Bayangin kalo kamu jadi Aku?
Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?
penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laper?! {2}
Asli karna musim hujan terus kenapa jadi lebih banyak tidurnya dr pada Nulisnyaaaaaa😭🫵
...
Next?
...
"Sa? snacknya ga di makan?"
Marissa menoleh,"tunggu khutbah ketiga aja."
Aku tersentak, Khutbah ke tiga itu Fattah akan memberikan ceramah nanti setelah Hamdan.
"Astaga suka sama Fattah ya?"
"Engga ih, sayang Ri kalo dadar gulungnya di makan sekarang?"
"Bilang aja ga mau keliatan abis karna punyaku dah abis tuh? sisa air hehe." jawabku.
"Asli! bukan itu,"
yang debat berapa kali tapi akhirnya Aku pasrah.
"Ri? Snacknya boleh minta lagi ga sih? masih laper?" sungut Putri.
Sambil menoleh kebelakang mencari kardus snack masih ada atau udah kosong.
sudah ZONK.
Sementara Putri terus melihat Snack milik Marissa.
Memang Khutbah malam ini cukup lama sekali, masih tersisa 3 Khutbah lagi mungkin para Ustad dari pesantren lain?
Aku rasa bosan sih, mending makan di dapur asli Laper juga.
Aku diam diam menarik Putri dan mengkodenya pergi dan dia menoleh lalu mengangguk.
"Ri? Fattah bawain ceramah tuh,"
namun Marissa terkejut, Aku dan Putri tidak ada di sebelahnya.
"Pada kemana?" jawabnya tapi senyumnya tidak luntur melihat Fattah.
***
Di luar masjid, tiba tiba turun hujan lebat dan membuatku tidak bisa ke dapur malam ini.
"Ujan Ri? Emangnya kamu mau bawa aku kemana?"
"Dapur Put. laper kan? mending sekalin ajaa lah makan."
"Ujan deras banget Ri!" teriaknya karna di lobi Masjid ga akan kedengeran jika teriak. masjid kedap suara.
"Yaudah tunggu aja reda dulu." kataku tiba tiba semakin laper.
Aku memegangi perutku, laparnya tak tertahankan.
"Ngapain kalian berdua di lobi?" kata tugas yang bersihin Masjid, dia membawa penyerok air.
"Nunggu ujan reda mau beli itu."
Kataku menunjuk nasi goreng di sebrang jalan. tak jauh dari Masjid.
Putri menoleh lalu menyimak saja.
"Kamu ponakan Kiai Rehadi ya?" kata bapaknya.
"Ehee iyaa," kataku mengangguk.
"Sebentar saja saya ya yang belikan?"
"Jangan--- jangan pak beneran deh!" kataku tidak enak.
"Deras atuh ujannya Neng, apalagi kalo kemaleman nanti sakit lohh telat makan."
Putri menyenggol sikutku.
"Ambil aja niat baiknya Ri?"
"Aku ga bisa Put!" balasku di samping telinganya.
"Aku ga kuat nih laperr!!!"
"Aku juga Put, plis tahann dulu apa!"
"Loh? Riana? Putri? kalian ngapain berdua di lobi masjid?" kata Hamdan tiba tiba keluar dengan baju koko merah marun dan sarung kotak kotaknya tak memakai peci.
"Aduh Hamdan? minta tolong dong?"
Aku menoleh dan menyikut pinggang putri.
"Tolongin apa tuh, kalo Hamdan bisa bantu?
"Ga usah Hamdan." kataku memegang perutku.
Melihat petugas masjid masuk toilet Hamdan seperti berinisiatif dan mencurigakan.
"Yaudah Aku jalan dulu," senyum Hamdan lalu melewatiku dan Putri.
"Ahhh kamu Riana. laper tauk! kesempatan ada Hamdan di sia siain ih!"
"Ihhh jaga etika dong, dia santri laki! masa iya minta tolong ama laki yang bukan mahromnya?"
Putri udah pasrah dan terserah ini arahnya mau kemana, ia laper sekali.
"Riana... kamu bolos khutbah Aku?"
Ya. Fattah datang memergokiku keluar juga.
"Bukan Bolos Fat, bisa di bilang ada kepentingan lain."
"Ahh?? ga yakin Aku."
Aku melototi Fattah kesal.
"Bolos ya??? ngaku. Putri tolong jujur apa yang kalian lakukan di lobi sama Riana?"
tatapan Fattah mengintimidasi dan matanya mencari celah atau sesuatu.
"Lahh kalian disini!!!?" Marissa datang membawa masalah lebih aneh lagi nanti.
Aku dan Putri cukup saling memandang.
Aku menarik tangan Fattah menjadi di sebelahku, karena jaraknya cukup dekat dengan Marissa, membuatnya tidak nyaman di lihat.
Marissa memasang wajah kikuk, dan mukanya memasang wajah cemburu.
"Sini Fat Aku mau bicara sama kamu? Putri--- jagain Marissa bentar ya!! ga lama."
"Oke!" jawabnya lantang karna aku menarik lengan kanannya.
Karna sedikit jauh dari kedua temanku itu, ngobrol sama Fattah boleh juga.
Di sisi lain Hamdan munculin kepalanya sebelum keluar toilet-- dia ingin tahu apa yang aku obrolin dengan Fattah.
"Gini Fat. Aku laper tadinya Putri sih yang laper terus, Aku juga ga tahan laper banget! tapi liat deh ujannya gede banget???"
"Terus?"
"Aku niatnya mau nekat trobos ujan hehe."
"Kamu gila Ri!? ngapain trobos di jam maulid?"
