NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Malam Turun ke Sumur

Jam di HP Disa menunjukkan 23.47. Angin malam Desa Larangan lebih dingin dari biasanya. Kabut turun lagi, menutupi halaman balai desa dan posko kami.

Di tengah halaman, berdiri sumur tua itu. Bibir sumurnya dari batu kali berlumut, ditumbuhi semak belukar. Ada katrol kayu dan tali tambang tebal tergantung di atasnya. Tali itu yang kata Mbah Tirah dulu dipake buat nurunin tumbal.

"Yakin kalian mau turun?" Pak Sarmo tiba-tiba muncul dari kegelapan. Blangkonnya masih sama, tapi wajahnya jauh lebih tua malam ini. "Sumur itu sudah makan tujuh nyawa. Tidak pernah kenyang."

"Kami harus, Pak," jawab Disa tegas. Wajahnya pucat tapi matanya baja. "Rani temen kami. Kami gak akan biarin dia jadi tumbal kedelapan."

Pak Sarmo menatap kami satu-satu. Lalu dia menghela napas, menyerahkan sebuah lampu petromak tua. "Kalau begitu... bawa ini. Api bisa mengusir mereka yang dari bawah. Tapi ingat... kalau apinya padam sebelum kalian naik, berarti yang di bawah tidak mengizinkan kalian pergi."

Andre menelan ludah. "Siapa yang turun?"

Aku maju selangkah. "Aku."

"Aku juga," sahut Disa. "Kita berdua. Andre dan Siska jaga tali di atas. Kalau ada apa-apa, langsung tarik."

Kami melilitkan tali tambang ke pinggangku dan Disa. Petromak kuno itu kupegang erat. Apinya goyang diterpa angin malam.

Rani kami kurung di kamar posko, kami kunci dari luar. Tapi dari dalam masih terdengar suara tawa melengking, diselingi nyanyian Jawa lamat-lamat.

"Sudah siap?" tanya Andre, tangannya gemetar memegang ujung tali.

Aku mengangguk. Pelan-pelan, tubuhku dan Disa diturunkan ke dalam sumur.

Dinding sumur itu licin, berlumut tebal dan berbau amis anyir. Semakin turun, semakin pekat. Bau busuk, bau tanah kuburan, dan bau bangkai tikus menusuk hidung. Air di dasar sumur hanya semata kaki, hitam dan tidak memantulkan cahaya.

Kaki kami menyentuh dasar. "BLUK." Airnya dinginnya tidak wajar, seperti es.

Aku menyorotkan petromak ke sekeliling. Dan di situlah jantungku serasa berhenti.

Di sudut sumur, bersandar di dinding batu, ada kerangka manusia. Masih terbungkus sisa-sisa kain kebaya yang sudah lapuk. Di leher kerangka itu, melingkar selendang merah yang warnanya masih menyala, tidak pudar dimakan waktu.

"Laras..." bisik Disa. Air matanya langsung jatuh.

Tapi yang membuat kami beku bukan cuma kerangka Laras.

Di sekeliling kerangka Laras, bertumpuk enam kerangka lain. Kecil, besar, ada yang tengkoraknya pecah. Beberapa masih memakai sisa-sisa jas almamater universitas.

Tujuh tumbal. Pak Sarmo bilang tujuh nyawa. Ini buktinya.

"Pak Sarmo bohong," desisku. "Bukan cuma Laras. Sumur ini sudah makan anak KKN lain juga. Tiap beberapa tahun sekali."

Tiba-tiba, air hitam di bawah kaki kami beriak. Dari dalam air, muncul tangan-tangan pucat. Banyak. Tangan-tangan kerangka itu mencengkeram kaki aku dan Disa, dingin dan kuatnya bukan main.

Petromak di tanganku bergoyang keras. Dari atas, terdengar teriakan Siska, "BIM! DIS! TALINYA KAMI TARIK SEKARANG!"

Tali di pinggang kami menegang. Andre dan Siska menarik dari atas sekuat tenaga.

Tapi tangan-tangan itu tidak melepas. Malah menarik kami lebih kuat ke bawah. Air hitam itu seperti lumpur hisap, menyedot kaki kami pelan-pelan.

Dari kegelapan di atas, terdengar suara Laras, persis sama dengan suara Rani tadi. Melengking, marah.

