NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. ISTANA MACAN HITAM

Matahari tergantung tepat di puncak langit, bagai bola api raksasa yang tanpa ampun membakar setiap jengkal bumi. Sinar teriknya menyapu pelataran batu Istana Macan Hitam—sebuah tempat yang kini telah berubah menjadi neraka dunia yang pengap oleh uap maut.

Darah menggenang di mana-mana, merembes ke sela-sela lantai batu yang retak.

Mayat-mayat para pendekar bergelimpangan tanpa bentuk yang utuh. Ada yang terpenggal dengan luka sabetan yang presisi, ada yang tubuhnya hangus menghitam akibat hantaman tenaga dalam api, ada pula yang wajahnya membeku dalam ekspresi ngeri yang tak sempat menghilang sebelum ajal menjemput. Kematian di sini tidak datang dengan tenang; ia datang dengan beringas.

Angin yang bertiup dari arah kawah Gunung Tiga Puluh membawa aroma belerang yang menyengat paru-paru. Bau itu bercampur dengan amis darah yang kental, menciptakan hawa busuk yang membuat siapa pun yang menghirupnya akan merasa mual dan sesak.

Namun di tengah lautan kematian itu…

Berdiri seorang pemuda.

Tegak, seperti pilar karang yang menantang amuk samudera.

Tak tergoyahkan.

Dialah Rangga Nata.

Jubahnya telah robek di sana-sini, berlumur noda merah pekat—entah darahnya sendiri yang merembes dari luka gores, atau ceceran darah musuhnya yang ia tebas dalam perjalanan menuju pelataran ini. Rambutnya yang hitam panjang tergerai liar, berkibar searah dengan hembusan angin panas yang membawa debu peperangan. Namun sorot matanya tetap tenang secara mengerikan, tajam bagai mata seekor naga purba yang siap menerkam mangsanya tanpa ragu.

Di tangan kanannya tergenggam sebuah pusaka yang melegenda.

Pedang Naga Emas Seribu Langit.

Bilah pedang itu memancarkan cahaya keemasan yang berdenyut pelan, seolah detak jantung seorang dewa yang sedang terjaga. Setiap denyutnya memancarkan aura agung yang amat murni, menciptakan tekanan udara yang berat bagi mereka yang berhati busuk. Para pendekar golongan hitam yang mengepungnya hanya bisa menelan ludah, menggenggam senjata dengan tangan gemetar, tak berani mendekat lebih dari sepuluh langkah.

Mereka mengepung. Namun, mereka ragu.

Karena di hadapan mereka, berdiri sosok yang telah melampaui batasan fisik manusia. Seorang pendekar yang telah menembus batas antara alam fana dan keajaiban kanuragan.

Tepat di hadapan Rangga, berdiri seorang wanita tua yang kehadirannya seolah menyedot cahaya matahari di sekitarnya.

Tubuhnya bungkuk, namun menyimpan kelenturan yang ganjil. Wajahnya dipenuhi kerutan dalam yang bersilangan seperti kulit kayu tua yang hampir lapuk. Sepasang matanya cekung dalam rongga hitam, namun di dalamnya berkilat cahaya licik yang sanggup membuat nyali seorang ksatria menciut seketika.

Dialah sang legenda hitam… Nini Suro.

Tangan keriputnya mencengkeram erat sebuah tongkat hitam legam yang ujungnya dihiasi tengkorak monyet kering yang menganga. Dari lubang mata tengkorak itu, perlahan keluar uap ungu pekat yang berputar-putar seperti roh gentayangan yang haus jiwa.

Setiap uap itu menyentuh tanah… rumput langsung menghitam dan layu dalam hitungan detik. Batu pelataran pun terdengar berderit, lalu retak seolah digerogoti oleh asam yang sangat kuat.

Itulah Racun Mayat Seribu Kubur, racun tingkat tinggi yang sanggup melumpuhkan peredaran darah dan merusak inti tenaga dalam lawan hanya melalui hirupan udara.

Rangga menghela napas panjang, mengatur sirkulasi hawa murni di dalam dadanya agar tetap stabil menghadapi kepungan racun. Wajahnya tetap sedingin es.

“Nini Suro…” suaranya rendah, namun mengandung getaran tenaga dalam yang sangat padat, membuat udara di sekitarnya berdesir halus.

“Aku tidak datang untuk bermain-main.”

Nini Suro menyeringai, menyingkap bibirnya yang hitam. Giginya yang menguning tampak seperti taring-taring binatang buas yang siap mengoyak daging.

“Ha… ha ha ha…” tawanya melengking tinggi, frekuensinya begitu tajam hingga terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk gendang telinga.

