NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

***

Matahari sore mulai merangkak turun, membiarkan bayangan panjang pohon mangga menari di atas lantai teras. Namun, di dalam rumah dinas itu, waktu seolah berhenti berputar. Setelah suara pintu yang dikunci dari dalam bergema di lorong rumah, Bagas tidak beranjak satu inci pun. Ia merosot, membiarkan punggungnya bersandar pada kayu jati pintu kamar utama yang dingin dan kokoh.

Keheningan yang mencekam menyelimuti lorong itu. Bagas bisa mendengar suara isak tangis Laras yang diredam oleh bantal—sebuah suara yang jauh lebih menyakitkan daripada makian warga atau teguran atasan.

"Ras..." bisik Bagas, suaranya parau, dahi dan tangannya menempel pada daun pintu seolah ia bisa menembus kayu itu untuk menyentuh istrinya. "Mas masih di sini. Mas nggak akan pergi."

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan.

"Kamu benar, Ras. Mas egois. Mas terlalu takut kehilangan apa yang Mas punya sampai Mas lupa cara menghargai pemilik hati yang membuat semua ini ada," Bagas memejamkan mata, air matanya membasahi pipi. "Mas ingat malam pertama kita. Mas ingat betapa takutnya kamu. Dan Mas... Mas malah memberimu beban, bukan pelukan. Mas minta anak banyak karena Mas ingin mengisi kekosongan hidup Mas, tanpa tanya apakah kamu siap."

Di balik pintu, Laras terdiam. Ia duduk bersandar pada sisi pintu yang sama, hanya terpisah oleh beberapa sentimeter kayu jati. Ia memeluk perut besarnya, merasakan tendangan bayinya yang mulai tenang. Ia mendengar setiap getaran suara Bagas yang penuh penyesalan.

"Mas janji, Ras. Kalau ini yang terakhir, biar ini yang terakhir," lanjut Bagas dengan suara yang kian lirih. "Mas nggak akan menuntut anak lagi. Mas nggak akan menuntut kamu jadi 'Ibu Kades' yang sempurna. Mas cuma ingin kamu... Mas cuma ingin Laras yang dulu bisa tersenyum tanpa beban. Mas akan antar kamu ke orang tuamu kalau itu memang satu-satunya cara supaya kamu bisa napas lagi. Tapi tolong... jangan benci Mas sedalam ini."

Laras memejamkan mata, air matanya jatuh tanpa suara. Pengakuan Bagas terasa seperti hujan di tengah kemarau, namun tanah hatinya sudah terlanjur retak terlalu dalam. Ia ingin percaya, tapi rasa lelah selama lima tahun ini terasa jauh lebih nyata daripada janji yang baru diucapkan di balik pintu.

Setelah beberapa saat bersandar dalam keheningan, Bagas mendengar suara gerakan di kamar anak-anak. Ia terpaksa berdiri, mengusap wajahnya dengan kasar agar terlihat tegar. Ia harus pergi sebentar ke dapur untuk menyiapkan air minum, memberikan ruang bagi dirinya sendiri untuk bernapas.

Namun, sebelum ia sampai di dapur, suara tangis pecah dari arah lorong. Gilang dan Arka telah terbangun. Mereka yang biasanya bangun dengan keceriaan, kini disambut oleh suasana rumah yang berat dan asing.

"Mamah... Mamah buka..." teriak Gilang sambil menggedor pintu kamar utama dengan tangan mungilnya.

"Mamah... Acka mau cucu... Mamah di mana? Mamah?!" suara cadel Arka melengking, penuh dengan ketakutan.

Bagas berlari menghampiri mereka, mencoba menggendong kedua putranya. "Ssst... Mamas, Dek, jangan menangis. Mamah sedang istirahat, Mamah sedang capek."

"Nggak mau! Mau Mamah! Kenapa pintunya dikunci? Bapak nakal ya sama Mamah?" Gilang menatap Bagas dengan mata bulat yang penuh air mata. Pertanyaan polos itu seperti belati yang menghujam jantung Bagas.

Mendengar tangis kedua buah hatinya, pertahanan Laras runtuh seketika. Rasa sakit hati pada suaminya dikalahkan oleh naluri keibuannya. Dengan tangan gemetar, ia memutar kunci.

