NovelToon NovelToon
Ramalan Cinta Yang Terkunci

Ramalan Cinta Yang Terkunci

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Jasmine Oke

Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~

Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.

▪︎Objek Utama:

- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.

- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).

- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.

.
.
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Kedatangan Tamu Tak Terduga

Ketenangan dan kebahagiaan memang layak mereka rasakan setelah semua pertarungan dahsyat yang mereka lalui. Namun, seperti kata pepatah, dunia ini tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada cerita baru yang menanti untuk ditulis.

Tiga tahun telah berlalu sejak kemenangan atas The Void Walkers. Lunaria kini menjadi kota yang makmur dan damai berkat kepemimpinan Elara dan perlindungan Kael. Hubungan mereka pun semakin mesra, persiapan menuju hari pernikahan mereka sudah berjalan lancar.

Suatu pagi yang cerah, saat Elara sedang duduk di taman belakang kedai sambil membaca buku ramalan bintang, tiba-tiba langit di atasnya berkedip aneh. Bukan awan hitam, bukan juga portal perang, melainkan sebuah kilatan cahaya keemasan yang sangat familiar.

Wush!

Dua sosok melayang turun dengan anggun di depan Elara. Mereka mengenakan baju zirah perak yang bersih dan berkilau, namun kali ini mereka tidak memakai topeng. Wajah mereka terlihat ramah dan penuh rasa hormat.

Elara tersenyum kecil. Ia sudah mengenali aura mereka sejak lama.

"Selamat pagi, para Pengawas," sapa Elara tenang. "Apa yang membawa kalian kembali ke sini? Apakah kalian ingin mencoba menangkap kami lagi?"

Kedua utusan itu tersenyum malu-malu dan langsung membungkuk dalam.

"Tidak, Nona Elara. Kali ini kami datang dengan damai," jawab salah satu dari mereka. "Kami membawa pesan resmi dari Dewan Elysium."

Ia menyerahkan sebuah gulungan kertas yang bersinar. "Setelah kejadian pertempuran melawan Void, seluruh alam semesta menyaksikan bukti nyata bahwa keberadaan kalian adalah berkah, bukan kutukan. Dewan telah mengubah hukum lama. Penyatuan elemen kini diakui sebagai bentuk keseimbangan tingkat tinggi."

Elara membuka gulungan itu dan membacanya sekilas. "Jadi... kami resmi tidak lagi menjadi buronan?"

"Justru sebaliknya," sahut utusan yang satunya. "Kalian dihormati sebagai Pelindung Alam Semesta. Kami datang untuk memohon maaf atas kesalahan penilaian kami di masa lalu, dan juga... untuk mengajukan sebuah permintaan besar."

Elara mengerutkan kening. "Permintaan apa?"

"Dunia Elysium kami..." utusan itu tampak ragu, "Terlalu sempurna dan teratur hingga menjadi hampa. Tidak ada tawa, tidak ada air mata, tidak ada warna-warni kehidupan seperti di sini. Sang Pencipta menyarankan agar kami belajar dari kalian. Oleh karena itu, kami berharap Nona Elara dan Tuan Kael berkenan menjadi Duta Besar yang mengajari kami tentang 'Kehidupan'."

Tepat saat itu, Kael muncul dari dalam rumah dengan wajah penasaran. "Ada apa ini? Tamu?"

Mendengar penjelasan singkat dari Elara, Kael tertawa lepas.

"HA HA HA! Jadi kota robot dan patung es itu ingin belajar cara bersenang-senang?" Kael mengusap dagunya berpikir. "Itu terdengar menarik."

"Tapi kan kita mau menikah?" tanya Elara manja.

"Nah, justru itu!" ide Kael bersinar. "Bagaimana kalau pernikahan kita digelar secara besar-besaran? Dan kita undang semua orang dari Elysium, dari dunia lain, dan dari seluruh penjuru! Kita tunjukkan pada mereka bahwa cinta adalah jembatan yang menghubungkan segalanya!"

Mata Elara berbinar-binar. "Wah, ide yang luar biasa! Pesta pernikahan antardimensi!"

Para utusan itu tampak sangat senang. "Itu akan menjadi sejarah terbesar! Kami akan menyampaikan kabar gembira ini kembali ke markas! Segala persiapan akan kami bantu!"

Setelah utusan itu pergi, suasana di kedai kembali menjadi riuh rendah. Nenek Mara dan Darian yang mendengar rencana itu langsung bersemangat.

"Wah, cucuku akan mengadakan pesta terbesar dalam sejarah!" seru Nenek Mara sambil bertepuk tangan. "Aku harus menyiapkan resep masakan terbaik!"

"Dan aku akan memastikan keamanannya terjamin," kata Darian bangga. "Tidak ada satu pun debu yang berani mengganggu hari bahagia kalian."

Namun, tidak semua orang senang dengan rencana ini.

Di sebuah sudut gelap di pinggiran kota, di mana bayangan-bayangan lama masih bersembunyi, terdapat sekelompok kecil orang yang memandang ke arah kota dengan mata penuh kebencian.

Mereka adalah sisa-sisa kelompok ekstremis yang masih memegang teguh ajaran lama. Mereka percaya bahwa Elara dan Kael adalah pembawa sial yang telah merusak tatanan dunia asli mereka.

"Lihat mereka..." desis salah satu pria berjubah hitam itu. "Mereka bahkan berani mengundang para penjaga dari dunia lain untuk merayakan dosa mereka!"

"Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi," kata pemimpin kelompok itu dengan suara parau. Wajahnya tertutup saputangan, namun matanya menyala merah. "Jika pernikahan itu terjadi, ikatan mereka akan disegel secara hukum kosmik. Kita tidak akan pernah punya kesempatan lagi memisahkan mereka."

"Jadi apa rencananya, Pemimpin?"

"Malam ini," jawab pemimpin itu dingin. "Kita akan mencuri sesuatu yang sangat penting dari mereka. Sesuatu yang menjadi sumber kekuatan mereka... Cincin Janji Kuno."

Ia tersenyum licik. "Tanpa cincin itu, ikatan jiwa mereka akan melemah. Dan saat itulah... kita akan menyerang."

Sementara itu, di kamar Elara, suasana sangat romantis.

Kael baru saja membawa sebuah kotak beludru berwarna biru tua. Di dalamnya terdapat dua buah cincin yang sangat indah. Cincin-cincin itu bukan terbuat dari emas atau perak biasa, melainkan hasil karya cipta Kael sendiri menggunakan energi Pencipta yang ia pelajari di Elysium.

Cincin Elara berwarna putih berkilau dengan batu permata berbentuk bulan sabit, sedangkan cincin Kael berwarna hitam pekat dengan bintik-bintik seperti bintang di angkasa.

"Ini..." Elara menatap takjub.

"Ini bukan sekadar perhiasan, Elara," kata Kael lembut sambil mengambil tangan Elara dan mengenakan cincin itu di jari manisnya. "Cincin ini akan menjadi jangkar kekuatan kita. Selama kita memakainya, kita akan selalu bisa merasakan keberadaan satu sama lain, bahkan jika kita berada di ujung dunia yang berbeda sekalipun."

Elara mengenakan cincin pasangan ke jari Kael. "Indah sekali, Kael. Terima kasih."

Mereka saling memandang dengan penuh kasih sayang, tidak menyadari bahwa di luar jendela, bayangan-bayangan jahat sedang mengintai dan menunggu waktu yang tepat untuk beraksi.

Malam yang seharusnya penuh mimpi indah, ternyata menyimpan bahaya yang sedang mengintip dari balik kegelapan.

(Bersambung ke Bab 22...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!