Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu Yang Janggal
Sumber mata air Kedung Raja yang sangat biru yang tadinya hitam karena terjadi hal di luar nalar manusia. Aldi beranjak pergi dari Kedung Raja, dengan langkah gontai karena tenaga terkuras habis untuk melakukan pekerjaan.
Aldi berjalan menuju tenda kecilnya tidak ada yang melihat karena semua orang sedang fokus dalam pekerjaan masing-masing. Setelah selesai berganti pakaian, Aldi kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kak Aldi," teriak seseorang wanita muda dari kejauhan.
Aldi menoleh kebelakang melihat Salma dan temannya sudah sampai begitu cepat, namun dia menimbang-nimbang dulu benar Salma atau sosok yang menyerupai nya. Padahal sore hari tapi terasa ketidaknyamanannya dalam hawa keberadaan sosok itu.
Untungnya Aldi sudah berfikir terlebih dahulu, ternyata benar itu bukanlah Salma dan temannya. Dengan tatapan tajam Aldi mahkluk yang menyerupai mereka langsung menghilang tanpa jejak sedikitpun.
"Al, tadi kayak ada yang manggil kamu!! Sekarang kok gak ada orangnya," seru kang Asep.
"Kayaknya kita harus bersih-bersih desa lagi ini kang," balas Aldi.
Kang Asep yang mendengar perkataan Aldi cukup bingung. Dia melirik Aldi dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, seperti ada keanehan yang benar-benar terjadi.
"Kenapa Al?, kamu ngerasa ada yang gak beres!!," tanya Kang Asep.
"Iya kang, gak nyaman aja," jawab Aldi.
"Baiklah, nanti aku bicarakan sama ketua desa dan pak RT," balas kang Asep.
"Terima Kasih kang, soal dana nanti saya yang kasih," ujar Aldi, dia terus menatap tajam ke sudut pohon dari kejauhan.
Obrolan singkat mereka selesai lalu kembali untuk beristirahat sejenak sebelum pulang. Hingga malam tiba Salma dan temannya belum sampai membuat Aldi sangat khawatir, di tambah panas Niko belum turun-turun juga.
Tepat jam sepuluh malam, ponsel Aldi berbunyi cukup keras.
Kring... Kring.... Kring.... Aldi yang mendengarkan itu perlahan mengambil ponselnya.
"Kak aku tersesat," Salma berkata pelan.
Aldi yang mendengarkan itu rasa kekhawatirannya ternyata beneran terjadi.
"Minta sopirmu berhenti dan share lok sekarang," pinta Aldi dalam panggilan telfon.
"Kak aku takut, jangan di matikan telfonnya," balas Salma, dengan pelan Salma mengirimkan lokasinya.
Aldi yang melihatnya tersentak kaget, padahal sudah dekat kenapa tidak menemukan jalannya. Kalung yang Aldi pakai kini bersinar cukup terang tanpa Aldi sadari, cahaya dari kalung Aldi perlahan pergi menuju dimana letak Salma.
"Sabar ya, kalian berdua banyak-banyak doa saja," pinta Aldi.
"Iya kak, tapi jangan di matiin telfonnya," balas Salma.
"Enggak kak Aldi matikan telfonnya, tunggu disana biar aku jemput langsung dengan jalan kaki," ujar Aldi, dengan langkah pelan Aldi pergi menuju lokasi Salma.
Cahaya dari kalung Aldi tadi sudah menyebar keseluruh desa Joyo yang ternyata di selimuti awan hitam yang pekat, sesuatu energi kejahatan telah menghantui desa mereka tanpa di sadari siapapun.
Tidak begitu lama Aldi sampai tepat di titik lokasi yang berikan Salma, namun yang Aldi dapatkan hanyalah jalanan sepi tanpa adanya kendaraan satupun, belum sempat tersadar akan keanehan itu sebuah sosok mahluk berbentuk Harimau Putih datang.
Aldi yang melihat sosok itu gemetaran karena takut. Dengan tekad berani dalam dirinya walaupun di selimuti rasa takut Aldi tetap berusaha berdiri tegak untuk menghadapi mahkluk itu.
Geraman keras harimau putih memecahkan keheningan malam, Aldi tidak bisa bergerak sedikitpun dengan napas memburu menahan rasa takutnya.
Tatapan tajam, mata menyala harimau putih dengan taring di tunjukkan untuk mengintimidasi Aldi terlihat jelas. Aldi terus berusaha tetap tenang menghadapi sosok harimau putih, hingga dia merasakan jalan mundurnya menabrak sesuatu.
"Salma," Aldi berkata pelan, dia melihat Salma di dalam mobil meringkuk ketakutan bersama temannya.
Salma yang mendengar suara Aldi kecil dia melirik perlahan untuk memastikan kebenaran atas keberadaan Aldi di sana.
Tangis ketakutan Salma pecah di peluk Aldi, dia menangis tersedu-sedu hampir pingsan namun di sadarkan oleh Aldi.
"Sudah tenang, jangan menangis," ucap Aldi.
"Kak aku takut, kenapa desa ini menjadi seram begini," seru Salma, Dinda masih di dalam tidak berani keluar.
"Nanti saja di rumah kakak cerita, sekarang keluarkan kopermu kita kerumah Mbak Sita," pinta Aldi, dengan rasa takut mereka berdua menurunkan kopernya.
