"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2 (Tekanan)
Fania langsung diam saat ditegur oleh suaminya. Kedua tangannya mencengkram gamis menahan rasa sesak di dada. Raditya melanjutkan lagi perjalanan. Dia tidak menghiraukan perasaan istrinya. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi seolah ingin mengakhiri kecanggungan itu.
Empat jam berlalu, mobil sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah mewah. Fania bangun dari tidurnya, dia melihat sekitar yang terasa asing. Sementara itu, Raditya masuk kembali ke dalam mobil setelah membuka pintu gerbang. Rumah itu, adalah hadiah pernikahan dari almarhum Ayahnya.
Mobil berhenti tepat di depan rumah. Raditya mengambil tasnya dengan gerakan kasar. "Segera turun, bawa sendiri barang-barangmu," ucap Raditya pada istrinya. Tidak ada kelembutan sama sekali.
Fania hanya diam, dia tidak menjawab perkataan itu. Helaan napas panjang mengiri langkahnya sembari membawa dua tas besar. Fania berdiri di depan pintu, dia melihat ke sekitar yang tampak sepi. Dalam hati kecilnya berpikir, apakah ia bisa melewati lembaran yang baru saja dimulai itu. "Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah, semoga hamba bisa melewati semua ini. Kuatkan hati hamba untuk menghadapi sikap Mas Radit."
Fania berdoa dalam hati, dia meyakinkan diri agar bisa kuat. Sesampainya di dalam, suara keras Raditya terdengar nyaring. "Apa yang kamu lakukan di luar? Bukannya tadi aku menyuruhmu untuk cepat masuk ke dalam! Apa kamu tuli sehingga tidak mendengar?" teriak Raditya membuat istrinya terlonjak kaget.
"Maaf, Mas. Aku tadi kesulitan bawa dua tas ini!" balas Fania setengah takut. Dia belum pernah diteriaki dengan kalimat kasar.
Raditya tidak mau tahu, dia terus berbicara dengan nada tinggi. "Ini adalah rumah yang dihadiahkan Ayahku kepadamu. Tetap saja hak milik rumah ini adalah aku. Kamarmu ada di paling ujung, nanti aku akan membuatkan peraturan. Apa saja yang harus kamu lakukan dan batasannya. Kita memang suami istri, tapi ku masih belum mengakuimu. Jaadi jangan berharap banyak dan kamu harus tau posisimu. Mengerti?"
"Mengerti, Mas. Aku ke atas dulu, terima kasih sudah mau menampungku." Fania berjalan menuju ke lantai atas untuk meletakkan barang-barangnya. Dia harus bisa bersikap biasa saja.
Ekspresi Raditya masih belum stabil. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bencinya. Pikirannya sangat kalut karena tidak bisa menghubungi kekasihnya. Pria bermata coklat itu duduk di sofa dengan gerakan kasar. Dia masih memandangi layar handphonenya. "Zelin, sebenarnya kamu ke mana? Tolong aktifkan nomornya, aku ingin bicara sama kamu."
Saat mencoba untuk memanggil, tiba-tiba notifikasi muncul. Pesan yang belum terbaca tadi sudah dibalas oleh Zelina. "Akhirnya kamu membalasnya juga. Sekarang angkat teleponku."
Raditya menelepon kekasihnya lagi. Kali ini dia sudah merasa lega. "Sayang kamu ke mana saja? Aku cemas sekali. Oke baiklah, akunakan ke sana sekarang. Kamu tunggu, jangan ke mana-mana."
Panggilan berakhir, Raditya segera pergi dari rumah untuk bertemu dengan Zelina. Hubungan tanpa restu itu sudah terjadi selama sepuluh tahun. Kedua orangtuanya tidak setuju dan lebih memilih perjodohan. Namun, kisah itu tidak berakhir begitu saja. Raditya terus menjalin hubungan meski telah menikah. Dia tidak bisa memutuskan hubungannya. Mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Dari lantai atas, Fania bisa melihat kepergian suaminya.
"Mas, segitu bencinya kah kamu padaku? Apa aku tidak mempunyai kesempatan sama sekali?" batin Fania dengan hati yang penuh luka.