"Kalian mau ambil tulangku?! Bagus! Ganti kalian yang di sini! Satu turun, satu naik! Itu aturannya!"

"BRAKK!" Tali tambang di pinggang Andre putus.

Aku dan Disa jatuh kembali ke air hitam. Petromak terlepas dari tanganku, jatuh ke air.

"SSSSSHHHH..."

Apinya padam.

Gelap total. Hanya ada suara air beriak, dan suara tawa tujuh orang menggema dari dinding sumur.

Dingin air hitam itu merambat naik ke lutut, ke pinggang. Tangan-tangan kerangka itu mencengkeram makin kuat. Kukuku mencoba mencakar dinding sumur yang licin, tapi tidak ada pegangan.

"DIS! LO DI MANA?!" teriakku panik. Suaraku terpantul aneh di dalam sumur.

"Aku di sini, Bim!" Suara Disa ada di sebelah kiriku. Napasnya tersengal. "Tangan-tangan ini... narik aku ke bawah!"

Dari atas, terdengar Andre dan Siska berteriak histeris. "BIM! DIS! KAMI CARI TALI LAGI! BERTAHAN!"

Bertahan gimana. Kami berdua sudah setengah badan terbenam di air hitam yang dinginnya seperti mayat.

Tiba-tiba, di tengah kegelapan total, ada cahaya. Cahaya redup berwarna merah, berasal dari selendang yang melilit leher kerangka Laras. Selendang itu menyala sendiri, menerangi dasar sumur dengan nuansa merah darah.

Dan kami bisa lihat jelas. Tujuh tengkorak itu... menoleh serentak ke arah kami. Rahang mereka terbuka, seperti tertawa tanpa suara.

Kerangka Laras, yang posisinya paling tengah, perlahan mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang tinggal tulang menunjuk tepat ke arah Disa.

"Satu turun, satu naik," suara Laras menggema lagi, tapi kali ini berasal dari dalam kepalaku. "Kau yang turun, atau ketua KKN-mu yang turun. Pilih. Sumur harus tetap ada isinya."

Disa mencengkeram lenganku. "Bim... dia mau salah satu dari kita gantiin dia."

Aku melirik ke atas. Lingkaran bibir sumur terlihat sangat jauh, seperti ujung terowongan. Tidak ada tali. Andre dan Siska pasti lagi lari ke posko cari tali cadangan.

Tapi kami tidak punya waktu. Air hitam itu sudah sampai ke dada. Satu menit lagi kami tenggelam.

Dari kegelapan di belakang kerangka Laras, muncul sosok kedelapan. Bukan kerangka. Tapi sosok perempuan, utuh, dengan kebaya putih dan selendang merah menyala. Wajahnya cantik, tapi matanya hitam seluruhnya. Laras.

Dia melayang di atas air, menatap kami tanpa ekspresi. Lalu dia mengangkat tangannya, dan semua tangan kerangka yang mencengkeram kami... melepaskan.

Kami terbatuk, bisa bernapas lagi. Air hitam itu surut sampai sebatas mata kaki.

Laras melayang mendekat ke Disa. Dia berbisik, suaranya seperti gemerisik daun bambu. "Kau ketua KKN. Kau yang bawa mereka kemari. Kau yang tanggung jawab. Turunlah bersamaku. Atau... temenmu yang rambut panjang itu yang kuambil malam purnama nanti."

Disa menatapku. Matanya berkaca-kaca. Lalu dia menatap ke atas, ke arah Andre dan Siska yang suaranya makin dekat membawa tali.

Sebelum aku sempat mencegah, Disa melepas tanganku. Dia melangkah maju satu langkah, berdiri di hadapan sosok Laras.

"Baik," kata Disa lirih. "Aku yang gantiin kamu. Tapi dengan satu syarat. Lepasin Rani. Dan jangan pernah ganggu adik-adik KKN setelah kami lagi."

Laras tersenyum. Senyumnya mengerikan. Dia mengulurkan tangannya yang pucat.

Dan dari atas, tali tambang baru mendarat di sampingku, dilempar Andre.

"DIS! NAIK! CEPAT!" Teriakku.

Disa menoleh ke arahku. Matanya penuh air mata, tapi ada senyum pasrah di bibirnya. "Jaga mereka ya, Bim. Ceritain ke kampus kalo kita gak pulang."

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!