“Bocah… kau sudah menginjak sarang harimau… kau sudah masuk ke mulut maut… tapi masih berani bicara seolah-olah kau yang menguasai tempat ini?”

Rangga sama sekali tidak terpancing oleh ejekan itu. Tatapannya tetap lurus, sedingin mata pedang di tangannya.

“Tiga orang yang kucari…” lanjutnya pelan, setiap kata yang keluar seolah membawa beban ribuan kati, “Dewi Melati. Selasih. Dan… Empedu Macan Putih.”

Mata Nini Suro berkilat rakus. "Oh… jadi itu tujuanmu mencari mati di sini…" bisiknya dengan nada yang mendirikan bulu kuduk.

Rangga mengangkat pedangnya perlahan. Cahaya emas memancar semakin terang, mengusir bayangan hitam di bawah kakinya.

“Aku tidak ingin membuang waktu.”

Suasana seketika membeku. Bahkan angin panas yang tadi meraung-raung seolah-olah mendadak berhenti berhembus karena takut mengganggu keheningan yang mematikan ini.

“Dua puluh jurus,” lanjut Rangga tegas. Suaranya bergema di seluruh penjuru pelataran istana.

“Jika dalam dua puluh jurus aku tidak bisa mengalahkanmu… maka pedang ini…” ia mengangkat Pedang Naga Emas hingga sejajar dengan matanya, “…menjadi milikmu.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan keserakahan di mata musuh-musuhnya memuncak. Lalu, ia melanjutkan dengan nada yang lebih dalam:

“Dan kepalaku… silakan kau jadikan pajangan di gerbang istanamu.”

Para pendekar di sekelilingnya terhenyak. Gumaman tertahan terdengar dari bibir mereka. Ini bukan sekadar taruhan sombong. Ini adalah perjudian nyawa di atas kehormatan seorang pendekar.

Namun Rangga belum selesai.

“Tapi jika aku menang…” Suaranya menjadi tajam, mengiris keheningan.

“Kau serahkan Empedu Macan Putih. Tanpa syarat.”

Sunyi senyap. Sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Hanya ada tatapan tajam antara sang Naga Emas dan sang Ratu Racun.

Lalu—

“HAHAHAHAHAHA!”

Tawa Nini Suro meledak, menggelegar menghantam dinding-dinding batu Istana Macan Hitam. Matanya berbinar-binar penuh kegilaan. Pedang pusaka itu… keagungan naga itu… ia sangat menginginkannya.

“Bocah bodoh…” desisnya seraya menjilat bibirnya yang kering. “Baik! Aku terima taruhan mautmu!”

Ia menghentakkan tongkatnya ke tanah dengan kekuatan penuh.

DUG!

Tanah retak dalam pola menjari. Uap ungu yang tadinya tenang langsung menyembur keluar lebih pekat, membentuk kabut beracun yang mulai mengepung posisi Rangga.

“Bersiaplah menjadi mayat, bocah!”

Tanpa aba-aba lagi—

“HIYAAAA!”

Tubuh bungkuk Nini Suro melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, tampak seperti bayangan hantu yang bergerak di sela-sela cahaya matahari. Tongkat tengkoraknya berputar cepat, menciptakan pusaran angin hitam yang dipenuhi hawa racun mematikan.

Wuttttt!

Serangan pertama berupa tusukan lurus mengarah tepat ke ulu hati Rangga. Kecepatan serangan itu dibarengi dengan tekanan tenaga dalam yang mampu menghancurkan batu karang.

Cepat. Mematikan. Tak kenal ampun.

Namun—Rangga seolah sudah membaca takdir serangan itu sebelum dilancarkan.

Wusss!

Tubuhnya melenting ke samping dengan gerakan yang sangat halus, seolah ia tidak memiliki berat badan. Ia tampak seperti helai kapas yang terbawa arus angin akibat gerak tongkat Nini Suro sendiri.

Namun belum sempat kaki Rangga menapak tanah—

“Ck!” Nini Suro mendengus. Refleks tempurnya luar biasa.

Wanita tua itu memutar tubuhnya di udara. Tongkatnya yang semula menusuk, kini disabetkan ke bawah dalam gerakan horizontal yang sangat cepat, mengincar kedua kaki Rangga untuk mematahkan tumpuannya! Gerakan lanjutan yang nyaris tanpa celah!

“Bagus…” gumam Rangga dalam hati. Ia bisa merasakan angin tajam dari sabetan itu meski belum menyentuh kulitnya.

TRANG!

Pedang Naga Emas bergerak dalam lintasan cahaya yang menyilaukan. Benturan keras antara logam surgawi dan kayu hitam mistis itu meledakkan percikan api di udara.

