Aarav Elias Kayler terbangun di sebuah dunia yang tak dikenal, tanpa ingatan apapun tentang dirinya. Semua yang dia tahu adalah bahwa dunia ini dipenuhi dengan sihir, dan dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ketika mencoba menggunakan sihir, tak ada hasil yang muncul, membuatnya merasa terjebak dalam kebingungannya.
Namun, tak lama setelahnya, Aarav menemukan sebuah rumah tua yang misterius, yang mengarah pada sebuah kejadian tak terduga yang mengubah segalanya. Di dunia yang penuh dengan rahasia dan kekuatan yang belum ia pahami, Aarav harus menghadapi takdir yang tersembunyi di balik masa lalunya yang terlupakan.
Dengan tekad untuk menguasai dunia sihir dan meraih kekuatan yang selama ini hilang, Aarav harus menavigasi sebuah dunia yang penuh dengan bahaya, misteri, dan konflik. Apakah dia akan menemukan jalan menuju kekuasaannya, atau justru terjerumus dalam kekuatan yang tak dapat ia kendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Memulai Kembali
Di wilayah timur, beberapa kerajaan berdiri dengan megahnya dan menganggap dirinya sendiri yang paling kuat. Tapi, tetap saja ada satu kerajaan yang paling hebat ada di sana. Bernama, Twier Agrav.
Sebuah kerajaan besar nan kuat yang dipegang oleh seorang raja yang bijaksana, tapi buta akan penderitaan rakyat yang dia pimpin.
Di singgasana, atau kursi raja yang terbuat dari lapisan emas itu. Daerwin sang raja duduk dengan karismatik, pakaiannya rapi tanpa jubah. Seperti tidak menunjukkan sebagaimana mestinya seorang raja.
Sedikit bergeser ke wilayah pinggiran Twir Agrav, wilayah pinggir ini adalah wilayah yang paling netral. Mereka tidak terlalu memikirkan siapa raja mereka, yang mereka pedulikan adalah bagaimana cara bertahan hidup di dunia ini.
Wilayah ini dekat dengan hutan, para warganya hidup dekat dengan alam. Setiap pagi, budak akan pergi ke hutan untuk mencari buruan hewan. Atau sekedar menggembalakan hewan ternak milik majikannya.
Dan saat itu, di siang hari yang indah. Seorang pemuda terbaring di hamparan rumput yang sangat nyaman, dia sepertinya tertidur karena kelelahan, atau karena terlalu nyaman di padang rumput.
Terbukti tak jauh darinya ada beberapa ekor kambing yang diikat di sebuah pohon, dan mereka semua dibiarkan untuk memakan rumput sepuasnya sampai gemuk.
Beberapa jam kemudian, pemuda itu terbangun dari tidurnya. Saat bangun, pikirannya ling-lung, dia lupa sedang melakukan apa.
Aarav mengusap matanya, lalu duduk di rumput, "TUNGGU!!! AKU DI MANA?!!!" teriak Aarav yang kebingungan.
Wajahnya berkeringat, rambutnya berantakan karena tertiup angin sepoi-sepoi. Kemudian dia melihat kedua tangannya, lalu pakaiannya.
Tangannya memegang pakaian lusuhnya, dan melihat ke celana pendeknya, "KENAPA? KENAPA AKU PAKAI PAKAIAN JELEK INI!!!!" ujar Aarav dengan keras.
Aarav frustasi, dia mengusap kepalanya dengan keras. Lalu menoleh ke kanan, dan kemudian kedua matanya melihat beberapa ekor kambing yang sedang makan, dengan leher yang diikat ke pohon.
Saat itu juga, dia langsung memukul kepalanya, "ASTAGA!!! Aku kan lagi ngembala kambing majikan,"
"TUNGGU!! Dan... Ini dunia sihir!!!" ucapnya. Aarav berdiri, "Okey, sekarang aku mau coba mantra sihir yang ku tau!!" tambahnya.
"MBEKK!!! MBEKK!!!" suara kambing seperti mengejek Aarav.
Araav langsung menunjuk kambing itu, "DIEM!!!" seru Aarav yang kesal.
Aarav kembali fokus, dia mengatur napasnya sebentar.
"ALAKAZAM!!!"
"PORTUNEE!!!"
"DERRWAQQ!!!"
"XIEOOOO!!!"
"UTYOOO!!!"
"ZEEEZAAAHH!!!"
Dari semua itu, tidak ada sihir yang terjadi. Tidak ada apapun yang bereaksi dengan mantra yang diucapkan oleh Aarav.
Aarav mengatur napas lagi, "KENAPA NGGAK BISA?!!" ucapnya yang frustasi, "Coba mantra lain!!" tambahnya.
"TREUSSS!!"
"DOWHHH!!"
"UJAOU!!!"
"NURILLL!!!"
"ATMAAAA!!!!"
Napas Aarav tersengal, dia lalu duduk di rumput dengan lemas, "MASIH NGGAK BISA?!"
"MBEKKKKKKK!!!" suara kambing kembali terdengar.
Aarav langsung menoleh ke kambing, tatapannya kesal, "BISA DIEM KAGAK!!!" serunya.
"MBEKKKKKKK!!!"
Aarav langsung meraba rerumputan, lalu menemukan sebuah batu yang tidak terlalu besar. Tanpa pikir panjang, Aarav langsung melemparkan batu itu ke kambingnya. Tapi, batunya meleset dan tidak mengenai kambing yang dia incar.
