Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU ITU TIDAK ELEGAN
BAB 27 — CEMBURU ITU TIDAK ELEGAN
Pagi itu setelah hujan deras semalam, udara terasa sangat sejuk dan segar.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Indonesia, Keisha bangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Tidak banyak amarah.
Tidak terlalu panik.
Dan yang paling mengejutkan...
Ia sempat teringat akan kalimat yang diucapkan Arsen semalam.
"Karena cuma kamu yang bisa membuatku takut kehilangan."
Sangat menyebalkan sekali kenapa kalimat itu terus berputar di kepalanya dan tidak mau hilang.
Di dapur, ibunya sedang sibuk menyiapkan sarapan.
“Kamu senyum-senyum sendiri dari tadi nih,” goda ibunya sambil memotong buah.
Keisha langsung memasang wajah datar secepat kilat.
“Enggak. Masa.”
“Bohong. Mata itu bersinar tau.”
Ibunya meletakkan piring di meja dengan lembut.
“Sha... kadang kan orang datang terlambat, tapi bukan berarti dia datangnya salah atau bukan jodohnya.”
Keisha terdiam mendengarnya.
Ia tahu persis siapa yang dimaksud oleh ibunya.
“Aku belum lupa semuanya, Bu. Luka itu masih ada.”
“Tidak harus lupa kok. Tapi coba pelan-pelan lihat apa yang ada di depan mata sekarang. Lihat usahanya.”
Kalimat itu terus menempel di kepala Keisha sepanjang pagi.
Hari ini studio desain punya jadwal penting: presentasi proyek dengan klien baru.
Keisha berdandan rapi. Ia mengenakan blouse putih bersih dipadukan rok panjang warna cokelat susu, rambutnya dibiarkan tergerai alami menambah kesan profesional namun tetap cantik.
Saat ia turun tangga, Leo yang sedang main mobil-mobilan langsung bersiul asal.
“Wah... Mama cantik banget hari ini!”
Keisha tertawa lebar dan mencubit pipi anak itu gemas.
“Makasih ya sayang.”
Ayahnya yang duduk di sofa juga mengangguk setuju. “Iya, cantik.”
Tiba-tiba suara berat yang sangat dikenalnya terdengar dari arah pintu depan.
“Aku setuju.”
Keisha menoleh cepat.
Arsen bersandar santai di kusen pintu, mengenakan kemeja hitam yang membuat kulitnya tampak lebih putih, dan celana bahan warna gelap yang sangat rapi. Tatapannya jelas sekali sedang menikmati pemandangan di hadapannya.
“Kamu ngapain di sini pagi-pagi sekali?!”
“Jemput Leo sekolah.”
“Leo kan libur hari ini, tahu banget!”
“Aku tahu.”
“Terus ngapain?!”
Pria itu tersenyum tipis, tatapannya lembut namun nakal.
“Aku cuma mau lihat kamu sebelum berangkat.”
Keisha menatap kosong.
Pria ini memang benar-benar tidak tahu malu dan tidak tahu cara menyerah.
Di studio desain, suasana sangat sibuk dan penuh semangat.
Klien datang, presentasi dimulai, dan semua berjalan sangat lancar.
Keisha menjelaskan konsep desainnya dengan penuh percaya diri, matanya berbinar cerah saat bicara soal hal yang ia sukai.
Rio beberapa kali membantunya menjelaskan detail teknis yang rumit.
Nadia memberi kode jempol dari belakang layar memberi semangat.
Setelah presentasi usai, klien tampak sangat puas dan senang.
“Bagus sekali. Tim kalian solid dan kreatif.”
Rio tersenyum bangga ke arah Keisha.
“Khususnya Keisha. Dia yang paling banyak bekerja dan idenya sangat kuat.”
Keisha tersenyum sopan dan mengucapkan terima kasih.
Saat semua orang mulai bubar, Rio mendekat membawa dua gelas kopi.
“Nah, ini buat rayain deal hari ini. Coffee?” tawarnya ramah.
Keisha ragu sejenak, sebenarnya ia ingin menerima sebagai bentuk profesionalitas.
Namun sebelum tangan nya sempat menyentuh gelas itu, sebuah suara berat dan dingin muncul tepat dari belakang mereka.
“Dia tidak minum kopi sore. Lambungnya sensitif.”
Keisha langsung memejamkan mata.
Bukan lagi merasa kaget.
Lebih ke arah pasrah total. Pria itu memang ada di mana-mana.
Rio menoleh dan tampak menahan napas sedikit melihat aura Arsen yang mengintimidasi.
Arsen berdiri di sana dengan gaya seolah-olah dia pemilik gedung itu.
“Kamu ngikutin aku sekarang ya?!” tanya Keisha tajam.
“Aku jemput kamu.”
“Siapa yang minta?!”
“Leo.”
Arsen mengangkat ponselnya dan menyalakan video call.
Wajah lucu Leo langsung muncul di layar.
“Mamaaaa! Papa bilang jemput Mama terus kita pergi makan es krim! Ayo!”
Keisha menatap layar tak percaya.
“Kamu ini komplotan ya sama Papa kamu?!”
Leo hanya tertawa puas tanpa dosa.
Rio berusaha tetap bersikap santai dan dewasa.
“Yaudah mungkin lain kali kita rayain aja ya, Sha.”
Keisha merasa sangat tidak enak.
“Maaf banget ya, Rio.”
Rio tersenyum lembut.
“Enggak apa-apa kok. Sampai besok.”
Saat Rio berjalan pergi meninggalkan mereka, Arsen menatap punggung pria itu cukup lama dengan tatapan tajam.
Lalu berkata dengan nada datar dan dingin,
“Dia menyukaimu.”
