk tunduk dan kembali ke dantiannya.

Napas Lin Ruoxue yang tadinya putus-putus kini menjadi teratur. Bunga es di kulitnya mencair. Rasa sakitnya menghilang, namun kelelahannya mengambil alih. Mata gadis itu tertutup rapat, dan ia jatuh pingsan sepenuhnya di atas lantai batu yang kotor.

Jiang Xuan berdiri perlahan. Ia menatap gadis yang tertidur itu tanpa ada nafsu atau belas kasih sedikit pun. Di matanya, Lin Ruoxue hanyalah sebuah senjata kelas atas yang baru saja ia perbaiki dari bengkel pandai besi.

Ia berjongkok di dekatnya lagi. Dengan gerakan kasar dan murni, Jiang Xuan merobek lengan jubah abu-abu Lin Ruoxue hingga ke bahu, memperlihatkan luka cakaran yang sangat dalam. Dagingnya terkoyak, nyaris menyentuh tulang.

Jiang Xuan merogoh kantong penyimpanan milik salah satu murid senior yang baru ia bunuh. Ia mengeluarkan tawaran bubuk obat penyembuh luka tingkat rendah. Tanpa kelembutan sama sekali, ia menuangkan bubuk perih itu langsung ke atas luka terbuka Lin Ruoxue.

Tubuh gadis yang pingsan itu tersentak pelan karena rasa perih yang terbakar, namun Jiang Xuan mengabaikannya. Ia menggunakan jubahkan kain jubah tadi untuk membalut bahu Lin Ruoxue dengan ikatan yang sangat ketat, memastikan pendarahannya berhenti secara fungsional.

"Senjata tidak boleh berkarat sebelum digunakan," gumam Jiang Xuan datar. Ia menampar pipi Lin Ruoxue dengan keras beberapa kali untuk membangunkan aset barunya. Reruntuhan Kuno tidak akan menunggu tidur mereka. Perburuan yang sesungguhnya baru akan dimulai.

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
serasa gigitan nyamuk, kata na 😱
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Teteh Lia: makasih penjelasan na, kak. maaf saya banyak tanya.
saya kurang paham cerita genre seperti ini.
total 5 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!