"Pakek meleset segala!!" serunya.
Karena frustasi soal mantra dan juga kambing, Aarav memutuskan untuk berjalan-jalan masuk ke dalam hutan.
Dia mulai melangkah menjauh dari kambing yang sedang ia gembala, "JANGAN LARI!!" ucap Aarav ke para kambing yang dia gembala.
"MBEKKK!!!" jawab kambingnya.
Aarav berjalan langsung ke dalam hutan yang cukup gelap, dia berniat untuk melepaskan pikirannya soal mantra. Dan juga mencari sesuatu yang hilang dari ingatannya itu.
Saat Aarav masuk ke dalam hutan, cahaya matahari mulai menghilang karena tertutup oleh pepohonan yang rindang. Hawa dingin juga mulai menyelimuti tubuh Aarav, perasaannya mulai tak karuan.
"Gelapnya!!!" batin Aarav. Tapi dia tetap melanjutkan perjalanannya untuk berjalan-jalan menyusuri hutan.
Kiri dan kanannya mulai hanya terlihat pepohonan, semak-semak, dan juga hewan yang kadang lewat.
Hawa dingin mulai menusuk tubuh Aarav, berhubung dia hanya memakai celana pendek dan juga kaos. Rasa dingin sangat amat terasa di tubuhnya, seperti hendak membekukan tubuhnya secara perlahan-lahan.
"Dingin banget!! Padahal nggak hujan!!" gumamnya.
Saat sudah cukup jauh berjalan, dia memiliki niatan untuk kembali ke kambing-kambing kesayangannya. Tapi, niatan itu sirna saat dia melihat sebuah rumah tua di tengah hutan.
Aarav berhenti berjalan, "Rumah siapa? Kok ada yang berani tinggal sendirian di hutan yah?!" batin Aarav.
Dia lalu menoleh ke kanan dan kiri tanpa alasan, "Ekhm... Kepo nih, masuk kali ahh!!" serunya pelan.
Dengan polos dan lugu, dia mulai berjalan mendekati rumah tua itu. Dia sendiri tidak tahu siapa yang tinggal di sana, bisa saja seekor beruang kutub tinggal di rumah itu.
Saat di depan pintu rumah, dia cukup tercengang dengan banyaknya lukisan yang terpajang di dinding luar rumah. Dan juga sebuah lukisan indah yang terlukis di pintunya.
"Makin kepo, jangan-jangan orang yang tinggal di sini tuh.... Pelukis?!" batin Aarav.
Tangan kanannya mulai mengetuk pintu beberapa kali, tak lupa dia juga memanggil sang pemilik rumah.
Tapi, beberapa saat sudah berlalu. Tak ada jawaban terdengar dari dalam, dan tak ada orang yang membukakan pintu untuk Aarav.
Dengan kepolosannya, dia coba untuk membuka pintunya. Dan anehnya itu berhasil, "Kebuka!!" batin Aarav.
Tanpa sopan santun sama sekali, Aarav masuk ke dalam rumahnya. Dan saat dia masuk, matanya langsung dimanjakan oleh lukisan-lukisan yang indah, dan juga beberapa artefak yang terpajang di sana.
"Pasti yang punya rumah ini orang tua, banyak banget barang lama di sini!!" ucapnya.
Saat melihat sekeliling rumah, dia langsung sadar ada sebuah lukisan aneh yang terpajang tepat di sampingnya.
Lukisan itu berisi sebuah lukisan bola mata berwarna hijau, dengan simbol aneh di bagian pupil matanya.
Aarav langsung menyentuh lukisan itu, "Mata siapa ya? Hijau?? Terus ini simbol apa yah?!" serunya yang bertanya-tanya.
Saat dia menyentuhnya, lalu menjauh dari lukisannya. Warna dari mata di lukisannya berubah, dari hijau ke biru, mirip seperti yang dimiliki Aarav.
Dan saat Aarav lanjut melihat-lihat. Tiba-tiba dia terjatuh tak sadarkan diri ke lantai, dan saat dia tak sadarkan diri. Seorang pria tiba-tiba muncul entah dari mana, menggendong tubuh Aarav, dan membawanya ke suatu tempat.
Aarav dibawa ke suatu tempat.
Tubuh Aarav diikat di kursi, ruangan itu gelap. Hanya dua buah obor saja yang menerangi ruangan itu, banyak rak buku di sana. Dan sebuah meja panjang yang berisi alat-alat aneh.
Beberapa saat kemudian, seorang pria memakai jubah dan masker masuk ke dalam ruangan. Dia masuk sambil membawa sebuah suntikan yang sudah berisi suatu cairan berwana ungu cerah.
Pria itu mendekat ke Aarav, lalu dengan suara samar di bilang, "Jadilah seorang Geos..." serunya pelan ke telinga Aarav.
Pria itu langsung menyuntikkan cairan itu ke leher Aarav, dengan cepat cairan itu masuk ke dalam tubuh Aarav tanpa diketahuinya. Saat cairan masuk, belum ada reaksi apapun yang diterima Aarav.
Setelah selesai menyuntikkan cairan itu, pria berjubah itu berjalan keluar dari ruangan dan membiarkan Aarav di sana. Tapi, saat pria itu keluar dari ruangan. Tubuh Aarav ikut menghilang, berpindah entah ke mana.
Bersambung...