Klik. Klik.

Pintu terbuka. Laras berdiri di sana dengan wajah yang sangat pucat, matanya merah dan bengkak. Begitu pintu terbuka, Gilang dan Arka langsung menghambur memeluk kaki Laras.

"Mamah... hiks... jangan pergi," tangis Arka pecah di pelukan daster Laras.

Laras segera berlutut dengan susah payah—sebuah gerakan yang sangat membebani perut delapan bulannya—dan merengkuh kedua anaknya. "Ssshhh... nggak, Sayang. Mamah nggak ke mana-mana. Mamah cuma... tadi Mamah ketiduran, jadi pintunya terkunci."

Laras mendongak. Matanya bertemu dengan mata Bagas yang berdiri hanya dua langkah darinya. Mata Bagas tampak merah dan sembab, sarat dengan permohonan maaf yang tak terucapkan. Ketegangan di antara mereka kembali memuncak, namun di depan anak-anak, Laras harus memasang topengnya kembali.

"Mas... tolong ambilkan susu untuk Arka. Dia lapar," ucap Laras dengan nada datar, menghindari kontak mata yang terlalu lama.

Bagas mengangguk cepat, merasa bersyukur setidaknya Laras mau memberinya perintah.

"Iya, iya Ras. Mas buatkan sekarang."

**

Malam itu, keadaan tidak membaik. Gilang dan Arka menolak tidur di kamar mereka sendiri. Ketakutan yang mereka rasakan sore tadi membekas, membuat mereka ingin berada di dekat kedua orang tuanya.

"Mamas mau tidur sama Mamah dan Bapak. Dek Arka juga," rengek Gilang sambil menarik bantalnya ke kamar utama.

Bagas dan Laras saling pandang. Tidak ada pilihan lain. Ranjang kayu jati yang luas itu kini diisi oleh empat orang. Gilang dan Arka berada di tengah, sementara Bagas dan Laras berada di kedua ujung ranjang.

Laras berbaring miring ke arah anak-anak, mengusap kepala Arka yang sudah mulai terlelap. Ia bisa merasakan kehadiran Bagas di belakang anak-anak, merasakan napas suaminya yang berat dan tidak teratur. Kamar itu sangat sunyi, hanya suara detak jam dan deru napas anak-anak yang memenuhi ruangan.

"Ras..." bisik Bagas di kegelapan malam. Ia mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh ujung daster Laras yang berada di dekat kaki Gilang, namun ia mengurungkan niatnya.

Laras memejamkan mata rapat-rapat. Ia tidak menjawab.

"Terima kasih sudah buka pintunya tadi," lanjut Bagas sangat pelan. "Tidurlah. Mas akan jaga kalian. Besok pagi, kalau kamu memang tetap mau pulang ke rumah Ibu... Mas akan antar."

Laras merasakan sesak di dadanya kembali muncul. Selama lima tahun, ia merindukan kata-kata lembut seperti ini, merindukan Bagas yang mau mengalah. Namun, mengapa rasa manis ini datang saat hatinya sudah terasa begitu tawar?

Laras tetap diam, namun air matanya mengalir membasahi bantal. Di satu ranjang yang sama, mereka terasa seperti berada di dua dunia yang berbeda. Laras merasa bersalah karena bersandiwara di depan anak-anaknya, seolah keluarganya baik-baik saja, padahal di dalam hatinya, ia merasa seperti sedang berada di dalam reruntuhan yang siap ambruk kapan saja.

Bagas menatap punggung Laras dari kejauhan, hanya dibatasi oleh tubuh mungil anak-anak mereka. Ia menyadari bahwa memaksakan kehadiran fisik Laras di rumah ini sangat mudah, tapi menyembuhkan jiwa yang terluka karena diabaikan selama lima tahun adalah perjalanan yang sangat panjang. Malam itu, di bawah selimut yang sama, keheningan berbicara lebih keras daripada kata-kata; menceritakan tentang cinta yang terlambat disadari dan luka yang terlalu dalam untuk sekadar dimaafkan.

***

Bersambung....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!