“Terus kenapa?” sahut Keisha ketus.
“Aku tidak suka.”
“Siapa tanya?!”
Arsen menoleh menatap wajah wanita itu.
“Cemburu itu tidak elegan, tahu.”
Keisha hampir tersedak ludah sendiri mendengarnya.
“Kamu sadar nggak sih kamu lagi ngomongin diri sendiri sendiri?!”
“Ya. Sadar.”
Jawaban itu terlontar terlalu cepat lagi.
Terlalu jujur.
Dan terlalu berbahaya.
Di dalam mobil, Keisha masih kesal setengah mati.
“Kamu tuh bikin aku susah di tempat kerja tau nggak sih! Sifat posesifmu keterlaluan!”
“Aku menjemput istriku.”
BRAK!
Keisha menoleh dengan wajah syok setengah mati.
“APA KATA KAMU?!”
Arsen menyetir dengan tenang dan santai.
“Latihan.”
“Kamu gila.”
“Sudah sering kamu bilang.”
“Aku BUKAN istrimu!”
Arsen tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Belum.”
Sialan! Kalimat itu lagi!
Mereka menjemput Leo di rumah, dan anak itu sudah siap sedia dengan topi lucu di kepala dan sendok kecil di tangan.
“ES KRIM! ES KRIM!” teriaknya heboh.
Akhirnya mereka bertiga pergi ke sebuah kafe dessert keluarga yang nyaman.
Leo sibuk memilih rasa sampai bingung.
Keisha duduk dengan wajah masih sedikit cemberut.
Arsen datang membawa nampan dan meletakkan satu mangkuk besar tepat di depan Keisha.
Rasa vanila dengan saus karamel hangat di atasnya.
“Lho? Aku tadi pesan yang cokelat.”
“Kamu bohong.”
Keisha membeku.
“Apa?”
“Dulu... waktu di hotel, kamu pernah bilang kamu paling suka rasa vanila. Katanya tidak bikin enek.”
Darah di wajah Keisha langsung naik cepat ke pipi, memerahnya seketika.
“Kamu... kamu masih ingat hal sepele itu?!”
“Aku ingat semuanya tentang kamu. Tidak ada yang sepele.”
Jantung wanita itu berdetak jauh terlalu keras.
Sementara di sebelahnya, Leo sibuk makan es krimnya sampai belepotan dan tidak paham kenapa wajah Mamanya tiba-tiba merah seperti tomat.
Di perjalanan pulang, kelelahan membuat Leo tertidur lagi di kursi belakang.
Kali ini kepala kecilnya jatuh bersandar di paha Keisha, sementara kakinya yang mungil secara tidak sengaja menumpu di paha Arsen.
Mereka berdua sama-sama menahan napas dan bergerak pelan agar anak itu tidak terbangun.
Suasana di dalam mobil sangat tenang.
Aneh.
Namun terasa sangat hangat dan damai.
Arsen bicara pelan sekali, memecah keheningan.
“Kamu kelihatan sangat bahagia waktu presentasi tadi.”
Keisha menatap jalanan yang gelap di luar jendela.
“Aku memang suka kerja. Aku merasa jadi diriku sendiri penuh.”
“Kalau begitu... bagaimana kalau aku buka divisi desain interior di grup perusahaanku? Kamu yang pimpin.”
Keisha menoleh cepat kaget.
“Kamu serius?!”
“Sangat serius.”
“Aku tidak mau bekerja karena belas kasihan atau karena aku ibunya anakmu.”
“Itu bukan belas kasihan. Itu murni karena kemampuanmu.”
“Lalu apa alasan sebenarnya?”
Arsen menatap sosok kecil Leo yang tidur pulas, lalu menatap lurus ke mata Keisha.
“Alasannya sederhana... supaya aku bisa melihat kalian dekat denganku setiap hari.”
Keisha benar-benar kehabisan kata-kata.
Bingung harus marah atau harus malu karena wajah terasa panas.
Sesampainya di rumah, Arsen menggendong Leo masuk ke kamar tidur dengan hati-hati.
Saat ia keluar kamar, ia mendapati Keisha berdiri mematung di lorong yang remang-remang.
Cahaya lampu kuning membuat wajah wanita itu terlihat sangat lembut dan cantik malam itu.
“Aku mau bilang sesuatu,” kata Keisha pelan, suaranya tidak setegas biasanya.
“Akhirnya kamu mau bilang kangen sama aku?” goda Arsen.
“Jangan halu (halusinasi) deh!”
Arsen menahan senyumnya melihat tingkah lucu wanita itu.
Keisha menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian.
“Terima kasih... sudah membuat Leo sangat senang. Dia jadi anak yang makin ceria.”
Untuk pertama kalinya, ucapan itu keluar dengan tulus sepenuh hati.
Arsen menatapnya cukup lama, matanya menyiratkan rasa sayang yang dalam.
Lalu ia melangkah mendekat satu langkah, jarak mereka tinggal beberapa inci.
“Kalau begitu... hadiahnya apa dong buat aku?”
Keisha mengerutkan kening bingung.
“Apa?”
Arsen menunjuk pipinya sendiri dengan jari telunjuk, wajahnya memohon manja.
“Minimal cium pipi satu kali. Transaksi.”
Keisha ternganga tak percaya.
“Kamu kurang ajar!”
“Aku cuma optimis.”
Arsen tersenyum tipis lalu berbalik badan dan berjalan keluar pintu, meninggalkan wanita itu berdiri mematung.
Dan saat itu juga Keisha sadar akan satu hal yang sangat berbahaya...
Ia mulai menunggu kedatangan pria itu setiap harinya.
Bersambung...