Rangga merasakan getaran kuat menjalar ke lengannya, pertanda tenaga dalam Nini Suro memang sudah mencapai tingkatan puncak golongan hitam.

“Tenaga dalamnya… tidak bisa diremehkan,” pikir Rangga. Namun, bukannya gentar, sudut bibirnya justru terangkat sedikit. Darahnya berdesir panas. Sudah lama ia tidak menghadapi lawan yang sanggup memberikan tekanan nyata seperti ini.

Rangga mengubah posisi berdiri. Kakinya menapak ringan di atas batu, sementara pedangnya mulai diputar pelan, menciptakan desingan rendah yang meredam suara angin.

“Jurus kelima…” gumamnya tenang.

Lalu—secara tiba-tiba, tubuh Rangga seolah menghilang dari pandangan mata telanjang!

“Atau lebih tepatnya… ia bergerak terlalu cepat untuk bisa ditangkap indera!” teriak salah satu pendekar hitam yang menonton dengan wajah pucat.

“Naga Melilit Gunung!”

Suara Rangga terdengar bergema dari segala penjuru. Bayangan tubuhnya muncul secara simultan di berbagai arah.

Satu bayangan di depan. Dua di samping. Sepuluh di sekeliling Nini Suro!

Setiap bayangan meluncurkan tebasan yang nyata. Pedang Naga Emas memancarkan jaring-jaring cahaya keemasan yang seolah menutup seluruh jalan keluar bagi wanita tua itu.

Nini Suro terkejut. Pupil matanya mengecil. Namun, sebagai tetua yang kenyang pengalaman, ia tidak kehilangan akal.

“Jangan meremehkanku, anak ingusan!”

Tongkat tengkoraknya kembali dihentakkan ke tanah, kali ini dengan pengerahan tenaga dalam penuh.

BLUARRR!

Kabut ungu beracun meledak keluar dari tanah dalam radius lima meter, membentuk kubah racun yang menelan seluruh area pertarungan! Pandangan mata kini benar-benar tertutup kabut pekat. Udara berubah menjadi racun korosif yang membakar kulit.

“Ha ha ha! Di dalam kabut racun ini… kau hanya tikus buta yang tinggal menunggu ajal!” suara Nini Suro terdengar dari dalam kabut, berpindah-pindah posisi dengan cepat.

Namun—tawa itu tidak bertahan lama.

Di tengah kepekatan kabut yang mematikan, Rangga justru memejamkan matanya. Ia melepaskan penglihatan lahiriahnya yang terbatas.

Ia mulai… merasakan.

Setiap molekul udara yang bergeser. Setiap getaran halus di permukaan tanah. Dan yang terpenting: arah pancaran niat membunuh yang pekat.

“Di kanan…” bisiknya lirih.

Seketika—

“HUP!”

Tubuh Rangga melesat vertikal ke udara, menembus kubah kabut ungu tersebut. Di puncak lompatannya, ia membalikkan tubuh. Pedangnya diangkat tinggi di atas kepala, menyerap sinar matahari yang terik.

“Naga Menghujam Bumi!”

Rangga meluncur turun seperti meteor emas. Pedangnya membelah kabut ungu itu seperti petir yang merobek langit gelap!

PRRAAAK!

Suara patahan benda keras yang sangat nyaring menggema di pelataran istana, disusul oleh gelombang kejut yang menghempaskan kabut racun hingga sirna.

“Heh…!” Nini Suro terhuyung mundur dengan wajah pucat pasi.

Dua tangannya gemetar hebat. Tongkat hitam legam yang menjadi kebanggaannya—yang konon tak bisa tergores baja sekalipun—kini telah patah. Hancur tepat di bagian tengah akibat hantaman telak dari Pedang Naga Emas.

Matanya membelalak lebar. Tak percaya. Senjata yang telah menemaninya membantai ribuan lawan selama puluhan tahun, kini tinggal potongan kayu tak berguna.

Rangga mendarat dengan seringan bulu, hanya menyisakan sedikit debu yang terangkat di bawah kakinya. Matanya kembali terbuka, menatap Nini Suro dengan dingin tanpa ada rasa bangga yang berlebihan.

“Jurus kesepuluh,” katanya pelan, suaranya jernih menyapu kesunyian yang mencekam.

“Masih setengah jalan dari perjanjian kita… tapi kau sudah kalah, Nini.”

Ujung Pedang Naga Emas yang masih berdenyut cahaya keemasan itu kini berada tepat di depan jakun Nini Suro, hanya berjarak sehelai rambut. Hawa murni dari pedang itu membuat kulit leher sang wanita tua mulai melepuh kecil, menetralkan racun di tubuhnya secara paksa.

Bersambung...

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!