Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Cinta yang Menyelamatkan
RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Bab 10: Cinta yang Menyelamatkan
"AYAH!" teriak Elara panik melihat kondisi ayahnya yang semakin kritis.
Energi merah yang mengelilingi tubuh Darian semakin panas dan bergejolak. Ruangan itu berguncang hebat, debu dan batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit. Benteng Kegelapan ini tidak akan mampu menahan ledakan energi sebesar ini lebih lama lagi.
"Elara, kita harus pergi! Segera!" seru Kael sambil menarik tangan Elara, berusaha menjauhkan gadis itu dari pusat ledakan.
"Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan Ayah!" Elara menolak melepaskan pandangannya dari Darian. "Dia ayahku, Kael! Aku baru saja menemukannya! Aku tidak mau kehilangannya sekarang juga!"
"Tapi dia akan meledak! Jika kita terlalu dekat, kita akan ikut hancur!" Kael berusaha membujuk, namun ia bisa melihat keteguhan dan kesedihan yang mendalam di mata Elara.
Elara menatap bola energi merah itu. Ia mencoba merasakan aliran energi di dalamnya. Dan benar saja, di tengah kekacauan dan panas yang membakar itu, ia bisa merasakan ada inti yang dingin dan kesepian. Itu adalah hati Darian.
"Ayah tidak jahat..." bisik Elara. "Dia hanya tersesat. Dia terluka. Energinya mengamuk karena tidak ada cinta yang menenangkannya."
Elara menarik tangannya dari genggaman Kael.
"Elara, mau ke mana?!"
"Aku harus menenangkannya," kata Elara tegas. "Kekuatan cinta murni itu lembut, Kael. Ia bisa melelehkan apa pun yang keras, termasuk amarah dan energi yang tidak terkendali."
"Terlalu berbahaya!"
"Kalau tidak aku yang melakukannya, siapa lagi? Kau adalah sihir pemutus, jika kau menyentuhnya, energinya bisa saja terpecah dan malah meledak. Tapi aku... aku adalah penyatunya."
Tanpa menunggu jawaban Kael, Elara berlari kecil mendekati bola energi merah yang mengelilingi ayahnya. Panasnya menyengat kulit, membuat jubahnya hampir terbakar, namun Elara tidak peduli.
"Ayah... dengar suaraku..." panggil Elara lembut, namun suaranya mampu menembus deru energi yang menderu. "Tenanglah... Lepaskan semua amarah itu... Aku di sini, Ayah. Putrimu ada di sini."
Elara mengulurkan tangannya, membiarkan cahaya peraknya memancar keluar seluas-luasnya. Kali ini bukan untuk menyerang, tapi untuk memeluk. Cahaya perak itu perlahan menyelimuti bola merah itu, seperti selimut hangat yang menutupi api unggun yang besar.
SZZZZT...!
Bunyi mendesis keras terdengar saat dua energi itu bertemu. Darian yang tampak kesakitan dan matanya terpejam erat, perlahan membuka matanya. Ia melihat sosok putrinya yang berdiri di tengah badai energi, bersinar seperti bidadari.
"E...la...ra..." gumam Darian pelan.
"Ayah, tarik napas... Biarkan energiku mengalir masuk dan menyeimbangkannya... Jangan dilawan... Terima dan rasakan..." bimbing Elara.
Elara melangkah semakin dekat, hingga akhirnya ia bisa memeluk tubuh ayahnya yang gemetar hebat. Saat pelukan itu terjadi, ledakan besar yang ditunggu-tunggu tidak terjadi. Sebaliknya, energi merah dan perak itu berputar perlahan, menyatu, dan meredup menjadi cahaya ungu yang tenang.
Ledakan itu berubah menjadi gelombang energi yang lembut namun kuat, menyebar ke seluruh penjuru benteng, bahkan hingga ke luar gunung.
Perlahan-lahan, getaran di tanah berhenti. Api di sudut ruangan kembali menyala normal. Dan Darian... tubuh pria itu lemas, ia jatuh ke dalam pelukan Elara.
"Ayah!"