"Yakan baru niat aja aku.. Akbar Muhammad Fattah!"
"Al Fattah." ucap Fattah membenarkan.
Aku mengangguk."iya itu."
"Oh ya Riana? nih buat kamu? tadi ga sengaja aja denger suara kamu."
Tapi cuma Fattah tau sisi beluk Hamdan.
Aku melihat bungkusan plastik dengan bau aroma nasi goreng.
Bau ini bau yang unik, Aku mengambilnya pelan.
"Itu kalian bukan mahrom Riana? balikin?"
ucap Fattah.
"Itu dari Fattah Ri, makan aja? Aku masuk ke dalam dulu."
"Perasaan gua ga nitipin apa apa?"
bathin Fattah berisik.
"Makasih Hamdan..." kataku membuka plastiknya ada 3 bungkus nasi goreng dan kerupuk di pisah dalam plastik bening.
Hamdan melewatiku sambil menatap tajam mata Fattah.
"Dari kamu? kenapa ga bilang Fat!"
Aku pergi meninggalkan Fattah lalu menemui kedua temanku saja.
Fattah menahan topik hari ini, ada yang salah sama Hamdan.
"Pak maaf? Tadi Hamdan nyuruh bapak melakukan apa?"
"Ohh itu-- dia cuma minjem payung
Den, katanya mau beli nasi goreng."
Fattah menyeringai,"lo bener bener cinta ya dan, sama sepupu gua?"
bisiknya yang hanya bisa dia dengar sendiri.
"Ada yang salah den Fattah?"
"Ga ada pak," Fattah pun akhirnya mengerti kalo yang namanya cinta tak butuh alasan, tapi usaha.
"Gua tau lu usaha buat ngejar Riana, tapi kenapa di depan gua si?"
Fattah tidak tahu dirinya cemburu, tapi dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri--dari itu jika melihatku dia merasa nyaman dan selalu menjagaku bahkan Fattah tidak tau rasa sayangnya lebih besar mirip seperti cinta Hamdan ke Aku.
***
Jam maulid telah selesai.
Aku pun dan kedua temanku makan nasi goreng masing masing.
cuacanya terang bulan dan hujan udah berhenti 10 menit yang lalu.
"Bagi Dong!!"
Nathan datang dan mencuri 2 kerupukku secara gragas.
"Nathan!!!" teriakku kesal.
"Bagi elah biar berkah? iyakan Marissa?" menggoda Marissa mendadak dengan kedipan nakal.
"Bukan mahrom matanya Nathan!" ketus Putri.
Tiba tiba datang Hamdan dan Fattah mendengar keributanku dan karna ulah Nathan.
"Bagi lagi Ri????"
"Nathan ihh udah tadi 2! ga mau!"
kataku menyembunyikan makananku.
"Nah ada Fattah! Aku aduin ke dia bodo amat! Fatt... Nathan mencuri kerupuk Aku!"
sambil menunjuk ngambek ke arah Nathan.
"Nat? kalo ketahuan Abi Gua lu di nikahin ama Riana?"
Hamdan terkejut,"ya kali Fatt tiba tiba banget?" menimpali karna ada hati yang gelisa.
"Bisa aja?" ujar Nathan mengiyakan ucapan asal dari Fattah.
Hamdan terbakar cemburu Part 2.
"Coba aja Fattah bukan sepupu Aku!"
Ya bodohnya asbunku keluar di saat yang tidak tepat.
Putri menegang lalu Marissa memasang wajah aneh.
"Kalo Aku bukan sepupu? kenapa Ri?" ujar Fattah penasaran.
"Aku mau terang terangan suka sama kamu! kan cuma kamu tau kekurangan aku?"
"Buset!" Hahahahahah nyali kamu gede Ri! segede cinta Hamdan!"
Sewot Nathan membuat Hamdan marah.
"Di panggil Ustad Jamal Assalamualaikum." datar Hamdan kesal sama Nathan yang meledeknya terus lalu semakin cemburu karna ucapanku.
Hamdan mengepal tangannya menahan kecemburuannya tapi dia tidak bisa menangis karna aku masih bukan mahromnya.
"Kejar si Hamdan, Nathan. lu yang bikin dia marah!" gertak Fattah kesal pada temannya yang receh itu.
Setelah selesai menjahiliku Fattah memberikan peringatan dan mencekal pinggang Nathan dan berbisik.
"Kalo lu bikin kesal Riana lagi, Gua ga pinjemin lu uang gua. ngerti!?"
"Iye iye cuma nyolong kerupuknya aja, Sepupu lu galak bener!" timpal Nathan.
"Dadah sayang!" ujar Nathan padaku.
"Idihh amat!"
Marissa tertawa kecil dan Putri bergidik merinding.
"Demi SAYANG GUA KE FATTAH!! FATTAH!!" jeritku,, mengadu ke Fattah adalah jalan hidupku.
Fattah menahan Nathan hendak ingin lari dan tertangkap pula dia.
"Lu lama lama kaya babi ya Nat?"
Nathan tertawa lepas.
"Ampun Fat! serius gua langsung susul Hamdan."
Fattah mencengkram lengan kiri Nathan kesal tapi, Nathan hanya terkekeh.
"Sekali lagi ber ulah liat aja lu."
Nathan lalu pergi merasa di ancam Fattah dan berkata,"persepupuan yang aneh! Hahahah.
Namun Aku dan kedua temanku udah selesai makan dan semua orang di masjid kosong cuma ada kita kita aja jadi wajar jika aku berteriak karna Nathan menyebalkan.
TBC.
Gimana? masih nge gantung?
tungguin lagi ya🥰🙏
semangat tor