Aldi membangunkan Sopir itu dengan Air dari Kedung Raja yang dia bawa. Sopir itu tersentak kaget dengan napas tersengal-sengal dia merasakan ketakutan luar biasa atas apa yang di alaminya.
"Pak, kalau bapak masih kurang yakin bisa tidur di rumah saya tapi di tenda karena masih di renovasi," ujar Aldi.
"Enggak mas enggak, saya pulang saja," dengan wajah penuh ketakutan sopi itu beranjak pergi dengan kecepatan sedang meninggalkan tempat kejadian.
Aldi hanya menggelengkan kepalanya, lalu mengajak Salma dan Temannya untuk kerumah mbak Sita. Langkah mereka bertiga namun di rasakan seperti banyak orang, membuat Salma dan Dinda memeluk lengan Aldi karena Takut.
Kemudian Aldi tetap diam dan terus berjalan, menghiraukan sosok di belakang mereka. Tepat memasukkan halaman rumah Aldi kini hawanya lebih sejuk tidak mencekam seperti tadi.
Setelah sampai rumah Mbak Sita, Aldi membukanya perlahan lalu mengajak mereka berdua untuk masuk. Tatapan tajam mahluk di balik pohon randu tua tidak jauh dari rumah Sita, sangat kesal tidak bisa kembali mengikuti mereka.
"Manusia biadab, kawasan ini sudah mendapatkan perlindungan penuh oleh Kedung Raja. Kita lapor saja kepada ketua," sosok itu berkata dengan penuh kekesalan, dia mengajak sosok lainnya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Siapa yang di maksud ketua dari sosok itu!! Terasa begitu misteriusnya sosok yang di sebut sebagai ketua mereka, kekuatan seperti apa sampai bisa bersekutu dengan mahluk gaib.
Aldi yang sudah di dalam rumah Sita kini duduk penuh rasa ingin tau kenapa Salma dan temannya bisa tersesat di tempat yang sama.
"Kok malem banget sih Al, mereka baru sampai!!," Sita bertanya bingung.
"Mbak kunci dulu semua pintu rumah maupun jendela," pinta Aldi, seperti merasakan pengawasan dari segala penjuru arah di luaran sana.
Sita yang melihat keseriusan Aldi tanpa berbicara dia melakukan apa perintahnya, dengan langkah perlahan Sita menutup semua jendela yang dan mengunci pintu rumahnya.
Lalu kembali duduk bersama Aldi. Salma dan Dinda di dalam kamar melepaskan rasa lelahnya perjalanan mereka berdua, di tambah keanehan yang terjadi. Setelah selesai membersihkan diri mereka berdua pergi ke ruang tamu, tapi Salma terlebih dahulu melihat kondisi kakaknya.
"Al, jelasin ke mbak kenapa ini kok harus di kunci semua!!," Sita sangat bingung sekaligus penasaran.
"Nanti bakal ada yang ketok pintu tapi jangan di buka, siapapun namanya jangan di buka," ujar Aldi.
"Iya, tapi mbak penasaran dan juga takut Al ada apa sebenarnya?," tanya Sita.
"Salma dan temannya ini tersesat oleh makhluk gaib mbak, mereka mengikuti sampai kesini!! Jadi aku harus antisipasi agar hal yang tidak diinginkan terjadi," jawab Aldi.
Sita yang mendengar tuturan Aldi tersentak kaget. Dengan wajah penuh ketegangan Sita kembali bertanya, "kok bisa!! Kenapa bisa tersesat seperti itu Al??," rasa penasaran Sita terus mengikuti pertanyaannya.
"Aku gak tau mbak!! Tapi mulai besok mbak ambil air dari Kedung Raja lalu rebus berikan pada mereka bertiga," pinta Aldi, setelah menjawab pertanyaan Sita.
Sita menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan sebelum akhirnya menenangkan dirinya untuk tidak melanjutkan rasa penasarannya.
Tidak berselang lama Salma dan Dinda datang ke ruang tamu, dengan perlahan mereka duduk. Salma dekat Aldi, dia memeluk tangan Aldi karena rindu yang begitu berat baginya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua sampai bisa tersesat seperti itu?," Aldi langsung bertanya.
"Gak tau kak, tapi setelah aku tanya seseorang yang lewat soal rumah kak Aldi wajahnya berubah dengan penuh amarah lalu kabut tebal turun," jawab Salma.
Aldi dan Sita saling pandang kebingungan dengan kejadian yang sangat aneh. Untuk pertama kalinya Desa Joyo ini mendapatkan teror keanehan yang cukup besar, apalagi ini di alami oleh Salma yang asli orang sini dan tidak mungkin masalah awal dari Dinda Juga.
"Tadi Salma turun kak, lihat kak Aldi dari kejauhan tapi aku gak liat sama sekali. Nah pas itu aku tarik paksa untuk masuk kedalam mobil karena aku merasakan keanehan," penjelasan Dinda.
Aldi masih mencerna segala penjelasan mereka berdua. Ada apa sebenarnya dengan Desa Joyo ini kenapa ada teror pocong wajah hancur lalu kabut tebal, lalu beberapa keanehan lainnya yang terasa begitu janggal.
🌟D.P. Auzora.🌟
°°°°