Darian terengah-engah, wajahnya pucat pasi, namun matanya sudah tidak lagi terlihat gila. Kegelapan di matanya telah hilang, digantikan oleh kesedihan dan penyesalan yang mendalam.
"Putriku..." bisik Darian, tangannya yang gemetar naik menyentuh pipi Elara. "Maafkan Ayah... Ayah sudah jahat... Ayah hampir membunuhmu..."
"Tidak apa-apa, Ayah... Semua sudah selesai," isak Elara, air matanya jatuh membasahi pipi ayahnya. "Kita selamat."
Kael segera mendekat, tetap waspada namun melihat bahwa bahaya sudah berlalu. Ia membantu menopang tubuh Darian.
Darian menatap Kael lama. Kali ini tatapannya bukan tatapan musuh, melainkan tatapan seorang ayah yang menilai calon anaknya.
"Kau..." suara Darian serak. "Kau mencintainya sungguh-sungguh, kan?"
"Dengan nyawaku, Tuan," jawab Kael tegas dan hormat.
"Bagus..." Darian tersenyum lemah. "Jagalah dia. Dia adalah permata paling berharga di dunia ini. Ayahnya saja hampir menghancurkannya karena kebodohan sendiri."
Darian menghela napas panjang, lalu menatap langit-langit benteng yang retak.
"Aku akan menyerah. Aku akan menghadapi hukuman dari Dewan. Aku sudah cukup menyakiti banyak hati. Sudah waktunya aku menebus kesalahanku."
Beberapa hari kemudian, suasana di kota Lunaria kembali tenang. Matahari bersinar lebih terang dari biasanya, seolah ikut bergembira karena perdamaian telah kembali.
Sekte Pembelah Takdir dibubarkan. Anggota yang mau berubah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, sementara yang keras kepala ditangkap oleh pasukan Dewan.
Darian sendiri diadili, namun karena ia mengakui semua kesalahannya dan karena jasa Elara serta Kael yang mencegah bencana besar, hukumannya diringankan. Ia tidak dipenjara selamanya, melainkan ditugaskan untuk memulihkan energi alam yang rusak akibat perbuatannya, di bawah pengawasan ketat. Namun ia diberi kebebasan untuk bertemu Elara kapan saja.
Di halaman depan Kedai Bintang Jatuh, suasana terasa hangat dan damai.
Elara duduk di bangku kayu, menikmati angin sore. Di sebelahnya, Kael duduk sangat dekat, bahu mereka bersentuhan. Nenek Mara sedang sibuk menyiapkan teh hangat di dalam, sementara di kejauhan, Darian berdiri memandangi mereka dengan senyum damai di wajahnya.
"Jadi... segalanya sudah selesai ya?" tanya Elara pelan, memandang jari-jarinya yang saling mengunci dengan jari Kael.
"Belum selesai, Elara," jawab Kael lembut. "Ini baru permulaan."
"Maksudmu?"
"Dulu, hatimu terkunci. Dan hatiku beku. Sekarang, keduanya terbuka lebar. Kita punya seluruh sisa hidup kita untuk mengisinya dengan cinta, petualangan, dan kebahagiaan." Kael menoleh, menatap mata perak Elara dalam-dalam. "Ramalan mengatakan bahwa kita adalah Kunci dan Gembok. Tapi aku lebih suka berpikir... bahwa kita adalah takdir yang saling melengkapi, selamanya."
Elara tersenyum, senyum yang paling indah dan paling tulus yang pernah ia berikan. Ia mendekatkan wajahnya, menyandarkan kepala di bahu kokoh pemuda itu.
"Ya... selamanya."
Cahaya matahari sore memancar lembut, menerangi dua sosok yang saling berpelukan. Rantai-rantai takdir yang tadinya terlihat seperti penjara, kini berubah menjadi ikatan indah yang menghubungkan dua jiwa yang ditakdirkan untuk bersama.
Ramalan Cinta yang Terkunci telah terbuka sempurna. Dan kisah cinta mereka... akan terus diceritakan turun-temurun sebagai bukti bahwa cinta sejati mampu menaklukkan segalanya, bahkan takdir itu sendiri.
.
.
.
Gimana ceritanya? Seru dan mengharukan kan? 😊🎉