Satu jam berlalu, Raditya sudah sampai di lokasi tempat Zelina berada. Sebuah penginapan yang ada di perbatasan kota. Mobil sudah terparkir di depan. Langkah kaki itu terdengar sangat terburu-buru. Hingga akhirnya dia sampai di depan pintu kamar bernomor 123. Dalam beberapa detik, seseorang membukanya dari dalam. Zelina berdiri dengan hanya mengenakan lingerie tipis. Wanita itu segera memeluk Raditya dengan sangat erat.
"Radit, akhirnya aku bisa ketemu lagi sama kamu. Aku hampir gila, aku tidak bisa membayangkan pernikahanmu bersama dengan wanita lain!" seru Zelina dengan Isak tangis.
Raditya membalas pelukan itu, dia langsung menggendong kekasihnya masuk ke dalam kamar. Zelina masih mengalungkan tangannya dengan kaki yang mengerat pinggang Raditya. Dia mencoba untuk mencium pria yang telah beristri itu. "Radit, aku ingin memilikimu. Aku tidak rela jika kamu melakukannya dengan wanita lain."
"Kita harus menikah dulu, Zel. Aku akan meminta persetujuannya, terus kita menikah. Aku tidak ingin merusakmu, untuk itu kita harus menikah dulu," ujar Raditya membujuk kekasihnya.
Zelina langsung melepas pelukannya, dia tersinggung dengan bujukan itu. "Apa kamu mau melakukannya dengan wanita itu? Buktinya kamu menolakku sekarang!" seru Zelina dengan ekspresi yang kacau.
Raditya menggeleng, dia mendudukkan Zelina di ranjang. "Bukan begitu, Sayang. Aku tidak akan menyentuhnya, karena aku hanya milikmu."
"Kalau gitu buktikan, Radit. Buktikan kalau kamu memang milikku. Buktikan sekarang!" Zelina menantang Radit dengan ekspresi yang sangat sensual.
" Apa benar kamu tidak menyesal? Apa yang kita lakukan ini adalah salah, Zelin." Raditya masih bertanya karena ada perasaan ragu.
Zelina menjawab sembari membuka kancing kemeja Raditya. "Aku milikmu dan aku milikmu, Radit. Aku tidak menyesal sama sekali."
Tanpa menunggu lagi, Raditya segera melakukan hubungan terlarang itu dengan Zelina. Kedua sejoli itu berbuat tanpa berpikir panjang. Mereka saling menikmati satu sama lain. Bahkan keduanya melakukan secara berulang hingga malam. Beberapa jam berlalu, Raditya terlelap karena kelelahan. Sementara itu, Zelina masih terjaga dan terus memandangi wajah pria yang menjadi kekasihnya itu.
"Radit, aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh cinta pada wanita itu. Kita lihat saja, siapa yang akan menang dalam hubungan ini." Zelina berkata dengan penuh keyakinan. Dia terus tersenyum sembari memeluk Raditya.
Sementara itu di lokasi lain, Fania sedang menahan lapar karena dari kemarin belum makan. "Lapar sekali, jika aku keluar apa Mas Radit akan marah? Tapi, aku sudah tidak bisa nahan lagi. Rasanya perih ...."
Fania berjalan mondar-mandir, sehingga dia memutuskan untuk keluar mencari makan. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Fania melihat sekeliling perumahan sudah sangat sepi. Dia memutuskan untuk berjalan sampai gang depan untuk mencari swalayan. Setelah lama berjalan Fania tidak menemukan swalayan. Dia hampir putus asa dan memilih menyerah. "Astaghfirullah, harus ke mana lagi aku mencari? Kok tidak ada penjual sama sekali?"
Perut Fania semakin keroncongan, dia berjalan lagi sampai jauh. Hingga akhirnya, dia menemukan penjual nasi goreng. "Alhamdulillah ada penjual nasi goreng.Semoga belum habis," ucap Fania bersemangat.
Fania mendekat dan membeli satu porsi nasi goreng. Dia langsung memakannya di tempat karena sudah tidak tahan lagi. Setengah jam berlalu, Fania sudah selesai makan. Dia membayar makanannya dan langsung pulang. Namun, yang terjadi, Fania lupa jalan pulang. Dia kebingungan harus lewat jalan mana. "Ya Allah, aku lupa jalannya. Bagaimana ini?"
Fania tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Dia terus berjalan hingga larut malam. "Bagaimana ini? Aku harus ke mana?"
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